ini adalah hanya tulisan copas (sumber lihat bawah sendiri).
cuma buat instropeksi diri,
Sebagai jalan hidup dan agama yang mengemban
misi rahmatan lil ‘alamin, Islam tentu mengatur kaidah bermuamalah atau
bergaul bagi pemeluknya. Baik itu terhadap sesama muslim maupun pemeluk
agama lain. Tidak mengentengkan yakni tidak tenggelam dalam budaya
toleransi yang menjebak, namun juga tidak berlebihan semisal melakukan
tindak anarkis.
Tentu bukan hal aneh lagi jika kita menjumpai bermacam-macam warna dan
perilaku dalam kehidupan masyarakat kita. Ini terjadi dengan sebab yang
beragam. Terkadang dilatarbelakangi lingkungan, masyarakat, pergaulan,
teman-teman, dan sebagainya. Semuanya ini menuntut agar kita bisa
memosisikan syariat sebagai landasan pergaulan sehingga bisa merangkul
semua perbedaan tersebut dengan cara menyingkirkan sesuatu yang tidak
ada syariatnya dan mengokohkan yang ada tuntunannya dari Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ironinya, perbedaan itu selama ini justru dijadikan sebuah kebanggaan
sebagai bentuk keangkuhan dan kesombongan. Bahkan ada yang sudah
dijadikan sebagai ajaran yang harus dianut oleh setiap orang. Akhirnya
setiap seruan yang mengajak kepada adab dan akhlak Islami menjadi sebuah
seruan yang tidak berarti. Atau jika ada orang yang mempraktikkan adab
bergaul yang Islami justru dicibir, dianggap aneh dan asing, bahkan
dilekati tuduhan yang bukan-bukan. Atau divonis sebagai orang yang
melakukan pengrusakan dan kehancuran sebagaimana igauan Fir’aun
menanggapi akhlak dan perilaku serta dakwah Nabi Musa ‘alaihissalam:
وَقَالَ فِرْعَوْنُ ذَرُوْنِي أَقْتُلْ مُوْسَى وَلْيَدْعُ رَبَّهُ إِنِّي
أَخَافُ أَنْ يُبَدِّلَ دِيْنَكُمْ أَوْ أَنْ يُظْهِرَ فِي اْلأَرْضِ
الْفَسَادَ
“Dan berkata Fir’aun (kepada pembesar-pembesarnya): ‘Biarkanlah aku
membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Rabbnya, karena
sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan
kerusakan di muka bumi’.” (Ghafir: 26)
Igauan pengikut Fir’aun juga menimpa Nabi Harun ‘alaihissalam, saudara Musa ‘alaihissalam:
قَالُوا إِنْ هَذَانِ لَسَاحِرَانِ يُرِيْدَانِ أَنْ يُخْرِجَاكُمْ مِنْ
أَرْضِكُمْ بِسِحْرِهِمَا وَيَذْهَبَا بِطَرِيْقَتِكُمُ الْمُثْلَى
“Mereka berkata: ‘Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli
sihir yang hendak mengusir kalian dari negeri kalian dengan sihirnya dan
hendak melenyapkan kedudukan kalian yang utama’.” (Thaha: 63)
Bahkan kaum munafiqin berusaha cuci tangan dari perbuatan mereka yang
jelas-jelas rusak dengan mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang
melakukan perbaikan.
وَإِذَا قِيْلَ لَهُمْ لاَ تُفْسِدُوا فِي اْلأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُوْنَ
“Dan bila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di
muka bumi’. Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang
mengadakan perbaikan’.” (Al-Baqarah: 11) [Lihat kitab Hadzihi Da’watuna
wa ‘Aqidatuna karya Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu hal. 11]
Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan
agar setiap orang berakhlak di hadapan manusia dengan akhlak yang mulia.
وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Dan berakhlaklah kamu kepada manusia dengan akhlak yang baik.” (HR.
At-Tirmidzi no. 1988 dari sahabat Abu Dzar Jundub bin Junadah
radhiyallahu ‘anhu dan Abu Abdurrahman Mu’adz bin Jabal radhiyallahu
‘anhu, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu
dalam Shahihul Jami’ no. 96)
Bahkan berbudi pekerti yang baik merupakan tonggak dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَخْلاَقِ
“Sesungguhnya aku diutus oleh Allah untuk menyempurnakan budi pekerti.”
(HR. Al-Imam Ahmad rahimahullahu dalam Musnad beliau, 2/318, dan Al-Imam
Al-Bukhari rahimahullahu dalam Al-Adabul Mufrad no. 273, dari Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Bahkan permasalahan budi pekerti inilah yang diwanti-wanti oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pada dakwah rasul-Nya:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لاَنْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut
terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar,
tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Ali ‘Imran: 159)
Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada Nabi-Nya Musa dan
Harun ‘alaihimassalam menghadapi sejahat-jahat manusia di permukaan bumi
ini, yaitu Fir’aun, dengan penuh kelemahlembutan.
فَقُوْلاَ لَهُ قَوْلاً لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Thaha: 44)
Manusia Dalam Hidup
Bersikap dan menyikapi manusia serta bergaul bersama mereka membutuhkan
ilmu yang dalam tentang syariat, karena manusia memiliki ragam agama dan
aliran serta memiliki ragam perangai dan tabiat. Untuk memudahkan kita
dalam pembahasan tentang hal bergaul dengan manusia, secara umum kita
mengklasifikasikan mereka menjadi dua golongan:
Pertama: Kafir
Kedua: Muslim
Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam
telah mengajarkan kepada kita cara bergaul dan bermuamalah bersama
mereka, baik yang kafir atau yang muslim. Hal ini menunjukkan
kesempurnaan Islam dan bahwa Islam adalah agama rahmat bagi semesta
alam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيْتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِيْنًا
“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah
Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu
menjadi agama bagi kalian.” (Al-Ma`idah: 3)
Sehingga tidak ada lagi alasan untuk salah dalam bergaul bersama mereka,
baik yang beriman ataupun yang ingkar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,
karena hujjah telah tegak, malamnya bagaikan siangnya (telah demikian
jelas).
لِيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنْ بَيِّنَةٍ وَيَحْيَا مَنْ حَيَّ عَنْ بَيِّنَةٍ وَإِنَّ اللهَ لَسَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
“Yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata
dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata
(pula). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(Al-Anfal: 42)
Bergaul dengan Orang-Orang Kafir
Dengan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap hamba-hamba-Nya,
Dia telah membimbing bagaimana semestinya bergaul bersama orang-orang
kafir yang berbeda agama. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan
segala perkara yang merupakan ciri hidup mereka, berikut bentuk
kedengkian mereka terhadap Islam dan kaum muslimin. Semuanya ini
memiliki hikmah agar kaum mukminin selalu berada di atas kemuliaan pada
agamanya, sehingga agama orang-orang kafir rendah dan hina.
Belakangan ini kita tidak bisa memilah antara orang-orang muslim dan
kafir dalam banyak perkara. Bahkan perkara yang merupakan prinsip agama,
yaitu masalah al-wala` (loyalitas) dan al-bara` (berlepas diri), telah
menjadi sesuatu yang pudar dalam kehidupan beragama kaum muslimin.
Merupakan kewajiban bagi setiap muslim untuk berpegang dengan
prinsip-prinsip aqidah Islamiyah dengan cara berloyalitas terhadap
pemeluknya dan memusuhi musuh-musuhnya, mencintai ahli tauhid dan
berloyalitas kepadanya, benci terhadap ahli syirik dan memusuhinya. Hal
ini termasuk millah Ibrahim dan orang-orang yang beriman bersamanya. Dan
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kita untuk mencontoh
mereka sebagaimana dalam firman-Nya:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيْمَ وَالَّذِيْنَ
مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا
تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا
وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا
بِاللهِ وَحْدَهُ
“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim
dan orang-orang yang bersama dengannya ketika mereka berkata kepada kaum
mereka: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang
kalian sembah selain Allah. Kami ingkari (kekafiran) kalian dan telah
nyata permusuhan dan kebencian antara kami dan kalian untuk
selama-lamanya, sampai kalian beriman kepada Allah saja’.”
(Al-Mumtahanah: 4)
Dan prinsip ini merupakan agama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ
وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ
يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللهَ لاَ يَهْدِي
الْقَوْمَ الظَّالِمِيْنَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang
Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah
pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil
mereka menjadi pemimpin maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan
mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
yang dzalim.” (Al-Ma`idah: 51) [Lihat Al-Wala` wal Bara` karya
Asy-Syaikh Shalih Fauzan hal. 4)
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperingatkan dalam banyak hal dan
membongkar kedengkian serta kebencian orang-orang kafir terhadap Islam
dan kaum muslimin. Seperti dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ
أَوْلِيَاءَ تُلْقُوْنَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا
جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ يُخْرِجُوْنَ الرَّسُوْلَ وَإِيَّاكُمْ أَنْ
تُؤْمِنُوا بِاللهِ رَبِّكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil musuh-Ku dan
musuh kalian menjadi teman-teman setia yang kalian sampaikan kepada
mereka (berita-berita Muhammad) karena rasa kasih sayang. Padahal
sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepada
kalian, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kalian karena kalian
beriman kepada Allah Rabb kalian.” (Al-Mumtahanah: 1)
يَا َيُّهَا الَّذِيْنَ آَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُوْنِكُمْ
لاَ يَأْلُوْنَكُمْ خَبَالاً وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ
الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُوْرُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ
بَيَّنَّا لَكُمُ اْلآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُوْنَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian ambil orang-orang yang
di luar kalangan kalian menjadi teman kepercayaan kalian, (karena)
mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagi kalian.
Mereka menyukai apa yang menyusahkan kalian. Telah nyata kebencian dari
mulut mereka dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih
besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepada kalian ayat-ayat (Kami),
jika kalian memahaminya.” (Ali ‘Imran: 118)
Dan masih banyak lagi ayat-ayat lain yang menjelaskan tentang konsep
hidup mereka terhadap Islam dan kaum muslimin yang penuh dengan
kedengkian serta niat jahat. Maka, tidak pantas seorang muslim
menjadikan mereka sebagai sahabat di dalam hidup dan teman bergaul
sehari-hari.
Di antara sikap-sikap yang diajarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan
Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang-orang kafir
adalah sebagai berikut:
1. Tidak menyerupai mereka dalam semua perkara, terlebih dalam masalah
aqidah dan ibadah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
memperingatkan masalah ini dalam sebuah sabda beliau:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, niscaya dia termasuk dari
mereka.” (HR. Al-Imam Ahmad dari sahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu
‘anhuma)
2. Larangan menyerupai mereka dalam seluruh perkara, seperti menyerupai
mereka dalam pakaian khas mereka, adat/kebiasaan, ibadah, dan akhlak.
Seperti mencukur jenggot, memanjangkan kumis, berbicara dengan bahasa
mereka tanpa ada keperluan/hajat, cara berpakaian, makan, minum dan
sebagainya.
3. Tidak bertempat tinggal di negeri mereka atau pergi ke negeri mereka.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengancam orang-orang yang tidak mau
meninggalkan negeri orang-orang kafir padahal mereka sanggup untuk
melakukan hal itu dalam firman-Nya:
إِنَّ الَّذِيْنَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلاَئِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ
قَالُوا فِيْمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِيْنَ فِي اْلأَرْضِ
قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيْهَا
فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيْرًا. إِلاَّ
الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ لاَ
يَسْتَطِيْعُوْنَ حِيْلَةً وَلاَ يَهْتَدُوْنَ سَبِيْلاً
“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan
menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: ‘Dalam
keadaan bagaimana kamu ini?’ Mereka menjawab: ‘Adalah kami orang-orang
yang tertindas di negeri (Makkah)’ Para malaikat berkata: ‘Bukankah bumi
Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?’ Orang-orang
itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat
kembali kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun
anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan
(untuk hijrah).” (An-Nisa`: 97-98)
Yang dimaksud dengan orang yang menganiaya diri sendiri di sini ialah
muslimin Makkah yang tidak mau hijrah bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam padahal mereka sanggup melakukannya. Mereka ditindas dan
dipaksa oleh orang-orang kafir ikut bersama mereka pergi ke perang Badr.
Akhirnya di antara mereka ada yang terbunuh dalam peperangan itu.
4. Tidak membela mereka dengan mendukung segala permusuhannya terhadap
Islam dan kaum muslimin. Membela mereka dengan cara demikian atau sampai
ke martabat ini termasuk yang akan mengeluarkannya dari Islam.
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullahu menyebutkan di antara
sepuluh pembatal keislaman adalah membela orang-orang kafir dalam
memerangi kaum muslimin.
5. Tidak meminta bantuan kepada mereka, memercayai mereka, dan
menyerahkan posisi strategis yang menyangkut rahasia kaum muslimin.
Dan banyak lagi cara berhubungan serta bergaul yang bertentangan dengan
syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa
sallam yang kesimpulannya berujung pada meletakkan wala` (loyalitas)
sebagaimana kita berikan kepada saudara kita sesama muslim.
Bergaul dengan Orang-Orang Islam
Berteman karena agama adalah sebuah anjuran, dan mencari teman yang baik
adalah sebuah perintah. Sementara berteman dengan orang yang tidak baik
justru akan membahayakan bagi diri dan agamanya. Allah Subhanahu wa
Ta’ala telah menegaskan dalam masalah ini dalam firman-Nya:
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ
وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهُ وَلاَ تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ
تُرِيْدُ زِيْنَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلاَ تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا
قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru
Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan
janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan
perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya
telah kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya
dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi: 28)
فَأَعْرِضْ عَنْ مَنْ تَوَلَّى عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلاَّ
الْحَيَاةَ الدُّنْيَا. ذَلِكَ مَبْلَغُهُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّ رَبَّكَ
هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ
اهْتَدَى
“Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari
peringatan Kami, dan tidak menginginkan kecuali kehidupan duniawi.
Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang
paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah
yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (An-Najm: 29-30)
Untuk lebih jelasnya serta agar bisa mendudukkan tuntunan agama dalam
bermualah bersama mereka, kita klasifikasikan kaum muslimin menjadi
beberapa golongan. Ini (bukan kondisi yang memang harus diterima apa
adanya, namun) semata-mata mendekatkan kepada pemahaman.
Pertama: Golongan orang-orang yang benar-benar beriman
Orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan
sebenar-benarnya, memiliki kedudukan yang tinggi di sisi-Nya dan
mendapatkan nama yang harum. Sungguh betapa banyak ayat-ayat Al-Qur`an
yang menjelaskan pujian Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap mereka dan
mengangkat kedudukan mereka yang tinggi.
إِنَّ الَّذِيْنَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (Al-Bayyinah: 7)
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”
(Al-Mujadalah: 11)
وَالْعَصْرِ. إِنَّ اْلإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلاَّ الَّذِيْنَ آمَنُوا
وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا
بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan
nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati
supaya menetapi kesabaran.” (Al-’Ashr: 1-3)
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ. الَّذِيْنَ هُمْ فِي صَلاَتِهِمْ
خَاشِعُوْنَ. وَالَّذِيْنَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُوْنَ. وَالَّذِيْنَ
هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُوْنَ. وَالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ
حَافِظُوْنَ. إِلاَّ عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ
فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَ. فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ
فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُوْنَ
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang
yang khusyu’ dalam shalatnya. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari
(perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna. Dan orang-orang yang
menunaikan zakat. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya kecuali
terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki. Maka
sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari
yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.”
(Al-Mu`minun: 1-6)
Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menjelaskan kedudukan mereka yang
mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tentunya bergaul bersama mereka
dengan pergaulan yang penuh kasih sayang dan cinta, menganggap mereka
sebagai saudara dalam agama dan aqidah sekalipun berbeda nasab,
berjauhan negeri, dan berbeda zaman. Hal ini dipertegas olah Allah
Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:
وَالَّذِيْنَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا
وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ
فِي قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ
رَحِيْمٌ
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar),
mereka berdoa: ‘Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami
yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan
kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb
kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.”
(Al-Hasyr: 10)
مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ وَالَّذِيْنَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan
dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang di
antara mereka.” (Al-Fath: 29)
Menganggap mereka adalah saudara dan berusaha mendamaikan bila terjadi perselisihan di antara mereka.
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah
(perbaikilah hubungan) antara kedua saudara kalian itu dan takutlah
terhadap Allah, supaya kalian mendapat rahmat.” (Al-Hujurat: 10)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Perumpamaan persaudaraan orang-orang yang beriman bagaikan sebuah
bangunan yang sebagiannya menguatkan yang lain.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari
dan Muslim no. 2585 dari sahabat Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu
‘anhu)
مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ كَمَثَلِ
الْجَسَدِ الْوَاحِدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ
الْجَسَدِ بِالْحُمَّى وَالسَّهَرِ
“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam cinta dan berkasih sayang,
mereka bagaikan satu jasad yang bila salah satu anggota badannya sakit,
seluruh jasadnya merasakan sakit panas dan berjaga.” (HR. Al-Imam
Al-Bukhari dan Muslim no. 2586 dari sahabat An-Nu’man bin Basyir
radhiyallahu ‘anhuma)
Juga sebagai bentuk penerapan pergaulan kita bersama mereka adalah berloyalitas kepada mereka secara sempurna:
إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ وَالَّذِيْنَ آمَنُوا الَّذِيْنَ
يُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُوْنَ
“Sesungguhnya penolong kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang
yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya
mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah,
Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka
sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.”
(Al-Ma`idah: 55)
Kedua: Golongan Orang-orang yang Bermaksiat
Teman sangat memengaruhi baik tidaknya agama seseorang dan berpengaruh
pula terhadap kebahagiaan dunia dan akhirat. Kisah kematian Abu Thalib
paman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dalam riwayat
Al-Bukhari dan Muslim tentu bukanlah rahasia lagi. Diceritakan bahwa
dia memilih tetap bersama agama nenek moyangnya, padahal Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam di samping ranjang kematiannya mentalqin
kalimat Laa ilaha illallah. Ini dikarenakan mengultuskan ajaran nenek
moyang dan salah dalam memilih teman bergaul. (Lihat Kitab At-Tauhid
karya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullahu)
Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan agar kita berhati-hati dalam mencari teman.
الْمَرْءُ عَلىَ دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang sesuai dengan agama/adat kebiasaan temannya, maka lihatlah
teman bergaulnya.” (HR. Abu Dawud no. 4833 dan At-Tirmidzi no. 2379 dari
sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
مَثَلُ الْجَلِيْسِ الصَّالِحِ وَالسُّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَناَفِخِ الْكِيْرِ
“Perumpamaan teman yang baik dan jelek adalah seperti berteman dengan
penjual minyak wangi dan tukang pandai besi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim
no. 2628 dari sahabat Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu)
Ada dua atau tiga kemungkinan bagimu jika engkau berteman dengan tukang
minyak wangi. (Pertama) engkau membeli wewangian darinya sehingga engkau
menjadi wangi, (kedua) dia memberimu, atau (ketiga) engkau mencium bau
yang harum. Sebaliknya jika engkau berteman dengan tukang pandai besi
hanya ada dua kemungkinan: dia akan membakar pakaianmu dengan percikan
api tersebut, atau engkau mencium bau yang tak sedap.
Orang yang bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala berada dalam
murka Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tentunya jangan dijadikan sebagai teman
hidup kecuali dalam batasan agama, seperti mendakwahi mereka dan
mengajak untuk meninggalkan kebiasaan mereka yang jelek. Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman:
ادْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ
ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang
baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabbmu
Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya
dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
(An-Nahl: 125)
Ketiga: Golongan Orang-orang Awam
Orang awam membutuhkan bantuan orang-orang alim untuk mengajari mereka
bimbingan agama. Bukan untuk dihakimi dan divonis bila melakukan
kesalahan di atas kejahilan/keawaman mereka. Namun untuk diingatkan dan
dibimbing ke jalan yang benar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ. قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: لِلهِ، وَلِكِتَابِهِ،
وَلِرَسُوْلِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ
“Agama itu adalah nasihat.” Mereka berkata: “Bagi siapa, ya Rasulullah?”
Beliau bersabda: “Bagi Allah, bagi kitab-kitab-Nya, bagi
rasul-rasul-Nya, bagi pemimpin kaum muslimin dan orang umum mereka.”
(HR. Muslim no. 55 dari sahabat Tamim bin Aus Ad-Dari radhiyallahu
‘anhu)
Bila kita salah meletakkan sikap terhadap mereka, dikhawatirkan mereka
menjauh dari kebenaran bahkan fobi terhadapnya. Bila hal itu terjadi
karena diri kita, akan menyebabkan kita terjatuh di dalam dosa,
sebagaimana telah diperingatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu dan Abu Musa
Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu: “Berilah mereka kabar gembira dan jangan
engkau menyebabkan mereka lari (dari kebenaran).”
Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri meletakkan hukum khusus bagi mereka, sebagaimana di dalam firman-Nya:
وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِيْنَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُوْلاً
“Dan kami tidak akan mengadzab sebelum kami mengutus seorang rasul.” (Al-Isra`: 15)
Asy-Syaukani rahimahullahu di dalam tafsir beliau berkata: “Allah tidak
akan mengadzab hamba-Nya kecuali setelah tegak hujjah dengan diutusnya
para rasul dan diturunkannya kitab-kitab kepada mereka. Allah Subhanahu
wa Ta’ala menjelaskan bahwa Dia tidak membiarkan mereka hidup sia-sia
dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menyiksa mereka melainkan
setelah tegak hujjah atas mereka. Dan pendapat yang rajih adalah bahwa
Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengadzab mereka di dunia ataupun di
akhirat, kecuali setelah diutusnya para rasul kepada mereka. Demikianlah
yang dikatakan oleh sebagian ahli ilmu.” (Fathul Qadir, hal. 956)
Namun orang-orang awam tersebut akan keluar dari hukum khusus di atas apabila keawamannya tersebut disebabkan tiga perkara:
Pertama: Disebabkan istikbar (menyombongkan diri) dengan tidak mau
mempelajari kebenaran atau sombong di hadapan kebenaran, maka kejahilan
yang disebabkan hal ini tidak akan diampuni oleh Allah Subhanahu wa
Ta’ala bila dia terjatuh dalam kemaksiatan karenanya.
Kedua: Disebabkan tafrith (mengentengkan dan meremehkan) pengajaran ilmu
agama yang benar sehingga tidak mau mempelajarinya terlebih
mengamalkannya.
Ketiga: Disebabkan i’radh (berpaling) dari mempelajari ilmu agama
sehingga bila dia terjatuh dalam penyelisihan karena kejahilannya, maka
tidak akan dimaafkan. (lihat faidah dalam syarah Kasyfus Subhat)
Bergaul bersama mereka dalam tiga sebab kejahilan ini harus ekstra
hati-hati dan harus menjauhkan diri dari mereka, karena mereka tidak
akan mendatangkan kebaikan sedikitpun bagi agama. Dalam bergaul bersama
orang yang benar-benar awam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menjadi uswatun hasanah dalam hal ini. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
mengisahkan:
بَالَ أَعْرَابِيٌّ فِي الْمَسْجِدِ فَقَامَ النَّاسُ إِلَيْهِ لِيَقَعُوا
فِيْهِ، فَقَالَ النَّبِيُّ: دَعُوْهُ وَأَهْرِقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلاً
مِنْ مَاءٍ أَوْ ذَنُوْبًا مِنْ مَاءٍ فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ
مُيَسِّرِيْنَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مَعَسِّرِيْنَ
Dari Abu Hurairah berkata: Seorang Badui kencing di masjid, lalu
orang-orang bangkit untuk memukulnya (dalam riwayat yang lain mereka
menghardiknya). Rasulullah berkata: “Biarkan dia, tuangkan air di atas
kencingnya atau satu ember dari air karena sesungguhnya kalian diutus
sebagai pemberi kemudahan bukan memberikan kesulitan.” (HR. Al-Bukhari,
Kitabul Adab)
Keempat: Golongan Ahli Bid’ah dan orang yang terjatuh padanya
Kita memaklumi bahwa kemaksiatan yang paling besar setelah dosa kufur
dan syirik adalah kebid’ahan di dalam agama. Sebuah kemaksiatan yang
paling dicintai dan disukai oleh iblis. Hal ini ditegaskan oleh Al-Imam
Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu: “Sesungguhnya kebid’ahan amat sangat
disenangi oleh iblis daripada perbuatan maksiat. Karena (orang yang
melakukan) perbuatan bid’ah tidak akan (kecil kemungkinan) bertaubat
darinya. Sedangkan kemaksiatan akan (memungkinkan pelakunya) bertaubat
darinya.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu menjelaskan, makna
pernyataan bahwa kebid’ahan tidak akan diberi taubat, karena seorang
mubtadi’ (ahli bid’ah) menjadikan sesuatu yang tidak pernah disyariatkan
oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya sebagai agama. Dan
kebid’ahan itu telah dihiasi dengan kejelekan amalannya sehingga
nampaknya baik. Tentunya dia tidak akan bertaubat selama dia menganggap
perbuatannya adalah baik, karena awal dari pintu bertaubat adalah
mengetahui tentang kejelekan tersebut.” (At-Tuhfatul ‘Iraqiyyah, hal. 7)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan dari
perbuatan yang disukai iblis ini sebelum terjadinya, dalam banyak
sabdanya. Di antaranya:
وَإِيَّاكُمْ وُمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Dan berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara baru dalam agama, dan
setiap perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap kebid’ahan
itu sesat.” (HR. Abu Dawud no. 4607 dan At-Tirmidzi no. 2678 dan selain
beliau berdua dari sahabat ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu. Dan
disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam khutbatul
hajah dalam riwayat Al-Imam Muslim dari sahabat Jabir radhiyallahu
‘anhu)
Tentang pelakunya, beliau telah memperingatkan dengan tegas dan keras
sebagaimana ucapan beliau tentang Khawarij. Dalam sebuah kesempatan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Dari keturunan
orang ini muncul suatu kaum yang mereka membaca Al-Qur`an namun tidak
sampai tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana
keluarnya anak panah dari sasarannya. Mereka membunuh orang-orang Islam
dan membiarkan para penyembah berhala. Jika saya menjumpai mereka, akan
saya perangi mereka sebagaimana Allah memerangi kaum ‘Ad.” (HR.
Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu
‘anhu)
Dalam kesempatan yang lain beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: “Di mana saja kalian menjumpai mereka maka bunuhlah mereka,
karena membunuh mereka mendapatkan pahala bagi pembunuhnya pada hari
kiamat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat ‘Ali radhiyallahu
‘anhu)
Juga sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa membunuh
mereka maka dialah orang yang paling utama di sisi Allah.” (HR. Abu
Dawud no. 4765 dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dan
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)
Dalam kesempatan yang lain beliau bersabda: “Berbahagialah orang yang
membunuh mereka dan terbunuh oleh mereka.” (HR. Abu Dawud no. 4765 dari
sahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)
Dalam kesempatan yang lain beliau bersabda: “(Mereka adalah)
sejelek-jelek orang yang terbunuh di bawah kolong langit.” (HR. Ahmad
no. 19172 dari sahabat Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu ‘anhu)
Tidak termasuk seorang yang benar imannya jika dia menganggap banyak
perkara syariat yang belum disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam. Tidak termasuk berjalan di atas jalan Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika kita bergandengan tangan dengan ahli
bid’ah dan duduk bersamanya dalam satu majelis.
Para ulama salaf telah mengajarkan kita sikap bergaul yang baik dengan ahli bid’ah.
Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu berkata: “Barangsiapa mendengar ucapan
ahli bid’ah maka dia telah keluar dari pemeliharaan Allah Subhanahu wa
Ta’ala dan dia dilimpahkan kepada kebid’ahan tersebut.”
Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullahu berkata: “Barangsiapa duduk bersama
ahli bid’ah maka dia tidak akan diberikan hikmah.” Beliau juga berkata:
“Jangan kalian duduk bersama ahli bid’ah karena aku takut laknat
menimpamu.“ Beliau berkata pula: “Barangsiapa mencintai ahli bid’ah maka
telah batal amalannya dan telah keluar cahaya Islam dari dalam
hatinya.” Beliau berkata juga: “Barangsiapa yang duduk bersama ahli
bid’ah di sebuah jalan (dan kamu lewat di majelis tersebut) maka
hendaklah kamu mengambil jalan yang lain.”
Beliau juga berkata: “Barangsiapa memuliakan ahli bid’ah berarti dia
telah membantunya untuk menghancurkan Islam. Barangsiapa memberikan
senyumnya kepada ahli bid’ah maka sungguh dia telah menyepelekan apa
yang diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Barangsiapa yang menikahkan anaknya bersama ahli bid’ah maka sungguh dia
telah memutuskan hubungan kekeluargaan. Dan barangsiapa yang mengikuti
jenazah ahli bid’ah maka dia terus berada dalam murka Allah Subhanahu wa
Ta’ala sampai dia kembali.”
Bahkan beliau berkata: “Aku bisa saja makan bersama seorang Yahudi dan
Nasrani, namun aku tidak akan makan bersama ahli bid’ah. Aku senang bila
ada benteng dari besi antara diriku dengan ahli bida’h.” (Lihat Syarhus
Sunnah, Al-Imam Al-Barbahari rahimahullahu hal. 137-139)
Adapun mereka yang terjatuh dalam kebid’ahan dalam keadaan tidak
mengetahui itu adalah sebuah kebid’ahan dalam agama, kita berharap
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala
memberikan hidayah kepada mereka dan memaafkan kesalahan mereka. Sikap
kita kepada mereka adalah sebagaimana sikap kita terhadap orang yang
awam, yang butuh diselamatkan dan diajak kepada jalan yang benar.
Terkadang seseorang tergiur dengan sebuah penampilan sunnah seperti
pakaian sunnah, jenggot sunnah, ‘imamah sunnah, dan sebagainya. Namun
apalah artinya jika engkau menampilkan sunnah sementara engkau tidak
berjalan di atas jalan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Engkau tidak beraqidah di atas aqidah beliau, engkau tidak beribadah
sesuai dengan tuntunan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
sebagainya. Butuh alat pembanding dan penilai, itulah kebenaran. Oleh
karena itu “kenalilah kebenaran, engkau akan mengenal pemeluk
kebenaran.” Wallahu a‘lam bish-shawab.
Penulis: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah
Sumber: http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=517
http://haulasyiah.wordpress.com/2007/09/01/saudaraku-koreksilah-pergaulanmu/