Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Karakter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Karakter. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Mei 2013

Keberhasilan Kurikulum 2013

Keberhasilan Kurikulum 2013


Sedikitnya ada dua faktor besar dalam ke­ berhasilan kurikulum 2013. Pertama, penen­tu, yaitu kesesuaian kompetensi pendidik dan tenaga kependi­dik­an (PTK) dengan kurikulum dan buku teks. Kedua, faktor pendukung yang terdiri dari tiga unsur; (i) ketersediaan buku sebagai ba­han ajar dan sumber belajar yang mengintegrasikan standar pem­bentuk kurikulum; (ii) penguatan peran pemerintah da­am pembinaan dan penga­wasan; dan (iii) penguatan ma­naj­emen dan budaya sekolah.

iklan5-skema2



iklan5-skema1

Berkait dengan faktor perta­ma, Kemdikbud sudah mende­sain­­ strategi penyiapan guru se­­bagaimana digambarkan pa­da skema penyiapan guru yang me­ibatkan tim pengembang kurikulum di tingkat pusat; instruktur diklat terdiri atas unsur dinas pendidikan, dosen, widya­swara, guru inti, pengawas, ke­­pala sekolah; guru uta­ma me­iputi guru inti, penga­was, dan kepala sekolah; dan guru mereka terdiri atas guru kelas, guru mata pelajaran SD, SMP, SMA, SMK.
Pada diri guru, sedikitnya ada empat aspek yang harus di­beri perhatian khusus dalam rencana implementasi dan ke­terlaksanaan kurikulum 2013, yaitu kompetensi pedagogi; kompetensi akademik (keilmuan); kompetensi sosial; dan kompetensi manajerial atau kepemimpinan. Guru sebagai ujung tombak penerapan kurikulum, diharapkan bisa menyiapkan dan membuka diri terhadap beberapa kemung­kinan terjadinya perubahan.
Kesiapan guru lebih penting­ daripada pengembangan kuri­kulum 2013. Kenapa guru menjadi penting? Karena dalam kurikulum 2013, bertujuan mendorong peserta didik, mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar,­ dan mengkomunikasikan (mempresentasikan), terhadap apa yang mereka peroleh atau mereka ketahui setelah mene­rima materi pembelajaran.

iklan5-gbr1

Melalui empat tujuan itu diharapkan siswa memiliki kompetensi sikap, ketrampilan, dan pengetahuan jauh lebih baik. Mereka akan lebih kreatif, inovatif, dan lebih produktif. Disinilah guru berperan be­sar di dalam mengimplementa­sikan tiap proses pembelajaran pada kurikulum 2013. Guru ke depan dituntut tidak hanya cer­das tapi juga adaptip terhadap perubahan.

Pembelajaran Teks dalam Kurikulum 2013

Dari sudut pandang teori semiotika sosial, teks merupakan suatu proses sosial yang berorientasi pada suatu tujuan sosial. Tujuan sosial yang hendak dicapai memiliki ranah-ranah pemunculan yang disebut konteks situasi. Sementara itu, proses sosial akan berlangsung jika terdapat sarana komunikasi yang disebut bahasa. Dengan kata lain, proses sosial akan merefleksikan diri menjadi bahasa dalam konteks situasi tertentu sesuai tujuan proses sosial yang hendak dicapai. Bahasa yang muncul berdasarkan konteks situasi inilah yang menghasilkan register atau bahasa sebagai teks.
Oleh karena konteks situasi pemakaian bahasa itu sangat beragam, maka akan beragam pula jenis teks. Selanjutnya, proses sosial yang berlangsung selalu memiliki muatan nilai-nilai atau norma-norma kultural. Nilai-nilai atau norma-norma kultural yang direalisasikan dalam suatu proses sosial itulah yang disebut genre. Satu genre dapat muncul dalam berbagai jenis teks. Misalnya genre cerita, di antaranya, dapat muncul dalam bentuk teks: cerita ulang, anekdot, eksemplum, dan naratif, dengan struktur teks (struktur berpikir) yang berbeda; tidak berstruktur tunggal seperti dipahami dalam kurikulum bahasa Indonesia pada KTSP, yang semua jenis teks berstruktur: pembuka, isi, dan penutup (periksa KD BI, kelas XI, semester 2, butir: 12.2).

Pada jenis teks cerita ulang (recount) unsur utamanya berupa peristiwa yang di dalamnya menyangkut siapa, mengalami apa, pada waktu lampau, dengan struktur: orientasi (pengenalan pelaku, tempat, dan waktu) diikuti rekaman kejadian; pada teks anekdot, peristiwa yang terdapat pada teks cerita ulang harus menimbulkan krisis. Partisipan yang terlibat bereaksi pada peristiwa itu, sehingga teksnya berstruktur: orientasi, krisis, lalu diikuti reaksi. Berbeda dengan eksemplum, pada jenis teks ini peristiwa yang terdapat pada teks cerita ulang maupun anekdot memunculkan insiden, dan dari insiden itu muncul interpretasi (perenungan). Dengan demikian, teks jenis ini berstruktur: orientasi, insiden, lalu diikuti interpretasi. Adapun jenis teks naratif, peristiwa yang diceritakan harus memunculkan konflik antartokoh atau konflik pelaku dengan dirinya sendiri atau dengan lingkungannya. Oleh karena itu, teks naratif berstruktur: orientasi, komplikasi, dan resolusi. Setiap struktur teks dalam masing-masing jenis teks memiliki perangkat-perangkat kebahasaan yang digunakan untuk mengekspresikan pikiran yang dikehendaki dan secara terpadu diorientasikan pada pencapaian tujuan sosial teks secara menyeluruh. Untuk itu, pembicaraan ihwal satuan leksikal, gramatikal (tata bahasa) dalam pembelajaran berbasis teks harus berupa pembicaraan tentang satuan kebahasaan yang berhubungan dengan struktur berpikir yang menjadi tujuan sosial teks, bukan dalam bentuk serpihan-serpihan.

Dalam teori genre, terdapat dua konteks yang melatarbelakangi kehadiran suatu teks, yaitu konteks budaya (yang di dalamnya ada nilai dan norma kultural yang akan mewejawantahkan diri melalui proses sosial) dan konteks situasi yang di dalamnya terdapat: pesan yang hendak dikomunikasikan (medan/field), pelaku yang dituju (pelibat/tenor), dan format bahasa yang digunakan untuk menyampaikan pesan itu (sarana/mode). Hadirnya konteks budaya dalam teks dapat ditunjukkan, misalnya pada teks laporan dan teks deskripsi. Kedua teks ini sama-sama dikelompokkan ke dalam genre faktual, tetapi memiliki struktur teks dan nilai/norma yang melatarbelakangi berbeda. Teks laporan berstruktur: klasifikasi umum lalu diikuti deskripsi bagian, sedangkan teks deskripsi bersruktur: deskripsi umum diikuti deskripsi bagian-bagian. Satuan leksikogramatikal yang terdapat pada teks laporan harus mendukung nilai-nilai objektif, faktual bukan opini serta bersifat generik, sedangkan pada teks deskripsi satuan leksikogramatika yang merupakan opini ataupun tanggapan yang bersifat subjektif masih dapat dimunculkan dan lebih bersifat spesifik. Itu sebabnya, dalam pembelajaran bahasa berbasis teks tidak boleh dilihat bahasa secara parsial, melainkan secara utuh. Pembelajaran bahasa berbasis teks bukanlah belajar keping-keping atau serpih-serpih tentang bahasa yang cenderung bertujuan menghafal.

Pilihan pada pembelajaran bahasa berbasis teks membawa implikasi metodologis pada pembelajaran yang bertahap. Mulai dari kegiatan guru membangun konteks, dilanjutkan dengan kegiatan pemodelan, membangun teks secara bersama-sama, sampai pada membangun teks secara mandiri. Hal ini dilakukan karena teks merupakan satuan bahasa yang mengandung pikiran dengan struktur yang lengkap. Guru harus benar-benar meyakini bahwa pada akhirnya siswa mampu menyajikan teks secara mandiri.

Kehadiran konteks budaya, selain konteks situasi yang melatarbelakangi lahirnya suatu teks menunjukkan adanya kesejajaran antara pembelajaran berbasis teks (konsep bahasa) dengan filosofi pengembangan Kurikulum 2013, khusunya yang terkait dengan rumusan kebutuhan kompetensi peserta didik dalam bentuk kompetensi inti (KI) atas domein sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Kompetensi inti yang menyangkut sikap, baik sikap spiritual (KI: A) maupun sikap sosial (KI: B) terkait dengan konsep kebahasaan tentang nilai, norma kultural, serta konteks sosial yang menjadi dasar terbentuknya register (bahasa sebagai teks); kompetensi inti yang menyangkut pengetahuan (KI: C) dan keterampilan (KI: D) terkait langsung dengan konsep kebahasaan yang berhubungan dengan proses sosial (genre) dan register (bahasa sebagai teks). Selain itu, antarkompetensi dasar (KD) yang dikelompokkan berdasarkan KI tersebut memiliki hubungan pendasaran satu sama lain. Ketercapaian KD dalam kelompok KI: A dan B ditentukan oleh ketercapaian KD dalam kelompok KI: C dan D. KD dalam kelompok KI: A dan B bukan untuk diajarkan melainkan implikasi dari ketercapaian KD dalam kelompok KI: C dan D. Oleh karena itu pula, mengkritisi keberadaan KD-KD dalam Kurikulum 2013, termasuk tentang Kurikulum Bahasa Indonesia secara lepas, berdiri sendiri mengakibatkan munculnya tanggapan yang menyesatkan. Jika rumusan KD tentang sikap dihubungkan dengan KD tentang pengetahuan dan keterampilan, tentu pernyataannya tentang tidak logisnya rumusan KD, dalam Kurikulum 2013, seperti dinyatakan Acep (Kompas, 18 Maret 2013), tidak akan muncul.

Begitu pula jika, KD tentang pengetahuan yang dikritisi itu dihubungkan dengan KD tentang keterampilan, maka pernyataan bahwa Kurikulum 2013 hanya akan menghasilkan siswa penghafal, seperti dinyatakan Bambang (Kompas, 20 Maret 2013) tidak akan lahir. Selanjutnya, jika dibandingkan antara KD yang dirumuskan dalam Kurikulum 2013 dengan KD dalam KTSP, maka terdapat beberapa persamaan dan perbedaan yang mendasar. Persamaannya, kedua kurikulum itu menampilkan teks sebagai butir-butir KD. Sebagai contoh, dalam KTSP (2006) untuk kelas I, dan kelas IV semester 1, ditemukan KD 2.3: “Mendeskripsikan benda-benda di sekitar dan fungsi anggota tubuh dengan kalimat sederhana” dan KD 4.2: “Menulis petunjuk untuk melakukan sesuatu atau penjelasan tentang cara membuat sesuatu”. Bandingkan rumusan KD itu dengan KD dalam Kurikulum 2013 kelas 1 SD pada aspek pengetahuan: (a) KD3.1:“Mengenal Teks deskriptif tentang anggota tubuh dan panca indera …”; (b) KD 3.2: “Mengenal teks petunjuk/arahan tentang perawatan tubuh serta pemeliharaan kesehatan dan …”. Baik pada KTSP maupun pada Kurikulum 2013 teks disajikan sebagai butir-butir yang dicantumkan sebagai KD, tidak seperti yang dinyatakan Bambang. Hanya saja, pada Kurikulum 2013 dibedakan antara KD yang berhubungan dengan aspek pengetahuan, kerampilan, dan sikap. Adapun perbedaannya, KD pada KTSP masih banyak yang disusun berdasarkan pandangan linguistik struktural, misalnya: rumusan KD kelas I semester 1 berikut. KD 3.1: “Membaca nyaring suku kata, kata dengan lafal yang tepat” dan KD 3.2: “Membaca nyaring kalimat sederhana dengan lafal dan intonasi yang tepat”. Kedua rumusan KD ini mencerminkan pembelajaran kompetensi berbahasa yang bersifat struktural, dari kemampuan melafalkan unsur bahasa yang terkecil: suku kata, meningkat ke pelafalan kata, dan diteruskan ke pelafalan kalimat, bahkan sampai ke teks (cermati KD kelas II, semester 2, butir 7.1: “Membaca nyaring teks (15-20 kalimat) dengan memperhatikan lafal dan intonasi yang tepat”. Dengan mencermati KD-KD-nya, maka penyusunan kurikulum bahasa Indonesia pada KTSP dapat dikatakan dilakukan dengan setengah berlandaskan pendekatan struktural dan setengahnya lagi berlandaskan pada pendekatan teks. Bahkan masih terdapat pencampuradukan antara konsep teks dengan paragrap. Cermati KD Kelas X, semester 1: 4.2: “Menulis hasil observasi dalam bentuk paragrap deskriptif”. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kurikulum bahasa Indonesia sejak Kurikulum 1994 sampai KTSP yang didengung-dengungkan berbasis kontekstual adalah tidak sepenuhnya benar. Berbeda jauh dengan Kurikulum 2013 yang sepenuhnya berbasisi teks. ***

Selasa, 07 Mei 2013

GURU 3 K


oleh:
Prof. Dr. H. Moh. Ali Aziz, M.Ag.
Guru Besar pada Fakultas Dakwah
 
Bulan ini, saya bersyukur kedatangan tiga guru spiritual. Mereka bukan ustad yang biasa mengumandangkan ratusan hafalan ayat Al Qur’an dan hadis nabi. Bukan juga pemimpin kelompok dzikir dengan peci putih di kepala dan tasbih melingkar di jari tangan. Tidak satu ayat atau hadispun terucap dari mulut tiga tamu itu. Tapi, sungguh beberapa kata yang disampaikan di tengah pembicaraan itu  membuat saya sangat haru, sekaligus memperoleh banyak pelajaran. Pertama, orang buta (63 tahun) yang datang jauh dari Lumajang (90 km dari Surabaya). Kedua, pengidap tumor ganas dan gangguan jantung (67 tahun) dari Surabaya. Ketiga, tamu dari Sidoarjo (64 tahun). Sebelumnya, ia tidak bisa berjalan selama lima tahun karena mengalami penyempitan pembuluh darah di balik kedua betisnya.
Ketiga tamu itu datang pada waktu dan tempat yang berbeda, tapi memberi pelajaran yang sama: keikhlasan, keridloan dan kepasrahan.  “Saya ikhlas. Senang saja menerima cobaan ini. Saya tidak minta sembuh. Terserah saja apa kehendak Allah,” inilah inti jawaban mereka ketika saya tanya, “Apa bapak meminta sembuh dari penyakit berat ini?”. Luar biasa.  Itulah penggalan kalimat yang membuat saya merinding dan meneteskan air mata tanpa terasa.
Kehebatan mereka terletak pada penguatan mindset, sehingga mereka “meminum yang pahit dengan rasa manis”. Sekalipun demikian, saya ingin menambah semangat kebahagiaan disamping apresiasi besar. Kepada “guru” pertama yang buta, saya mengatakan, “Saya yakin, bapak adalah orang pertama yang melihat cahaya surga. Orang pertama pula yang diberi kesempatan memandang keindahan “wajah” Allah di akhirat kelak. Sebab, bapak telah terbebas dari dosa mata, dan tercabut dari keindahan alam semesta. Dengan kebutaan, bapak telah memperoleh ketajaman atau kepekaan telinga mendengar kalam Allah.”
Kepada “guru” kedua, saya berbagi, “Keriangan bapak menerima tumor sebagai kado dinar dari Allah pasti ampunan dosa dari-Nya, melebihi pengampunan dari ibadah umrah dan haji puluhan kali.” Bagi saya, riang menerima cobaan bernilai lebih tinggi dari kesabaran.  Sakit sedikit karena tertusuk duri di jalan saja sudah mendatangkan ampunan, kata Nabi SAW.  Apalagi gangguan jantung dan tumor. Sekian lama merasakan sakit fisik. Ratusan juta rupiah ia dikeluarkan untuk pengobatan. Di akhir pertemuan, pria lansia itu masih berpesan, “Saya sehat lebih dari 60 tahun. Maka jika saya sakit hanya tiga tahun, tidaklah pantas bagi saya untuk membesar-besarkan penyakit dan melupakan kesehatan yang dianugrahkan sekian lama.”
Kepada “guru” ketiga, saya tidak hanya haru tapi juga kaget. Setelah menguatkan ridla dan keikhlasan menerima kelumpuhan kaki dan pembulatan pasrah kepada Allah dengan puncak kepasrahan dalam rukuk dan sujudnya, tiba-tiba ketika adzan shubuh, Selasa (lupa tanggal) April 2013 itu, ia bisa berjalan sampai ke masjid untuk shalat berjamaah, sekalipun dengan sedikit menyeret kaki. “Dulu saya tiada henti meminta sembuh. Tapi setelah lama tidak sembuh, saya ikhlas dan ridlo saja. Saya bulatkan lagi kepasrahan kepada Allah dalam setiap rukuk dan sujud saya.  Ternyata, di saat demikian, justru diberi kesembuhan,” katanya dengan wajah sumringah.
Salam takdzim untuk ketiga “guru” saya. Saya bertekad menyontoh keikhlasan, keridloan dan kepasrahan mereka.  Saya kirimkan satu hadis Nabi berikut sebagai hadiah dan kenang-kenangan perjumpaan dengan mereka.  “Suatu saat, Ibnu Abbas berkata kepada ‘Attha’ bin Abi Rabah, “Maukah kamu saya tunjukkan perempuan calon penghuni surga?” “Tentu, dengan senang hati,” jawan ‘Atha’. Lalu Ibnu Abbas menunjuk ke arah perempuan berkulit hitam, dan berkata, “Dia pernah mengadu kepada Nabi SAW, “Wahai Nabi, aku punya penyakit ayan, dan terbuka auratku ketika itu. Berdoalah untuk kesembuhanku.” Nabi SAW menjawab, “Jika mau, bersabarlah dan surga pasti untukmu. Tapi jika tetap ingin sembuh, saya akan berdoa untuk kesembuhanmu.” Perempuan itu menjawab, “Aku memilih sabar, wahai nabi. Hanya doakan aku, agar auratku tidak terbuka ketika ayan” Lalu Nabi SAW berdoa (sesuai harapan si tamu). (HR Bukhari Muslim dari ‘Atha’ bin Abi Ribah r.a) (Dalilul Falihin, Juz I: 119). (Surabaya, 2-5-13)

taken from: 
http://www.sunan-ampel.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=996%3Aguru-3-k&catid=45%3Akolom-p-rektor&lang=in

Sabtu, 20 April 2013

teori tentang peran GURU dalam pembelajaran


a. Guru sebagai Pendidikan
Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan dan identifikasi bagi para peserta didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu guru harus memiliki standar kualitas pribadi tertentu, yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri dan disiplin.
Berkaitan dengan tanggung jawab guru harus mengetahui serta memahami nilai, norma moral dan sosial serta berusaha berperilaku dan berbuat sesuai dengan norma tersebut.
b. Guru Sebagai Pengajar
Berkembangnya teknologi, khususnya teknologi informasi yang begitu pesat berkembangnya, belum mampu menggantikan peran dan fungsi guru, hanya sedikit bergeser atau mengubah fungsinya itupun terjadi di kota-kota besar saja, ketika para peserta didik memiliki berbagai sumber belajar dirumah.
Perkembangan teknologi mengubah peran guru dari pengajar yang bertugas menyampaikan materi pembelajaran menjadi fasilitator yang memberikan kemudahan belajar. Hal ini dimungkinkan karena perkembangan teknologi menimbulkan banyak buku dengan harga relatif murah. Di samping itu, peserta didik dapat belajar dari berbagai sumber seperti radio, televisi, berbagai film pembelajaran bahkan program internet atau electronic learning (e-learning)
c. Guru Sebagai Pembimbing
Guru dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan (journey), yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya bertangung jawab atas kelancaran perjalanannya itu. Dalam hal ini, istilah perjalanan tidak hanya menyangkut fisik tetapi juga perjalanan mental, emosional, kreatifitas, moral dan spiritual yang lebih dalam dan kompleks. Sebagai pembimbing, guru harus merumuskan tujuan secara jelas, menetapkan waktu perjalanan, menetapkan jalan yang harus ditempuh, menggunakan petunjuk perjalanan, serta menilai kelancaran sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan peserta didik. Semua itu dilakukan berdasarkan kerjasama yang baik dengan peserta didik, tetapi guru memberikan pengaruh utama dalam setiap aspek perjalanan. Sebagai pembimbing, guru memiliki berbagai hak dan tanggung jawab dalam setiap perjalanan yang direncanakan dan dilaksanakan.
Istilah perjalanan merupakan proses suatu proses belajar, baik dalam kelas maupun diluar kelas yang mencakup seluruh kehidupan. Analogi dari perjalanan itu sendiri merupakan pengembangan setiap aspek yang terlibat dalam proses pembelajaran. Setiap perjalanan tentu mempunyai tujuan, kecuali orang yang berjalan secara kebetulan. Keinginan, kebutuhan dan bahkan naluri manusia menuntut adanya suatu tujuan. Suatu rencana dibuat, perjalanan dilaksanakan dari waktu ke waktu terdapatlah saat berhenti untuk melihat kebelakang untuk mengukur sifat, arti dan efektivitas perjalanan sampai tempat berhenti tadi.
Berdasarkan ilustrasi di atas, dapat disimpulkan bahwa sebagai pembimbing perjalanan, guru memerlukan kompetensi yang tinggi untuk melaksanakn empat hal berikut:
Pertama, guru harus merencanakan tujuan dan mengidentifikasi kompetensi yang hendak dicapai. Tugas guru adalah menetapkan apa yang telah dimiliki oleh peserta didik sehubungan dengan latar belakang dan kemampuannya serta komptensi apa yang mereka perlukan untuk dipelajari dalam mencapai tujuan.
Kedua, guru harus melihat keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran dan yang paling penting bahwa peserta didik melaksanakan kegiatan belajar itu tidak hanya secara jasmaniah, tetapi harus terlibat secara psikologis.
Ketiga, guru harus memaknai kegiatan belajar. Hal ini mungkin tugas yang paling sukat tetapi penting karena guru harus memberikan kehidupan dan arti terhadap kegiatan belajar.
Kempat, guru harus melaksanakan penilaian.
d. Guru Sebagai Pelatih
Proses pendidikan dan pembelajaran memerlukan latihan keterampilan, baik intelektual maupun motorik, sehingga menuntut guru untuk bertindak sebagai pelatih. Hal ini lebih ditekankan lagi dalam kurikulum 2004 yang berbasis komptensi, karena tanpa latihan peserta didik tidak akan mampu menunjukan pennguasaan komptensi dasar, dan tidak akan mahir dalam berbagai keterampilan yang dikembangkan sebagai materi standar. Oleh karena itu guru harus berperan sebagai pelatih, yang bertugas melatih perserta didik dalam pembentukan kompetensi dasar, sesuai dengan potensi masing-masing.
e. Guru Sebagai Penasehat
Guru adalah penasehat bagi peserta didik, bahkan bagi orang tua, meskipun mereka tidak memiliki latihan khusus sebagai penasehat dan dalam beberapa hal tidak dapat berharap untuk menasehati orang. Banyak guru cenderung menganggap konseling terlalu banyak membicarakan klien, seakan-akan berusaha mengatur kehidupan orang, dan oleh karenanya mereka tidak senang melaksanakan fungsi ini.
Agar guru dapat menyadari perannya sebagai orang kepercayaan dan penasehat secara lebih mendalam, ia harus memahami psikologi keperibadian dan ilmu kesehatan mental.
f. Guru Sebagai Pembaharu (Innovator)
Guru menerjemahkan pengalaman yang telah lalu kedalam kehidupan yang bermakna bagi peserta didik. Dalam hal ini, terdapat jurang yang dalam dan luas antara generasi yang satu dengan yang lain, demimikian halnya dengan pengalaman orang tua memiliki arti lebih banyak dari nenek kita.
Unsur yang hebat dari manusia adalah kemampuannya untuk belajar dari kemampuan orang lain. Kita menyadari bahwa manusia normal dapat menerima pendidikan, dengan memiliki kesempatan yang cukup, ia dapat mengambil bagian dari pengalaman yang bertahun-tahun, proses belajar serta prestasi manusia dan dalam jangka waktu tertentu. Manusia tidak hanya terbatas pada pengalaman pribadinya, melainkan dapat mewujudkan pengalaman dari semua waktu dan dari setiap kebudayaan. Dengan demikian, ia dapat berdiri bebas pada saat terbaiknya, dan guru yang tidak sensitif adalah buta akan arti kompetensi profesional. Kemampuan manusia yang uni ini harus dikembangkan sehingga memberikan arti penting terhadap kinerja guru.
Prinsip modernisasi tidak hanya diwujudkan dalam bentuk buku-buku sebagai alat utama pendidikan melainkan dalam semua rekaman tentang pengalaman manusia. Tugas guru adalah menerjemahkan kebijakan dan penglaman yang berharga ini kedalam istilah atau dalam bahasa modern yang akan diterima oleh peserta didik.
g. Guru Sebagai Model dan Teladan
Guru merupakan model atau teladan bagi para peserta didik dan semua orang yang mengnggap dia sebagai guru. Sebagai teladan, tentu saja pribadi dan apa yang dilakukan guru akan mendapat sorotan peserta didik serta orang disekitar lingkungannya yang mengganggap atau mengakuinya sebagai guru. Sehubungan itu, beberapa hal dibawah ini perlu mendapat perhatian para guru.
1. Sikap dasar: postur psikologis yang akan nampak dalam masalah-masalah penting, sehingga keberhasilan, kegagalan, pembelajaran, kebenaran hubungan antar manusia, agama, pekerjaan dan diri
2. Bicara dan gaya bicara: penggunaan bahasa sebagai alat berpikir.
3. Kebiasaan bekerja: gaya yang dipakai oleh seseorang dalam bekerja yang ikut mewarnai kehidupannya.
4. Sikap melalui pengalaman dan kesalahan: pengertian hubungan antara luasnya pengalaman dan nilai serta tidak mungkinnya mengelak dari kesalahan.
5. Pakaian: merupakan perlengkapan pribadi yang amat penting dan menampakan ekspresi seluruh kepribadian.
6. Hubungan kemanusian: diwujudkan dalam semua pergaulan manusia, intelektual, moral, keindahan, terutama bagiamana berperilaku.
7. Proses berpikir: cara yang digunakan oleh pikiran dalam mengahadapi dan memecahkan masalah.
8. Perilaku neurotis: suatu pertahanan yang dipergunakan untuk melindungi diri dan bisa juga untuk menyakiti orang lain.
9. Selera: pilihan yang secara jelas merefleksikan nilai-nilai yang dimiliki oleh pribadi yang bersangkutan.
10. Keputusan:keterampilan rasional dan intuitif yang dipergunakan untuk menilai situasi.
11. Kesehatan: kualitas tubuh, dan semangat yang merefleksikan kekuatan, perspektif, sikap tenang, antusias dan semangat hidup.
12. Gaya hidup secara umum: apa yang dipercaya oleh seseorang tentang setiap aspek kehidupan dan tindakan untuk mewujudkan kepercayaan itu.
h. Guru Sebagai Pribadi
Sebagai pribadi yang hidup ditengah-tengah masyarakat, guru perlu juga memiliki kemampuan untuk berbaur dengan masyarakat melalui kemampuannya, antara lain melalui kegiatan olah raga, keagamaan dan kepemudaan. Keluwesan bergaul harus dimiliki, sebab kalau tidak bergaulannya akan menjadi kaku dan berakibat yang bersangkutan kurang bias diterima oleh masyarakat.
Jika dimasyarakat, guru diamati dan nilai oleh masyarakat, maka disekolah diamati dan nilai oleh peserta didik dan oleh teman sejawat serta atasannya. Dalam kesempatan tertentu sejumlah peserta didik membicarakan kebaikan gurunya, tetapi dalam situasi lain mereka membicarakan kekurangannya. Ada baiknya jika guru sering minta pendapat teman sejawat atau peserta didik tentang penampilannya sehari-hari, baik dalam maupun diluar kelas, dan segera memanfaatkan pendapat yang telah diterima dalam upaya mengubah atau memperbaiki penampilan tertentu yang kurang tepat.
i. Guru Sebagai Peneliti
Pembelajaran merupakan seni, yang dalam pelaksanaannya memerlukan penyesuaian-penyesuaian dengan kondisi lingkungan . Untuk itu diperlukan berbagai penelitian, yang didalamnya melibatkan guru. Oleh karena itu guru adalah seorang pencari atau peneliti. Dia tidak tahu dan dia tahu bahwa dia tidak tahu, oleh karena itu dia sendiri merupakan subyek pembelajaran. Dengan kesadaran bahwa ia tidak mengetahui sesuatu maka ia berusaha mencarinya melalui kegiatan penelitian. Usaha mencari sesuatu itu adalah kebenaran, seperti seorang ahli filsafat yang senantiasa mencari dan menemukan dan mengemukakan kebenaran.
j. Guru Sebagai Pendorong Kreativitas
Kreativitas merupakan hal yang penting dalam pembelajaran dan guru dituntut untuk mendemonstrasikan dan menunjukan proses kreativitas tersebut. Kreativitas merupakan sesuatu yang bersifat universal dan merupakan cirri aspek dunia kehidupan di sekitar kita. Kreativitas ditandai oleh adanya kegiatan menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada dan tidak dilakukan oleh seseorang atau adanya kecenderungan untuk menciptakan sesuatu.
k. Guru Sebagai Pembangkit Pandangan
Dunia ini panggung sandiwara, yang penuh dengan berbagai kisah dan peristiwa, mulai dari kisah nyata sampai yang direkayasa. Dalam hal ini guru dituntut untuk memberikan dan memelihara pandangan tentang keagungan pada peserta didiknya. Mengemban fungsi ini guru harus terampil dalam berkomunikasi dengan peserta didik dalam segala umur, sehingga dalam setiap langka dari proses pendidikan yang dikelolanya dilaksanakan untuk menunjang fungsi ini. Guru tahu bahwa ia tidak dapat membangkitkan pandangan tentang kebesaran kepada peserta didik jika ia sendiri tidak memilikinya. Oleh karena itu, para guru perlu dibekali dengan ajaran tentang hakekat manusia dan setelah mengenalnya akan mengenal pula kebesaran Allah yang menciptakannya.
l. Guru Sebagai Pekerja Rutin
Sebegaian besar kegiatan manusia dalam suatu masyarakat yang kompleks merupakan suatu hal yang rutin. Pekerjaan yang rutin memang banyak dibenci, baik oleh orang dewasa maupun anak-anak; namun setiap profesi dan bahkan setiap aspek kehidupan manusia memerlukan keterampilan rutin yang harus dikuasai dan dikerjakan secara teratur, termasuk pembelajaran. Sedikitnya terdapat 17 (tujuh belas0 kegiatan rutin yang sering dikerjakan guru dalam pembelajaran di setiap tingkat, yaitu:
1. Bekerja tepat waktu baik di awal maupun akhir pembelajaran.
2. Membuat catatan dan laporan sesuai dengan standard kinerja, ketepatan dan jadwal waktu.
3. Membaca, mengevaluasi dan mengembalikan hasil kerja peserta didik.
4. Mengatur kehadiran peserta didik dengan penuh tanggung jawab.
5. Mengatur jadwal, kegiatan harian, mingguan, semesteran dan tahuanan.
6. Mengembangkan peraturan dan prosedur kegiatan kelompok termasuk diskusi.
7. Menetapkan jadwal peserta didik.
8. Mengadakan pertemuan dengan orang tua dan dengan peserta didik.
9. Mengatur tempat duduk peserta didik.
10. Mencatat kehadiran peserta didik.
11. Memahami peserta didik.
12. Menyiapkan bahan-bahan pembelajaran, kepustakaan dan media pembelajaran.
13. Menghadiri pertemuan dengan guru, orang tua peserta didik dan alumni.
14. Menciptakan iklim kelas yang kondusif
15. Melaksanakan latihan-latihan pembelajaran.
16. Merencanakan program khusus dalam pembelajaran, misalnya karya wisata.
17. Menasehati peserta didik.
m. Guru Sebagai Pemindah Kemah
Hidup ini selalu berubah dan guru adalah seorang pemindah kemah yang suka memindah-mindahkan dan membantu peserta didik meninggalkan hal lama menuju sesuatu hal yang baru yang bisa mereka alami. Guru berusaha keras untuk mengetahui masalah peserta didik, kepercayaan dan kebiasaan yang menghalangi kemajuan serta membantu menjahui dan meninggalkannya untuk mendapatkan cara-cara baru yang lebih sesuai.
n. Guru Sebagai Pembawa Cerita
Cerita berlangsung secara lisan sehingga mencapai era kristalisasi kata-kata yang tertulis telah memberikan keberhasilan generasi baru dengan generasi berikutnya, serta dengan kesabaran melengkapi manusia dengan catatan tentang pewarisnya. Dalam hal ini perpustakaan yang besar telah menjadi monumen yang hebat bagi pikiran manusia, kekayaan yang ditinggalkan manusia sedunia telah berada dalam buku-buku, halaman, garis-garis yang menyimpan kata-kata tertulis.
Cerita adalah cermin yang bagus dan merupakan tongkat pengukur. Dengan cerita manusia bisa mengamati bagaimana memecahkan masalah yang dengan yang dihadapinya, menemukan gagasan dan kehidupan yang nampak diperlukan manusia lain yang bisa disesuaikan dengan kehidupan mereka.
o. Guru Sebagi Aktor
Sebagai seorang aktor, guru harus melakukan apa yang ada didalam naska yang telah disusun dengan mempertimbangkan pesan yang akan disampaikan pada penonton. Penampilan yang bagus dan seorang aktor akn mengakibatkan para penonton tertawa, mengikuti dengan sungguh-sungguh dan bisa pula menangis mengikuti penampilan sang aktor.
Sebagai aktor, guru berangkat dengan jiwa pengabdian dan inspirasi yang dalam yang akan mengarahkan kegiatannya. Guru harus menguasai materi standar dalam bidang study yang menjadi tanggung jawabnya, memperbaiki keterampilan dan mengembangkan untuk mentransfer bidang studi itu.
p. Guru Sebagai Emansipator
Dengan kecerdikannya, guru mampu memahami potensi peserta didik, menghormati setiap insan, dan menyadari bahwa kebanyakan insan merupakan ”budak” stagnasi kebudayaan. Ketika masyarakat membicarakan rasa tidak senang kepada peserta didik tertentu guru harus mengenal kebutuhan peserta didik tersebut akan pengalaman, pengakuan dan dorongan. Dia tahu bahwa pengalaman, pengakuan dan dorongan membebaskan peserta didik dari “self image” yang tidak menyenangkan, kebodohan, dan perasaan tertolak dan rendah diri.
q. Guru Sebagai Evaluator
Sebagai suatu proses, penilaian dilaksanakan dengan prinsip-prinsip dan dengan teknik yang sesuai, mungkin tes dan nontes. Teknik apapun yang dipilih, penilaian harus dilakukan dengan prosedur yang jelas, yang meliputi tiga tahap yaitu persiapan, pelaksanaan dan tindak lanjut.
Mengingat kompleksnya proses penilaian, guru perlu memiliki pengetahuan, keterampilam dan sikap yang memadai.
r. Guru Sebagai Pengawet
Salah satu tudas pendidik adalah mewariskan kebudayaan dari generasi ke generasi berikutnya, karena hasil karya manusia terdahulu masih banyak yang bermakna bagi kehidupan manusia sekarang maupun masa depan. Untuk melaksanakan tugasnya sebagai pengawet terhadapa apa yang telah dicapai manusia terdahulu, dikembangkan salah satu sarana pendidikan yaitu kurikulum, yang secara sederhana diartikan sebagai program pembelajaran. Dengan kurikulum, maka jaminan pengetahuan yang telah ditemukan dan disusun oleh para pemikir pendidika yang lebih kuat. Dalam perkembangannya kurikulum memiliki sifat yang fleksibel, sehingga memungkinkan perubahan, memungkinkan guru mengembangkan kreativitasnya, memberi peluang untuk penyesuaian dengan kebutuhan masyarakat seperti muatan lokal, desentralisasi dan kurikulum yang berbasis kompetensi.
s. Guru Sebagai Kulminator
Guru adalah orang yang mengarahkan proses belajar secara bertahap dari awal hingga akhir (kulminasi). Dengan rancangannya peserta didik akan melewati tahap kulminasi, suatu tahap yang memungkinkan setiap peserta didik bias mengetahui kemajuan belajarnya. Disini peran sebagai kulminator terpadu dengan peran sebagai evaluator.

PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM MENURUT IBN MISKAWAIH

A.       Identitas dan Riwayat Hidup Ibnu Maskawaih

Ibnu Miskawaih mempunyai nama lengkap Abu Ali Ahmad Ibnu Muhammad Ibnu yacub Ibnu Miskawaih. Sebutan namanya yang lebih masyhur adalah Maskawaih atau Ibnu Maskawaih. Nama tersebut diambil dari nama kakeknya yang semula beragama Majusi kemudian masuk Islam. Gelarnya adalah Abu Ali, yang diperoleh dari nama sahabat Ali, yang bagi kaum Syi’ah dipandang sebagai yang berhak menggantikan nabi dalam kedudukannya sebagai pemimpin umat Islam sepeninggalnya. Dari gelar ini tidak salah jika orang mengatakan bahwa Maskawaih tergolong penganut aliran Syi’ah. Gelar ini juga sering disebutkan, yaitu al-Khazim yang berarti bendaharawan, disebabkan kekuasaan Adhud al Daulah dari Bani Buwaihi, ia memperoleh kepercayaan sebagai bendaharawannya. Ia dilahirkan di kota Rayy Iran pada tahun 330H/9 M dan wafat di Asfahan pada tanggal 9 Shafar 421 H/ 16 Feruari 1030 M dalam usia 91 tahun.[1]

Maskawaih dilahirkan di Ray (Teheran sekarang). Mengenai tahun kelahirannya, para penulis menyebutkan berbeda-beda, MM Syarif menyebutkan tahun 320 H/932 M. Morgoliouth menyebutkan tahun 330 H. Abdul Aziz Izzat menyebutkan tahun 325 H. Sedangkan wafatnya, para tokoh sepakat pada 9 shafar 421 H/16 Februari 1030 M.

Dilihat dari tahun lahir dan wafatnya, Maskawaih hidup pada masa pemerintahan Bani Abbas yang berada di bawah pengaruh Bani Buwaihi yang beraliran Syi’ah dan berasal dari keturunan Parsi Bani Buwaihi yang mulai berpengaruh sejak Khalifah al Mustakfi dari Bani Abbas mengangkat Ahmad bin Buwaih sebagai perdana menteri dengan gelar Mu’izz al Daulah pada 945 M. Dan pada  tahun 945 M itu juga Ahmad bin Buwaih berhasil menaklukkan Baghdad di saat bani Abbas berada di bawah pengaruh kekuasaan Turki. Dengan demikian, pengaruh Turki terhadap bani Abbas digantikan oleh Bani Buwaih yang dengan leluasa melakukan penurunan dan pengangkatan khalifah-khalifah bani Abbas.

Puncak prestasi bani Buwaih adalah pada masa ‘Adhud al Daulah (tahun 367 H – 372 H). Perhatiannya amat besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kesusasteraan, dan pada masa inilah Maskawaih memperoleh kepercayaan untuk menjadi bendaharawan ‘Adhud al Daulah. Juga pada masa ini Maskawaih muncul sebagai seorang filosof, tabib, ilmuwan, dan pujangga. Tapi, disamping itu ada hal yang tidak menyenangkan hati Maskawaih, yaitu kemerosotan moral yang melanda masyarakat. Oleh karena itulah agaknya Maskawaih lalu tertarik untuk menitikberatkan perhatiannya pada bidang etika Islam.[2]

Latar belakang pendidikannya tidak diketahui secara rinci, sebagian antara lain terkenal memepelajari sejarah dari Abu Bakar Ahmad Ibn Kamil al-Qadhi, mempelajari filsafat dari Ibn al-Akhmar dan mempelajari kimia dari Abi Thayyib.[3]

 

B.       Pemikiran Ibn Miskawaih Secara Umum

Syed Abdul Wadud di dalam buku Alam dan Quran telah menyebut dia sebagai Miskawiah. Ia adalah ilmuwan suka meneliti dalam pengetahuan ilmiah dan akademis untuk berbagai. Ia adalah ahli dan mampu di bidang Biologi; ia merupakan ilmuwan pertama yang menemukan kehidupan tumbuhan secara umum, membahas tentang evolusi. Ia adalah sarjana sosiologi, yang ahli tentang kebudayaan dan peradaban dengan spesifikasi pada disiplin Psikologi, dalam bidang psikologi ia termasuk ahli dibidangnya. Ia adalah peneliti dan pemikir etika, kerohanian dan penulis besar buku akhlak.

Maskawaih adalah salah seorang tokoh filsafat dalam Islam yang memusatkan perhatiannya pada etika Islam. Meskipun sebenarnya ia pun seorang sejarawan, tabib, ilmuwan dan sastrawan. Pengetahuannya tentang kebudayaan Romawi, Persia, dan India, disamping filsafat Yunani, sangat luas.

 

Karya-karya Ibnu Miskawaihi antara lain :
• Tajarib Al-Umam
• Ta'qub Al-Himam
• Thaharat Al-Nafs
• Adab Al-Arab wa Al-Firs
• Al-Fawz Al-Ashgarfi Ushul Al-Diniyat
• Al-Fawz Al-Akbar (dalam bidang etika)
• Kitab Al-Siasat
• Mukhtar Al-Asy' ar
• Nadim Al-Farid
• Nu Zhat Namah ' Alaiy
• Jawidan Khird
• Tartib Al-Sa;adat (dalam bidang etika)
• Al-Adawiyah Al-Mufridah (tentang obat-obatan)
• Al-Asyribah

C.       Pemikiran Ibn Miskawaih tentang Pendidikan Islam

Psikologi Miskawaihi bertumpu pada ajaran spiritualistik tradisional Plato dan Aristoteles dengan kecenderungan Platonis. Pada tulisan awalnya Ibnu Miskawaihi menyatakan keterkaitan antara pembentukan watak dengan pendidikan dan ilmu jiwa. Katanya "Tujuan kami menyusun kitab ini (Tahzi-bul Akhlak) adalah untuk menghasiikan bagi diri kita suatu watak pribadi yang melahirkan perilaku yang baik seluruhnya dengan gampang, tak dibuat-buat lagi tanpa kesulitan (maksudnya perilaku yang baik lahir dari watak itu secara otomatis). Hal demikian diperoleh melalui proses pendidikan dan jalan untuk demikian lebih dahulu dipelajari ilmu jiwa. Apa dan bagaimana jiwa itu? Untuk apa dia dciptakan, kesempurnaannya, tujuannya, kemampuannya "sifatnya" yang bila kita pergunakan/ bina sebagaimana mestinya, niscaya jiwa itu akan-membawa kita, kepada martabat yang mulia. Dan perlu pula kita pelajari faktor-faktor yang menghambat jiwa itu dalam rnenuju martabat yang mulia, apa saja yang mensucikannya dan apa yang mengotorinya,[4] maka karena itu Tuhan berfirman dalam Surah as-Syams ayat 10 : "Beruntunglah orang yang membersihkannya dan rugilah orang yang meno-dainya"

"Jiwa itu menurut Ibnu Miskawaihi adalah zat pada diri kita yang bukan berupa jisim, bukan pula bagian dari jisim, bukan pula aradh (sifat peserta pada substansi) wujudnya tidak memerlukan potensi tubuh, tapi dia jauhar basith (substansi yang tidak berdiri atas unsur-unsur) tak dapat diindra oleh pengindraan". Jiwa itu mempunyai aktifitas yang berlainan dengan aktifitas jisim serta bagian-bagiannya dengan segala sifat-sifatnya hingga tidak menyertainya dalam segala hal. Bahkan juga berbeda dengan sifat aradl (accident) jisim serta berlainan sama sekali dengan jisim dan sifat-sifat aradl, Tegasnya jiwa itu bukan jisim, bukan pula bagian dari jisim dan bukan pula sifat aradly. Jiwa itu tidak mengambil ruang, tidak berobah. Dia (jiwa) dapat menanggapi segala sesuatu secara serentak bersamaan dan tidak mengalamy penyusutan, rusak atau berku-rang.

Ibnu Miskawaihi memberi penjelasan lagi akan hal tersebut di atas bahwa tiap jisim mempunyai shurah. Dia tidak akan menerima shurah lain yang dari jenis shurah pertama kecuali sesudah jisim melepaskan sama sekali shurah yang pertama. Contohnya bila jisim sudah menerima suatu shurah / syakal umpamanya segitiga, maka dia tidak akan menerima lagi syakal lain misalnya segi empat, bundar atan lainnya, kecuali bila jisim melepaskan syakal pertama (segitiga). Demikian pula bila jisim menerima shurah lukisan atau tulisan maka jisim itu tidak dapat menerima shurah lukisan/tulisan lainnya kecuali sesudah shurah lukisan pertama/terdahulu lenyap sama sekali. Bila shurah terdahulu tetap masih ada bersisa, maka jisim tidak dapat menerima secara utuh shurah yang datang kemudian lalu terjadilah campur aduk antara kedua shurah itu, tak ada salah satupun diantara dua shurah itu yang bersih sama sekali. Contoh lain, sebatang lilin bilamana sudah menerima shurah lukisan yang dicapkan atasnya, lilin itu tidak akan menerima cap lukisan berikutnya kecuali jika shurah lukisan yang lama dihapuskan.

Demikianlah hukum yang berlaku pada jisim. Berbeda halnya dengan sifat-sifat jiwa itu menerima semua shurah dari segala sesuatu secara menyelurah yang bermacam-macam, baik yang mahsusaat (segala sesuatu yang diindera) ataupun yang berupa ma'qulaat (pengertian-pengertian) dengan sempurna, tanpa melepaskan shurah yang terdahulu atau menggantikannya ataupun melenyapkannya, bahkan gambaran (shurah) terdahulu dengan sempurna tetap bertahan, juga shurah yang datang berikutnya tersimpan dengan sempurna. Kemudian jiwa terus menerus menerima shurah demi shurah tanpa kelelahan dan kealpaan ketika menerima shurah baru datang. Bahkan shurah terdahulu bertambah kuat dengan kedatangan shurah berikutnya. Inilah sifat-sifat khusus pada jiwa yang berlainan dengan sifat-sifat khusus pada jisim. Karena faktor inilah penalaran dan pemahaman manusia berkembang teras manakala dia terlatih dan berkecimpung dalam dunia ilmu pengetahuan dan kebudayann. Jadi jiwa itu bukanlah jisim.

 

Macam-macam kekuatan jiwa

Tiga macam kekuatan Alquwwah nafsiyah yang dikemukakan Ibnu Miskawaihi. Pertama Quwwatun Natigah (daya pikir) dinamai juga Quwwatun Malakiyah merupakan fungsi tertinggi, kekuatan berpikir, melihat fakta. Alat yang dipergunakannya dari dalam badan adalah otak. Kedua Quwwatun Ghodabiyah (daya marah) yakni keberanian menghadapi resiko, ambisi pada kekuasaan, kedudukan dan kehormatan. Kekuatan ini disebut juga Quwwatun Sab'iyah (daya kebuasan). Alat yang dipergunakan dalam badan adalah hati. Ketiga, Quwwatun Syahwiyah (nafsu) disebut juga Quwwatun Bahimiyyah (daya hewany), yakni dorongan nafsu makan, keinginan kepada kelezatan makanan / minuman/seksualitas dan segala macam kenikmatan indrawy (Allazzatulhissiya) alat yang dipergunakannya dari dalam badan manusia adalah "perut".

Ketiga macam kekuatan ini berbeda-beda pada setiap orang. Salah satu-nya kuat, yang lain lemah tergantung pada perangainya, adat kebiasaan atau pendidikannya.
Dari masing-masing tiga macam kekuatan jiwa tersebut (natiqah, gha-dabiyah, syahwiyah) lahir fadlilah-fadlilah sewaktu gerak aktivitasnya normal (mu'tadilah), serasi dan seimbang. Bila gerakan jiwa natiqah normal, tidak menyimpang dan hakikatnya, dan kecenderungannya kepada ilmu pengetahuan yang benar lahirlah fadlilah al-'Ilmu lalu al-Hikmah. Bilamana gerak jiwa bahimiyah serasi seimbang, dibawah kontrol daya jiwa natigah/agliyah, patuh kepadanya, tidak hanyut mengikuti hawa nafsu lahirlah fadlilah 'iffah (kebersihan diri) lalu As Sakhaa'u (kedermawanan). Bila gerak daya jiwa ghodabiyah serasi seimbang, patuh kepada petunjuk jiwa aqliyah, tidak bergejolak diluar batas, terjadilah fadlilah al-Hilmu (kesantunan) lalu disusul fadlilah as Saja'ah (keberanian). Dan tiga macam fadlilah (al-hikmah, al 'Iffah dan as saja'ah) di dalam keseimbangan dan keserasian satu sama lain lahirlah al adlaalah. Dengan demikian, maka para hukama (failosof) bersepakat menetapkan bahwa jenis fadilah empat yaitu: al-Hikmah, al-'Iffah, as-Saja'ah dan al Adlaalah. Adapun lawannya empat pula yaitu al Jahl (bodoh), as Syarh (rakus) al Jubn (takut) dan Al Jaur (kelaliman). Al Hikmah (kebijakan) ialah fadlilah sifat utama dari jiwa natigah, jiwa pikir kritis analitis (Annatiqah almumayyizah) untuk mengetahui (mengenali) segala yang ada karena keberadaannya, atau untuk mengetahui hal ihwal ketuhanan dan hal ihwal kemanusiaan. Dengan demikian pengetahuan membuahkan pengenalan tentang al ma'qulat (pengertian-pengertian tentang hal yang abstrak/yang metafisis) secara kritis analitis, mana yang benar dipegangi, mana yang salah dibuangnya.

Al-Iffah (kesucian diri) sifat utama pada pengindraan nafsu syahwat al Hissussyahwani. Sifat utama ini nampak pada waktu seseorang mengendalikan nafsunya (setelah responsi indra terhadap suatu stimulus) dengan pertimbangannya yang sehat sehingga dia tidak tunduk pada nafsunya itu, dia bebas dari perbudakan hawa nafsunya.
As-Saja'ah (keberanian) adalah sifat utama pada jiwa ghodlabiyah. Sifat ini nampak pada manusia ketika jiwa ghodlabiyah itu dikendalikan oleh sifat utama al-Hikmah dan dipergunakan sesuai dengan akal pikiran untuk menghadapi masalah-masalah yang punya resiko, umpamanya tidak gentar menghadapi perkara-perkara yang menakutkan. Dia atasi perkara itu bila sikap demikian dipandang baik atau dia menahan diri bila sikap demikian dipandang terpuji. Al-Adaalah (keseimbangan) adalah sifat utama pada jiwa sebagai produk dari integrasi (ijtimal) yang serasi dari tiga unsur jiwa yang telah disebutkan, dimana unsur al Hikmah merupakan faktor yang dominan. Dengan keberadaan al Adaalah itu, manusia memiliki simatun (ada tulisan Arab) ciri. Pilihannya (sebagai balanced individual) yaitu dia bagian dari dirinya sendiri dan bagian dari orang lain (bagian dari masyarakat).

Masing-masing dari keempat fadlilah tersebut di atas membawahi sifat-sifat yang baik lainnya.

a.       Al Hikmah membawahi sifat-sifat zakaa1 (kecerdasan), zikr (ingatan), ta'aqqul (reasoning), sur-'atul fahmi (cepat mengerti), shafaa zihni (kebeningan pikiran), suhulatut ta-allum (gampang belajar).

b.      Al 'Iffah, sifat utama ini membawahi sifat-sifat yang baik, hayaa (rasa malu), wada-ah (tenang pembawaan), shabr (sabar menahan gejolak nafsu), saikhaa (cukup pemurah), hariyyah (kepantasan), qana'ah (bersahaja), damaatsah (kelembutan), musalamah (suka kedamaian), intizhaam (kerapian), waqaar (sopan/anggun), wara' (teguh mental).

c.       As-Saaja'ah, sifat yang utama yang dibawahinya adalah kibrun nafs (jiwa besar), najaah (berani nantang bahaya), azhrnul himmah (tinggi cita-cita), tsabaat (tabah), shabr (sabar dalam menghadapi bahaya), hilmu (santun), 'adamut thaisyi (tidak lemah mental), ihtimaalul kaddi (punya daya tahan tubuh), syahaamah (energik).

d.      Al Adaalah. Sifat utama yang berada di bawah al Adaalah yaitu: shadaaqah (persaudaraan), ulfah (kerukunan), silaturahim (silaturrahmi), mukafa'ah (suka memberi imbalan), husnussyirkah (baik dalam persekutuan husnulqadlaa (baik dalam pemberian jasa tanpa penyesalan dan minta imbalan), tawaddud (upaya mendapatkan simpati dari orang-orang mulia dengan jalan tatap muka yang manis dan dengan perbuatan-perbuatan yang menimbulkan cinta kasih dari mereka), ibadah (mengagungkan Tuhan, mentaatiNya, memuliakan malaikat dan para Nabi dan alim utama, dan beramal sebagaimana digariskan agama dan ketaqwaan achir dari segalanya, tarkul hiqdi (meninggalkan perasaan sentimen), membalas kejahatan dengan kebaikan), mempergunakan keramahan), dalam segala hal selalu beralasan prestige/harga diri, menjauhi persengketaan, meninggalkan pergunjingan, dan lain sebagainya dari sifat-sifat baik dalam hubungan antara manusia.

 

D.       Relevansinya dengan Pendidikan Islam Sekarang

Cita-cita pendidikan sebagaimana yang dimaksudkan Miskawaihi di-isyaratkanya dalam awal kalimat kitab Tahzibul Akhlak ialah terwujudnya pribadi susila, berwatak yang lahir daripadanya perilaku-perilaku luhur, atau berbudi pekerti mulia. Dan budi (jiwa/watak), lahir pekerti (perilaku) yang mulia. Untuk mencapai cita-cita ini haruslah melalui pendidikan dan untuk melaksanakan pendidikan perlu mengetahui watak manusia atau budi pekerti manusia.

 

a.       Apakah watak itu dapat dididik?

Ibnu Miskawaihi dalam maqalah kedua membahas tentang al-Khulq (watak) itu ialah suatu kondisi bagi jiwa yang mendorong untuk melahirkan tingkah laku tanpa pikir dan pertimbangan (tingkah laku spontan). Kondisi ini terbagi dua. Ada yang alamy dari asal mizaaj (temperament) seperti sifat pada seorang manusia yang mudah terpengaruh/bereaksi oleh suatu hal yang sederhana. Umpama marah disebabkan suatu faktor yang kecil, atau takut sebab yang sederhana dan lain-lain seperti mudah kaget karena dengan suara gemerisik, mudah sedih, mudah senang, mudah tertawa disebabkan hal perangsang yang sederhana.

Kedua ialah watak seorang yang diperoleh dari kebiasaan/latihan yang berulang-ulang, pada mulanya perilaku itu disertai kesengajaan atau pikiran kemudian berkelanjutan berulang-ulang hingga menjadi kebiasaan/watak. Karena itu kata Miskawaihi para ahli jaman dahulu berbeda pendapat. Sebagian mereka mengatakan bahwa watak itu adalah tertentu bagi kekuatan jiwa selain kekuatan jiwa natigah. Sebagian lain mengatakan ada juga aspek dari kekuatan jiwa natiqah pada watak itu. Perbedaan kedua adalah apakah watak itu alamy. Sebagian mengatakan watak itu alamy tak dapat dirubah. Sebagian lain mengatakan tak ada sesuatu pun pada watak itu yang alamy.

Kami sendiri, kata Miskawaihi - tidaklah berpendapat watak itu tidak alamy. Kita diciptakan atas dasar menerima watak, namun kita berubah berkat pendidikan dan pengajaran cepat atau lambat. Pendapat terakhir inilah pilihan kami karena sesuai dengan kesaksian mata kita. Pendapat pertama (yang mengatakan watak itu alamy dan tak dapat dididik) menyampingkan kekuatan tamyiz (penalaran) serta akal dan menolak segala upaya serta membiarkan manusia tidak beradab, menelantarkan para remaja dan anak-anak tanpa pendidikan.

Kemudian Miskawaihi mengemukakan pendapat golongan Ruwwaqiyyun (Stoicism), Jalinus (Galer, 131-201 SM) dan pendapat Aristoteles tentang watak manusia. Golongan Rawwaqiyyun berpendapat bahwa watak itu dasaraya baik, kemudian karena pengaruh pergaulan watak yang baik itu menjadi buruk Sedang Jalinus berpendapat bahwa sebagian watak manusia pada dasarnya (alamy) jahat, sebagian lagi mengatakan watak itu dasarnya baik, diantara mereka ada yang mengatakan dasar watak itu tengah-tengah antara baik dan buruk. Mereka yang wataknya baik alamy sedikit; mereka tidak akan berubah menjadi buruk. Sedang mereka yang wataknya buruk alamy banyak, mereka tidak akan berubah menjadi baik. Mereka yang wataknya berada di tengah-tengah diantara balk dan buruk dapat berubah menjadi baik jika mendapat pengaruh pendidikan yang baik dan berubah menjadi buruk jika mendapat pengaruh pendidikan yang buruk Kemudian Miskawaihi mengutip pendapat Aristoteles yang dijadikannya pegangan.
Menurut Aristoteles orang jahat/watak buruk dapat berubah dengan pendidikan namun tidak mutlak. Pengajaran dan pendidikan yang berkelanjutan serta bimbingan yang baik yang diupayakan manusia tentulah akan memberi pengaruh yang berbeda-beda terhadap bermacam-macam orang. Ada diantara mereka yang menerima pendidikan dengan cepat sedang sebagian yang lain menerimanya dengan lambat untuk menuju keutamaan.

Temperament adalah pembawaan yang bergantung kepada konstitusi tubuh. Kemungkinan mengubah atau mendidik temperament hanyalah sedikit sekali, karena dalam temperament terdapat unsur-unsur yang tidak dapat dipengaruhi kemauan. Adapun watak adalah keadaan atau konstitusi jiwa yang nampak dalam perbuatan-perbuatannya. Watak bergantung kepada pembawaan dan lingkungan hidup (pergaulan hidup, pendidikan). Jadi watak bergantung kepada kekuatan dari dalam dan dari luar. Begitulah karakter (watak) Lebih luas dari temperament. Temperament terdapat dalam karakter. Karakter dapat diubah dan dididik.[5]

 

b.      Perbedaan Individual

Ibnu Miskawaihi mengemukakan bahwa manusia dalam menerima pendidikan bermacam-macam tingkatan. Hal demikian mudah disaksikan pada anak-anak, karena watak mereka nampak wajar sejak mula perkembangan, terbuka apa adanya tidak diselubungi dengan pikiran-pikiran dan pertimbangan-pertimbangan sebagaimana halnya orang dewasa yang memahami apa yang buruk bagi dirinya lalu ditutup-tutupinya dengan bermacam-macam tipu muslihat dengan perbuatan-perbuatan yang berlawanan dengan perangainya itu.

Kita mengetahui dari watak anak serta kesiapan mereka dalam menerima didikan ada diantara mereka yang kasar ada pula yang pemalu, pemurah, kikir, penyayang, keras, dan sebagainya. Kebermacaman itu kita lihat pula pada orang-orang dewasa dalam menerima didikan budi pekerti utama. Bila kita abaikan perbedaan-perbedaan watak individual ini lalu tidak kita didik sebagaimana mestinya, maka tiap orang akan tumbuh sesuai dengan watak individualnya itu, mungkin dia tumbuh jadi baik atau buruk. Maka disinilah pentingnya pendidikan agama (pendidikan normatif). Agamalah yang dapat meluruskan anak-anak dan mendidik mereka dengan perilaku yang terpuji dan mempersiapkan jiwa mereka untuk menerima "hikmah".

Tanggung jawab orang tualah pelaksanaan pendidikan agama ini dengan pelbagai upaya, kalau perlu meapergunakan ancaman hukuman sampai mereka terbiasa hidup beragama.[6]

 

c.       Metode alamy (Thariqun Thabi-iy) dalam pendidikan

Setelah menguraikan perbedaan individual manusia dan diperlukannya pendidikan untuk membina perkembangan individual itu, Miskawaihi kemudian mengemukakan penggunaan thariqun thab'iyyun (metode alamiyah) dalam mendidik. Metode alamiyah itu bertolak dari pengamatan terhadap potensi-potensi insany. Mana yang muncul lahir lebih dahulu, maka pendidikan diarahkan kepada pemenuhan kebutuhan potensi yang lahir dahulu itu, kemudian kepada kebutuhan potensi berikutnya yang lahir sesuai dengan hukum alam. Potensi yang muncul pertama kali adalah gejala umum yang ada pada tingkat kehidupan hayawani dan nabati, kemudian terus-menerus lahir suatu gejala khusus yang berbeda dengan gejala potensi macam lain sampai menjadi tingkat kehidupan insany. Maka dari itu kata Miskawaihi - wajib bagi kita mulai dengan hasrat (kecenderungan) akan makan, yang muncul pada diri kita dengan jalan memenuhi kebutuhan kecenderungan, lalu muncul kecenderungan ghodlabiyah dan cinta kemuliaan, kita didik dengan jalan memenuhi kecenderungan, kemudian terakhir lahir kecenderungan kepada ilmu pengetahuan (dari jiwa natiqah) maka kita didik dengan jalan memenuhi kecenderungan itu.

Urutan kemunculan inilah yang kami (Miskawaihi) maksudkan thabi'iy (alamy), karena didasarkan proses kejadian manusia, yakni pertama kali embrio lalu bayi kemudian orang dewasa. Potensi-potensi mi lahir berurutan secara alamiyah.17
Ide pokok dari thariqun thabi'iyyun dari Miskawaihi ialah bahwa pelaksanaan kerja - mendidik itu hendaknya didasarkan atas perkembangan lahir batin manusia. Setiap tahap perkembangan manusia mempunyai kebutuhan psycho-phisiologis dan cara mendidik hendaklah memperhatikan kebutuhan ini sesuai dengan tahap perkembangannya.

 

d.      Fungsi Pendidikan

1) Memanusiakan manusia

Setiap makhluk di dunia ini mempunyai kesempurnaan khusus dan perilaku yang spesifik baginya yang tidak ada makhluk lain yang menyertainya pada perilaku itu. Maka manusia diantara segala makhluk yang ada mempunyai perilaku khusus yaitu segala yaitu segala perilaku yang lahir dari pertimbangan nalar akal pikirannya. Karena itu siapa yang pertimbangannya paling jernih penalarannya paling benar, keputusannya paling tepat, adalah orang yang paling sempurna martabat kemanusiaannya . Manusia yang paling utama adalah orang yang paling mampu menunjukkan perilaku yang khas padanya dan yang paling teguh berpegang kepada syarat-syarat substansinya (daya pikir) yang membedakan dia dengan makhluk lainnya. Maka, kewajiban yang tidak diragukan lagi ialah berbuat kebajikan yang merupakan kesempurnaan manusia yang untuk itu mereka diciptakan dan agar mereka berupaya sungguh-sungguh untuk sampai pada kebajikan (al khairaat) itu, dan agar manusia menghindari kejahatan-kejahatan (as-syurur) yang menghambat mereka sampai kepada kebaikan.

Oleh karena itu tugas pendidikan adalah mendudukkan manusia sesuai dengan substansinya sebagai makhluk yang termulia dan makhluk lainnya. Hal itu ditandai dengan perilaku dan perbuatan yang khas bagi manusia yang tak mungkin dilakukan makhluk yang lain.

 

2) Sosialisasi individu manusia

Pendidikan haruslah merupakan proses sosialisasi hingga tiap individu merupakan bagian integral dari masyarakatnya dalam melaksanakan kebajikan untuk kebahagiaan bersama. Miskawaihi menyatakan bahwa kebajikan itu sangat banyak dan tak mungkin mewujudkan seluruh kebajikan dari kemampuan satu orang manusia. Oleh karena itu kata Miskawaihi untuk mewujudkan seluruh kebajikan itu haruslah jama ah besar. Jadi seluruh individu berhimpun pada suatu waktu untuk mencapai kebahagiaan bersama. Kebahagiaan tiap individu sempurna berkat pertolongan lainnya. Kebajikan menjadi milik bersama. Kebahagiaan dibagi-bagikan kepada individu hingga masing-masing bertanggung jawab atas bagian dan kebahagiaan itu. Kamalul insany/human perfection tercapai berkat gotong royong itu. Untuk hal demikian wajiblah manusia saling mencintai satu sama lain, karena masing-masing orang melihat kesempurnaanya berada pada orang lain. Kalau tidak saling mencintai, tidaklah sempurna kebahagiaanya. Jadi tiap orang merupakan anggota dari anggota badan. Rangka manusia sempurna dengan utuhya anggota-anggota badan.20 Miskawaihi menegaskan lagi bahwa manusia di antara segala makhluk , hewan tak dapat mandiri dalam menyempumakan essensinya sebagai insan, tetapi pasti dengan pertolongan dari golongan manusia lain. Dia dapat mencapai kehidupan yang baik dan melaksanakan kewajibannya dengan tepat. Manusia pada dasarnya adalah anggota masyarakat. Di tengah-tengah masyarakat tenvujud kabahagiaan insaniyahnya. Setiap orang memerlukan orang lain. Dia sewajarnya bergaul dengan masyarakat sebaik-baiknya, mencintai mereka setulus-tulusnya.

 

3) Menanamkan rasa malu

Manusia diciptakan dengan kekuatan-kekuatan potensial dan kekuatan-kekuatan itu tumbuh secara alamiyah. Kekuatan yang mula-mula muncul ialah tuntutan biologis, yakni kecenderungan syahwaniyah seperti makan unruk mengembangkan fisik. Tuntutan biologis ini terus berkembang ke berbagai kecenderungan-kecenderungan keinginan. Kemudian menyusul timbul kekuatan imaginasi yang timbul dari pengindraan. Sesudah itu muncul kekuatan ghodabiyah/kekuatan kemauan untuk bertindak mengatasi hambatan atau untuk memenuhi kecenderungan. Bila gagal mengatasi sendiri, menangislah anak itu, atau dia minta bantuan kepada orang tuanya. Setelah itu lahir kekuatan tamyiz/pertimbangan nalar (perkembangan intelektualitas) terhadap perilaku-perilaku khas manusiawi sedikit demi sedikit hingga sempurna. Pada tingkat perkembangan ini, anak dinamai aqil (L'enfant fait). Kekuatan-kekuatan ini banyak, sebagiannya secara fundamental mendorong terwujudnya sebagjan kekuatan yang lain sehingga tercapai tujuan perkembangan terakhir 9tingkat akhir perkembangan akal insany), Tujuan yang tak ada lagi tujuan lainnya, yaitu "al-Khair al-mutlaq". Kebajikan mutlak yang diinginkan manusia sebab dia manusia.

Pertama-tama yang muncul dari kekuatan-kekuatan ini pada manusia adalah rasa malu (al-hayaa'u), yaitu rasa takut lahirnya sesuatu yang jelek dari dirinya. Karena itu - kata Miskawaihi - pertama-tama yang harus diamati benar-benar pada anak-anak dan dipandang tanda awal perkembangan akalnya adalah timbulnya rasa malu karena hal itu menunjukkan bahwa anak sudah menginsafi tentang keburukan. Disamping keinsafan tentang keburukan anak juga berupaya memelihara dirinya dan menjauhi keburukan itu.
Ibnu Mskawaihi menandai gejala ini dengan perilaku anak seperti - kata Miskawaihi - bila kau amati anak-anak dan kau dapati dia tersipu-sipu, matanya menunduk ke bawah, wajahnya sayu, maka itu tandanya awal dari kebagusan bawaanya dan menjadi bukti bagimu bahwa jiwa sudah mengerti kebaikan dan keburukan. Jiwa yang demikian berbakat untuk dididik, pantas diberi perhatian, wajib tidak ditelantarkan dan jangan dibiarkan bergaul dengan orang-orang yang dapat merusaknya.

"Dari pikiran Miskawaihi diatas jelaslah bahwa penanaman rasa malu adalah fungsi pendidikan yang penting dan penanaman ini dimulai sedini mungkin yakni pada awal munculnya gejala jiwa tamyiz, yakni perkembangan anak mulai berpikir kritis dan logis pada waktu mereka duduk di sekolah dasar, pada umur antara 10-12 tahun. Anak telah dapat mengenal aturan kesusilaan serta tahu bagaimana dia harus bertingkah laku (Bigot).

 

e.       Ilmu Pengetahuan yang dipelajari

Ibnu Miskawaihi menempatkan ilmu ke dalam suatu kedudukan berdasarkan obyek ihnu itu. Ilmu yang paling mulia menurat Miskawaihi adalah ihnu pendidikan karena obyeknya adalah budi pekerti manusia, menyangkut substansi manusia.. Ilmu kedokteran, adalah obyeknya manusia, juga merupakan ilmu pengetahuan yang mulia. Segala ilmu pengetahuan yang mengembangkan quwwatun natiqah (daya pikir) adalah ilmu yang paling mulia. Sebab jiwa natiqah selalu condong kepada ilmu pengetahuan, lambang kesempumaan dan kemuliaan manusia. Sebaliknya pengetahuan tentang menyamak kulit dipandang hina karena obyeknya adalah kulit bangkai hewan.
Dengan dasar pemikiran tersebut Ibnu Miskawaihi membagi ilmu kepada dua golongan : al-ulumul syarifah (ilmu-ilmu yang mulia) dan al-ulumul radli'ah (ilmu-ilmu yang hina). Martabat suatu ilmu sesuai dengan urutan martabat hakekat obyek iknu itu dalam alam ini, misalnya ilmu tentang manusia lebih mulia dari obyek hewann, ilmu hewan lebih mulia dari tumbuh-tumbuhan. Dari pemikiran Miskawaihi, kita memahami bahwa kecenderungan Miskawaihi kepada ulumul aqliyah, sebagai ihnu yang utama dipelajari karena menunjang tercapainya kualitas manusia yang sempurna.

 

Miskawaih dan Metode Pendidikan
Ibnu Miskawaih juga mengenalkan sejumlah langkah yang akan melahirkan aspek positif dalam mendidik. Ia, misalnya, memandang penting pemberian pujian. Pujian, kata dia, bisa dilakukan oleh orang tua atau pendidik ketika anak-anak melakukan hal-hal baik.
Menurut Miskawaih, patut pula memberikan pujian kepada orang dewasa yang melakukan perbuatan baik di hadapan anak-anak. Tujuannya, anak-anak bisa mencontoh sikap terpuji yang dilakukan oleh orang dewasa tersebut.
Miskawaih mengingatkan, pujian harus dilakukan untuk menekankan pentingnya tindakan-tindakan yang baik dan harus diberikan untuk tindakan yang baik-baik saja. Selain pujian, ia juga memberi saran untuk mendorong anak menyukai makanan, minuman, dan pakaian yang baik.
Namun, perlu diingatkan pula agar seorang anak atau siapa pun yang telah dewasa untuk tak makan, minum, dan berpakaian secara berlebihan. Dalam aturan makan, anak harus diberi tahu bahwa makan itu suatu keharusan dan penting bagi kesehatan tubuh.
Makan, jelas Miskawaih, bukan sebagai alat kesenangan indra. Perlu diketahui pula bahwa makanan merupakan obat bagi tubuh, yakni obat untuk rasa lapar dan mencegah timbulnya penyakit. Orang tua atau pendidik harus mengingatkan anak didiknya agar tak makan berlebihan.
Dalam cara berpakaian, Miskawaih menyatakan, saat anak telah beranjak dewasa, khususnya laki-laki, sebaiknya mereka mengenakan pakaian putih-putih dan menghindari pakaian berpola. Sebab, menurut dia, pakaian berwarna dan berpola lebih layak untuk perempuan.
Selain itu, Miskawaih mendorong laki-laki untuk tak menghiasai dirinya dengan perhiasan perempuan, seperti memakai cincin dan mempunyai rambut panjang. Mereka tidak boleh mengenakan emas dan perak dalam bentuk apa pun.
Anak-anak, jelas Miskawaih, pun harus dilatih untuk mengagumi sifat-sifat murah hati. Misalnya, berbagi makanan. Selain pujian, anak juga perlu mendapatkan peringatan bila melakukan hal tak baik. Jika anak berbuat buruk, perbuatan itu juga perlu dikecam.
Langkah ini bertujuan agar si anak tak lagi melakukan hal buruk. Jika kecaman tak membuat si anak menghentikan perbuatan buruknya, Miskawaih menyarankan tindakan terakhir, yaitu hukuman fisik. Namun, hukuman ini tak dilakukan secara berlebihan.[7]

DAFTAR PUSTAKA
Bigot c.s., Psychology Bab Karakterologi, Simpai: Yogyakarta, 1957
Hariyadi Selamet, Riwayat Hidup Maskawaih, dalam http://blog.uin-malang.ac.id/selamethariadi/2010/09/12/riwayat-hidup-ibnu-maskawaih/ diakses 13 November 2011
Miskawaihi Ibnu, Tahzibul Achlaq, terj. Bandung, Mizan, 1995, hal. 2
Muhammad Musa Yusuf, Falsafatil Achlaq fil Islam wa Shilatiha bil Falsafatil Ighriqiyyah, Qairo, Get. Ill, 1926
Munzdirtamam, Ibn Miskawaih, dalam http://munzdirtamam.blogspot.com/2011/06/ibn-miskawaih.html, diakses 13 November 2011
Syaddad Farhan, Ibn Miskawaih, Mendorong Pendidikan Sejak Dini, dalam http://mpiuika.wordpress.com/2010/02/10/ibnu-miskawaih-mendorong-pendidikan-sejak-dini/, diakses 20 Nov 2011


[1] Yusuf Musa Muhammad, Falsafatil Achlaq fil Islam wa Shilatiha bil Falsafatil Ighriqiyyah, Qairo, Get. Ill, 1926, hal. 74
[2] Selamet Hariyadi, Riwayat Hidup Maskawaih, dalam http://blog.uin-malang.ac.id/selamethariadi/2010/09/12/riwayat-hidup-ibnu-maskawaih/ diakses 13 November 2011
[3] Munzdirtamam, Ibn Miskawaih, dalam http://munzdirtamam.blogspot.com/2011/06/ibn-miskawaih.html, diakses 13 November 2011
[4] Ibnu Miskawaihi, Tahzibul Achlaq, terj. Bandung, Mizan, 1995, hal. 2
[5] Bigot c.s., Psychology, Simpai, Yogyakarta, 1957, Bab Karakterologi.
[6] Ibnu Miskawaihi, Tahzibul Achlaq…, hal. 12
[7] Farhan Syaddad, Ibn Miskawaih, Mendorong Pendidikan Sejak Dini, dalam http://mpiuika.wordpress.com/2010/02/10/ibnu-miskawaih-mendorong-pendidikan-sejak-dini/, diakses 20 Nov 2011