Tampilkan postingan dengan label Rajabiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rajabiyah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 November 2012

Pelajaran Agama Tak Memuaskan, Jadi Awal Radikalisme

             =======00 1 00========
TIBA-tiba publik terperanjat dengan merebaknya aksi tawuran di tanah air antara peserta didik SMA 6 lawan SMA 70 hingga menelan korban jiwa seorang pelajar SMA 6 yang bernama Alawy Yusanto Putra, dan beberapa pelajar luka-luka. Belum kering air mata membasahi pipi, korban kembali berjatuhan dalam
kasus tawuran lainnya dalam hal ini SMA Yayasan Karya 66 lawan SMA Kartika Zenit yang menewaskan Deni Januar (Riau Pos, Jumat 28/9/2012). Praktis dalam dua hari, dua pelajar Jakarta telah menjadi korban kebringasan oleh hantu tawuran.
Sangat disayangkan nyawa anak muda sebagai generasi penerus bangsa hilang tercabut sesama pelajar sendiri. Sulit bagi kita membayangkan bagaimana perasaan kesedihan orangtua yang membayangkan anaknya mati di jalanan di karenakan tawuran. Lebih sedih lagi jika di ketahui bahwa anaknya yang mati itu bukan pelaku tawuran, tetapi hanya jadi korban. Betul bahwa keluarga memegang peranan penting dalam pergaulan anak. Pembacok Alwy, misalnya, berasal dari keluarga yang kurang harmonis. Pihak sekolah, orangtua, masyarakat dan pemerintah, sangat berperan penting dalam mencegah aksiaksi tawuran antara pelajar.
Dari kejadian ini, pemerintah juga harus menegakkan disiplin sekolah yang terbukti melakukan aksi tawuran harus diganti dan kepala sekolahnya dicopot. Guru-guru yang tidak peduli kepada muridnya harus dievaluasi. Begitu juga hendaknya kepala dinas yang tidak mampu mengkap sinyal-sinyal tawuran harus dimutasikan. Inilah sebagian kecil potret pendidikan kita, kekerasan sepertinya bagian dari tingkah-laku kekerasan para pelajar di negeri ini. Seiring dengan itu, setidaknya menurut hemat saya, pendidikan tasawuf dan intes komunikasi dengan orangtua harus disisipkan di sekolah.

Pendidikan Tasawuf
Setidaknya argumen ini terbukti ketika kita melihat kejayaan luar biasa di Baghdad pada tahun 1058-1157 M ketika itu kita melihat kajayaan Madrasah Nizhamiyah dari Dinasti Saljuq yang melahirkan tokoh-tokoh yang dikenang dalam ukiran sejarah seperti Imam al Haramain Al Juwainy (pengagas konsep al-Mashlahan dalam kajian Ushul fiqih), Imam al-Baqillani (perumus dalam teologi tauhid al-Asyari dalam kajian dua puluh sifat yang wajib bagi Allah SWT). Imam al-Ghazali selain ahli di bidang filsafat, juga ahli dalam kajian tasawuf, tidak lupa juga di Madrasah Nizhamiyah, Umar Khayyam dan Abdurrahman, keduanya lebih dikenal ahli astronomin dan matematika (Abd Mukti, Kontruksi Pendidikan dalam Kajian Islam Belajar dari Kejayaan Madrsah Nizamiyah Dinasti Saljuq. Bandung: Cipta Pustaka, 2007).
 Aspek esoteris dalam Islam disebut aspek tasawuf. Dengan lemahnya aspek esoteris selama ini berarti juga bahwa aksi invasi kekerasan sesama peserta didik atau aksi tawuran antar sesama sekolah akan menjadi bagian dari pemandangan para pelajar. Setidaknya kita lihat dari sistem orientasi perkenalan siswa baru di sekolah atau dulu dikenal dengan perploncoan, siswa yang baru seperti di- "keroyok" oleh seniornya. Kalau sistem perkenalan di sekolah sudah menanamkan bibit kekerasan dan menabur benih kebencian, lalu bagaimana nantinya dengan masa depan pendidikan di negeri kita? Padahal seharusnya pengajaran tasawuf(esoteris) itu dilakukan secara seimbang dengan aspek kurikulum Kemendiknas.
Karena tanpa ada pengajaran tasawuf yang seimbang dengan aspek kurikulum Kemendiknas, maka peserta didik kurang menghayati ajaran saling menghargai dan saling menghormati. Oleh karena itu pengajaran tasawuf harus dilakukan secara dini mulai dari SD, SLTP, SLTA hingga ke perguruan tinggi.
Pada tingkat SD, para peserta didik diajarkan syarat, rukun dan hal-hal yang membatalkan ibadah. Juga perlu diajarkan tentang ruh dari setiap perbutan yaitu keikhlasan. Seluruh perbutan dari aspek ibadah, leadership, dan pergaulan dengan teman dan lingkunganya akan menimbulkan sifat ihsan, sifat tersebut akan melekat pada dirinya yaitu sikap hidup yang diliputi oleh semangat kehadiran dan pengawasan Tuhan dalam hidup ini. Kemudian pada tingkat SLTP harus dimulai memperkenankan konsep-konsep tasawuf yang mengarah kepada pembentukan pribadi yang kuat. Selain ikhlas juga diajarkan tentang sabar, taqarub, mahabbah, pemaaf, bertobat, ramah, toleransi, menahan nafsu amarah, dan lainya.
Lantas pengajaran tasawuf pada tingkat SLTA harus merupakan kelanjutan dari jenjang sekolah sebelumnya. Pengembangan lebih lanjut diberikan dengan bertitik tolak dari pembiasaan akan makna nama-nama indah asmaul husna Tuhan. Nama-nama Allah SWT itu dijelaskan dalam Alquran sebagai petunjuk bagaimana persepsi manusia tentang Tuhan, karena persepsi itu biasanya terpengaruh oleh pengalaman hidup manusia itu sendiri. Relevan dengan itu para ahli di kajian tasawuf menegaskan, kita kembali sebagai wakil Tuhan di muka Bumi. Meniru kualitas akhlak "khalifah" Tuhan.
Secara kongnitif tentang tasawuf harus sudah mulai diperkenalkan dengan sejarah tumbuh dan berkembangnya, secara garis besarnya perlu diperkenalkan kepada mereka adanya pemikir-pemikir kajian tasawuf seperti al-Ghazali, al-Qusyairi, Ibnu Arabi, al-Bustami, al-Hallaj, Rabiah al adawiyah dan lainya. Kemudian secara garis besar sudah bisa diperkenalkan atau masuk setiap salah satu peserta didik dalam hanyutan zikir kepada Allah SWT melalui adanya berbagai aliran tarekat seperti Naqsabandiyah, Qadiriyah dan lainya setidaknya akan mempersempit atau mematikan aliran aksi tawuran antar sekolah. Kemudian diperkenalkan aliran-aliran tokoh tasawuf di Indonesia seperti Hamzah Fansuri, Nuruddin Ar Raniri, Syamsuddin Sumatrani, Abdussamad Al Palimbali, Yusuf al-Maqasari, Muhammad Nafis al-Banjari, Abd Rauf Singkel dan lainya, kan melahirkan sebuah khaznah ke ilmuan yang baik moralnya serta mampuni keilmuan umumya.

Peranan Orangtua
Setidaknya dalam asumsi penulis salah satu meminimalisir langkah mempersempit aksi tawuran para pelajar setidaknya ada beberapa poin yang bisa ditawarkan. Pertama, tidak luput dari memberikan kata-kata nasihat, dikarenakan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, nasihat adalah mengajarkan kebaikan. Metode menasihati merupakan ajaran yang paling dasar di dalam pendidikan. Bukankah para guru dan orangtua cukup besar dalam melakukan peranan tersebut? Kedua mendoakan anaknya. Bukankah Rasullah SAW adalah orang yang sangat suka berdoa, sebab doa setidaknya tidak hanya dilakukan saat ibadah saja, tetapi dalam keadaan apapun. Rasullah SAW mendoakan siapa saja antara para keluarganya, sahabat-sahabatnya, bahkan orang yang berbuat buruk kepada beliau sekalipun.
Kita tidak ingin lagi ada korban sia-sia para pelajar, mereka adalah anak-anak negeri ini yang akan menjadi generasi penerus pemimpin bangsa. Pemerintah, pihak sekolah, masyarakat, orangtua, tidak perlu mencari kambing hitam. Ini tanggung jawab bersama mendidik dengan memberikan ketaladanan.

=======00  2  00========
Terduga teroris yang duduk bangku sekolah kemungkinan kurang puas dengan materi pelajaran agama yang diperolehnya di sekolah. Sehingga, untuk memuaskan diri, maka mereka mencoba mencari tambahan pengetahuan di luar sekolah.
"Pendidikan agama disekolah mungkin tidak memuaskan secara intelektual. Jadi kalau ada tawaran yang lebih memuaskan, mereka akan cari tahu di luar sekolah," kata Abduhzen, Pengamat Pendidikan Universitas Paramadina kepada Kompas.com, Selasa (30/10/2012).
Abduhzen menambahkan, hasrat intelektual mengenai agama yang terus meningkat membuat siswa mencari sumber lain yang terkadang malah memberikan ajaran yang salah.
Selain itu, menurut beberapa penelitian, perkumpulan agama di sekolah tak bisa dipungkiri terkadang menyiratkan ajaran radikal yang bisa menyeret para siswa ke dalam pemikiran yang menjurus pada tindakan terorisme.
Menurut Abduhzen, peningkatan mutu pelajaran agama di sekolah dapat mencegah rekrutmen teroris pada tingkatan sekolah.
Kasus terorisme yang melibatkan anak muda, terlebih mereka yang duduk di bangku sekolah memang sangat memprihatinkan.
Tidak hanya pelajaran agama, kata Abduszen, lingkungan tempat tinggal juga bisa mempengaruhi dan memberikan sumbangsih pergeseran sosial kepada siswa. Untuk itu, peran keluarga dan masyarakat bisa mencegah berkembangnya terorisme di kalangan siswa sekolah.
Seperti diberitakan sebelumnya, seorang terduga teroris, Davit Ashari (19), yang ditangkap di Palmerah, Sabtu (27/10/2012), tercatat sebagai pelajar di Sekolah Pelayaran Menengah (SPM) Tri Arga 1 Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Davit terdaftar sebagai siswa kelas tiga sekolah tersebut. Davit ditangkap Densus 88 di kediamannya di kawasan Kemanggisan, Jakarta Barat bersama kakak kandungnya, Herman.
Sumber: KOmpas, 31 Oktober 2012.
salah satu solusinya adalah memperkaya atau memperbanyak jam pelajaran agama,terutama di sekolah-sekolah umum. karena agama itu adalah nasehat yang terindah sepanjang masa,..
kalau kita cermati, tawuran itu terjadi rata-rata (bahkan semuanya) pada siswa kota yang sekolahnya minim pendidikan agama, kita jarang (bahkan tak pernah) mendengar istilah tawuran di daerah / desa apalagi di sekolah yang bernuansa agamis spt pondok pesantren, kecuali memang ada masalah politik atau cinta (kasus syiah di sampang)

Sabtu, 21 Juli 2012

Mencari Titik Temu Awal Ramadhan (2-habis)

OLEH KH Ghazalie Masroeri
Ketua Lajnah Falakiyah PBNU

Awal bulan ditandai dengan penampakan hilal yang dapat dilihat dengan mata di awal malam (sesaat setelah matahari terbenam). Kalau tidak tampak tidak disebut hilal. Hilal tidak hanya dalam angan-angan/pemikiran; dan tidak hanya dalam dugaan/keyakinan. Untuk mengetahui adanya penampakan hilal (ظُهُوْرُ الْهِلاَل), diperlukan upaya-upaya observasi, pengamatan, atau rukyah di lapangan.

Rukyah adalah sepatah kata isim berbentuk masdar, mempunyai fi’il ro-aa – yaroo (رَأَى - يَرَى). Kata رَأَى dan tashrifnya mempunyai banyak arti, antara lain: melihat, mengerti, mengetahui, memperhatikan, berpendapat, menduga, yakin, dan bermimpi.

Ketika kata ro-aa (رَأَى) dan tashrifnya dirangkaikan dengan objek / maf’ul bih (مَفْعُوْلٌ بِهِ) yang fisikal / thobii’iyyaat (طَبِيْعِيَّات) maka masdarnya adalah rukyah (رُؤْيَة); dan mempunyai arti tunggal yaitu “melihat dengan mata kepala”, baik dengan mata telanjang maupun dengan alat pembesar. Contoh :
رَأَى كَوْكَبًا – رُؤْيَةُ كَوْكَبٍٍ : Melihat Bintang
رَأَى اْلقَمَرَ – رُؤْيَةُ الْقَمَرِ : Melihat Bulan
رَأَى الشَّمْسَ – رُؤْيَةُ الشَّمْسِ : Melihat Matahari
رَأَى الْهِلاَلَ – رُؤْيَةُ الْهِلاَلِ   : Melihat Hilal.   لِرُؤْيَتِهِ(Karena Melihat Hilal)

Baca Surat Al-an’am ayat 76 s/d 78 untuk contoh 1, 2, dan 3. Dan baca berbagai As-Sunnah untuk contoh no. 4.

Sedangkan ro-aa (رَأَى) yang mempunyai arti lain, objeknya tidak fisikal (غَيْرُ طَبِيْعِيَّات). Adakalanya tanpa objek dan masdarnya bukan Rukyatun, tetapi ro’yun (رَأْيٌ). Ketika ro-aa mempunyai dua maf’ul bih (objek), maka mempunyai arti menduga atau yakin. Dan adakalanya bermakna mimpi, masdarnya ru’ya (الرُؤْيَا).

Rukyah sebagai sistem penentuan awal bulan qomariyah dengan cara melakukan pengamatan/observasi terhadap penampakan hilal di lapangan, baik dengan mata telanjang maupun dengan menggunakan alat seperti teropong, pada hari ke 29 malam ke-30 dari bulan yang sedang berjalan. Apabila ketika itu hilal dapat terlihat, maka pada malam itu dimulai tanggal 1 bagi bulan baru atas dasar Rukyatul hilal. Tetapi apabila tidak berhasil melihat hilal, maka malam itu adalah tanggal 30 dari bulan yang sedang berjalan dan kemudian malam berikutnya dimulai tanggal 1 bagi bulan baru atas dasar Istikmal (menggenapkan 30 hari bagi bulan sebelumnya).

Ada pendapat bahwa rukyah itu hanya berlaku bagi masyarakat ummi/awam yang tidak mengetahui ilmu hisab, tetapi bagi masyarakat modern cukup dengan ilmu hisab tidak perlu rukyah. Pendapat ini mendasarkan pada hadits :


اِنَّا اُمَّةٌ اُمِّيَّةٌ لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسُبُ الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا (متفق عليه). قَالَ اْلبُخََارِيُّ : يَعْنِى مَرَّةً تِسْعَةً وَعِشْرِيْنَ وَمَرَّةً ثَلاَثِيْنَ 
“Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi, tidak dapat menulis dan tidak dapat menghitung (menghisab). Umur bulan itu sekian dan sekian,”  (HR. Muttafaq ‘alaih). “Menurut al-Bukhari “sekian dan sekian” ialah “kadang 29 hari dan kadang 30 hari.””

Pendapat demikian ini menunjukkan adanya pemahaman terhadap hadits tersebut secara hitam putih. Padahal sesungguhnya di balik hadits ini terdapat hikmah yang mendalam, yaitu:

Sifat keummian itu justru menunjukkan secara yakin tentang otentitas ad-dinul islam dibangun atas dasar wahyu, bukan dibangun atas dasar hasil pemikiran.

Hadits itu mengajarkan, bahwa  usia bulan Qomariyyah kadang 29 hari dan kadang 30 hari, berbeda dengan umur bulan syamsiyah.

Nabi saw. mengajarkan rukyah sebagai kemudahan untuk umatnya.

Rukyah mempunyai nilai ibadah jika hasilnya digunakan untuk pelaksanaan ibadah seperti shiyam, ‘id, sholat gerhana, dan lain-lain.

Rukyah, pengamatan dan observasi benda-benda langit seperti letak matahari terbenam, posisi dan tinggi hilal, dan jarak antara hilal dan matahari dapat menambah kekuatan iman.

Rukyah itu ilmiah. Rukyah, pengamatan dan observasi benda-benda langit ribuan tahun lamanya dicatat dan dirumuskan, kemudian lahirlah ilmu astronomi dan ilmu hisab. Rukyah melahirkan hisab. Tanpa rukyah tak ada hisab.

Pendapat yang mengatakan tidak perlu rukyah tetapi cukup hisab tersebut, sesungguhnya   belum dapat memberi jalan keluar atas terjadinya perbedaan pada metode dan kriteria hisab. Metode dan kriteria hisab mana yang harus digunakan?

Pendapat yang mengatakan cukup dengan ilmu hisab, tidak sejalan dengan nash Mafhuumul ayat S. Al-baqarah a.185 dan a.189, Yunus a.5, dan Yasin a.39

Hadits-hadits

Tidak kurang dari 23 hadits tentang rukyah diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah, Imam Malik, Ahmad bin Hanbal, ad-Darimi, Ibnu Hibban, al-Hakim, ad-Daruquthni, al-Baihaqi, dan lain-lain.

Rukyah dan hisab tidak perlu dipertentangkan. Keduanya dapat digunakan bersamaan. Rukyah sebagai penentu dan hisab sebagai pendukung. Hisab yang berkualitas tahqiqi/tadqiqi/’ashri dan memenuhi kriteria imkanurrukyah dapat dijadikan sebagai pendukung, pemandu, dan pengontrol rukyah, sehingga menghasilkan rukyah yang berkualitas. Sebaliknya, rukyah dapat dijadikan sebagai sarana uji verifikasi atas hipotesis hisab.

Kriteria imkanurrukyah itu, secara empirik memenuhi ketentuan tinggi hilal 2 derajat, umur bulan 8 jam / jarak antara Matahari dan Bulan 3 derajat. Kriteria inipun sudah disepakati untuk kriteria Taqwim dan kriteria rukyah oleh Ormas-Ormas Islam dalam Lokakarya Hisab Rukyah yang diselenggarakan oleh Sub Direktorat Hisab Rukyah dan Pembinaan Syari’ah Kemenag RI, di Cisarua tahun 2011, yang kemudian disempurnakan dalam Lokakarya di Semarang tahun itu juga. Kriteria imkanurrukyah ini bukan dimaksudkan untuk mengganti rukyah, tetapi sebagai instrumen untuk menolak apabila ada laporan terlihatnya hilal ketika mayoritas ahli hisab menyatakan bahwa hilal pada hari itu belum imkanurrukyah.

Dari seluruh paparan tersebut, diharapkan dapat menjadi masukan dalam rangka mencari titik temu atas perbedaan yang serba majmu’ dalam menentukan awal Ramadlan, awal Syawal, dan awal  Dzulhijjah.



* Makalah disampaikan dalam acara Mudzakarah di Aula TK Islam Al-Azhar lt.II Kampus Al-Azhar Kebayoran Baru, Senin 2 Juli 2012, yang dipanel dengan Prof. DR. Thomas Djamaluddin (Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN), dan Prof. Dr. H. Syamsul Anwar, M.A.(Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah). Moderator : Dr. HM. Hartono, MM (Ka. Sekretariat Masjid Agung Al Azhar)


SUMBER: http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,14-id,38651-lang,id-c,teknologi-t,Mencari+Titik+Temu+Awal+Ramadhan++2+habis+-.phpx

Rabu, 23 Mei 2012

Amalan yang Baik di Bulan Rajab

Sebagian para ulama mengatakan bahwa bulan Rajab adalah bulan persiapan untuk menghadapi bulan Sya’ban dan Ramadhan, adalah bulan-bulan yang dimulyakan oleh Allah SWT, maka pada bulan ini para muslim dan muslimah disunatkan untuk memperbanyak amal ibadah terutama ibadah puasa sunah, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Raslullah SAW, dan para sahabat serta para tabi’in, dan orang2 saleh yang dimulyakan oleh Allah SWT.

Inilah adalah, Doa yang diucapkan oleh Rasulullah SAW, ketika memasuki bulan Rajab,

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

(Allahuma bariklana fii Rojaba wa Sya’bana wabaligna Romadhona)
Artinya : Ya Allah berkahi hidup kami di bulan Rajab ini, dan juga di bulan Sya’ban, serta panjangkan umur kami hingga bulan Ramadhon

Ibarat menanam tanaman, Rajab adalah bulan kita menanam benih-benihnya, Sya’ban kita menyirami dan memupuknya, sedang Ramadhan kita memanen hasilnya. Itulah keterkaitan tiga bulan tersebut. Demikianlah apa yang dikatakan oleh Imam Abu Bakar Al Warraq Al Balkhi. Beliau juga berkata, “Perumpamaan Rajab seperti angin, Sya’ban seperti awan (mendung)nya dan Ramadhan ibarat hujannya.”

Rajab tergolong salah satu dari Al Asyahrul Hurum, bulan-bulan penuh kehormatan dan kemuliaan, yaitu Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharramdan Rajab. karena pada malam pertama bulan Rajab ini adalah malam terkabulnya doa2 yang dipanjatkan, sebagaimana sabda Rasululullah SAW,
“Lima malam, tidak akan ditolak doa-doa didalamnya : awal Rajab, malam nisfu Sya’ban, malam Jum’at, malam Idul Fitri dan malam an Nahr Idul Adha)” (HR. Ibnu ‘Asakir)

Bulan Rajab ini juga adalah merupakan bulan Allah SWT. yang dituangkan di dalamnya rahmat kepada hamba-hamba-Nya. Rasulullah SAW. bersabda,
“Rajab bulan Allah, Sya’ban bulanku dan Ramadhan bulan umatku.” (Hadits mursal dari Al Hasan AL Bashri)

Dengan berdasarkan hadits di atas, maka sebagian Ulama juga menyebutkan bahwa Rajab adalah bulan istighfar dan taubat kepada Allah sesuai dengan istilah ‘Rajab bulan Allah’. Sebagai hamba Allah, hendaknya di bulan Allah ini kita banyak bertaubat kepada-Nya, kembali kepada-Nyadan meminta maaf sepenuh hati ke hadirat Ilahi, agar benar-benar diampuni dan didekatkan kepada-Nya.

Wahai sahabat muslim, mari kita perbanyak amal ibadah kita, dengan tujuan karena Allah SWT semata, untuk meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat nanti, semoga Allah meridhoi, Amien…

Bacaan ini dibaca pada pagi hari sebanyak 70x dan sore 70x (boleh lebih dari itu)

* Istighfar
* lalu berdoa seperti di baawah ini:

رَبِّ ١غْفِِرْْ لِيْ وَارْحََمْْنِىْ وَتٌبْ عَلَىََّ


(Rabbigfirlii warhamnii watub alayya)
Artinya kurang lebih, “Ya Tuhanku Ampunilah dosaku dan rahmatilah segala pertaubatanku”

Dan yang dibawah juga dibaca selama bulan Rajab, pada waktu pagi hari sebanyak 3x dan sore 3x

اََلِّّلهُمََ انت رَبِيْ لاِِِِاِِلََهََ اِِلا اََنْتَ خَلََقْتَنِيْ وَاََنَاعَبْْدُكََ وََاََنََ عََليَ عَهْْدِِكَ وََوََعْدِِكَ مَااسْتََطََعْْتٌٌ اََعُدُوبِكَ مِنْْ شَرِِّمَا صََنََعْْتََ وَاََبُوْءُلَكَ بِنِعْْمََتِِكَ عََلَيَََّ وََاََبُوءُُبِدَ نْبِ فَاغْْفِرْلِِيْْ فََاِِنََهُ لايََغْفِِرُالذُُّنٌٌوْبَ ِالااَنْتَ

Allahuma anta Robbi, Lailaha ila kholaqtanii wa anaa abduka wa anaa alla ahdika wawa’dika mastatho’tu a’udubika min sarrimaa shona’tu wa abuu ulaka bini’matika alayya wa abuu ubidanbi fagfirlii fainnahu laa yagfiru ddunuuba illa anta.

NOTE: untuk sore hari, lebih di anjurkan di baca 27 x (bukan hanya di baca di bulan rajab)

Kemudian Bacaan lainnya adalah 

سُُُبْحَانَ الْحَيِّّ الْقَيُومْ

(Subhaanalhayyil qoyyum)
dibaca dari tanggal 1 sampai tanggal 10

سُُُبْحَانَ الله الا حَدِالصََّمَدْ

(Subhaanallahil ahadishomad)
dibaca dari tanggal 11 sampai 20

سُُُبْحَانَ اللهِ الّرَؤُوفْ
(Subhaanallahi rroup)
dibaca dari tanggal 21 sampai 30

perbanyak membaca 
Lâ ilâha illallahu sebanyak-banyaknya, misal 100 x, 300 x,atau 1.000 x 

Dan satu lagi kalau tidak sempat puasa, silahkan baca saja dua dibawah ini

سُُُبْحَانَ مَنْْ لاََ يََنْبَغِيْ التََّسْبِيْحُ اِِلاََّلَهُ سُُُبْحَانَ اْلاَعَزِّاْلاَكْْرَمْ سُُُبْحَانَ مََنْ لَهُ الْعِزُُّوَهُوَلََهُ اَهْلٌٌ

(Subhaana man la yan bagii ttasbiihu illa lahu, Subhaa nal a ajjilakram, Subhaana man lahul ijju wahuwa lahu ahluun)

WAllahu a’lam bi showabb