Tampilkan postingan dengan label sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sains. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Mei 2013

Pembelajaran Teks dalam Kurikulum 2013

Dari sudut pandang teori semiotika sosial, teks merupakan suatu proses sosial yang berorientasi pada suatu tujuan sosial. Tujuan sosial yang hendak dicapai memiliki ranah-ranah pemunculan yang disebut konteks situasi. Sementara itu, proses sosial akan berlangsung jika terdapat sarana komunikasi yang disebut bahasa. Dengan kata lain, proses sosial akan merefleksikan diri menjadi bahasa dalam konteks situasi tertentu sesuai tujuan proses sosial yang hendak dicapai. Bahasa yang muncul berdasarkan konteks situasi inilah yang menghasilkan register atau bahasa sebagai teks.
Oleh karena konteks situasi pemakaian bahasa itu sangat beragam, maka akan beragam pula jenis teks. Selanjutnya, proses sosial yang berlangsung selalu memiliki muatan nilai-nilai atau norma-norma kultural. Nilai-nilai atau norma-norma kultural yang direalisasikan dalam suatu proses sosial itulah yang disebut genre. Satu genre dapat muncul dalam berbagai jenis teks. Misalnya genre cerita, di antaranya, dapat muncul dalam bentuk teks: cerita ulang, anekdot, eksemplum, dan naratif, dengan struktur teks (struktur berpikir) yang berbeda; tidak berstruktur tunggal seperti dipahami dalam kurikulum bahasa Indonesia pada KTSP, yang semua jenis teks berstruktur: pembuka, isi, dan penutup (periksa KD BI, kelas XI, semester 2, butir: 12.2).

Pada jenis teks cerita ulang (recount) unsur utamanya berupa peristiwa yang di dalamnya menyangkut siapa, mengalami apa, pada waktu lampau, dengan struktur: orientasi (pengenalan pelaku, tempat, dan waktu) diikuti rekaman kejadian; pada teks anekdot, peristiwa yang terdapat pada teks cerita ulang harus menimbulkan krisis. Partisipan yang terlibat bereaksi pada peristiwa itu, sehingga teksnya berstruktur: orientasi, krisis, lalu diikuti reaksi. Berbeda dengan eksemplum, pada jenis teks ini peristiwa yang terdapat pada teks cerita ulang maupun anekdot memunculkan insiden, dan dari insiden itu muncul interpretasi (perenungan). Dengan demikian, teks jenis ini berstruktur: orientasi, insiden, lalu diikuti interpretasi. Adapun jenis teks naratif, peristiwa yang diceritakan harus memunculkan konflik antartokoh atau konflik pelaku dengan dirinya sendiri atau dengan lingkungannya. Oleh karena itu, teks naratif berstruktur: orientasi, komplikasi, dan resolusi. Setiap struktur teks dalam masing-masing jenis teks memiliki perangkat-perangkat kebahasaan yang digunakan untuk mengekspresikan pikiran yang dikehendaki dan secara terpadu diorientasikan pada pencapaian tujuan sosial teks secara menyeluruh. Untuk itu, pembicaraan ihwal satuan leksikal, gramatikal (tata bahasa) dalam pembelajaran berbasis teks harus berupa pembicaraan tentang satuan kebahasaan yang berhubungan dengan struktur berpikir yang menjadi tujuan sosial teks, bukan dalam bentuk serpihan-serpihan.

Dalam teori genre, terdapat dua konteks yang melatarbelakangi kehadiran suatu teks, yaitu konteks budaya (yang di dalamnya ada nilai dan norma kultural yang akan mewejawantahkan diri melalui proses sosial) dan konteks situasi yang di dalamnya terdapat: pesan yang hendak dikomunikasikan (medan/field), pelaku yang dituju (pelibat/tenor), dan format bahasa yang digunakan untuk menyampaikan pesan itu (sarana/mode). Hadirnya konteks budaya dalam teks dapat ditunjukkan, misalnya pada teks laporan dan teks deskripsi. Kedua teks ini sama-sama dikelompokkan ke dalam genre faktual, tetapi memiliki struktur teks dan nilai/norma yang melatarbelakangi berbeda. Teks laporan berstruktur: klasifikasi umum lalu diikuti deskripsi bagian, sedangkan teks deskripsi bersruktur: deskripsi umum diikuti deskripsi bagian-bagian. Satuan leksikogramatikal yang terdapat pada teks laporan harus mendukung nilai-nilai objektif, faktual bukan opini serta bersifat generik, sedangkan pada teks deskripsi satuan leksikogramatika yang merupakan opini ataupun tanggapan yang bersifat subjektif masih dapat dimunculkan dan lebih bersifat spesifik. Itu sebabnya, dalam pembelajaran bahasa berbasis teks tidak boleh dilihat bahasa secara parsial, melainkan secara utuh. Pembelajaran bahasa berbasis teks bukanlah belajar keping-keping atau serpih-serpih tentang bahasa yang cenderung bertujuan menghafal.

Pilihan pada pembelajaran bahasa berbasis teks membawa implikasi metodologis pada pembelajaran yang bertahap. Mulai dari kegiatan guru membangun konteks, dilanjutkan dengan kegiatan pemodelan, membangun teks secara bersama-sama, sampai pada membangun teks secara mandiri. Hal ini dilakukan karena teks merupakan satuan bahasa yang mengandung pikiran dengan struktur yang lengkap. Guru harus benar-benar meyakini bahwa pada akhirnya siswa mampu menyajikan teks secara mandiri.

Kehadiran konteks budaya, selain konteks situasi yang melatarbelakangi lahirnya suatu teks menunjukkan adanya kesejajaran antara pembelajaran berbasis teks (konsep bahasa) dengan filosofi pengembangan Kurikulum 2013, khusunya yang terkait dengan rumusan kebutuhan kompetensi peserta didik dalam bentuk kompetensi inti (KI) atas domein sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Kompetensi inti yang menyangkut sikap, baik sikap spiritual (KI: A) maupun sikap sosial (KI: B) terkait dengan konsep kebahasaan tentang nilai, norma kultural, serta konteks sosial yang menjadi dasar terbentuknya register (bahasa sebagai teks); kompetensi inti yang menyangkut pengetahuan (KI: C) dan keterampilan (KI: D) terkait langsung dengan konsep kebahasaan yang berhubungan dengan proses sosial (genre) dan register (bahasa sebagai teks). Selain itu, antarkompetensi dasar (KD) yang dikelompokkan berdasarkan KI tersebut memiliki hubungan pendasaran satu sama lain. Ketercapaian KD dalam kelompok KI: A dan B ditentukan oleh ketercapaian KD dalam kelompok KI: C dan D. KD dalam kelompok KI: A dan B bukan untuk diajarkan melainkan implikasi dari ketercapaian KD dalam kelompok KI: C dan D. Oleh karena itu pula, mengkritisi keberadaan KD-KD dalam Kurikulum 2013, termasuk tentang Kurikulum Bahasa Indonesia secara lepas, berdiri sendiri mengakibatkan munculnya tanggapan yang menyesatkan. Jika rumusan KD tentang sikap dihubungkan dengan KD tentang pengetahuan dan keterampilan, tentu pernyataannya tentang tidak logisnya rumusan KD, dalam Kurikulum 2013, seperti dinyatakan Acep (Kompas, 18 Maret 2013), tidak akan muncul.

Begitu pula jika, KD tentang pengetahuan yang dikritisi itu dihubungkan dengan KD tentang keterampilan, maka pernyataan bahwa Kurikulum 2013 hanya akan menghasilkan siswa penghafal, seperti dinyatakan Bambang (Kompas, 20 Maret 2013) tidak akan lahir. Selanjutnya, jika dibandingkan antara KD yang dirumuskan dalam Kurikulum 2013 dengan KD dalam KTSP, maka terdapat beberapa persamaan dan perbedaan yang mendasar. Persamaannya, kedua kurikulum itu menampilkan teks sebagai butir-butir KD. Sebagai contoh, dalam KTSP (2006) untuk kelas I, dan kelas IV semester 1, ditemukan KD 2.3: “Mendeskripsikan benda-benda di sekitar dan fungsi anggota tubuh dengan kalimat sederhana” dan KD 4.2: “Menulis petunjuk untuk melakukan sesuatu atau penjelasan tentang cara membuat sesuatu”. Bandingkan rumusan KD itu dengan KD dalam Kurikulum 2013 kelas 1 SD pada aspek pengetahuan: (a) KD3.1:“Mengenal Teks deskriptif tentang anggota tubuh dan panca indera …”; (b) KD 3.2: “Mengenal teks petunjuk/arahan tentang perawatan tubuh serta pemeliharaan kesehatan dan …”. Baik pada KTSP maupun pada Kurikulum 2013 teks disajikan sebagai butir-butir yang dicantumkan sebagai KD, tidak seperti yang dinyatakan Bambang. Hanya saja, pada Kurikulum 2013 dibedakan antara KD yang berhubungan dengan aspek pengetahuan, kerampilan, dan sikap. Adapun perbedaannya, KD pada KTSP masih banyak yang disusun berdasarkan pandangan linguistik struktural, misalnya: rumusan KD kelas I semester 1 berikut. KD 3.1: “Membaca nyaring suku kata, kata dengan lafal yang tepat” dan KD 3.2: “Membaca nyaring kalimat sederhana dengan lafal dan intonasi yang tepat”. Kedua rumusan KD ini mencerminkan pembelajaran kompetensi berbahasa yang bersifat struktural, dari kemampuan melafalkan unsur bahasa yang terkecil: suku kata, meningkat ke pelafalan kata, dan diteruskan ke pelafalan kalimat, bahkan sampai ke teks (cermati KD kelas II, semester 2, butir 7.1: “Membaca nyaring teks (15-20 kalimat) dengan memperhatikan lafal dan intonasi yang tepat”. Dengan mencermati KD-KD-nya, maka penyusunan kurikulum bahasa Indonesia pada KTSP dapat dikatakan dilakukan dengan setengah berlandaskan pendekatan struktural dan setengahnya lagi berlandaskan pada pendekatan teks. Bahkan masih terdapat pencampuradukan antara konsep teks dengan paragrap. Cermati KD Kelas X, semester 1: 4.2: “Menulis hasil observasi dalam bentuk paragrap deskriptif”. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kurikulum bahasa Indonesia sejak Kurikulum 1994 sampai KTSP yang didengung-dengungkan berbasis kontekstual adalah tidak sepenuhnya benar. Berbeda jauh dengan Kurikulum 2013 yang sepenuhnya berbasisi teks. ***

Jumat, 14 Desember 2012

Pesantren Kota


PESANTREN KOTA[1]
( Implementasi Kurikulum Pendidikan Karakter Bernuansa Agama)
Oleh M. Mahbubi[2]


FAKTA
1.      Tawuran kerap sekali terjadi antar siswa sekolah terutama di kota-kota besar.
2.      setiap tahun, selalu terjadi kebocoran dan kecurangan dalam pelaksanaan UN di seluruh Indonesia, bahkan hal ini di sponsori oleh kepala daerah dan kepala dinas pendidikan demi gengsi. Gengsi daerah agar dipandang berhasil bla bla bla bla. (sumber: http://cetak.kompas.com/read/2009/11/14/03415275/pengawasan.un.diperketat).
3.      Di level pembuat kebijakan, pendidikan tak ubahnya sebuah proyek "megatriliun" yang mesti diperebutkan, seperti contoh: proyek pembangunan atau renvasi gedung sekolah, pengadaan buku, pengadaan alat-alat Lab, UN, dll. (sumber: http://www.sindoweekly-magz.com/artikel/12/I/24-30_mei_2012/educare/4/antara_kebangkitan_nasional_dan_carut-marut).
4.      Maraknya kasus mencontek bersama yang dilakukan oleh siswa (contoh kasus yang muncul di permukaan adalah SDN Gadel Surabaya) dan guru (contoh kasus yng muncul di permukaan adalah pada kasus PLPG di Unesa, sumber: http://kampus.okezone.com/read/2012/08/14/373/677334/unesa-usut-aksi-mencontek-plpg)
5.      Pembuatan naskah Soal Ujian nasional ataupun semester yang terpusat telah “membunuh karakter siswa dan kreatifitas guru di daerah yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.
6.      Program rintisan sekolah bertaraf internasional, dan kiprah swasta yang dianggap memandang pendidikan tak lebih dari sekadar komoditas dagangan.
7.      Minimnya Pelajaran Agama (praktek pelajaran Agama di sekolah Umum hanya 2 jam seminggu) dan merosotnya semangat Nasionalisme di semua lini pendidikan.
8.      Minimnya keteladanan yang ditunjukkan oleh guru kepada muridnya. Contoh guru melarang siswa merokok akan tetapi guru tersebut merokok di kantin sekolah, kantor guru bahkan di ruang kelas ketika mengajar.
9.      Minimnya keteladanan yang ditunjukkan oleh orang tua kepada putra-putrinya. Contoh orang tua menyuruh anaknya untuk mengaji di TPQ/ TPA/ musholla setiap sore atau ba’da Maghrib, akan tetapi orang tuanya (terutama ibu) pada jama-jam tersebut menonton sinetron atau “kasak-kusuk” selebritis.


PROBLEMATIKA
1.      Pendidikan seolah-olah tak berhasil mengubah perilaku para anak didik yang kerap berperang terhadap sesama
2.      Pendidikan seakan tak berdaya membendung pengaruh negatif dari kemajuan zaman. Di level pembuat kebijakan, pendidikan tak ubahnya sebuah proyek "megatriliun" yang mesti diperebutkan. Belum lagi soal kebijakan-kebijakan dalam pendidikan yang kerap pro dan kontra.
3.      Lembaga pendidikan saat ini tak lebih seperti tempat penitipan anak bagi kedua orang tua yang sibuk dengan pekerjaannya maing-masing.
4.      Tidak ada sinkronisasi / misskomunikasi antara program sekolah dengan keinginan orang tua dan anak
5.      Minimnya pendidikan agama ditengarai sebagai salah satu penyebab gagalnya sistem pendidikan di indonesia

TAWARAN SOLUSI
1.      Menekankan “hiden kurikulum” pendidikan karakter secara holistik di semua unit penidikan.
2.      Penerapan dan pembiasaan karakter yang bernuansa agamis di semua unit pendidikan.
3.      Menambah porsi pendidikan agama dan pelajaran yang bermuatan “nasionalisme” untuk meminimalisir carut-marutnya pendidikan di Indonesia
4.      Menerapkan sistem pendidikan pesantren (agama) dengan guru dan orang tua sebagai model / suri tauladan
5.      Adanya sinkronisasi dan komunikasi yang intensif tentang program sekolah serta perkembangan siswa kepada orangtua



[1] Di sampaikan  pada sarasehan pendidikan karakter berbasis ke- aswaja-an  di Sidoarjo hari minggu 16 Desember 2012
[2] mahasiswa S3 IAIN Sunan Ampel Surabaya  konsentrasi pendidikan islam

Sabtu, 20 Oktober 2012

Cara dan Hukum Talqin Mayit

Ketika seorang muslim meninggalkan dunia, maka hal-hal yang wajib dilaksanakan adalah empat perkara. Memandikan, mengkafankan, menyembayangkan dan menguburkan. Sebagaimana kata Ibnu Ruslan di dalam Zubadnya:
والغسل والتكفين والصلاة # عليه ثم الدفن مفروضات
Dan memandikan, mengkafankan, menyembahyangkan atas mayyit, l,alu menguburkan adalah merupakan fardu.
Adapun mentalqin mayit tidaklah wajib atau fardhu. Hukum mentalqin mayyit adalah sunnah. Dan waktunya setelah mayit dikuburkan. Tempat mentalqin adalah di atas pekuburan, di mana si mulaqqin (orang yang mentalqin) itu duduk menghadapkan muka mayit, di atas kubur, dan orang-orang lainnya dari pada pengiring mayit berdiri sekeliling kubur. Jika sekiranya mayit tidak ditalqinkan, tidaklah orang yang tahu atas kematiannya itu menjadi berdosa. Karena hukumnya hanya sunnat. Dan tidak perlu kuburan digali kembali, sedang kesunnatan talqin adalah mayyit setelah dikuburkan.
Mengenai kesunatan talqin Zainuddin al-Malibari dalam Fathul Mu’in berkata:
وتلقين بالغ ولوشهيدا كما اقتضاه اطلاقهم خلافاللزركشى بعد تمام دفن
Dan disunnatkan mentalqin mayit dewasa, dan sekalipun ia syahid. Sebagaimana kehendak orang yang diithlaqkan mereka.
Menurut Assayyidul Bakri dalam halaman yang sama:
وذلك لقوله تعالى: وذكر فان الذكرى تنفع المؤمنين. واجوج مايكون العبد الى التذكير فى هذه الحالة
Dan yang demikian itu karena firman Allah swt: dan beri ingatlah, maka sesungguhynyaperingatan itu berguna bagi orang-orang yang beriman. Dan yang paling dihajati hemba Allah kepada peringatan adalah dalam keadaan seperti ini
Dan sebuah hadits yang menerangkan tentang talqin diantaranya adalah riwayat Rosyid bin Sa’ad dari Dlamrah bin Habib, dan dari Hakim bin Umari, ketiga-tiganya berkata:
اذا سوي على الميت قبره وانصرف الناس عنه كانوا يستحبون ان يقال للميت عند قبره يافلان قل لااله الا الله اشهد ان لااله الا الله ثلاث مرات يافلان قل ربي الله ودينى الاسلام ونبيى محمد صلى الله عليه وسلم ثم ينصرف (رواه سعيد بن منصور فى سننه)
Apabila telah diratakan atas mayit akan kuburnya dan telah berpaling manusia dari paanya adalah mereka para sahabat mengistihbabkan (menyunatkan) bahwa dikatakan bagi mayit pada kuburnya: Ya fulan: katakanlah La Ilaha Illallah, Asyhadu alla Ilaha Illallah, tiga kali. Hai Fulan katakanlah: Tuhanku Allah, Agamaku Islam dan Nabiku Muhammad saw, kemudian berpalinglah ia. Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dalam sunannya.
Dan diriwayatkan pula hadits marfu’ menurut riwayat Atthabrani dan menurut riwayat Abdul ‘Aziz al-Hambali dalam Asy-Syafi’I bahwa Umamah berkata:

Apabila aku mati, maka lakukanlah olehmu terhadap diriku, sebagaimana Rasulullah saw pernah memerintahkannya kepada kita agar memperlakukan mayit kita seraya bersabda: apabila mati salah seorang dari saudara-saudara kamu, maka kamu ratakan atas kuburnya, maka hendaklah berdiri salah seorang kamu di atas kepala kuburnya, kemudian hendaklah berkata: hai fulan anak fulananh, maka sesungguhnya ada didengarnya, hanya ia tidak dapat menjawab. Lalu berkatalah: hai fulan anak fulanah, maka sesungguhnya ia duduk melurus kemudian dikatakannya: Hai Fulan anak fulanah, maka sesungguhnya ia menjawab: berilah kami petunjuk, semoga Allah melimpahkan rahmat Nya atasmu… tetapi kamu sekalian tidak mengetahuinya. Maka hendaklah dikatakannya: ingatlah apa yang engkau keluar atasnya dari dunia, yaitu penyaksian bahwa tidak ada Tuhan yang disembah dengan sebanr-benarnya melainkan Allah, dan bahwa Muhammad itu hamba Nya dan utusan Nya. dan sesungguhnya engkau telah ridha Allah sebagai Tuhan. Dan Islam sebagai agama. Dan Nabi Muhammad sebagai Nabi. Dan al-Qur’an sebagai Imam. Maka sesunggugnya Munkar dan Nakir memegang tiap tangan seseorang dan berkata: Mari kita berangkat. Alasan apa lagi kita duduk pada orang yang sudah ditalqin (diajarkan) akan hujjahnya, maka berkatalah seorang laki-laki: Ya Rasulullah. Maka jika tidak dikenal siapa ibunya? Jawabnya: di bangsakannya kepada ibunya: Hawwa, Hai Fulan bin Hawwa.     
Mengenai hadits ini telah berkata alhafidz dalam attalkhish, dan isnad hadits ini baik dan telah menguatkan dia oleh Addliya’ dalam ahkamnya.
 

Minggu, 02 September 2012

Memadukan Ilmu dan Amal

Ilmu adalah karunia paling berharga yang diberikan Allah kepada manusia. Kemuliaan ilmu ini banyak ditegaskan oleh Al-Qur'an maupaun hadis Rasulullah SAW seperti hadis yang mewajibkan seluruh umat Islam, baik laki-laki maupun perempuan, atau keharusan menuntut ilmu dari sejak manusia dilahirkan hingga meninggal dunia (long life education).

Sedangkan ilmu tidak dapat dikatakan ilmu jika ia tidak dihubungkan dengan amal perbuatan manusia. Rasulullah SAW mengibaratkan hubungan ilmu dan amal ini dengan pohon dan buahnya. Jika ilmu adalah sebatang pohon maka amal adalah buahnya. Jika ilmu tidak disertai dengan amal kebajikan maka ilmu tersebut tidak banyak berguna laksana pohon yang tak berbuah.

Dalam kitab Ta`limul Muta`allim, Syekh az-Zarnuji,  menerangkan bahwa banyak sekali umat Islam di masanya yang mengalami kegagalan dalam menuntut ilmu. Kegegalan yang dimaksud bukanlah kegagalan lulus atau tidak lulus dalam ujian sekolah. Akan tetapi lebih jauh lagi merupakan kegagalan sebab tidak dapat menjadikan ilmu yang diperoleh bermanfaat bagi masyarakat luas. Dengan kata lain, ilmu yang tidak dapat dipetik buahnya.

Menurut Syekh Zarnuji, kegagalan ini disebabkan oleh kekeliruan motivasi menuntut ilmu (niat), memilih disiplin ilmu, guru dan teman, kurangnya penghormatan terhadap guru dan orang yang berilmu, kemalasan dalam belajar, kurangnya ibadah dan rendahnya sikap tawakkal (berserah diri kepada Allah),  wara` (menjauhi makan barang haram), zuhud (melepaskan ketergantungan terhadap materi). Sementara seluruh hal di atas merupakan syarat-syarat dan jalan yang dibutuhkan oleh setiap pelajar dalam mencapai ilmu pengetahuan yang diridhai Allah SWT.

Dari syarat-syarat keberhasilan mendapatkan ilmu di atas, terlihat jelas bahwa sebenarnya pendidikan dalam Islam memberikan perpaduan yang indah antara ilmu dan amal. Bersendikan pada kesungguhan dalam mengasah potensi intelektual dan keikhlasan dalam beramal.

Barangsiapa yang berhasil memenuhi syarat-syarat dan benar dalam cara menuntut ilmu niscara mereka akan tercerahkan hati dan pikirannya. Mereka akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat baik bagi dirinya sendiri juga bagi masyarakt luas serta akan selalu berada di bawah petunjuk Allah SWT.

Sebaliknya mereka yang meninggalkan syarat-syarat yang diperlukan dalam menuntut ilmu dan belajar dengan jalan yang salah maka sudah dapat dipastikan mereka akan mengalami kegagalan dalam memadukan antara ilmu dan amal. Dalam dunia pendidikan Islam terdapat sebuah slogan yang sangat populer:

”Man zada ilman wa lam yazdad hudan lam yazdad minallahi illa bu`dan.” Artinya: Barangsiapa yang bertambah ilmunya akan tetapi tidak bertambah petunjuknya maka ia tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali semakin jauh dari Allah.

Sowan dan Mencium Tangan Kyai



Sowan adalah tradisi santri berkunjung kepada kyai dengan harapan mendapatkan petunjuk atas sebuah permasalahan yang diajukannya, atau mengharapkan doa dari kyai atau sekedar bertatap muka silaturrhim saja. Seperti yang dianjurkan oleh Rasulullah saw bahwa bersilaturhim dapat menjadikan umur dan rizqbi bertambah panjang. Sowan dapat dilakukan oleh santri secara individu atau bersama-sama. Bisanya seorang kyai akan menerima para tamu dengan lapang dada.
Bagi wali santri yang hendak menitipkan anaknya di pesantren, sowan kepada kyai sangat penting. Karena dalam kesempatan ini ia akan memasrahkan anaknya untuk dididik di pesantren oleh sang kyai. Begitu pula dengan calon santri, inilah kali pertama ia melihat wajah kyainya yang akan menjadi panutan sepanjang hidupnya.
Sowan tidak hanya dilakukan oleh santri yang masih belajar di pesantren. Banyak santri yang telah hidup bermasyarakat dan berkeluarga mengunjungi kyainya hanya sekedar ingin bersalaman semata. Atau sengaja datang membawa permasalahan yang hendak ditanyakan kepada kyai tentang berbagai masalah yang dihadapinya.
Hal ini menjadikan bahwa hubungan kyai santri tidak pernah mengenal kata putus. Kyai tetap menjadi guru dan santri tetap menjadi murid. Dalam dunia pesantren istilah alumni hanya menunjuk pada batasan waktu formal belaka, dimana seorang santri pernah belajar di sebuah pesantren tertentu. Tidak termasuk di dalamnya hubungan guru-murid. Meskipun telah manjadi alumni pesantren A, seseorang akan tetap menjadi santri atau murid Kyai A.
Di beberapa daerah tradisi sowan memiliki momentumnya ketika idul fitri tiba. Biasanya, seorang kyai sengaja mempersiapkan diri menerima banyak tamu yang sowan kepadanya. Mereka yang sowan tidaklah sebatas para santri yang pernah berguru kepadanya, namun juga masyarakat, tetangga dan bahkan para pejabat tidak pernah berguru langsung kepadanya. Mereka datang dengan harapan mendapatkan berkah dari kealiman seorang kyai. Karena barang siapa  bergaul dengan penjual minyak wangi, pasti akan tertular semerbaknya bau wangi.
Pada bulan syawal seperti ini, sowan kepada kyai merupakan sesuatu yang utama bagi kalangan santri. Hampir sama pentingnya dengan mudik untuk berjumpa keuarga dan kedua orang tua. Pantas saja, karena kyai bagi santri adalah guru sekaligus berlaku sebagai orang tua. Oleh karena itu sering kali mereka yang kembali pulang dari perantauan menjadikan sowan kepada kyai sebagai alasan penting mudik di hari lebaran. Bagi santri yang telah jauh berkelana mengarungi kehidupan, kembali ke pesantren dan mencium tangan kyai merupakan ‘isi ulang energi’ recharger untuk menghadapi perjalanan hidup ke depan. Seolah setelah mencium tangan kyai dan bermuwajjahah dengannya semua permasalahan di depan pasti akan teratasi. Semua itu berlaku berkat do’a orang tua dan kyai.
Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Imam Nawawi sebagai mana dinukil oleh Ibn Hajar al-Asqolani dalam fathul Bari
قالَ الاِمَامْ النَّوَاوِيْ : تقبِيْلُ يَدِ الرَّجُلِ ِلزُهْدِهِ وَصَلاَحِهِ وَعِلْمِهِ اَوْ شرَفِهِ اَوْ نَحْوِ ذالِكَ مِنَ اْلاُمُوْرِ الدِّيْنِيَّةِ لاَ يُكْرَهُ بَل يُسْتَحَبُّ.

Artinya : Imam Nawawi berkata : mencium tangan seseorang karena zuhudnya, kebaikannya, ilmunya, atau karena kedudukannya dalam agama adalah perbuatan yang tidak dimakruhkan, bahkan hal yang demikian itu disunahkan.
Demikianlah tradisi sowan ini berlangsung hingga sekarang. Para santri meyakini benar bahwa seorang kyai yang alim dan zuhud jauh lebih dekat kepada Allah swt dibandingnkan manusia pada umumnya. Karena itulah para santri sangat mengharapkan do’a dari para kyai. Karena do’a itu niilainya lebih dari segudang harta. Inilah yang oleh orang awam banyak diisitlahkan dengan tabarrukan, mengharapkan berkah dari do’a kyai yang mustajab karena kezuhudannya, ke-wirai-annya dan kealimanyya.
Dengan demikian optimism dalam menghadapi kehidupan dengan berbagai macam permasalahnnya merupakan nilai posittif yang tersimpan di balik tradisi sowan. Sowan model inilah yang dianjurkan oleh Rasulullah saw
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali persaudaraan” (H.R. Bukhari-Muslim).
عَنْ أَبِي أَيُّوبَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ قَالَ مَا لَهُ مَا لَهُ وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَبٌ مَا لَهُ تَعْبُدُ اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ وَتَصِلُ الرَّحِمَ ” .رواه البخاري .
Dari Abu Ayyub Al-Anshori r.a bahwa ada seorang berkata kepada Nabi saw., “Beritahukanlah kepadaku tentang satu amalan yang memasukkan aku ke surga. Seseorang berkata, “Ada apa dia? Ada apa dia?” Rasulullah saw. Berkata, “Apakah dia ada keperluan? Beribadahlah kamu kepada Allah jangan kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, tegakkan shalat, tunaikan zakat, dan ber-silaturahimlah.” (Bukhari).
Artinya hanya silatrrahim yang bernialai positiflah yang akan diganjar oleh Allah sebagaimana dijanjikan Rasulullah dalam kedua haditsnya. Bukan silatrrahim yang bernilai negative yaitu silaturrahim yang melanggar aturan syariat Islam.

Selasa, 10 Juli 2012

Sombong vs Tawadhu


Sifat sombong adalah sesuatu yang sangat tercela. Karena Al Qur’an dan As Sunah mencelanya dan mengajak kita untuk meninggalkannya. Bahkan orang yang mempunyai sifat ini diancam tidak masuk ke dalam surga. Sebaliknya, di dalam Al Qur’an Allah memuji hamba-hamba-Nya yang rendah hati dan tawadhu’ kepada sesama. Allah ta’ala berfirman,
وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
“Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah orang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati dan apabila orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (QS. Al Furqaan: 63)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)
Celaan Terhadap Kesombongan dan Pelakunya
Allah ta’ala berfirman,
إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ
“Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. An Nahl: 23)
Allah ta’ala juga berfirman,
تِلْكَ الدَّارُ الْآَخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا
“Itulah negeri akhirat yang Kami sediakan bagi orang-orang yang tidak berambisi untuk menyombongkan diri di atas muka bumi dan menebarkan kerusakan.” (QS. Al Qashash: 83)
Adz Dzahabi rahimahullah berkata, “Kesombongan yang paling buruk adalah orang yang menyombongkan diri kepada manusia dengan ilmunya, dia merasa hebat dengan kemuliaan yang dia miliki. Orang semacam ini tidaklah bermanfaat ilmunya untuk dirinya. Karena barang siapa yang menuntut ilmu demi akhirat maka ilmunya itu akan membuatnya rendah hati dan menumbuhkan kehusyu’an hati serta ketenangan jiwa. Dia akan terus mengawasi dirinya dan tidak bosan untuk terus memperhatikannya. Bahkan di setiap saat dia selalu berintrospeksi diri dan meluruskannya. Apabila dia lalai dari hal itu, dia pasti akan terlempar keluar dari jalan yang lurus dan binasa. Barang siapa yang menuntut ilmu untuk berbangga-banggaan dan meraih kedudukan, memandang remeh kaum muslimin yang lainnya serta membodoh-bodohi dan merendahkan mereka, sungguh ini tergolong kesombongan yang paling besar. Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun hanya sekecil dzarrah (anak semut), la haula wa la quwwata illa billah.” (lihat Al Kaba’ir ma’a Syarh Ibnu ‘Utsaimin, hal. 75-76 cet. Darul Kutub ‘Ilmiyah. Sayangnya di dalam kitab ini saya menemukan kesalahan cetak, seperti ketika menyebutkan ayat dalam surat An Nahl di atas, di sana tertulis An Nahl ayat 27 padahal yang benar ayat 23. Wallahul muwaffiq)
Ilmu Menumbuhkan Sifat Tawadhu’
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Salah satu tanda kebahagiaan dan kesuksesan adalah tatkala seorang hamba semakin bertambah ilmunya maka semakin bertambah pula sikap tawadhu’ dan kasih sayangnya. Dan semakin bertambah amalnya maka semakin meningkat pula rasa takut dan waspadanya. Setiap kali bertambah usianya maka semakin berkuranglah ketamakan nafsunya. Setiap kali bertambah hartanya maka bertambahlah kedermawanan dan kemauannya untuk membantu sesama. Dan setiap kali bertambah tinggi kedudukan dan posisinya maka semakin dekat pula dia dengan manusia dan berusaha untuk menunaikan berbagai kebutuhan mereka serta bersikap rendah hati kepada mereka.”
Beliau melanjutkan, “Dan tanda kebinasaan yaitu tatkala semakin bertambah ilmunya maka bertambahlah kesombongan dan kecongkakannya. Dan setiap kali bertambah amalnya maka bertambahlah keangkuhannya, dia semakin meremehkan manusia dan terlalu bersangka baik kepada dirinya sendiri. Semakin bertambah umurnya maka bertambahlah ketamakannya. Setiap kali bertambah banyak hartanya maka dia semakin pelit dan tidak mau membantu sesama. Dan setiap kali meningkat kedudukan dan derajatnya maka bertambahlah kesombongan dan kecongkakan dirinya. Ini semua adalah ujian dan cobaan dari Allah untuk menguji hamba-hamba-Nya. Sehingga akan berbahagialah sebagian kelompok, dan sebagian kelompok yang lain akan binasa. Begitu pula halnya dengan kemuliaan-kemuliaan yang ada seperti kekuasaan, pemerintahan, dan harta benda. Allah ta’ala meceritakan ucapan Sulaiman tatkala melihat singgasana Ratu Balqis sudah berada di sisinya,
هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ
“Ini adalah karunia dari Rabb-ku untuk menguji diriku. Apakah aku bisa bersyukur ataukah justru kufur.” (QS. An Naml: 40).”
Kembali beliau memaparkan, “Maka pada hakikatnya berbagai kenikmatan itu adalah cobaan dan ujian dari Allah yang dengan hal itu akan tampak bukti syukur orang yang pandai berterima kasih dengan bukti kekufuran dari orang yang suka mengingkari nikmat. Sebagaimana halnya berbagai bentuk musibah juga menjadi cobaan yang ditimpakan dari-Nya Yang Maha Suci. Itu artinya Allah menguji dengan berbagai bentuk kenikmatan, sebagaimana Allah juga menguji manusia dengan berbagai musibah yang menimpanya. Allah ta’ala berfirman,
فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ . وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ . كَلَّا …
“Adapun manusia, apabila Rabbnya mengujinya dengan memuliakan kedudukannya dan mencurahkan nikmat (dunia) kepadanya maka dia pun mengatakan, ‘Rabbku telah memuliakan diriku.’ Dan apabila Rabbnya mengujinya dengan menyempitkan rezkinya ia pun berkata, ‘Rabbku telah menghinakan aku.’ Sekali-kali bukanlah demikian…” (QS. Al Fajr : 15-17)
Artinya tidaklah setiap orang yang Aku lapangkan (rezekinya) dan Aku muliakan kedudukan (dunia)-nya serta Kucurahkan nikmat (duniawi) kepadanya adalah pasti orang yang Aku muliakan di sisi-Ku. Dan tidaklah setiap orang yang Aku sempitkan rezkinya dan Aku timpakan musibah kepadanya itu berarti Aku menghinakan dirinya.” (Al Fawa’id, hal. 149)
Ketawadhu’an ‘Umar bin Al Khaththab radhiyallahu’anhu
Disebutkan di dalam Al Mudawwanah Al Kubra, “Ibnul Qasim mengatakan, Aku pernah mendengar Malik membawakan sebuah kisah bahwa pada suatu ketika di masa kekhalifahan Abu Bakar ada seorang lelaki yang bermimpi bahwa ketika itu hari kiamat telah terjadi dan seluruh umat manusia dikumpulkan. Di dalam mimpi itu dia menyaksikan Umar mendapatkan ketinggian dan kemuliaan derajat yang lebih di antara manusia yang lain. Dia mengatakan: Kemudian aku berkata di dalam mimpiku, ‘Karena faktor apakah Umar bin Al Khaththab bisa mengungguli orang-orang yang lain?” Dia berkata: Lantas ada yang berujar kepadaku, ‘Dengan sebab kedudukannya sebagai khalifah dan orang yang mati syahid, dan dia juga tidak pernah merasa takut kepada celaan siapapun selama dirinya tegak berada di atas jalan Allah.’ Pada keesokan harinya, laki-laki itu datang dan ternyata di situ ada Abu Bakar dan Umar sedang duduk bersama. Maka dia pun mengisahkan isi mimpinya itu kepada mereka berdua. Ketika dia selesai bercerita maka Umar pun menghardik orang itu seraya berkata kepadanya, “Pergilah kamu, itu hanyalah mimpi orang tidur!” Lelaki itupun bangkit meninggalkan tempat tersebut. Ketika Abu Bakar telah wafat dan Umar memegang urusan pemerintahan, maka beliau pun mengutus orang untuk memanggil si lelaki itu. Kemudian Umar berkata kepadanya, “Ulangi kisah mimpi yang pernah kamu ceritakan dahulu.” Lelaki itu menjawab, “Bukankah anda telah menolak cerita saya dahulu?!” Umar mengatakan, “Tidakkah kamu merasa malu menyebutkan keutamaan diriku di tengah-tengah majelis Abu Bakar sementara pada saat itu dia sedang duduk di tempat itu?!” Syaikh Abdul Aziz As Sadhan mengatakan, “Umar radhiyallahu ‘anhu tidak merasa ridha keutamaan dirinya disebutkan sementara di saat itu Ash Shiddiq (Abu Bakar) -dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu jelas lebih utama dari beliau- hadir mendengarkan kisah itu. walaupun sebenarnya dia tidak perlu merasa berat ataupun bersalah mendengarkan hal itu, akan tetapi inilah salah satu bukti kerendahan hati beliau radhiyallahu ‘anhu.” (lihat Ma’alim fi Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 103-104)
Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam.
***

TAWADHU’ Ibarat Sebuah Magnet

Secara bahasa, tawadhu’ berasal dari kata tawadha’a-yatawadha’u-tawadhu’an yang berarti merendahkan diri atau meletakkan di bawah. Secara istilah, tawadhu’ berarti menghargai orang lain, menganggap bahwa orang lebih baik, lebih benar dan lebih mulia. Penghargaan dan pengagungan yang proposional, bukan taklid buta.

Tawadhu’ juga diartikan dengan menerima kebenaran dari siapapun datangnya, atau siap menerima kebenaran tanpa melihat siapa yang berbicara. Jadi tawadhu’ adalah: “melebur dan merendahkan diri di hadapan Alloh Swt dan di hadapan hamba-hamba-Nya.”

Ibnu Qoyyim dalam kitab Madarijus Salikin berkata: “Barangsiapa yang angkuh untuk tunduk kepada kebenaran walaupun datang dari anak kecil atau orang yang dimarahinya atau yang dimusuhinya, maka kesombongan orang tersebut hanyalah kesombongan kepada Alloh karena Alloh adalah Al-Haq (benar); kalam-nya benar, agamanya-Nya benar. Kebenaran datangnya dari Alloh dan kepada-Nya akan kembali. Barangsiapa menyombongkan diri untuk menerima kebenaran berarti dia menolak segala yang datang dari Alloh dan menyombongkan diri di hadapan-Nya.”

Sikap tawadhu’ sangat erat kaitannya dengan sifat ikhlas. Rangkuman keikhlasan seorang hamba ada pada ketawadhu’annya. Orang yang mampu bersikap tawadhu’ berarti keikhlasan telah bersarang di hatinya. Bedanya, ketawadhu’an lebih bersifat horizontal.

Tawadhu’ banyak berhubungan dengan manusia secara sosial. Sedangkan Ikhlas, lebih bersifat vertikal, langsung kepada Alloh, tawadhu’ bukan berarti menghinakan diri. Tapi tawadhu’ adalah bentuk penghambaan kepada Tuhan yang sesungguhnya.

DALIL-DALIL TAWADHU’

Jika kita membaca Al-Qur’an, kitab-kitab hadist dan sejarah, akan banyak ditemukan disana dalil-dalil tentang keutamaan tawadhu’. Sekedar menyebut contoh misalnya, dalam surat Al-Furqon disebutkan tentang keutamaan dan ciri-ciri orang yang tawadhu’. Yang artinya:

“Dan hamba-hamba tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan diatas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al-Furqon [25]: 63).

Ayat ini menunjukkan karakteristik orang-orang yang bertawadhu’. Mereka selalu menyapa dan mengucapkan salam (do’a keselamatan) kepada semua orang yang ditemuinya, tanpa melihat kelas sosial ataupun tingkat kecerdasannya, orang yang bodohpun tetap dia sapa dan do’akan. Sungguh ini merupakan sikap profesionalitas yang luar biasa.

Bahkan secara lebih jauh, Nabi Muhammad SAW juga mengatakan bahwa orang yang bersikap tawadhu’, ia akan diangkat derajatnya. Sebuah derajat dan kehormatan yang tentunya sangat tinggi dihadapan Tuhannya.

“Dan tidaklah Sesorang bertawadhu’ kepada Alloh kecuali Alloh akan mengangkat (derajat)nya.” (HR. Muslim).

Dalam hadist lain juga disebutkan:

“barangsiapa yang bersikap tawadhu’ karena mencari ridho Alloh, naka Alloh akan meninggikan derajatnya. Ia menganggap dirinya tiada berharga, namun dalam pandangan orang lain ia sangat terhormat. Barang siapa yang menyombongkan diri, maka Alloh akan menghinakannya. Ia menganggap dirinya terhormat, padahal dalam pandangan orang lain ia sangat hina, bahkan lebih hina daripada anjing dan babi.” (HR. Al-Baihaqi).

Dalam sebuah atsar juga diceritakan bahwa pada suatu malam datanglah seorang tamu kepada kholifah Umar bin Abdul Azis. Waktu itu beliau sedang menulis. Lampunya hampir saja padam. Tamu itu kemudian berkata: “Ya Amirul Mukminin, biarlah saya yang memperbaiki lampu itu.” Sang Amir menjawab: “Jangan, tidak baik seorang menganggap tamunya sebagai pelayan. Itu bukan Akhlak mulia.” Tamunya itu berkata lagi: ”Kalau begitu, biar saya bangunkan pelayan saja.” Sang Amir menjawab: “ Jangan ia baru aja tidur, sepertinya sejak tadi dia blom menikmati kenikmatan bantalnya.” Selanjutnya beliau sendiri yang membetulkan lampunya. Si tamu itupun bertanya: “Wahai Amirul Mukminin, mengapa anda sendiri yang membetulkan lampu itu?” Sang Amir menjawab: “ Mengapa tidak, kalau saya pergi sayapun tetap Umar. Tidak berkurang sedikitpun dari diriku dengan apa yang saya lakukan tadi, bukan? Selamanya saya tetap Umar.”

Ayat, hadist, dan atsar diatas telah menegaskan kepada kita semua tentang pentingnya tawadhu’. Sebuah sikap ketundukan total dihadapan Alloh SWT.

PEMBAGIAN TAWADHU’

Sikap Tawadhu’ di bagi menjadi empat macam:

1. Tawadhu’ kepada Alloh SWT.

Tawadhu’ kepada Alloh SWT artinya merendahkan diri di hadapan-Nya. Tanda-tanda orang tawadhu’ kepada Alloh SWT diantaranya:

a. Merasa kecil/sedikit dalam ta’at kepada-Nya. Artinya, seorang yang tawadhu’ kepada alloh SWT itu merasa bahwa dalam ketaatan dan ibadahnya masih sangat sedikit dibandingkan dengan dosa-dosa yang telah dilakukan.
b. Merasa besar/banyak dalam maksiat. Artinya, seorang yang tawadhu’ kepada Alloh SWT, merasa bahwa dosa/maksiat yang telah dilakukan sangat besar/banyak dibandingkan dengan amalnya.
c. memperbanyak pujian kepada Alloh SWT. Dan tidak pada diri sendiri.
d. Tidak menuntut hak kepada Alloh, tetapi berorientasi pada amal yang harus dilakukan.

2. Tawadhu’ kepada Agama

Tanda-tanda orang yang tawadhu’ kepada agama diantaranya:

a. Tunduk dan patuh kepada aturan-aturan, perintah-perintah dan larangan-larangan di dalam agama islam.
b. Tidak melanggar Islam baik dalam perkataan, perasaan pemikiran dan perbuatan.

3. Tawadhu’ kepada Rosululloh Saw.

Tanda-tanda orang tawadhu’ pada Rosululloh diantaranya:

a. Mengutamakan petunjuk Rosululloh diatas manusia lainnya.
b. Mencintai, mentaati, dan mengikuti setiap perkataan dan perbuatan beliau.
c. Menjadikan Rosululloh Saw. Sebagai teladan hidupnya.

4. Tawadhu’ kepada Sesama.

Tanda-tanda orang yang tawadhu’ kepada manusia diantaranya:

a. Menerima nasehat/saran kebenaran dari orang lain.
b. Senantiasa melihat kelebihan-kelebihan saudaranya, dan berusaha menutupi kekurangan-kekurangannya.
c. Siap membantu orang lain.
d. Bermusyawarah dengan anggota masyarakat yang lain.
e. Senantiasa berbaik sangka (khusnudzon) kepada orang lain.

CARA MENGUKUR SIKAP TAWADHU’

Meskipun kunci tawadhu’ berada dalam hati, tapi ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengetahui dan mengukurnya. Adalah seorang Sa’id Hawwa, dalam bukunya yang berjudul Al-Mustakholash fi Tazkiyatul Anfus (Ringkasan dalam penyucian jiwa), sebagai mana dilansir nurul huda (2008), dengan gamblang telah menwarkan beberapa tips dan cara untuk mengukur dan mengetahui apakah kita sudah bersikap tawadhu’ atau belum, antara lain:
1. Cobalah berdiskusi dengan orang lain tentang suatu masalah. Jika kita keberatan mengakui kebenaran perkataan lawan, berarti dalam hati kita masih ada kesombongan. Namun jika anda menerima kebenaran lawan dan berterima kasih serta mengakui kelemahan diri dengan tulus, maka kita boleh sedikit berlega hati karena memiliki sifat tawadhu’.

2. Cobalah berkumpul bersama teman-teman sebaya dalam suatu pertemuan. Kemudian dahulukan kepentingan orang lain di atas diri kita, tidak menonjolkan diri, dan berjalan ditengah atau dibelakang, bukan di depan. Jika kita berat melakukannya, berarti dalam hati kita masih terdapat benih kesombongan.

3. Cobalah memenuhi undangan orang miskin atau lebih rendah statusnya. Jika kita masih merasa berat mendatanginya, berarti dalam hati kita masih terdapat sifat sombong.

4. Bawalah sendiri barang-barang keperluan keluarga tanpa dibawakan oleh orang lain. Jika kita merasa berat melakukannya, walaupun tidak ada orang lain, berarti kita masih memiliki sifat sombong. Tapi jika kita melakukannya ingin dilihat orang lain berarti riya’.

5. Kenakanlah pakaian yang sederhana. Jika kita memakai pakaian yang bagus-bagus hanya karena ingin dilihat orang lain, berarti kita masih memiliki sifat riya’. Dan jika kita merasa berat mengenakan pakaian yang sedrhana didepan umum, berarti kita masih memiliki sifat sombong.

Inilah beberapa cara untuk mengukur sikap ketawadhu’an. Pendek kata, sikap tawadhu’ ibarat magnet yang bisa membuat orang-orang disekitarnya mendekat dan bahkan menempel. Sebaliknya sikap congkak akan menjauhkan dari dari orang-orang sekitarnya. Jangankan manusia, surga pun mengharamkan dirinya untuk dimasuki orang-orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar debu.

“Takkan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji sawi.” (HR. Muslim)

Alloh pun amat membenci orang-orang sombong. Sebagaimana fiman-Nya dalam Al-Qur’an yang artinya :

“Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. An-Nisa’ [4]: 36).

TIPS MENJADI PRIBADI YANG TAWADHU’

Bersikap tawadhu’ tidaklah mudah, sebab tawadhu’ mengharuskan seseorang untuk mengalahkan sifat keegoannya. Sikap tawadhu’ juga tidak dapat diperoleh secara spontan. Tapi harus diupayakan secara bertahap, serius dan berkesinambungan. Cara yang dapat dilakukan untuk melatih munculnya sifat tawadhu’ antara lain:

1. Mengenal Alloh.
Dengan mengenal Alloh beserta sifat-sifatnya, maka akan muncul kesadaran bahwa manusia adalah makhluk yang sangat lemah dan kecil. Begitu besarnya kuasa Alloh, begitu kaya, Agung dan besarnya Alloh. Maka tidaklah pantas bagi manusia untuk merasa sombong. Dengan mengenal Alloh kita tidak akan merasa memiliki dan dimiliki, sebab semua yang ada dialam ini hakekatnya hanyalah Alloh SWT yang maha memiliki.

2. Mengenal Diri.
Al-Farabi, seorang filosuf bangsa Arab kenamaan, mengatakan:”Ketahuilah dirimu, niscaya kamu akan mengenal Tuhanmu!.” Perkataan kita renungkan, perkataan ini memang benar. Sesorang yang mengetahui hakekat dirinya, secara otomatis, ia akan mengetahui bahwa dia tak lebih dari seonggok mahluk yang diciptakan Tuhan dari air yang hina dina. Manusia berasal dari setetes mani yang bercampur. Sesuai dengan firman Alloh dalam Al-Qur’an yang artinya:

“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (QS. Al-Insan [76]: 2).

Kemudian manusia lahir ke dunia tanpa daya dan tidak mengetahui apapun. Sesuai dengan firman Alloh dalam Al-Qur’an yang artinya:

“ Dan Alloh mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl [16]: 78).

Oleh sebab itu, sungguh ironis bila manusia bersikap sombong dan takabur. Seharusnya manusia bersikap tawadhu’, sebab pada hakekatnya ia lemah dan tidak banyak mempunyai pengetahuan. Bahkan, sekedar untuk menyelamatkan makanan dari jilatan seekor lalat pun ia tidak memiliki kemampuan.

3. Mengenal Aib Diri.
Seseorang harus mengetahui aib dan kekurangannya yang ada pada dirinya, sebab kalau tidak, dia dapat terjebak dalam kubangan kesombongan. Banyak orang mengira bahwa dirinya telah melakukan amal kebaikan, padahal sejatinya ia sedang melakukan kerusakan dan kedzoliman. Alloh berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya:

“Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan dimuka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (QS. Al-Baqoroh [2]: 11).

Oleh karena itu setiap muslim harus selalu melakukan intropeksi diri sebelum melakukan dan sesudah melakukan perbuatan. Dengan intropeksi diri, ia akan menyadari kekurangan dan aib dirinya sejak dini, sehingga ia akan bersikap tawadhu’ dan tidak sombong kepada orang lain.

4. Merenungkan Nikmat Alloh.
Pada hakikatnya, seluruh nikmat yang dianugerahkan Alloh pada kita sebagai hamba-Nya adalah ujian untuk mengetahui siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur. Namun banyak diantara manusia yang tidak menyadari hal tersebut, sehingga membanggakan, bahkan menyombongkan nikmat yang Alloh berikan kepadanya.

5. Harus Ikhlas.
Kalau ada orang yang melakukan sesuatu dan merasa dirinya tidak layak melakukan sesuatu itu, sudah merupakan tanda bahwa orang tersebut tidak tawadhu’. Contohnya pejabat yang merapikan sendal, lalu dalam hatinya ia merasa mulia karena sudah merapikan sendal padahal ia merasa tidak pantas melakukan hal tersebut. Merapikan sendal merupakan hal yang biasa, dan bukan perbuatan nista. Apa salahnya pejabat merapikan sendal? Tidak ada yang salah, jadi jangan merasa hebat dan tawadhu’, karena itu ciri bahwa kita tidak tawadhu’.

6. Ingatlah bahwa Tiada Daya dan Upaya Kecuali dengan Alloh.
Jadi segala yang ada dengan Alloh, bukan dengan daya dan upaya kita. Bukan pula dengan kehebatan kita. Bukan pula dengan kecerdasan kita. Ingatlah, Qorun mendapatkan kecelakaan besar disebabkan ia merasa bahwa apa yang dimilikiny, berupa harta kekayaan yang melimpah, adalah hasil dari kecerdasan dan usahanya. Disebabkan ia merasa demikian maka Alloh menenggelamkan dia di muka bumi ini.

Begitulah cara-cara untuk menjadi orang yang tawadhu’. Dengan melakukan trik-trik diatas diharapkan kita semua bisa menjadi individu-individu yang tawadhu’. Sebab tawadhu’ adalah ciri kemuliaan pribadi muslim. Karenanya, tak berlebihan bila Imam Syafi’I mengatakan bahwa, “Sikap Tawadhu’ adalah akhlak orang-orang mulia. Sedangkan takabur adalah ciri-ciri orang tercela.”


Senin, 09 Juli 2012

Santri Perlu Perkuat Riyadlah


Para pencari ilmu atau santri yang mondok di pesantren perlu memperkuat riyadlah atau tirakat. "Ulat yang ingin menjadi kupu-kupu pun melakoni jalan tirakat. Manusia pun harus begitu."  Demikian dikatakan KH Mahrus Ali dalam Tahtiman Pesantren ‘Roudlotul Huda’ dan ‘Roudlotul Hidayah’ desa Margoyoso kecamatan Kalinyamatan, Jum’at sore (06/7) kemarin.

Menurut Ketua PC LDNU Jepara itu, ulat yang kelak menjadi kupu-kupu adalah sebuah proses yang meski dilalui. "Dalam berproses tentu akan menemui banyak kendala. Begitu pun dengan seorang santri yang mondok. Riyadlah juga perlu dilakukan sehingga kelak akan menuai hasilnya," jelasnya.

Kiai Mahrus menyebut tiga hal yang wajib dilakukan santri. Pertama, Takhalli. Artinya, sebagai santri jasmani dan rohaninya harus bersih dan terhindar dari sifat madmumah (tercela). Berkait hal itu, ia menyontohkan tumbuhnya ilmu dalam pribadi seorang berbada-beda. Hal itu, terkait kualitas santri masing-masing.
“Ilmu itu termasuk barang yang suci. Ia suka ditempat yang suci. Jika ilmu menempati orang yang tidak suci maka ilmu tidak kerasan menempatinya,” paparnya.
Dia bercerita, auatu ketika, ada seorang santri mondok selama tujuh tahun. Tetapi pelajaran yang santri peroleh belum ada yang nyantol sama sekali. Akhirnya, santri ngaji lagi dengan kyai Mahrus. Usut punya usut ternyata si santri punya kebiasaan mengintip santri putri saat sedang mandi.
Ia juga memberikan contoh lain tentang sucinya ilmu. Seorang santri yang tidak terima diingatkan kyainya lantaran mengenakan pakaian yang tipis. Dilain hari kyai melakukan hal sama dan santri gantian yang mengingatkan kyai. Juga Simbah Ma’shum yang perokok berat apabila melihat santrinya merokok malah diharamkan.

“Semua yang disampaikan dan dilakukan kiai ada maksud tersendiri. Sebagai santri tidak perlu berprasangka buruk kepada kiainya,” jelasnya.
 Kedua, Tahalli. Sebagai santri hendaknya menghiasi diri dengan sifat mahmudah (terpuji). Ketiga, Tajalli. Santri harus terbuka mata hatinya menerima nikmat yang diberikan Allah SWT.

Malam harinya, di tempat yang sama diadakan Haflah Attasyakur Lil Ihtitam dengan menghadirkan KH Syarafuddin dari Rembang. Dalam taushiyahnya santri tidak perlu khawatir akan jadi apa dan makan apa. Yang terpenting baginya adalah ilmu yang berkah dan manfaat.
“Rizki sudah ada jatahnya masing-masing. Sebab pembagian rizki sudah ditanggung oleh Allah SWT. Rizki ada yang paten ada juga yang bonus,” ungkapnya.
Ayam sebagaimana ia menyontohkan tidak pernah mengeluh untuk mencari makan. Dapat apapun ia terima. Oleh karena itu, semua lanjutnya hendak dihaturkan kepada Allah...

di kutip dari:
http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,46-id,38713-lang,id-c,pesantren-t,Santri+Perlu+Perkuat+Riyadlah-.phpx

Rabu, 06 Juni 2012

MOVING CLASS

Moving Class

1. DEFINISI MOVING CLASS

Dalam hal ini penulis mengartikan bahwa Moving Class atau Kelas Bergerak adalah salah satu teknis belajar dimana siswanya tidak mendiami kelas menetap. Setiap pergantian mata pelajaran siswanya harus berpindah-pindah tempat sedangkan gurunya mendiami ruang tertentu yang telah dirancang sedemikian rupa sehingga dengan upaya ini mudah-mudahan proses belajar mengajar lebih bervariasi dan menyenangkan.

Agar proses belajar mengajar berhasil dengan melaksanakan sistem Moving Class maka seorang pengajar harus melaksanakan lima prinsip yaitu produktif, aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan ( PAKEM )

2. JENIS MOVING CLASS

Menurut pendapat penulis jenis moving class terdiri dari dua jenis yaitu :

1. Semi Moving Class.
Semi Moving Class adalah perpindahan ruangan khusus jam pelajaran dan mata pelajaran tertentu biasanya yang berhubungan dengan praktek misalnya mata pelajaran Penjas, Komputer, Mengetik, Produktif sedangkan mata pelajaran lain menggunakan kelas menetap.



2. Moving Class Murni
Dalam moving class murni setiap mata pelajaran memerlukan ruangan khusus sehingga setiap pergantian mata pelajaran siswa harus mencari ruangan yang telah ditentukan. Kebutuhan ruangan tergantung kepada jumlah jam pelajaran yang telah disusun dalam Kurikulum.

Manakah yang akan digunakan oleh sekolah ? Jawabannya tergantung kepada kebijakan, kemauan, atau keanggupan sekolah. Sebab dari dua jenis moving class tersebut terdapat kelebihan dan kelemahan dalam pelaksanaannya. Hal ini berdasarkan kepada pengalaman hasil dari pengamatan yang terjadi khususnya di SMK Negeri 2 Kota Sukabumi.


3. KELEBIHAN DAN KELEMAHAN MOVING CLASS.

Kelebihan Moving Class
Belajar tidak membosankan karena setiap pergantian jam harus pindah ke ruang kelas lain dimana suasana belajar dari ruang satu dengan ruang lain berbeda.
Setiap siswa dituntut untuk belajar lebih giat dan aktif karena kalau tidak aktif siswa akan ketinggalan pelajaran.
Guru berupaya untuk menghitung waktu dengan sebaik-baiknya dan tidak bolos mengajar karena kalau guru berhalangan mengajar akan cepat terdeteksi.
Guru akan berupaya mengajar dengan menggunakan metode mengajar yang bervariasi.
Guru akan berupaya mendesain ruangan sesuai dengan karakter mata pelajaran sehingga siswa akan merasakan suasana belajar sesuai dengan mata pelajaran yang sedang diikutinya.
Mendidik para siswa untuk lebih disiplin dalam menggunakan waktu.
Pada saat jam kosong oleh siswa dapat digunakan untuk mengerjakan tugas-tugas atau diisi oleh kegiatan yang bermanfaat misalnya bidang keagamaan, keterampilan dan lain-lain

Kelemahan Moving Class
Dalam perpindahan ruangan diperlukan waktu apalagi jika ruangan yang satu dengan ruangan lain berjauhan.
Biasanya terdapat siswa pada saat jam pertama ikut belajar tapi jam berikutnya tidak ikut belajar.
Kehadiran siswa dalam jam tertentu sulit diawasi apalagi jika seorang guru jarang mengabsen kehadiran siswanya.
Guru sulit mengenal siswanya di kelas karena siswa duduk di kursi yang dia inginkan dan tidak sesuai dengan denah duduk.
Jika guru dan siswa tidak disiplin dalam menggunakan waktu maka akan berakibat tersendatnya proses KBM bagi pelajaran lainnya.
4. TIPS UNTUK GURU DAN SISWA

Agar proses kegiatan belajar mengajar dengan sistem moving class berhasil dengan baik dan kelemahan dapat diminimalisir penulis akan memberikan tips sebagai berikut :

Disiplinlah dalam menggunakan waktu.
Laksanakanlah proses belajar mengajar dengan menggunakan metode mengajar yang bervariasi yang mengacu kepada lima prinsip yaitu produktif, aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan ( PAKEM ) sehingga siswa akan bergairah belajar.
Tumbuhkan sikap, minat dan perhatian untuk mengikuti pelajaran tanpa membeda-bedakan karakter guru dan mata pelajaran.
Biasakanlah mengecek kehadiran siswa sebelum pelajaran dimulai, jika terdapat siswa yang tidak hadir laporkan ke guru piket.
Koordinasilah antara guru dengan guru khususnya yang mengajar pada hari yang sama.
Isilah jam-jam kosong dengan kegiatan yang bermanfaat