Tampilkan postingan dengan label cintailah prudok dalam negeri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cintailah prudok dalam negeri. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Mei 2013

Pembelajaran Teks dalam Kurikulum 2013

Dari sudut pandang teori semiotika sosial, teks merupakan suatu proses sosial yang berorientasi pada suatu tujuan sosial. Tujuan sosial yang hendak dicapai memiliki ranah-ranah pemunculan yang disebut konteks situasi. Sementara itu, proses sosial akan berlangsung jika terdapat sarana komunikasi yang disebut bahasa. Dengan kata lain, proses sosial akan merefleksikan diri menjadi bahasa dalam konteks situasi tertentu sesuai tujuan proses sosial yang hendak dicapai. Bahasa yang muncul berdasarkan konteks situasi inilah yang menghasilkan register atau bahasa sebagai teks.
Oleh karena konteks situasi pemakaian bahasa itu sangat beragam, maka akan beragam pula jenis teks. Selanjutnya, proses sosial yang berlangsung selalu memiliki muatan nilai-nilai atau norma-norma kultural. Nilai-nilai atau norma-norma kultural yang direalisasikan dalam suatu proses sosial itulah yang disebut genre. Satu genre dapat muncul dalam berbagai jenis teks. Misalnya genre cerita, di antaranya, dapat muncul dalam bentuk teks: cerita ulang, anekdot, eksemplum, dan naratif, dengan struktur teks (struktur berpikir) yang berbeda; tidak berstruktur tunggal seperti dipahami dalam kurikulum bahasa Indonesia pada KTSP, yang semua jenis teks berstruktur: pembuka, isi, dan penutup (periksa KD BI, kelas XI, semester 2, butir: 12.2).

Pada jenis teks cerita ulang (recount) unsur utamanya berupa peristiwa yang di dalamnya menyangkut siapa, mengalami apa, pada waktu lampau, dengan struktur: orientasi (pengenalan pelaku, tempat, dan waktu) diikuti rekaman kejadian; pada teks anekdot, peristiwa yang terdapat pada teks cerita ulang harus menimbulkan krisis. Partisipan yang terlibat bereaksi pada peristiwa itu, sehingga teksnya berstruktur: orientasi, krisis, lalu diikuti reaksi. Berbeda dengan eksemplum, pada jenis teks ini peristiwa yang terdapat pada teks cerita ulang maupun anekdot memunculkan insiden, dan dari insiden itu muncul interpretasi (perenungan). Dengan demikian, teks jenis ini berstruktur: orientasi, insiden, lalu diikuti interpretasi. Adapun jenis teks naratif, peristiwa yang diceritakan harus memunculkan konflik antartokoh atau konflik pelaku dengan dirinya sendiri atau dengan lingkungannya. Oleh karena itu, teks naratif berstruktur: orientasi, komplikasi, dan resolusi. Setiap struktur teks dalam masing-masing jenis teks memiliki perangkat-perangkat kebahasaan yang digunakan untuk mengekspresikan pikiran yang dikehendaki dan secara terpadu diorientasikan pada pencapaian tujuan sosial teks secara menyeluruh. Untuk itu, pembicaraan ihwal satuan leksikal, gramatikal (tata bahasa) dalam pembelajaran berbasis teks harus berupa pembicaraan tentang satuan kebahasaan yang berhubungan dengan struktur berpikir yang menjadi tujuan sosial teks, bukan dalam bentuk serpihan-serpihan.

Dalam teori genre, terdapat dua konteks yang melatarbelakangi kehadiran suatu teks, yaitu konteks budaya (yang di dalamnya ada nilai dan norma kultural yang akan mewejawantahkan diri melalui proses sosial) dan konteks situasi yang di dalamnya terdapat: pesan yang hendak dikomunikasikan (medan/field), pelaku yang dituju (pelibat/tenor), dan format bahasa yang digunakan untuk menyampaikan pesan itu (sarana/mode). Hadirnya konteks budaya dalam teks dapat ditunjukkan, misalnya pada teks laporan dan teks deskripsi. Kedua teks ini sama-sama dikelompokkan ke dalam genre faktual, tetapi memiliki struktur teks dan nilai/norma yang melatarbelakangi berbeda. Teks laporan berstruktur: klasifikasi umum lalu diikuti deskripsi bagian, sedangkan teks deskripsi bersruktur: deskripsi umum diikuti deskripsi bagian-bagian. Satuan leksikogramatikal yang terdapat pada teks laporan harus mendukung nilai-nilai objektif, faktual bukan opini serta bersifat generik, sedangkan pada teks deskripsi satuan leksikogramatika yang merupakan opini ataupun tanggapan yang bersifat subjektif masih dapat dimunculkan dan lebih bersifat spesifik. Itu sebabnya, dalam pembelajaran bahasa berbasis teks tidak boleh dilihat bahasa secara parsial, melainkan secara utuh. Pembelajaran bahasa berbasis teks bukanlah belajar keping-keping atau serpih-serpih tentang bahasa yang cenderung bertujuan menghafal.

Pilihan pada pembelajaran bahasa berbasis teks membawa implikasi metodologis pada pembelajaran yang bertahap. Mulai dari kegiatan guru membangun konteks, dilanjutkan dengan kegiatan pemodelan, membangun teks secara bersama-sama, sampai pada membangun teks secara mandiri. Hal ini dilakukan karena teks merupakan satuan bahasa yang mengandung pikiran dengan struktur yang lengkap. Guru harus benar-benar meyakini bahwa pada akhirnya siswa mampu menyajikan teks secara mandiri.

Kehadiran konteks budaya, selain konteks situasi yang melatarbelakangi lahirnya suatu teks menunjukkan adanya kesejajaran antara pembelajaran berbasis teks (konsep bahasa) dengan filosofi pengembangan Kurikulum 2013, khusunya yang terkait dengan rumusan kebutuhan kompetensi peserta didik dalam bentuk kompetensi inti (KI) atas domein sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Kompetensi inti yang menyangkut sikap, baik sikap spiritual (KI: A) maupun sikap sosial (KI: B) terkait dengan konsep kebahasaan tentang nilai, norma kultural, serta konteks sosial yang menjadi dasar terbentuknya register (bahasa sebagai teks); kompetensi inti yang menyangkut pengetahuan (KI: C) dan keterampilan (KI: D) terkait langsung dengan konsep kebahasaan yang berhubungan dengan proses sosial (genre) dan register (bahasa sebagai teks). Selain itu, antarkompetensi dasar (KD) yang dikelompokkan berdasarkan KI tersebut memiliki hubungan pendasaran satu sama lain. Ketercapaian KD dalam kelompok KI: A dan B ditentukan oleh ketercapaian KD dalam kelompok KI: C dan D. KD dalam kelompok KI: A dan B bukan untuk diajarkan melainkan implikasi dari ketercapaian KD dalam kelompok KI: C dan D. Oleh karena itu pula, mengkritisi keberadaan KD-KD dalam Kurikulum 2013, termasuk tentang Kurikulum Bahasa Indonesia secara lepas, berdiri sendiri mengakibatkan munculnya tanggapan yang menyesatkan. Jika rumusan KD tentang sikap dihubungkan dengan KD tentang pengetahuan dan keterampilan, tentu pernyataannya tentang tidak logisnya rumusan KD, dalam Kurikulum 2013, seperti dinyatakan Acep (Kompas, 18 Maret 2013), tidak akan muncul.

Begitu pula jika, KD tentang pengetahuan yang dikritisi itu dihubungkan dengan KD tentang keterampilan, maka pernyataan bahwa Kurikulum 2013 hanya akan menghasilkan siswa penghafal, seperti dinyatakan Bambang (Kompas, 20 Maret 2013) tidak akan lahir. Selanjutnya, jika dibandingkan antara KD yang dirumuskan dalam Kurikulum 2013 dengan KD dalam KTSP, maka terdapat beberapa persamaan dan perbedaan yang mendasar. Persamaannya, kedua kurikulum itu menampilkan teks sebagai butir-butir KD. Sebagai contoh, dalam KTSP (2006) untuk kelas I, dan kelas IV semester 1, ditemukan KD 2.3: “Mendeskripsikan benda-benda di sekitar dan fungsi anggota tubuh dengan kalimat sederhana” dan KD 4.2: “Menulis petunjuk untuk melakukan sesuatu atau penjelasan tentang cara membuat sesuatu”. Bandingkan rumusan KD itu dengan KD dalam Kurikulum 2013 kelas 1 SD pada aspek pengetahuan: (a) KD3.1:“Mengenal Teks deskriptif tentang anggota tubuh dan panca indera …”; (b) KD 3.2: “Mengenal teks petunjuk/arahan tentang perawatan tubuh serta pemeliharaan kesehatan dan …”. Baik pada KTSP maupun pada Kurikulum 2013 teks disajikan sebagai butir-butir yang dicantumkan sebagai KD, tidak seperti yang dinyatakan Bambang. Hanya saja, pada Kurikulum 2013 dibedakan antara KD yang berhubungan dengan aspek pengetahuan, kerampilan, dan sikap. Adapun perbedaannya, KD pada KTSP masih banyak yang disusun berdasarkan pandangan linguistik struktural, misalnya: rumusan KD kelas I semester 1 berikut. KD 3.1: “Membaca nyaring suku kata, kata dengan lafal yang tepat” dan KD 3.2: “Membaca nyaring kalimat sederhana dengan lafal dan intonasi yang tepat”. Kedua rumusan KD ini mencerminkan pembelajaran kompetensi berbahasa yang bersifat struktural, dari kemampuan melafalkan unsur bahasa yang terkecil: suku kata, meningkat ke pelafalan kata, dan diteruskan ke pelafalan kalimat, bahkan sampai ke teks (cermati KD kelas II, semester 2, butir 7.1: “Membaca nyaring teks (15-20 kalimat) dengan memperhatikan lafal dan intonasi yang tepat”. Dengan mencermati KD-KD-nya, maka penyusunan kurikulum bahasa Indonesia pada KTSP dapat dikatakan dilakukan dengan setengah berlandaskan pendekatan struktural dan setengahnya lagi berlandaskan pada pendekatan teks. Bahkan masih terdapat pencampuradukan antara konsep teks dengan paragrap. Cermati KD Kelas X, semester 1: 4.2: “Menulis hasil observasi dalam bentuk paragrap deskriptif”. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kurikulum bahasa Indonesia sejak Kurikulum 1994 sampai KTSP yang didengung-dengungkan berbasis kontekstual adalah tidak sepenuhnya benar. Berbeda jauh dengan Kurikulum 2013 yang sepenuhnya berbasisi teks. ***

Sabtu, 20 April 2013

Bahaya Menggunakan Jaringan Hotspot

jaringan hotspot
Add caption

Jaringan hotspot adalah istilah untuk lokasi yang menyediakan akses internet untuk umum. Sehingga pengunjung yang memiliki laptop dengan kartu jaringan dapat terkoneksi ke internet. Dewasa ini jaringan hotspot sangat mudah untuk temui, mulai dari warung kopi, mall, bahkan hampir di semua sudut kampus. Namun, laiknya dua sisi mata uang, ada plus-minus nya. Dengan adanya jaringan internet gratis ini, selain terus dapat terhubung dengan teman melalui jaringan sosial media, kita juga dapat terus mendapatkan informasi yang bermanfaat. Di sisi lain, cerita-cerita sedih dan tragis pun banyak yang diakibatkan oleh perkembangan internet ini.

Jaringan Hotspot – Internet memang tidak bisa dipungkiri lagi menjadi kebutuhan primer bagi kebanyakan orang, tiada hari tanpa mengunjungi situs sosial media untuk terus selalu update ataupun situs yang penuh akan informasi. Searching, browsing, chatting seolah sudah menjadi hal yang harus tidak boleh hilang dalam daftar yang harus dilakukan setiap harinya. Selain semakin murahnya layanan internet dari para provider, perkembangan internet di Indonesia dewasa ini juga dipengaruhi oleh semakin menjamurnya layanan jaringan hotspot gratis.
Karena mungkin keasyikan mengakses internet gratis ini pula kita mungkin tidak sadar bahwa jaringan hotspot mempunyai beberapa ancaman dan dampak negatif dalam segi keamanan jaringan ketika mengakses internet dari sebuah jaringan yang terbuka dan rawan akan tangan-tangan jahil. Beberapa bahaya menggunakan jaringan hotspot tersebut setidaknya dapat dilihat dari hal-hal berikut ini:
1. Netcut
Pernahkan Anda merasa koneksi di wifi hostspot menjadi lambat atau bahkan tidak jalan sama sekali? Selain koneksi ke ISP yang bermasalah, bisa juga ada pengguna hotspot lain yang menggunakan aplikasi pemutus koneksi dari client ke server.
Adalah Netcut, sebuah aplikasi pemotong akses internet pada public/private wifi hotspot, atau sebuah PC LAN workgroup dari client ke server atau pun sebaliknya. Program ini pada umumnya dipergunakan oleh pengguna jaringan yang ingin mengambil kuota bandwidth untuk dipakai sendiri tanpa mau share kepada client yang lain.
Pasti jengkel kan kalau kejadiannya seperti itu. Untuk menghindari penggunaan Netcut, kita dapat mengubah IP address menggunakan anti-netcut. Atau dapat juga menyembunyikan komputer dari jaringan LAN menggunakan XP anti-spy, demikian juga dapat mencoba install anti ARP, dan mengubah MAC address. 
2. Sniffer
Sebuah program sniffer merupakan pengganggu yang tidak kita rasakan ketika kita mengakses internet, namun dampaknya data-data yang seharusnya menjadi rahasia kita dapat tersadap oleh orang yang menggunakan program ini. Sniffing merupakan satu aktifitas menyadap data-data yang orang lain kirim atau terima dalam sebuah jaringan. Data-data itu bisa saja berupa username dan password Facebook, email, atau password berbagai situs yang kita miliki. Bisa juga mengenai data-data penting mengenai kartu kredit, rekening, atau email yang kirim/terima, bahkan pesan chat kita di YM, Gchat, MIRC, dll. dibaca oleh pihak lain yang tidak berkepentingan. Program sniffer yang paling sering digunakan untuk OS Windows adalah Cain & Abel dan Wireshark atau ethreal.
Guna menghindarinya kita dapat melihat daftar ARP, ping ke beberapa host yang mencurigakan serta menginstal aplikasi anti sniffing dari Microsoft, yakni Promqry 1.0.
3. Radiasi Wifi
Bahaya mengguakan jaringan hotspot berikutnya adalah ancaman akan radiasi wifi. Dampak radiasi wifi relatif kecil dibandingkan dengan jaringan ponsel, karena peralatan wifi mengirimkan sinyal pada jarak yang lebih pendek daripada peralatan jaringan ponsel, sehingga dapat beroperasi pada kekuatan rendah. Menurut Health Protection Agency, seseorang yang duduk di dalam area hotspot selama satu tahun terus menerus akan menerima dosis radiasi yang sama dengan orang yang menggunakan ponsel selama 20 menit.
Itulah ketiga bahaya menggunakan jaringan hotspot di samping masih banyak lagi bahaya-bahaya lainnya. Kita perlu hati-hati untuk menggunakan jaringan hotspot yang harus cermat jangan sampai bahaya itu menimpa kita di saat kita menggunakan layanan internet gratis untuk mengakses ilmu pengetahuan

Selasa, 26 Maret 2013

ASWAJA ala Nahdlatul Ulama

Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi yang didirikan para kyai-kyai yang berpengaruh, KH. Hasyim Asy’ari merupakan simbol ulama besar yang berpengaruh. Tujuan didirikannya Nahdlatul Ulama diantaranya adalah memelihara, melestarikan, mengembangkan dan mengamalkan ajaran Islam Ahlus Sunnah Wa al-Jama’ah yang menganut madzhab empat, yakni : Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i dan Imam Hambali. Disamping itu juga bagaimana bisa menyatukan antara ulama dan [para pengikutnya-pengikutnya serta melakukan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk menciptakan kemaslahan masyaraka, kemajuan bangsa dan ketingian harkat dan martabat manusia.
Islam Ahlus Sunnah Wa al-Jama’ah adalah ajaran yang disampaikan Nabi Muhammad SAW kepada sahabat-sahabat-Nya dan beliau amalkan serta diamalkan para sahabat, paham Ahlus Sunnah Wa al-Jama’ah dalam Nahdlatul Ulama mencakup aspek aqidah, syariah dan akhlak. Ketiganya, merupakan satu kesatuan ajaran yang mencakup seluruh aspek prinsip keagamaan Islam. Ahlus Sunnah Wa al-Jama’ah didasarkan pada manhaj (pola pemikiran) Asy’ariyah dan Maturidiyah dalam bidang aqidah, dalam bidang fiqih menganut empat madzhab besar (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali) dalam bidang tasawuf menganut manhaj Imam al-Ghazali dan Imam Abu al-Qasim al-Junaidi al-Bagdadi, serta imam lainnya yang sejalan dengan syari’ah Islam.
Ciri utama Aswaja NU adalah sikap tawassuth dan i’tidal (tengah-tengah atau keseimbangan). Yakni selalu seimbang dalam menggunakan dalail, antara dalil naqli dan dalil aqli, antara pendapat jabariyah dan qodariyah, sikap moderat dalam menghadapi perubahan dunyawiyah. Dalam masalah fiqih sikap pertengahan antara ”ijtihad” dan taqlid buta, yaitu dengan cara bermadzhab, ciri suikap ini adalah tegas dalam hal-hal yang qathi’iyyat dan toreran dalam hal-hal zhanniyyat.
Tawassuth dalam menyikapi budaya ialah mempertahankan budaya lama yang baik dan menerima budaya baru yang lebih baik, dengan sikap ini Aswaja NU tidak apriori menolak atau menerima salah satu dari keduanya.
Sumber Ajaran Aswaja NU
Pola perumusan hukum dan ajaran Ahlul Sunnah Wa al-Jama’ah Nahdlatul Ulama sangat tergantung pada pola pemecahan masalahnya, antara: pola maudhu’iyah (tematik) atau terapan (qonuniyah) dan waqi’yah (kasuistik). Pola maudhu’iyah merupakan pendiskripsian masalah berbentuk tashawur lintas disiplin keilmuan empirik. Ketika rumusan hukum atau ajaran islam dengan kepentingan terapan hukum positif,  maka pendekatan masalahnya berintikan ”tathbiq al-syari’
Ah” disesuaikan dengan kesadaran hukum kemajemukan bangsa. Apabila langkah kerjanya sebatas merespon kejadian faktual yang bersifat kedaerahan atau insidental, cukup menempuh penyelesaian metode eklektif (takhayyur) yaitu memilih kutipan doktrin yang siap pakai (instan).
Metode pengalian atau pengambilan sumber (referensi) dan langkah-langkanya baik deduktif maupun induktif dalam tradisi keagaan Nahdlatul Ulama dalam mengembangkan paham Ahlul Sunnah Wa al-Jama’ah.
  • Madzhab Qauli, pandangan keagamaan ulama yang terindentifikasi sebagai ”ulama sunni” dikutip utuh qaulnya dari kitab mu’tabar (qaulnya Imam Syafi’i) dalam madzhab, untuk memperjelas dan memperluas doktrin yang akan diambil bisa mengunakan kitab syarah yang disusun oleh ulama sunni yang bermadzhab yang sama (Imam al Nawawi)
  • Madzhab Manhaji, madzhab ini lebih mengarah pada masalah yang bersifat kasuistik yang diperlukan penyertaan dalil nash syar’i berupa kutipan al-Quran, nuqilan matan sunnah atau hadist, serta ijmak
  • Madzhab Ijtihad, metode akan ditemui pada permasalahan rancangan undang-undang atau rancangan peraturan daerah, dengan pola ijtihad dengan memgang asas-asa idtihad dan didukung kearifan lokal serta dialakukan secara kolektif.
Aqidah Aswaja
Ketika Rasullah Muhammad SAW masih hidup, setiap persoalan dan perbedaan pendapat di antara kaum muslimin langsung dapat diselesaikan langsung oleh Kanjeng Nabi Muhammmad, tetapi setelah beliau wafat, penyelesaian tersebut tidak ditemukan sehingga sering terjadi perbedaan lalu mengedap dan terjadi permusuhan di antara mereka, awal-awal perbedaan muncul persoalan imamah lalu merembet pada persoalan aqidah, terutama mengenai hukum orang muslim yang berbuat dosa besar apakah dia dihukumi kafir atau mukmin ketika dia mati.
Perdebatan ini akhirnya merembet pada persoalan Tuhan dan Manusia, terutama pada terkait dengan perbuatan manusia dan kekuasaan Tuhan (sifat Tuhan, keadilan Tuhan, melihat Tuhan, ke hudutsan dan ke-qadim-an Tuhan dan kemakhukan Quran), pertetangan tersebut makin meruncing dan kian saling menghujat.
Ditengah-tengah arus kuat perbedaan pendapat munculah pendapat moderat yang mencoba berusaha mengkompromikan kedua pendapat tersebut, kelompok moderat terbut adalah Asy’ariyah dan Maturudiyah yang keduanya kemudian dinamakan kelompok Ahlus Sunnah Wa al-Jama’ah (Aswaja).
Konsep Aqidah Asy’ariyah
Konsep ini dimunculkan oleh Imam Abul Hasan al-Asy’ari, beliau lahir di Basrah sekitar tahun 260 H/873M dan wafat di Baghdad 324H/935M, aqidah Asy’ariyah merupakan jalan tengan dari kelompok-kerlompok keagamaan yang pada waktu itu berkembang yakni kelompok Jabariyah dan Qodariyah yang dikembangkan oleh Mu’tazilah.pertentangan kelompok tersebut terlihat dari pendapat mengenai perbuatan manusia,kelompok Jabariyah berpendapat bahwa perbuatan manusia seluhnya diciptakan oleh Allah dan manusia tidak memiliki andil sedikitpun, berbeda dengan pendapat kelompok Qodariyah, bahwa perbuatan manusia seluruhnya adalah diciptakan oleh manusia itu sendiri terlepas dari Allah, artinya kelompok Jabariyah melihat kekuasaan Allah itu mutlak sedang kelompok Qodariyah melihat kekuasaan Allah terbatas.
Asy’ariyah besikap mengambil jalan tengah (tawasuth) dengan konsep upasya (al-kasb), menurut Asyari perbuatan manusia diciptakan oleh Allah, namun manusia memiliki peranan dalam perbutaannya, artinya upaya (kasb) meiliki makna kebersamaan kekuasaan manusia dengan perbuatan Tuhan, upaya juga bermakna keaktifan dan tanggung jawab manusia atas perbuatannya. Dengan demikian manusia selalu keratif dan berusaha dalam menjalankan kehidupannya, akan tetapi tidak melupakan Tuhan. Konsep Asy’ariyah mengenai toleransi (tasammuh), mengenai konsep kekuasan Tuhan yang mutlak, bagi Mu’taziah Tuhan WAJIB bersikap adil dalam memperlakukan mahluk-Nya, Tuhan wajib memasukan orang baik ke surga dn orang jahat ke neraka, berbeda dengan Asy’ariyah, alasannya kewajiban berati telah terjadi pembatasan terhadap kekuasaan Tuhan, padalah Tuhan memiliki kekuasaan mutlak, tidak ada yang membatasi kekuasaan dan kehendak Tuhan, termasuk soal akal, Mu’tazilah memposisikan akal diatas wahyu, berbeda dengan Asy’ariyah akal dibawal wahyu, namun akal diperlukan dalam memahami wahyu, artinya dalam Asyariyah akal tidak ditolak, dan kerja-kerja rasionalitas dihormati dalam kerangka pemahaman dan penafsiran wahyu berserta langka-langkahnya.
Konsep Aqidah Maturidiyah
Konsep Aqidah Maturudiyah didirikan oleh Imam Abu Manshur al-Maturidi, beliau lahir di Maturid di Samarkand, wafatnya sekitar tahun 333H, konsep Maturiyah tidak jauh berbeda dengan konsep Asy’ariyah, namun pada sandaran madzhabnya saja, kalau Asy’ariyah bermadzhab pada Imam Syafi’i dam Imam Maliki sedangkan Maturidiyah pada Imam Hanafi.
Konsep jalan tengah (tawasuth) yang ditawarkan Maturidiya adalah jalan damai anatar nash dan akal, artinya pendapat Maturidiyah melihat bahwa suatu kesalahan apabilah kita berhenti berbuat pada saat tidak terdapat nash (teks), begitu juga sebaliknya salah jika kita larut dan tidak terkendali dalam mengunakan akal. Artinya sama pentingnya mengunakan nash dan akaldalam memahami kekuasaan (ayat-ayat) Tuhan.
Dengan munculnya Asy’ariyah dan Maturidiyah merupakan perdamaian antara kelompok Jabariyah yang Fatalistik dan Qodariyah yang mengagung-agungkan akal, sikap keduanya merupakan sikap Ahlus Sunnah Wa al-Jama’ah dalam beraqidah, sikap tawasuth diperlukan untuk merealisasikan amar ma’ruf nahi munkar yang selalu mengedepankan kebajikan secara bijak, prinsipnya bagaimana nilai-nilai Islam dijadikan landasan dan pijakan bermasyarakat serta dilakukan sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat setempat.
Syariah ASWAJA an Nahdliyah
Ketika Rasullulaah SWA masih hidup, umat manusia menerima ajarn langsung daribeliau atau dari sahabat yang hadir ketika beliau menyampaikan, setelah rasullulah wafat para sahabat menyebarkan ajaran pada generasi selanjutnya. Dengan perkembangan zaman dan kondisi masyarakat yang kian dinamis banyak persoalan baru yang dihadapi umat, seringkali hal yang muncul tidak tredapat jawabat secara tegas dalam al-Quran dam al-Hadis, maka untuk mengetahui hukum atau ketentuan persoalan baru tersebut diperlukan upaya ijtihad.
Pola pemahaman ajaran Islam melalui ijtihad para mujtahid biasa disebut madzab yang berarti ”jalan pikiran dan jalan pemahaman” atau pola pemahaman. Pola pemahaman dengan metode, prosedur dan produk ijtihad tersebut diikuti oleh umat Isalam yang tidak mampu melakukan ijtihad sendiri, karena keterbatasan ilmu dan syarat-syarat yang dimiliki. Inilah yang disebut bermazhab atau mengunakan mazhab. Dengan cara bermazhab inilah ajaran Islam dapat dikembangkan, disebarluaskan dan diamalkan dengan mudah kepada semua lapisan masyarakat. Melalui sistem inilah pewarisan dan pengamalan ajaran Islam terpelihara kelurusannya serta terjamin kemurnian al-Quran dan al-Hadist dipahami, ditafsirkan dan diopertahankan.
Kenapa harus empat mazhab
Di antara mazhab bidang fiqh yang paling berpengaruh yang pernah ada sebanyak empat (Syafi’i, Maliki, Hambali dan Hanafi), alasan memilih keempat Imam tersebut;
  • Secara kualitas pribadi dan keilmuan mereka sudah mashur, artinya jika disebut nama mereka hampir dapat dipastikan maroritas umat Islam di dunia mengenal dan tidak diperlukan penjelasan detail.
  • Keempat Imam tersebut adalah Imam Mujtahid Mutlak Mustaqil, yaitu Imam yang mampu secara mandiri menciptakan Manhaj al-fikr, pola, metode, proses dan prosedur istimbath dengan seluruh perangkat yang dibutuhkan
  • Para Imam Mazhab memiliki murid yang secara konsisten mengajar dan mengembangkan mazhabnya yang didukung oleh kitab induk yang masih terjamin keasliannya hingga sekarang
  • Keempat Imam tersebut memiliki mata rantai dan jaringan intelektual diantara mereka.
Tasawuf Aswaja ala NU
Ahlus Sunnah Wa al-Jama’ah memiliki prinsip, bahwa hakiki tujuan hidup adalah tercapaianya keseimbangan kepentingan dunia dan akhirat, serta selalu mendekatkan diri pada Allah SWT. Untuk dapat mendekatkan diri pada Allah, diperlukan perjalanan spiritual, yang bertujuan memperoleh hakikat dan kesempurnaan hidup, namun hakikat tidak boleh dicapai dengan meninggalkan rambu-ra,bu syariat yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dalam al-Quran dan Sunnah Rasullullah SAW, ini merupakan prinsip dari tasawuf Aswaja.
Kaum Nahdliyin dapat memasuki kehidupan sufi melalui cara-cara yang telah digunakan oleh seorang sufi tertentu dalam bentuk thariqah, tidak semua thariqah memiliki sanad kepada Nabi Muhammmad, dan yang tidak memiliki sanad pada Nabi Muhammmad tidak diterima sebagai thariqah mu’tabarah oleh Nahdliyin.
Jalan sufi yang telah dicontohkan Nabi Muhammad dan pewarisnya,adalah jalan yang tetap memegang teguh pada perintah-perintah syariat seperti ajaran-ajaran tasawuh yang terdapat dalam tasawuf al-Ghazali dan Junaid al-Baghdadi. Tasawuf model al-Ghazali dan Junaid al-Baghdadi diharapkan umat akan dinamis dan dapat mensandingkan antara kenikmatan bertemu dengan Tuhan dan sekaligus menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi manusia, seperti yang ditunjukan oleh wali songo yang menyerkan islam di Indonesia. Dengan model tasawuf yang moderat memungkinkan umat islam secara individu memiliki hubungan langsung dengan Tuhan dan secara berjamaah dapat melakukn gerakan kebaikan umat, sehingga menjadikan umat memiliki kesalehan individu dan kesalehan sosial.

copied from: http://www.nusurabaya.or.id/kajian-aswaja/

Jumat, 14 Desember 2012

Pesantren Kota


PESANTREN KOTA[1]
( Implementasi Kurikulum Pendidikan Karakter Bernuansa Agama)
Oleh M. Mahbubi[2]


FAKTA
1.      Tawuran kerap sekali terjadi antar siswa sekolah terutama di kota-kota besar.
2.      setiap tahun, selalu terjadi kebocoran dan kecurangan dalam pelaksanaan UN di seluruh Indonesia, bahkan hal ini di sponsori oleh kepala daerah dan kepala dinas pendidikan demi gengsi. Gengsi daerah agar dipandang berhasil bla bla bla bla. (sumber: http://cetak.kompas.com/read/2009/11/14/03415275/pengawasan.un.diperketat).
3.      Di level pembuat kebijakan, pendidikan tak ubahnya sebuah proyek "megatriliun" yang mesti diperebutkan, seperti contoh: proyek pembangunan atau renvasi gedung sekolah, pengadaan buku, pengadaan alat-alat Lab, UN, dll. (sumber: http://www.sindoweekly-magz.com/artikel/12/I/24-30_mei_2012/educare/4/antara_kebangkitan_nasional_dan_carut-marut).
4.      Maraknya kasus mencontek bersama yang dilakukan oleh siswa (contoh kasus yang muncul di permukaan adalah SDN Gadel Surabaya) dan guru (contoh kasus yng muncul di permukaan adalah pada kasus PLPG di Unesa, sumber: http://kampus.okezone.com/read/2012/08/14/373/677334/unesa-usut-aksi-mencontek-plpg)
5.      Pembuatan naskah Soal Ujian nasional ataupun semester yang terpusat telah “membunuh karakter siswa dan kreatifitas guru di daerah yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.
6.      Program rintisan sekolah bertaraf internasional, dan kiprah swasta yang dianggap memandang pendidikan tak lebih dari sekadar komoditas dagangan.
7.      Minimnya Pelajaran Agama (praktek pelajaran Agama di sekolah Umum hanya 2 jam seminggu) dan merosotnya semangat Nasionalisme di semua lini pendidikan.
8.      Minimnya keteladanan yang ditunjukkan oleh guru kepada muridnya. Contoh guru melarang siswa merokok akan tetapi guru tersebut merokok di kantin sekolah, kantor guru bahkan di ruang kelas ketika mengajar.
9.      Minimnya keteladanan yang ditunjukkan oleh orang tua kepada putra-putrinya. Contoh orang tua menyuruh anaknya untuk mengaji di TPQ/ TPA/ musholla setiap sore atau ba’da Maghrib, akan tetapi orang tuanya (terutama ibu) pada jama-jam tersebut menonton sinetron atau “kasak-kusuk” selebritis.


PROBLEMATIKA
1.      Pendidikan seolah-olah tak berhasil mengubah perilaku para anak didik yang kerap berperang terhadap sesama
2.      Pendidikan seakan tak berdaya membendung pengaruh negatif dari kemajuan zaman. Di level pembuat kebijakan, pendidikan tak ubahnya sebuah proyek "megatriliun" yang mesti diperebutkan. Belum lagi soal kebijakan-kebijakan dalam pendidikan yang kerap pro dan kontra.
3.      Lembaga pendidikan saat ini tak lebih seperti tempat penitipan anak bagi kedua orang tua yang sibuk dengan pekerjaannya maing-masing.
4.      Tidak ada sinkronisasi / misskomunikasi antara program sekolah dengan keinginan orang tua dan anak
5.      Minimnya pendidikan agama ditengarai sebagai salah satu penyebab gagalnya sistem pendidikan di indonesia

TAWARAN SOLUSI
1.      Menekankan “hiden kurikulum” pendidikan karakter secara holistik di semua unit penidikan.
2.      Penerapan dan pembiasaan karakter yang bernuansa agamis di semua unit pendidikan.
3.      Menambah porsi pendidikan agama dan pelajaran yang bermuatan “nasionalisme” untuk meminimalisir carut-marutnya pendidikan di Indonesia
4.      Menerapkan sistem pendidikan pesantren (agama) dengan guru dan orang tua sebagai model / suri tauladan
5.      Adanya sinkronisasi dan komunikasi yang intensif tentang program sekolah serta perkembangan siswa kepada orangtua



[1] Di sampaikan  pada sarasehan pendidikan karakter berbasis ke- aswaja-an  di Sidoarjo hari minggu 16 Desember 2012
[2] mahasiswa S3 IAIN Sunan Ampel Surabaya  konsentrasi pendidikan islam

Minggu, 02 September 2012

PENDIDIKAN KARAKTER : Implementasi Aswaja Nilai Pendidikan Karakter





Judul:
PENDIDIKAN KARAKTER : Implementasi  Aswaja Nilai Pendidikan Karakter
Penulis:
M. Mahbubi, S.Fil.I., M.Pd.I.
Penerbit:
Pustaka Ilmu Yogyakarta. Cetakan Pertama Agustus 2012

Deskripsi Umum:
buku ini mengupas tentang sejarah dan teori pendidikan karakter dan Ahlus Sunnah Wal-Jamaah khususnya versi Nahdlatul Ulama.serta SMP Khadijah Surabaya.
SMP Khadijah Surabaya adalah salah satu sekolah tingkat SMP Islam di Jawa Timur (Surabaya) bahkan bisa di katakan sebagai salah satu sekolah favorit di Indonesia.
SMP Khadijah secara Historis didirikan oleh PBNU dan PP Ma'arif NU melalui Yayasan Khadijah (YTPS  NU KHadijah), maka dari itu tak heran jika di sekolah itu sangat kental dengan nuansa Ke- Nahdlatul Ulama'an nya. selain itu di SMP tersebut memiliki kuota pendidikan agama (yaitu 12 jam seminggu) yang jauh lebih banyak dari pada SMP pada umumnya (yang hanya 2 jam seminggu). namun tidak mengurangi mata peljaran UMUM lainnya.
SMP Khadijah juga telah menerapkan PENDIDIKAN KARAKTER jauh sebelum pemerintah dengan kemendikbudnya menerapkan kurikulum pendidikan karakter,


DAFTAR ISI BUKU:

BAB  I : KARAKTER NU: Implementasi Aswaja Sebagai Nilai Pendidikan Karakter
              di SMP  Khadijah Surabaya...................................................................... 1
A.          Permasalahan ........................................................................................... 1
B.           Kerangka Teoritik .................................................................................... 4
C.           Metode Penelitian .................................................................................... 5

BAB  II : ASWAJA DAN PENDIDIKAN KARAKTER ................................. 12
  1. Konsep Aswaja ......................................................................................... 12
1. Aswaja Versi  NU .................................................................................. 15
2. Karakteristik Aswaja Versi NU.............................................................. 17
3. Tradisi Aswaja NU ............................................................................... 21
4. Pembelajaran Aswaja Di Sekolah NU ................................................... 22

  1. Konsep Pendidikan Karakter..................................................................... 26
1. Nilai-Nilai dalam Pendidikan Karakter.................................................. 31
2. Bentuk-Bentuk Pendidikan Karakter..................................................... 34
3. Metode Pendidikan Karakter................................................................. 35
4. Landasan Pendidikan Karakter.............................................................. 37
a. Landasan Filosofis .............................................................................. 37
b. Landasan Hukum ............................................................................... 40
c. Landasan Relgius ................................................................................ 41
  1. Sejarah Pendidikan Karakter .................................................................... 43
1. Pendidikan Karakter Masa Klasik.......................................................... 43
2. Pendidikan Karakter Masa Nabi Saw..................................................... 44
3. Pendidikan Karakter Abad 18  Hingga Kontemporer............................ 46
4. Pendidikan Karakter di Indonesia.......................................................... 48

BAB  III : SELAYANG PANDANG SMP KHADIJAH SURABAYA .......... 50
A.          Sejarah Ringkas Yayasan Khadijah........................................................ 50
B.           Visi dan Misi SMP Khadijah Surabaya ................................................. 53
C.           Struktur Organisasi, Pendidik dan Tenaga Kependidikan SMP Khadijah
         Surabaya ................................................................................................ 55
D.          Jadwal KBM SMP Khadijah Surabaya ................................................. 58
E.           Sarana Dan Prasarana SMP Khadijah Surabaya .................................... 59
F.            Program Pendidikan SMP Khadijah Surabaya....................................... 67
G.          Kurikulum SMP Khadijah Surabaya ..................................................... 67
H.          Kondisi Siswa SMP Khadijah Surabaya ............................................... 70
I.             Karakteristik SMP Khadijah Surabaya .................................................. 73         

BAB  IV : IMPLEMENTASI ASWAJA ............................................................ 75
  1. Implementasi Pendidikan Karakter di SMP Khadijah Surabaya .............. 75
1.    Pengembangan Kurikulum Pendidikan Karakter ................................... 75
2.    Proses Implementasi Pendidikan Karakter di SMP Khadijah ................ 78
a. Perencanaan Pembelajaran .................................................................. 79
1). Silabus .......................................................................................... 79
2). Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)................................ 80
3). Bahan/ Buku Ajar.......................................................................... 81
b. Pelaksanaan Pembelajaran .................................................................. 84
1). Pendahuluan.................................................................................. 84
2). Inti................................................................................................. 85
3). Penutup.......................................................................................... 88
3.    Desain Implementasi Pendidikan Karakter SMP Khadijah Surabaya .... 90
1). Pendidikan Karakter Berbasis Kelas ............................................ 90
2). Pendidikan Karakter Berbasis Sekolah ........................................ 91
3). Pendidikan Karakter Berbasis Keluarga ....................................... 92
4.    Penilaian Pendidikan Karakter di SMP Khadijah Surabaya................... 93
5.    Evaluasi dan Monitoring di SMP Khadijah Surabaya............................. 96
  1. Pengaruh Pembelajaran Aswaja Terhadap Karakter Murid SMP Khadijah
Surabaya ................................................................................................... 98
1.    Kondisi Karakter Murid SMP Khadijah Surabaya.................................. 98
2.    Factor-faktor Pembentuk Karakter Murid SMP Khadijah Surabaya ... 101
3.    Pembelajaran Aswaja dan Pesantren Kota di Lingkungan SMP Khadijah
Surabaya ............................................................................................... 103

BAB  V : PENUTUP ......................................................................................... 109
A.    Kesimpulan .................................................................................... 109
B.     Saran-Saran .................................................................................... 109

BIBLIOGRAFI .................................................................................................. 111



mau tau bagaimana penerapan atau implementasi pendidikan karakter melalui pelajaran Aswaja di SMP Khadijah Surabaya??????
silahkan baca buku ini, karena sangat bermanfaat bagi siapa saja yang konsen dengan dunia pendidikan terutama di bidang pendidikan karakter...

dapatkan buku ini di toko-toko buku terdekat, hanya RP 45.000 rupiah.....

dan dapatkan diskon menarik untuk pembelian ke penulis langsung.
hubungi penulis di: 
doel_gemmek@yahoo.com 
atau add 
https://www.facebook.com/muhammad.mahbubi
call/ sms ke: 085-630-630-77