Tampilkan postingan dengan label MANAQIB. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MANAQIB. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 September 2012

Sowan dan Mencium Tangan Kyai



Sowan adalah tradisi santri berkunjung kepada kyai dengan harapan mendapatkan petunjuk atas sebuah permasalahan yang diajukannya, atau mengharapkan doa dari kyai atau sekedar bertatap muka silaturrhim saja. Seperti yang dianjurkan oleh Rasulullah saw bahwa bersilaturhim dapat menjadikan umur dan rizqbi bertambah panjang. Sowan dapat dilakukan oleh santri secara individu atau bersama-sama. Bisanya seorang kyai akan menerima para tamu dengan lapang dada.
Bagi wali santri yang hendak menitipkan anaknya di pesantren, sowan kepada kyai sangat penting. Karena dalam kesempatan ini ia akan memasrahkan anaknya untuk dididik di pesantren oleh sang kyai. Begitu pula dengan calon santri, inilah kali pertama ia melihat wajah kyainya yang akan menjadi panutan sepanjang hidupnya.
Sowan tidak hanya dilakukan oleh santri yang masih belajar di pesantren. Banyak santri yang telah hidup bermasyarakat dan berkeluarga mengunjungi kyainya hanya sekedar ingin bersalaman semata. Atau sengaja datang membawa permasalahan yang hendak ditanyakan kepada kyai tentang berbagai masalah yang dihadapinya.
Hal ini menjadikan bahwa hubungan kyai santri tidak pernah mengenal kata putus. Kyai tetap menjadi guru dan santri tetap menjadi murid. Dalam dunia pesantren istilah alumni hanya menunjuk pada batasan waktu formal belaka, dimana seorang santri pernah belajar di sebuah pesantren tertentu. Tidak termasuk di dalamnya hubungan guru-murid. Meskipun telah manjadi alumni pesantren A, seseorang akan tetap menjadi santri atau murid Kyai A.
Di beberapa daerah tradisi sowan memiliki momentumnya ketika idul fitri tiba. Biasanya, seorang kyai sengaja mempersiapkan diri menerima banyak tamu yang sowan kepadanya. Mereka yang sowan tidaklah sebatas para santri yang pernah berguru kepadanya, namun juga masyarakat, tetangga dan bahkan para pejabat tidak pernah berguru langsung kepadanya. Mereka datang dengan harapan mendapatkan berkah dari kealiman seorang kyai. Karena barang siapa  bergaul dengan penjual minyak wangi, pasti akan tertular semerbaknya bau wangi.
Pada bulan syawal seperti ini, sowan kepada kyai merupakan sesuatu yang utama bagi kalangan santri. Hampir sama pentingnya dengan mudik untuk berjumpa keuarga dan kedua orang tua. Pantas saja, karena kyai bagi santri adalah guru sekaligus berlaku sebagai orang tua. Oleh karena itu sering kali mereka yang kembali pulang dari perantauan menjadikan sowan kepada kyai sebagai alasan penting mudik di hari lebaran. Bagi santri yang telah jauh berkelana mengarungi kehidupan, kembali ke pesantren dan mencium tangan kyai merupakan ‘isi ulang energi’ recharger untuk menghadapi perjalanan hidup ke depan. Seolah setelah mencium tangan kyai dan bermuwajjahah dengannya semua permasalahan di depan pasti akan teratasi. Semua itu berlaku berkat do’a orang tua dan kyai.
Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Imam Nawawi sebagai mana dinukil oleh Ibn Hajar al-Asqolani dalam fathul Bari
قالَ الاِمَامْ النَّوَاوِيْ : تقبِيْلُ يَدِ الرَّجُلِ ِلزُهْدِهِ وَصَلاَحِهِ وَعِلْمِهِ اَوْ شرَفِهِ اَوْ نَحْوِ ذالِكَ مِنَ اْلاُمُوْرِ الدِّيْنِيَّةِ لاَ يُكْرَهُ بَل يُسْتَحَبُّ.

Artinya : Imam Nawawi berkata : mencium tangan seseorang karena zuhudnya, kebaikannya, ilmunya, atau karena kedudukannya dalam agama adalah perbuatan yang tidak dimakruhkan, bahkan hal yang demikian itu disunahkan.
Demikianlah tradisi sowan ini berlangsung hingga sekarang. Para santri meyakini benar bahwa seorang kyai yang alim dan zuhud jauh lebih dekat kepada Allah swt dibandingnkan manusia pada umumnya. Karena itulah para santri sangat mengharapkan do’a dari para kyai. Karena do’a itu niilainya lebih dari segudang harta. Inilah yang oleh orang awam banyak diisitlahkan dengan tabarrukan, mengharapkan berkah dari do’a kyai yang mustajab karena kezuhudannya, ke-wirai-annya dan kealimanyya.
Dengan demikian optimism dalam menghadapi kehidupan dengan berbagai macam permasalahnnya merupakan nilai posittif yang tersimpan di balik tradisi sowan. Sowan model inilah yang dianjurkan oleh Rasulullah saw
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali persaudaraan” (H.R. Bukhari-Muslim).
عَنْ أَبِي أَيُّوبَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ قَالَ مَا لَهُ مَا لَهُ وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَبٌ مَا لَهُ تَعْبُدُ اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ وَتَصِلُ الرَّحِمَ ” .رواه البخاري .
Dari Abu Ayyub Al-Anshori r.a bahwa ada seorang berkata kepada Nabi saw., “Beritahukanlah kepadaku tentang satu amalan yang memasukkan aku ke surga. Seseorang berkata, “Ada apa dia? Ada apa dia?” Rasulullah saw. Berkata, “Apakah dia ada keperluan? Beribadahlah kamu kepada Allah jangan kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, tegakkan shalat, tunaikan zakat, dan ber-silaturahimlah.” (Bukhari).
Artinya hanya silatrrahim yang bernialai positiflah yang akan diganjar oleh Allah sebagaimana dijanjikan Rasulullah dalam kedua haditsnya. Bukan silatrrahim yang bernilai negative yaitu silaturrahim yang melanggar aturan syariat Islam.

Selasa, 10 Juli 2012

TAWADHU’ Ibarat Sebuah Magnet

Secara bahasa, tawadhu’ berasal dari kata tawadha’a-yatawadha’u-tawadhu’an yang berarti merendahkan diri atau meletakkan di bawah. Secara istilah, tawadhu’ berarti menghargai orang lain, menganggap bahwa orang lebih baik, lebih benar dan lebih mulia. Penghargaan dan pengagungan yang proposional, bukan taklid buta.

Tawadhu’ juga diartikan dengan menerima kebenaran dari siapapun datangnya, atau siap menerima kebenaran tanpa melihat siapa yang berbicara. Jadi tawadhu’ adalah: “melebur dan merendahkan diri di hadapan Alloh Swt dan di hadapan hamba-hamba-Nya.”

Ibnu Qoyyim dalam kitab Madarijus Salikin berkata: “Barangsiapa yang angkuh untuk tunduk kepada kebenaran walaupun datang dari anak kecil atau orang yang dimarahinya atau yang dimusuhinya, maka kesombongan orang tersebut hanyalah kesombongan kepada Alloh karena Alloh adalah Al-Haq (benar); kalam-nya benar, agamanya-Nya benar. Kebenaran datangnya dari Alloh dan kepada-Nya akan kembali. Barangsiapa menyombongkan diri untuk menerima kebenaran berarti dia menolak segala yang datang dari Alloh dan menyombongkan diri di hadapan-Nya.”

Sikap tawadhu’ sangat erat kaitannya dengan sifat ikhlas. Rangkuman keikhlasan seorang hamba ada pada ketawadhu’annya. Orang yang mampu bersikap tawadhu’ berarti keikhlasan telah bersarang di hatinya. Bedanya, ketawadhu’an lebih bersifat horizontal.

Tawadhu’ banyak berhubungan dengan manusia secara sosial. Sedangkan Ikhlas, lebih bersifat vertikal, langsung kepada Alloh, tawadhu’ bukan berarti menghinakan diri. Tapi tawadhu’ adalah bentuk penghambaan kepada Tuhan yang sesungguhnya.

DALIL-DALIL TAWADHU’

Jika kita membaca Al-Qur’an, kitab-kitab hadist dan sejarah, akan banyak ditemukan disana dalil-dalil tentang keutamaan tawadhu’. Sekedar menyebut contoh misalnya, dalam surat Al-Furqon disebutkan tentang keutamaan dan ciri-ciri orang yang tawadhu’. Yang artinya:

“Dan hamba-hamba tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan diatas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al-Furqon [25]: 63).

Ayat ini menunjukkan karakteristik orang-orang yang bertawadhu’. Mereka selalu menyapa dan mengucapkan salam (do’a keselamatan) kepada semua orang yang ditemuinya, tanpa melihat kelas sosial ataupun tingkat kecerdasannya, orang yang bodohpun tetap dia sapa dan do’akan. Sungguh ini merupakan sikap profesionalitas yang luar biasa.

Bahkan secara lebih jauh, Nabi Muhammad SAW juga mengatakan bahwa orang yang bersikap tawadhu’, ia akan diangkat derajatnya. Sebuah derajat dan kehormatan yang tentunya sangat tinggi dihadapan Tuhannya.

“Dan tidaklah Sesorang bertawadhu’ kepada Alloh kecuali Alloh akan mengangkat (derajat)nya.” (HR. Muslim).

Dalam hadist lain juga disebutkan:

“barangsiapa yang bersikap tawadhu’ karena mencari ridho Alloh, naka Alloh akan meninggikan derajatnya. Ia menganggap dirinya tiada berharga, namun dalam pandangan orang lain ia sangat terhormat. Barang siapa yang menyombongkan diri, maka Alloh akan menghinakannya. Ia menganggap dirinya terhormat, padahal dalam pandangan orang lain ia sangat hina, bahkan lebih hina daripada anjing dan babi.” (HR. Al-Baihaqi).

Dalam sebuah atsar juga diceritakan bahwa pada suatu malam datanglah seorang tamu kepada kholifah Umar bin Abdul Azis. Waktu itu beliau sedang menulis. Lampunya hampir saja padam. Tamu itu kemudian berkata: “Ya Amirul Mukminin, biarlah saya yang memperbaiki lampu itu.” Sang Amir menjawab: “Jangan, tidak baik seorang menganggap tamunya sebagai pelayan. Itu bukan Akhlak mulia.” Tamunya itu berkata lagi: ”Kalau begitu, biar saya bangunkan pelayan saja.” Sang Amir menjawab: “ Jangan ia baru aja tidur, sepertinya sejak tadi dia blom menikmati kenikmatan bantalnya.” Selanjutnya beliau sendiri yang membetulkan lampunya. Si tamu itupun bertanya: “Wahai Amirul Mukminin, mengapa anda sendiri yang membetulkan lampu itu?” Sang Amir menjawab: “ Mengapa tidak, kalau saya pergi sayapun tetap Umar. Tidak berkurang sedikitpun dari diriku dengan apa yang saya lakukan tadi, bukan? Selamanya saya tetap Umar.”

Ayat, hadist, dan atsar diatas telah menegaskan kepada kita semua tentang pentingnya tawadhu’. Sebuah sikap ketundukan total dihadapan Alloh SWT.

PEMBAGIAN TAWADHU’

Sikap Tawadhu’ di bagi menjadi empat macam:

1. Tawadhu’ kepada Alloh SWT.

Tawadhu’ kepada Alloh SWT artinya merendahkan diri di hadapan-Nya. Tanda-tanda orang tawadhu’ kepada Alloh SWT diantaranya:

a. Merasa kecil/sedikit dalam ta’at kepada-Nya. Artinya, seorang yang tawadhu’ kepada alloh SWT itu merasa bahwa dalam ketaatan dan ibadahnya masih sangat sedikit dibandingkan dengan dosa-dosa yang telah dilakukan.
b. Merasa besar/banyak dalam maksiat. Artinya, seorang yang tawadhu’ kepada Alloh SWT, merasa bahwa dosa/maksiat yang telah dilakukan sangat besar/banyak dibandingkan dengan amalnya.
c. memperbanyak pujian kepada Alloh SWT. Dan tidak pada diri sendiri.
d. Tidak menuntut hak kepada Alloh, tetapi berorientasi pada amal yang harus dilakukan.

2. Tawadhu’ kepada Agama

Tanda-tanda orang yang tawadhu’ kepada agama diantaranya:

a. Tunduk dan patuh kepada aturan-aturan, perintah-perintah dan larangan-larangan di dalam agama islam.
b. Tidak melanggar Islam baik dalam perkataan, perasaan pemikiran dan perbuatan.

3. Tawadhu’ kepada Rosululloh Saw.

Tanda-tanda orang tawadhu’ pada Rosululloh diantaranya:

a. Mengutamakan petunjuk Rosululloh diatas manusia lainnya.
b. Mencintai, mentaati, dan mengikuti setiap perkataan dan perbuatan beliau.
c. Menjadikan Rosululloh Saw. Sebagai teladan hidupnya.

4. Tawadhu’ kepada Sesama.

Tanda-tanda orang yang tawadhu’ kepada manusia diantaranya:

a. Menerima nasehat/saran kebenaran dari orang lain.
b. Senantiasa melihat kelebihan-kelebihan saudaranya, dan berusaha menutupi kekurangan-kekurangannya.
c. Siap membantu orang lain.
d. Bermusyawarah dengan anggota masyarakat yang lain.
e. Senantiasa berbaik sangka (khusnudzon) kepada orang lain.

CARA MENGUKUR SIKAP TAWADHU’

Meskipun kunci tawadhu’ berada dalam hati, tapi ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengetahui dan mengukurnya. Adalah seorang Sa’id Hawwa, dalam bukunya yang berjudul Al-Mustakholash fi Tazkiyatul Anfus (Ringkasan dalam penyucian jiwa), sebagai mana dilansir nurul huda (2008), dengan gamblang telah menwarkan beberapa tips dan cara untuk mengukur dan mengetahui apakah kita sudah bersikap tawadhu’ atau belum, antara lain:
1. Cobalah berdiskusi dengan orang lain tentang suatu masalah. Jika kita keberatan mengakui kebenaran perkataan lawan, berarti dalam hati kita masih ada kesombongan. Namun jika anda menerima kebenaran lawan dan berterima kasih serta mengakui kelemahan diri dengan tulus, maka kita boleh sedikit berlega hati karena memiliki sifat tawadhu’.

2. Cobalah berkumpul bersama teman-teman sebaya dalam suatu pertemuan. Kemudian dahulukan kepentingan orang lain di atas diri kita, tidak menonjolkan diri, dan berjalan ditengah atau dibelakang, bukan di depan. Jika kita berat melakukannya, berarti dalam hati kita masih terdapat benih kesombongan.

3. Cobalah memenuhi undangan orang miskin atau lebih rendah statusnya. Jika kita masih merasa berat mendatanginya, berarti dalam hati kita masih terdapat sifat sombong.

4. Bawalah sendiri barang-barang keperluan keluarga tanpa dibawakan oleh orang lain. Jika kita merasa berat melakukannya, walaupun tidak ada orang lain, berarti kita masih memiliki sifat sombong. Tapi jika kita melakukannya ingin dilihat orang lain berarti riya’.

5. Kenakanlah pakaian yang sederhana. Jika kita memakai pakaian yang bagus-bagus hanya karena ingin dilihat orang lain, berarti kita masih memiliki sifat riya’. Dan jika kita merasa berat mengenakan pakaian yang sedrhana didepan umum, berarti kita masih memiliki sifat sombong.

Inilah beberapa cara untuk mengukur sikap ketawadhu’an. Pendek kata, sikap tawadhu’ ibarat magnet yang bisa membuat orang-orang disekitarnya mendekat dan bahkan menempel. Sebaliknya sikap congkak akan menjauhkan dari dari orang-orang sekitarnya. Jangankan manusia, surga pun mengharamkan dirinya untuk dimasuki orang-orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar debu.

“Takkan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji sawi.” (HR. Muslim)

Alloh pun amat membenci orang-orang sombong. Sebagaimana fiman-Nya dalam Al-Qur’an yang artinya :

“Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. An-Nisa’ [4]: 36).

TIPS MENJADI PRIBADI YANG TAWADHU’

Bersikap tawadhu’ tidaklah mudah, sebab tawadhu’ mengharuskan seseorang untuk mengalahkan sifat keegoannya. Sikap tawadhu’ juga tidak dapat diperoleh secara spontan. Tapi harus diupayakan secara bertahap, serius dan berkesinambungan. Cara yang dapat dilakukan untuk melatih munculnya sifat tawadhu’ antara lain:

1. Mengenal Alloh.
Dengan mengenal Alloh beserta sifat-sifatnya, maka akan muncul kesadaran bahwa manusia adalah makhluk yang sangat lemah dan kecil. Begitu besarnya kuasa Alloh, begitu kaya, Agung dan besarnya Alloh. Maka tidaklah pantas bagi manusia untuk merasa sombong. Dengan mengenal Alloh kita tidak akan merasa memiliki dan dimiliki, sebab semua yang ada dialam ini hakekatnya hanyalah Alloh SWT yang maha memiliki.

2. Mengenal Diri.
Al-Farabi, seorang filosuf bangsa Arab kenamaan, mengatakan:”Ketahuilah dirimu, niscaya kamu akan mengenal Tuhanmu!.” Perkataan kita renungkan, perkataan ini memang benar. Sesorang yang mengetahui hakekat dirinya, secara otomatis, ia akan mengetahui bahwa dia tak lebih dari seonggok mahluk yang diciptakan Tuhan dari air yang hina dina. Manusia berasal dari setetes mani yang bercampur. Sesuai dengan firman Alloh dalam Al-Qur’an yang artinya:

“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (QS. Al-Insan [76]: 2).

Kemudian manusia lahir ke dunia tanpa daya dan tidak mengetahui apapun. Sesuai dengan firman Alloh dalam Al-Qur’an yang artinya:

“ Dan Alloh mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl [16]: 78).

Oleh sebab itu, sungguh ironis bila manusia bersikap sombong dan takabur. Seharusnya manusia bersikap tawadhu’, sebab pada hakekatnya ia lemah dan tidak banyak mempunyai pengetahuan. Bahkan, sekedar untuk menyelamatkan makanan dari jilatan seekor lalat pun ia tidak memiliki kemampuan.

3. Mengenal Aib Diri.
Seseorang harus mengetahui aib dan kekurangannya yang ada pada dirinya, sebab kalau tidak, dia dapat terjebak dalam kubangan kesombongan. Banyak orang mengira bahwa dirinya telah melakukan amal kebaikan, padahal sejatinya ia sedang melakukan kerusakan dan kedzoliman. Alloh berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya:

“Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan dimuka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (QS. Al-Baqoroh [2]: 11).

Oleh karena itu setiap muslim harus selalu melakukan intropeksi diri sebelum melakukan dan sesudah melakukan perbuatan. Dengan intropeksi diri, ia akan menyadari kekurangan dan aib dirinya sejak dini, sehingga ia akan bersikap tawadhu’ dan tidak sombong kepada orang lain.

4. Merenungkan Nikmat Alloh.
Pada hakikatnya, seluruh nikmat yang dianugerahkan Alloh pada kita sebagai hamba-Nya adalah ujian untuk mengetahui siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur. Namun banyak diantara manusia yang tidak menyadari hal tersebut, sehingga membanggakan, bahkan menyombongkan nikmat yang Alloh berikan kepadanya.

5. Harus Ikhlas.
Kalau ada orang yang melakukan sesuatu dan merasa dirinya tidak layak melakukan sesuatu itu, sudah merupakan tanda bahwa orang tersebut tidak tawadhu’. Contohnya pejabat yang merapikan sendal, lalu dalam hatinya ia merasa mulia karena sudah merapikan sendal padahal ia merasa tidak pantas melakukan hal tersebut. Merapikan sendal merupakan hal yang biasa, dan bukan perbuatan nista. Apa salahnya pejabat merapikan sendal? Tidak ada yang salah, jadi jangan merasa hebat dan tawadhu’, karena itu ciri bahwa kita tidak tawadhu’.

6. Ingatlah bahwa Tiada Daya dan Upaya Kecuali dengan Alloh.
Jadi segala yang ada dengan Alloh, bukan dengan daya dan upaya kita. Bukan pula dengan kehebatan kita. Bukan pula dengan kecerdasan kita. Ingatlah, Qorun mendapatkan kecelakaan besar disebabkan ia merasa bahwa apa yang dimilikiny, berupa harta kekayaan yang melimpah, adalah hasil dari kecerdasan dan usahanya. Disebabkan ia merasa demikian maka Alloh menenggelamkan dia di muka bumi ini.

Begitulah cara-cara untuk menjadi orang yang tawadhu’. Dengan melakukan trik-trik diatas diharapkan kita semua bisa menjadi individu-individu yang tawadhu’. Sebab tawadhu’ adalah ciri kemuliaan pribadi muslim. Karenanya, tak berlebihan bila Imam Syafi’I mengatakan bahwa, “Sikap Tawadhu’ adalah akhlak orang-orang mulia. Sedangkan takabur adalah ciri-ciri orang tercela.”


Sabtu, 30 Juni 2012

ANTARA MAULID DAN KHAUL

Latar belakang
Tidak asing lagi setiap tahun pasti pada setiap hari wafatnya seorang ulama’ yang besar, seperti ulama’ pendiri pondok pesantren, diberi acara haul sebagai hari peringatan akan hari wafatnya. Akan tetapi bila Rasul yang diperingati adalah hari kelahirannya. Seperti peringatan mauludan yang sering kita lakukan bersama.
Pertanyaan

a. Mengapa dalam hal ini ada perbedaan ? Kalau Rasulullah yang diperingati adalah hari kelahirannya. Sedang ulama’ yang sholih yang diperingati adalah hari wafatnya ?
b. Apakah pelaksanaan hal tersebut ada landasan yang kongkrit sehingga perlu dibedakan dalam hal ini ?
Majlis Musyawarah Darul Falah PP. Darussalam Sumbersari.
Rumusan jawaban
a. Karena peringatan hari lahirnya Rosulullah itu lebih ditekankan pada menampakkan kecintaan kepada Rosululloh ( إشعار بمحبته ) dan syukur kepada Allah dengan lahirnya Rosululloh ( شكرا لنعمة الله بولادة النبى ). Sedangkan peringatan hari wafat Ulama’ lebih ditekankan pada do’a, tashodduq dan ذكر مناقب العلماء.
b. Kalau yang dikehendaki adalah Nash Qur’an dan Hadis maka tidak ada.
Referensi
1. ترشيخ المستفدين ص: 325-326
( تنبيه ) فى باب الوليمة من فتاوى السيوطى سئل عن عمل المولود النبوى فى شهر ربيع الأول ما حكمه وهل يثاب فاعله ؟ ( فأجاب ) بأن أصل المولود الذى هو اجتماع الناس وقرأة ما تيسر من القرآن ورواية الأخبار الواردة فى مبدء أمر النبى صلى الله عليه وسلم وما وقع فى مولده من الآيات ثم يمد لهم سماطا يأكلونه وينصرفون من غير زيادة على ذلك من البدع الحسنة التى يثاب عليها صاحبها لما فيه من تعظيم قدر النبى صلى الله عليه وسلم وإظهار الفرح والاستبشار بمولده الشريف – إلى أن قال- قال وقد ظهر تخريجها على أصل ثابت وهو ما ثبت فى الصحيحين من أن النبى صلى الله عليه وسلم قدم المدينة فوجد اليهود يصومون يوم عاشوراء فسألهم فقالوا هذا يوم أغرق الله فيه فرعون ونجى موسى فنحن نصوم شكرا لله. فيستفاد منه فعل الشكر لله على ما من به فى يوم معين من أسداء نعمة أو دفع نقمة. ويعاد ذلك فى نظير ذلك اليوم من كل سنة والشكر الله يحصل بانواع العبادة كالسجود والصيام والصدقة والتلاوة واى نعمة أعظم من النعمة ببروز هذا النبى نبى الرحمة فى ذلك اليوم. وعلى هذا فينبغى أن يتحرى اليوم بعينه حتى يطابق قصة موسى فى يوم عاشوراء. ومن لا يلاحظ ذلك لا يبالى بعمل المولود فى أى يوم من الشهر بل توسع قوم فنقلوه إلى يوم من السنة وفيه ما فيه هذا ما يتعلق بأصل عمله.
2. نهاية الزين ج: 1 ص: 281
( وتنفع ميتا صدقة ) لأجله من وارث وغيره ومنها وقف المصحف وغيره وحفر بئر وغرس شجر روى مسلم عن عائشة رضي الله عنها أن رجلا أتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال يا رسول الله إن أمي انفلتت نفسها ولم توص وأظنها لو تكلمت تصدقت أفلها أجر إن تصدقت عنها قال نعم اهـ. والتصدق عن الميت بوجه شرعي مطلوب ولا يتقيد بكونه في سبعة أيام أو أكثر أو أقل وتقييده ببعض الأيام من العوائد فقط كما أفتى بذلك السيد أحمد دحلان وقد جرت عادة الناس بالتصدق عن الميت في ثالث من موته وفي سابع وفي تمام العشرين وفي الأربعين وفي المائة وبعد ذلك يفعل كل سنة حولا في يوم الموت كما أفاده شيخنا يوسف السنبلاويني. أما الطعام الذي يجتمع عليه الناس ليلة دفن الميت المسمى بالوحشة فهو مكروه ما لم يكن من مال الأيتام وإلا فيحرم كذا في كشف اللثام ودعاء قال النووي في الأذكار أجمع العلماء على أن الدعاء للأموات ينفعهم ويصلهم ثوابه اهـ. روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال ما الميت في قبره إلا كالغريق المغوث بفتح الواو المشددة أي الطالب لأن يغاث ينتظر دعوة تلحقه من ابنه أو أخيه أو صديق له فإذا لحقته كانت أحب إليه من الدنيا وما فيها وأن هدايا الأحياء للأموات الدعاء والاستغفار.
3. إعانة الطالبين الجزء: 3 ص: 264
ومن أجسن ما ابتدع فى زماننا ما يفعل كل عام فى اليوم الموافق ليوم مولده صلى الله عليه وسلم من الصدقات والمعروف وإظهار الزينة والسرور فان ذلك مع ما فيه من الإحسان للفقراء مشعر بمحبتة النبى صلى الله عليه وسلم وتعظيمه فى قلب فاعل ذلك وشكر الله تعالى على ما من به من إيجاد رسول الله صلى الله عليه وسلم الذى أرسله رحمة للعالمين . اهـ
4. الفتاوى الكبرى لابن حجر الهيتمى الجزء: 2 ص:8
ويؤيد قول ابن عبد السلام بعض المرائى حرام كالنوح لما فيه من التبرم بالقضاء إلا إذا ذكر مناقب عالم ورع وصالح للحث على سلوك طريقته وحسن الظن به بل هى حينئذ بالطاعة والموعظة أشبه لما ينشأ عنها من البر والخير ومن ثم مازال كثير من الصحابة وغيرهم من العلماء يفعلونها ممر الأعصار من غير إنكار.اهـ
5. الحاوى للفتاوى الجزء: 1 ص:192
وقوله مع أن الشهر الذى ولد فيه الى آخر جوابه يقال أولا:إن ولادته صلى الله عليه وسلم أعظم النعم علينا ووفاته أعظم المصائب لنا والشريعة حثت على إظهار شكر النعم والصبر والسكوت والكتم عن المصائب , إلى أن قال- فدلت قواعد الشريعة على أنه يحسن فى هذا الشهر إظهار الفرح بولادته صلى الله عليه وسلم دون إظهار الحزن فيه بوفاته. إلى أن قال – وقد تكلم الإمام أبو عبد الله بن الحاج فى كتابه المدخل على عمل المولد فأتقن الكلام فيه جدا. وحاصله مدح ما كان فيه من إظهار شعار وشكر وذم ما احتوى من محرمات ومنكرات, وأنا أسوق كلامه فصلا فصلا.
6. تنبيه الغافلين ص: 223
وقال النبى صلى الله عليه وسلم إنما الأعمال بالخواتم لا عبرة بكثرة الصلاة والصيام إنما ينظر إلى خاتمة أمره.اهـ
7. الأذكار النووية ص: 165 – 166
وروينا فى سنن أبى داود والترمذى بإسناد ضعيف ضعفه الترمذى عن ابن عمر رضى الله عنه عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : اذكروا محاسن موتاكم وكفوا عن مساويهم.
8. حول الاحتفال بذكرى المولد النبوى الشريف لسيد محمد بن علوى الملكى الحسنى
ونقول: إن الإمام العلامة جلال الدين السيوطى قد كفانا الرد على هذه المغالطة فقال فى كتابه الحاوى. نصه: إن ولادته صلى الله عليه وسلم أعظم النعم ووفاته أعظم المصائب لنا. والشريعة حثت على إظهار شكر النعم والصبر والسكون عند المصائب, وقد أمر الشرع بالعقيقة عند الولادة وهى إظهار شكر وفرح بالمولود. ولم يأمر عند الموت بذبح ( عقيقة ) ولا بغيره, بل نهى عن النياحة وإظهار الجزع. فدلت قواعد الشريعة على أنه يحسن فى هذه الشهر إظهار الفرح بولادته صلى الله عليه وسلم دون إظهار الحزن فيه بوفاته وقد قال ابن رجب فى كتابه ( اللطائف ) فى دم تارافضة ….. حيث اتخذوا يوم عاشوراء مأتما لأجل مقتل الحسين ولم يأمر الله ولا رسوله صلى الله عليه وسلم باتخاذ أيام مصائب الأنبياء وموتهم مأتما فكيف ممن هو 
دونهم.اهـ



Hasil Bahts Masail FMPP 2001 di PP. Darussalam Kencong Pare Kediri
 

Minggu, 24 Juni 2012

MENGENAL GURU-GURU THAREQAT NAQSYABANDI

MENGENAL GURU-GURU THAREQAT NAQSYABANDI
Oleh
Kyai Drs. Mufid Rowi
Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo
Staf Pengajar Universitas Ibrohimi Sukorejo Situbondo
Awal mula Thareqat Naqsyabandiah adalah ilmu rahasia Allah yang amat suci yang kemudian Allah menyuruh malaikat Jibril untuk memberikan ilmu rahasia yang sangat halus dan suci itu kepada satu-satunya hambanya yang sangat dikasihi dan sangat disucikan ruhaninya, hamba yang menjadi pilihannya, yang menjadi junjungan para nabi, rasul, para khalifah Allah Ta’ala, para waliyullah dan manusia seluruhnya, yaitu Nabi Muhammad Saw. Ilmu rahasia ini selanjutnya oleh ulama sufi disebut dengan ilmu tasawuf atau ilmu thareqat. Dan nama-namanya mengikuti guru-guru yang mengembangkannya dari zaman Rasulullah sampai zaman sekarang ini. Tetapi agaknya dari zaman Baha’udin sampai saat ini, thareqat ini tidak banyak mengalami perubahan nama, yaitu Naqsyabandi. Yang ada setelah Baha’uddin hanya nama tambahan, seperti al Mujaddidi, al Kholidi, al Madhari, al Haqqani, dan al Amini. Bahkan ada yang menamai Thareqat Jabal Abu Qubais, sebagai tanda silsilahnya masih bersambung terus sampai Rasulullah. Thareqat Jabal Hindi, untuk nama Thareqat Naqsyabandi yang terputus silsilahnya, atau thareqat yang mursyidnya mengangkat sendiri, bukan diangkat oleh guru
Thareqat Pada Zaman Rasulullah (571-632 M)
Semasa Nabi masih hidup, belum dikenal bentuk perkumpulan yang didefinisikan dan dinamai Thareqat tetapi keberadaannya berbentuk sebuah kegiatan rutin, khusus, halus, dan tersembunyi berupa kegiatan dzikir-dzikir untuk Tazqiyatun Nafs dan Tazqiyatul Qolb, {pembersihan jiwa dan hati}, karena halusnya maka dinamai thareqatus Sirriyah. Kemudian dari padanya ilmu rahasia ini diwariskan kepada Abu Bakar as Shiddik.
 Thareqat Pada Zaman Khalifah-Khalifah
1. Abu Bakar as Shiddiq
Pada masa kekhalifahan Abu Bakar as Shiddiq, kegiatan rutin dan halus itu dinamai Thareqatul Ubudiyah, karena wujud gambaran tingginya dan totalitas pengabdian Abu Bakar kepada Nabi Muhammad, dalam rangka mengabdi kepada Allah Swt. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :
2. Salman al Farisi
Kesempurnaan Sayyidina Abu Bakar as Siddiq dalam pengabdiannya dan perjuangannya melaksanakan seluruh perintah dan amalan Nabi Muhammad, termasuk kegiatan dzikir-dzikir secara terus-menerus. Dikembangkan dan diamalkan dzikir-dzikir khusus dan halus tersebut. Kemudian dinamai dengan Thareqatus Siddiqiyyah. Thareqat ini namanya populer sampai pada masa Abu Yazid al Bustami. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :
3. Qasim ibn Muhammad ibn ‘Abi Bakar al Shiddiq.
Qutubul Aulia’, Imam Thareqatus Siddiqiyah. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :
4. Ja’far as Shidiq (w.148/765).
Sayyidina Ja’far as Shiddiq ra cucu Sayyidina Qasim ra dari Ibundanya. Diangkat menjadi Imam Syiah ke-6 menggantikan ayahandanya Muhammad Baqir sebagai Imam Syiah ke-5, cucu Sayyidina Ali ra. selama proses belajar. Pengaruh Ibundanya paling merasuk pada ilmunya. Yang bernasabkan pada kakeknya Sayyidina Qasim, dan secara politis mengikuti jejak ayahandanya konsekuensi putra seorang Imam syiah. Khalifah-khalifah Ja’far ash Soddiq yang mengemban Thareqat ash Shiddiqiyah dan menjadi penyambung antara Imam Ja’far dan Abu Yazid al Busthami adalah Sayyidina Imam Musa al Qadim, Sayyidina Imam Ali Ridho dan Syaikh Ma’ruf al Kharhi. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan secara barzakhi kepada :
5. Abu Yazid Thaifur al Bisthami (w.260/874).
Auliya’ Akbar, al Qutub. Karya-karyanya yang dieksplorasi dari pengalaman ruhaninya, merupakan salah satu dasar doktrin Wahdatul al Wujud, Wahdatul al syuhud, Ana al Haq dan Rabbani. Doktrin ini juga dianut oleh Abu Hafas al Naisabur, Abu Sa’id al Harraz, Junaid al Baghdadi, at Thusi, al Kalabasi, al Hallaj, Ibnu Arabi, Suhrawardi dan Maulana Rummi sedangkan Wahdatul al syuhud dianut oleh sufi al Makki, Muhasibi al Sulami, Hujwiri, al Qusyairi dan al Ghazali serta Abdul Qadir Jilani dan Ahmad Rifa’i. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan secara barzakhi kepada :
6. Abul Hasan al Kharaqani (w.425/1034).
Inisiasi atau bai’at Abu Yazid kepada Abu Hasan dilakukan secara gaib atau melalui Nabi Hidir yang dikenal dengan istilah bai’at uwaisi. Status kemursyidannya diperoleh langsung dari Nasabut Thareqatut Thaifuriyah. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :
7. Abu ‘Ali al Farmadzi (w.535/1084),
Quthubul Auliya, ahli fiqih dan ahli haditas. Di Nesafur fatwa-fatwanya senantiasa menjadi rujukan-rujukan para juru da’wah (da’i). Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :
8. ‘Abu Ya’kub Yusuf al Hamadani (w.535/1140)
8 Dasar Thareqat diperkenalkan sebagai bentuk doktrin penyempurnaan, (1) Husy dar dam, (2) nazhar bar qadam, (3) safar dar watan, (4) khalwat dar anjuman, (5) yadkard, (6) bazgasyt, (7) nigah dast, dan (8) yads dast Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada:
9. ‘Abd al Khalik al Ghujdawani (w.617/1220).
Syaikh Abdul Khalik al Fajduani nasabnya sampai kepada al Imam Malik bin Anas RA. Abdul Khalik pernah diajari praktek pelaksanaan Nafi-Isbat di laut oleh Nabi Hidir. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :
10. ‘Arif al Riwgari (w. 657/1259).
Al Qutub dan ahli tafsir. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :
11. Mahmud Anjir Faghnawi (w.643/1245 atau 670/1272). Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada:
12. ‘Azizan ‘Ali al Ramitani (w.705/1306 atau 721/1321). Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :
13. Muhammad Baba al Sammasi (w.740/1340 atau 721/1321).
Sufi besar penganut doktrin Wahdatul al Syuhud dan Wahdatul al Wujud. Ahli Fiqih dan Tafsir al Qur’an. Ilmu agama (Fiqih, Hadits serta Tafsir al Qur’an) Baha’uddin diperolehnya atas bimbingannya. Baba Samasi orang Cina yang bermukim di Sammas dekat Tasken perbatasan dengan Cina. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :
14. Amir Sayyid Kulal al Bukhari (w.772/1371).
Sufi besar, seorang ahli Fikih dan Ilmu Kalam, Wali al Qutub serta ahli tembikar terkenal yang produksinya tersebar ke Asia (Cina) dan Eropa. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :
15. Muhammad Baha’ al Din Naqsyaband (717-791/1318-1389).
Auliya Allah yang Qutub, Penasehat Utama Sultan Khalil di Samarqand, fatwa-fatwanya menjadi rujukan Hakim-Hakim Agung dalam memutuskan perkara. Karena kebesaran namanya, Thareqat yang di pimpinnya tersebar dengan cepat dan termasyhur serta memiliki pengikut yang sangat banyak dan tersebar ke seluruh dunia. Kemudian darinya diwariskan kepada :
16. Maulana Syaikh Muhammad al Bukhari al Khawarizumi QS.
Penghulu di Bhukara’ tempat kelahiran seorang perawi hadits Bukhari Muslim. beliau adalah al Qutub. Pengajar Hadits di beberapa sekolah. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :
17. Maulana Syaikh Ya’kub al Jarkhi al Hasyary QS.
Wali Qutub dan ahli Tafsir al Qur’an. Bersama Kwaja Muhammad Parsa yang juga murid Baha’uddin Naqsyabandi telah membuat Tafsir Qur’an. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :
18. Syaikh Nasiruddin Ubaidullah al Ahrary as Samarqandi
Salah satu Wali Qutub yang amat kaya. Kekayaannya pernah menutup hutang-hutang kerajaan Samarqan, membantu kerajaan Mugol India keluar dari krisis keuangan. Setiap tahun berzakat 60.000 ton gandum. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :
19. Maulana Syaikh Muhammad az Zahid QS. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :
20. Maulana Syaikh Darwisy Muhammad as Samarqandi QS.
Anak saudara perempuan Syaikh Muhammad az Zahid QS. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :
21. Maulana Syaikh Muhammad al Khawajiki al Amkany as Samarqandi QS.
Putra Syaikh Darwisi Muhammad as Samarqandi QS. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :
22. Syaikh Muayyiduddin Muhammad al Baqibillah QS.
Al Qutub. Asal Turki yang kemudian bermukim di India. Membangun Madrasah termegah dan terbesar di masanya. Kemudaian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :
23. Syaikh Akhmad al Faruqi as Sirhindi QS.
Murid kesayangan Baqibillah. Ketika al Faruqi mulai belajar kepadanya dan berbaiat, baqibillah telah berfatwa al Faruqi adalah orang yang akan menggantikan dirinya. Menjelang kematiannya, Baqibillah memohon untuk menunda ruhnya dicabut sampai menunjuk al Faruqi sebagai penggantinya, ketika al Faruqi sedang bepergian jauh. Ia seorang yang ahli Fiqih dan hafal al Qur’an. ia adalah Mujadid Millenium ke dua. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :
24. Syaikh Muhammad Ma’sum QS.
Beliau adalah putra Syaikh Akhmad al Faruqi as Sirhindi QS. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :
25. Syaikh Muhammad Saifuddin QS.
Beliau adalah putra Syaikh Syaikh Muhammad Ma’sum QS. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :
26. Syaikh Syarif Nur Muhammad al Badwani QS. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :
27. Syaikh Samsuddin Habibullah Jan Janany Muzhhir al ‘Alawi QS. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :
28. Syaikh Abdullah ad Dahlawi QS.
Nasab Syaikh Abdullah sampai pada Sayyidina Ali bin Abu Thalib. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :
29. Maulana asy Syaik Dhiyauddin Khalid al Utsmani al Kurdi QS.
Auliya Akbar, Sultanul Auliya’, al Qutub yang sangat termasyhur, khalifah-khalifahnya tersebar ke seluruh dunia. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :
30. Syaikh Abdullah al Affandi QS.
Kepala sekalian guru-guru dalam negeri Mekkah al Musyarrafah. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :
31. Syaikh Sulaiman al Qarimi QS.
Khalifahnya yang terkenal di Indonesia: KH. Ubaidah dan KH. Abdurrahman kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :
32. Saidis Syaikh Sulaiman az Zuhdi QS.
Menantu Syaikh Sulaiman al Qarimi QS. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada:
33. Saidis Syaikh Ali Ridha QS.
Menantu Maulana Sayyidisy Syaikh Sulaiman az Zuhdi QS. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :
34. Saidis Syaikh Muhammad Hasyim al Khalidi QS.
Khalifahnya yang sangat menonjol adalah Prof. Dr. Kadirun Yahya. KH. As’ad Syamsul Arifin Situbondo pernah meminta talkin dzikir Naqsyabandi, ia dianjurkan untuk mengembangkan pesantren ayahandanya KH. Syamsul Arifin. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :
35. Saidis Syaikh Kadirun Yahya Muhammad Amin al Khalidi QS (1917-2001).
Kadirun Yahya dikenal sebagai thabib besar, wali qutub dan seorang akademisi serta ahli fisika-kimia yang bergelar profesor dan doktor. Di bawah bimbingannya Thareqat Naqsyabandiah. Mujaddiyah Khalidiah berkembang di perkotaan melalui kampus-kampus, yang sebelumnya sangat asing. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :
36. Saidis Syaikh Der Moga Barita Raja Muhammad Syukur QS (1935- sekarang)
Muhammad Syukur adalah Khalifah Prof DR. Kadirun Yahya yang sangat menonjol kekeramatannya, baik sebelum maupun setelah gurunya berlindung. Sekarang ia memimpin Thareqat Naqsyabandi al Mujaddidiah al Khalidi yang berpusat di Batam.

wallahu a'lam
sumber: http://quantumillahi.wordpress.com/2009/02/23/mengenal-guru-guru-thareqat-naqsyabandi/

Sabtu, 24 Maret 2012

NABI CONTOH MANUSIA YANG PARIPURNA

Nabi Muhammad adalah salah satu contoh manusia yang paripurna (maha sempurna) dari segi apapun, diantaranya dari segi akhlak (etika atau sopan santun) karena beliau di tugaskan di bumi sebagai penyempurna iman dan akhlak (seperti yang di sebutkan dalam salah satu hadis shohih), dimana beliau adalah manusia yang BAHAGIA, SUKSES, dan MAPAN.

BAHAGIA adalah: keberhasilan beliau memimpin dirinya sendiri dan keluarganya sendiri menjadi keluarga yang sakinah mawaddah dan rahmat, sehingga di dalam mahgligai kehidupan rumah tangganya, jarang sekali terdapat pertengkaran yang sangat serius yang menyebabkan perceraian, putra-putri beliau adalah putra-putri yang sholih dan sholihah, sehingga putra-putrti beliau adalah suri tauladan putra putri yang "nurut" atau sam'an wa tho'atan sama bapak+ibunya.

SUKSES adalah keberhasilan beliau dalam hal menjalankan usaha atau bisnis, beliau adalah salah seorang contoh exportir dan importir ulung di dunia ini, dimana beliau sejak belia sdh belajar mengekspor dan mengimpor barang2 dari negara tetangga (syiria, syam, yaman dll).

MAPAN adalah keberhasilan beliau di bidang sosial atau keprihatinan beliau kepada tetangga dan saudara tanpa pandang bulu, entah ia ummat muslim atau bukan, ummat yang "berada" atau kaum "kekurangan",

Selasa, 14 April 2009

Kartini Vs Kartono

Bulan April, apa sih yang ada di benak kamu? Hari Kartini, pastinya. Hari yang diyakini sebagai tonggak emansipasi kaum wanita. Nggak bosan-bosannya topik ini dibicarakan terutama di kalangan aktivis feminisme dengan judul baru bernama pemberdayaan perempuan. Seakan-akan tanpa program mereka, kaum perempuan tak berdaya.

Diperparah dengan beberapa lagu yang sengaja memanas-manasi para perempuan untuk mau ‘berjuang’. Nah, salah satunya lagu di bawah ini neh.
Di era tahun 80-an, ada lagu yang berlirik seperti ini :
Semenjak Kartini itu lahir di hari itu
Contoh dan teladan diberi pada kaumku
Wanita bukan budak yang hina
Anggapan lama semua kaum pria
Gunung kan kudaki laut kuseberangi
Mencari Bahagia
Aku disakiti aku diingkari
Dan aku dihina
Apa pria tega menghina wanita
Sayang sayang sayang
Adam tanpa hawa
Tak ada artinya
Sayang sayang sayang

Waduh, hapal banget yah? Hehe, kebetulan aja kakak-kakak saya yang cewek adalah penggemar lagu melow, salah satunya adalah lagu ini. Dan kebetulan aja saya yang saat itu masih pake seragam putih merah alias SD teringat dengan lirik ini. Coba deh kamu tanya ke mamamu yang barangkali aja ingat dengan lagu ini.

Kita bukan mau berlatih olah vokal. Saya juga tak akan mengajari kamu bagaimana cara menyanyikan lagu ini. Tapi saya akan ajak kamu untuk berpikir kritis dalam menyikapi hari Kartini dan juga lagu-lagu sejenis ini. Supaya apa? Supaya kamu nggak terjebak dan terjerumus dengan ide feminisme yang kedengarannya aja manis di mulut dengan tajuk perjuangan hak perempuan. Padahal mah ide ini jauh panggang daripada api, alias nggak ada bagusnya bagi perbaikan nasib dan harga diri kaum perempuan sendiri. Nggak percaya? Baca aja lanjut, okay?

Perjuangan Kartini
Tak ada yang salah dengan perjuangan Kartini. Toh beliau memang hidup di alam penjajahan dan jaman feodalisme Jawa masih mengungkung erat. Jaman ketika perempuan masih dianggap rendah sekedar ‘konco wingking’ alias teman di belakang bagi para pria. Maksudnya perempuan itu tempatnya cuma dapur, sumur dan kasur. Walah! Perempuan nggak boleh ikut mengurusi selain ketiga hal itu. Karena urusannya cuma itu, maka nggak perlu perempuan sekolah tinggi-tinggi. Nggak ada gunanya. Toh, nanti kembalinya juga bakal ke dapur lagi.

Kartini, sebagai seorang perempuan cerdas, nggak terima dengan kondisi ini. Apalagi lingkungan bangsawan Jawa membuatnya sering bergaul dengan noni-noni Belanda yang dianggapnya mempunyai derajat lebih tinggi. Kartini pun ingin seperti mereka. Ia ingin derajat kaumnya meningkat melalui dunia pendidikan. Nah, seringkali perjuangan Kartini dipelintir, berhenti cukup sampai di sini. Jadilah mereka menjadikan sosok Kartini sebagai sosok pejuang emansipasi yang berusaha memperjuangkan hak perempuan.

Mereka lupa (atau pura-pura lupa?) bahwa ada lanjutan dari kisah hidup perjalanan Kartini. Selain berkorespondensi dengan noni-noni Belanda, Kartini juga belajar membaca al-Quran dengan salah satu Kyai di jaman itu. Sayangnya, guru yang menjadi guru ngaji Kartini adalah orang yang berpikiran kolot dengan menyatakan bahwa kitab ini terlalu suci untuk diterjemahkan. Kartini sedih, bagaimana mungkin ia bisa memahami isi kitab suci bila ia tak mengerti makna apa yang dibacanya.

Dari sinilah diskusi-diskusi kecil Kartini muda tentang Islam dimulai. Hingga salah satu buku fenomenal yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang adalah terinspirasi dari salah satu ayat al-Quran (minadzulumaati ila nuur—dari gelap menuju cahaya). Tidak berhenti sampai di sini, Kartini pun akhirnya menyadari bahwa apa yang diperjuangkannya, bukan karena ingin bersaing dengan para pria. Sebaliknya, pendidikan bagi perempuan yang ia maksudkan adalah sebagai upaya agar perempuan bisa mendidik anak-anaknya dengan baik. Karena anak-anak yang baik dan berkualitas hanya bisa terlahir dari ibu-ibu yang terdidik, bukan yang bodoh. Jadi pendidikan yang perjuangkan adalah dalam rangka mempersiapkan perempuan untuk menjadi sosok ibu yang berkualitas demi terciptanya generasi yang berkualitas pula. Inilah yang nggak pernah disinggung oleh mereka yang mengaku sebagai pejuang hak perempuan.

Lirik lagu di atas dan mungkin lagu lain yang sejenis, seringkali menyesatkan maknanya. Kartini nggak perlu mendaki gunung dan menyeberangi sungai untuk meraih cita-citanya. Dengan tegas, ia tolak tawaran beasiswa ke Belanda untuk sekolah. Bahkan dengan penuh harga diri, ia tulis surat untuk sahabatnya di Belanda itu bahwa ia tak hendak lagi menjadikan mereka sebagai panutan. Perjuangannya adalah di sini, di tanah Jawa Indonesia untuk mendidik perempuan-perempuan di sekitarnya.
Kartini menerima pinangan seorang laki-laki bijak yang memberinya ijin dan kesempatan untuk melanjutkan cita-citanya. Ia pun menikah.

Andai Kartini tahu
Betapa Islam yang menjadi agamanya itu sudah mempunyai konsep tentang perempuan secara ideal. Betapa semua yang ia perjuangkan sudah tercantum dengan gamblang dalam kitab suci al-Quran. Betapa yang ia rindukan tentang perempuan yang berpendidikan untuk mencipta generasi terdidik sudah pernah terterapkan. Yah…andai Kartini tahu itu.

Generasi selevel Imam Ibnu Taimiyah, Ibnu Sina, Imam Bukhari, Muslim, Abu Hanifah dan masih banyak jutaan lain ilmuwan yang mengguncang dunia dengan karya-karyanya, adalah hasil didikan dari sosok ibu yang berkualitas dan terdidik. Sosok laki-laki yang sebagian tersebut di atas adalah sosok yang sangat memuliakan perempuan. Jadi lagu era 80-an itu sangat menyesatkan ketika menyatakan bahwa anggapan lama semua kaum pria bahwa wanita itu hina.

Bila yang dimaksud anggapan lama itu adalah sebelum Islam datang, itu memang iya. Tapi bila anggapan lama itu adalah masa sebelum tahun 80-an ketika lagu itu digubah, maka itu juga tak sepenuhnya salah. Kok bisa? Perempuan jadi terperosok lagi ke lumpur kehinaan, secara resmi yaitu sejak tahun 1924. Ada apa di tahun 1924, tepatnya 3 Maret?

Runtuhnya Khilafah Islam yang menjadi satu-satunya payung dan benteng terakhir untuk menjaga kewibawaan dan harga diri kaum muslimin termasuk perempuan. Sejak saat itulah harga diri perempuan dengan sah diinjak-injak dengan dalih kesetaraan. Perempuan ditarik ke sektor publik dengan jargon emansipasi. Pabrik dan jalanan penuh sesak oleh perempuan. Padahal, rumah adalah tempat ternyaman bagi perempuan untuk beraktivitas dibandingkan dengan pabrik yang penuh dengan kebisingan itu.

Sejalan dengan cita-cita perjuangan Kartini, pendidikan bagi perempuan bukanlah untuk bersaing dan menyamai laki-laki. Tapi semata-mata sebagai fungsi awal yang sesuai dengan fitrah yaitu sebagai pendidik utama bagi anak-anaknya.

Kartono menuntut hak
Ketika ide emansipasi tak lagi murni, para Kartono eh…maksudnya laki-laki pun berusaha menuntut haknya pula. Sebagai ayah, ia menuntut haknya untuk dihormati oleh istri dan anak-anaknya. Bagaimana pun ia adalah wali bagi anak perempuannya. Ijinnya mutlak diperlukan oleh istri bila akan keluar rumah. Tapi ketika hak ini semakin memudar, istri dan anak tak lagi mau mengakuinya sebagai pemimpin rumah tangga, maka wajar bila kaum pria ini juga berhak menuntut.

Sebagai suami, keberadaannya semakin tak dihargai. Posisinya sebagai qowwam alias kepala rumah tangga dihujat. Istrinya menuntut posisi sama, tak mau kalah hanya karena perbedaan jenis kelamin. Maka, muncullah fenomena paguyuban STI alias Suami Takut Istri.

Anak-anak perempuannya tak lagi mengindahkan kata-katanya. Dengan dalih demokrasi dan kebebasan perempuan, anak-anaknya menolak menutup aurat. Bahkan sang ayah bisa diajukan ke komisi perlindungan anak dengan tuduhan pemaksaan dan pemerkosaan hak berekspresi. Hingga taraf pindah agama alias murtad, wewenang sang ayah tak lagi berguna. UU perlindungan anak akan sigap melindungi siapa pun yang berstatus anak untuk menjadi murtad. Nah, lho? Ciloko!

Belum lagi para pria yang jomblo yang semakin merana. Mereka harus mulai mencari solusi karena ternyata gerakan feminisme radikal telah sebegitu dalam menanamkan kebencian terhadap makhluk berjenis laki-laki. Dampaknya adalah perempuan ini tak mau lagi menikah dengan laki-laki dan memilih sesama perempuan sebagai gantinya alias mempraktikkan lesbian. Naudzhubillah min dzalik.

Selain penyakit AIDS, menurunnya tingkat kelahiran menjadi satu masalah tersendiri bagi dunia. Hingga tak heran bila di negara seperti Italia, ada insentif menggiurkan untuk mereka yang mau punya anak. Jadilah, bank sperma laris manis tanpa perlu menikah dengan laki-laki. Nasab sang anak jadi kacau beliau eh, balau. Laki-laki pun harus merana karena defisitnya perempuan untuk dinikahi. Seperti pernyataan seorang penulis perempuan yang karyanya melulu pada tema esek-esek bahwa ‘pernikahan adalah ibarat hukum permintaan dan penawaran. Dan saya tidak menikah untuk mengurangi penawaran di pasar.’ Duile, sebegitunya si Mbak ini cinta pada Kapitalisme (atau justru tertipu?). Sampe-sampe penikahan pun ia ibaratkan dan perlakukan ibarat orang jual beli di pasar.

Bukan masalah emansipasi
Dari gambaran di atas, masalah sesungguhnya bukanlah pada emansipasi. Bukan pula pada kesetaraan hak. Dan nggak juga pada perjuangan pemberdayaan perempuan atau pun Kartono yang menuntut karena terdzalimi oleh para Kartini.

Masalah utama terletak pada pemahaman dan kesadaran perempuan yang masih terjajah oleh ide Kapitalisme dengan anak turunnya bernama feminisme. Feminisme inilah yang nantinya punya istilah emansipasi bagi perempuan. Karena bila ini yang kita perjuangkan maka akan ada kutub lain yang bereaksi. Merekalah kaum pria itu. Meskipun tidak sedikit kaum pria ini juga menjadi antek dan aktivis feminisme sendiri. Tujuannya jelas yaitu untuk semakin melanggengkan dominasi Kapitalisme dan Sekularisme dalam kehidupan di tengah merebaknya kampanye dakwah penerapan Islam sebagai ideologi negara dalam bingkai Khilafah Islamiyah.

Inilah sebetulnya yang menjadi pangkal masalah perempuan. Ketika sudut pandang keperempuanan yang ditonjolkan maka solusi yang dihasilkan pastilah timpang. Mengapa tak coba kita lihat masalah ini sebagai masalah kemanusiaan yang utuh? Karena laki-laki pun banyak kok yang terdzalimi, banyak yang tidak mendapat haknya, tidak memperoleh apa yang seharusnya. Jadi harus ada bentuk penyelesaian masalah yang tidak memihak salah satu pihak saja.

Islam adalah jawabnya. Tak lagi ada sudut Kartini (perempuan) menuntut hak. Atau Kartono (laki-laki) yang terdepak karena si Kartini yang berulah. Islam adalah solusinya ketika kedua jenis ini didudukkan pada masing-masing fungsi yang saling melengkapi. Bukan saling mengiri hati. Perempuan dengan fitrahnya bukan berarti lemah. Itu adalah sebuah kelebihan untuk mendidik generasi yang berkualitas. Laki-laki dengan fitrahnya bukan berarti kuat dan sewenang-wenang terhadap perempuan. Itu maknanya ia berfungsi untuk melindungi, menyayangi dan menghormati perempuan.

Tak ada lagi perjuangan emansipasi. Tak ada lagi penuntutan hak perempuan atas laki-laki dan sebaliknya. Yang ada tinggal perjuangan yang hakiki ketika Islam butuh untuk diterapkan lagi sebagai ideologi negara. Yang tertinggal adalah penuntutan hak kaum muslimin yang selama ini dirampas dan dirampok. Hak untuk mengembalikan Islam dalam semua aspek kehidupan. Kartini (perempuan) dan Kartono (laki-laki) tak lagi saling iri hati. Tak lagi bersaing hak yang semuanya itu terjamin utuh dalam Islam ketika sistemnya sudah diterapkan. Mereka boleh bersaing hanya dalam satu hal, berlomba-lomba dalam kebaikan.
Ayo…ayo, para Kartini dan Kartono, mari berlomba tiket ke surgaNya. Yuuukkk!

adapted from [ria: riafariana@yahoo.com]

Minggu, 22 Maret 2009

HABIB ANIS BIN ALWI AL HABSYI

HABIB ANIS BIN ALWI AL HABSYI
( ULAMA KARISMATIK DARI SOLO)


Saya sendiri belum pernah bertemu Beliau dan Hanya sebatas mengenal nama beliau melalui sebuah Kitab Maulid bernama “Simtut Durror”, dan ternyata Habib Anis bin Alwi al Habsyi adalah cucu Pengarang Kitab Maulid Simtut Durror yang termasyhur tersebut. Menyesal juga saya belum pernah bertemu dan mencium tangan Beliau, Tapi beliau sudah dipanggil Alloh SWT tahun 2006. Habib Anis bin Alwi bin Ali bin Muhammad Al Habysi lahir di Garut Jawa Barat tanggal 5 may 1928 . Habib Alwi Al habsyi membawa keluarganya untuk menetap di Solo dan mendidik putra- putri beliau dengan sungguh-sungguh agar kelak bisa meneruskan Syiar dakwah yang telah dirintis oleh pendahulu mereka. Begitupun dengan Habib Anis al habsyi pendidikannya di mulai di deket rumahnya di Madrasah Ar Ribathoh Solo.



Sejak Ayahnya meninggal Otomatis Habib Anis meneruskan perjuangan dakwahnya dalam mensyiarkan agama alloh. Walaupun usianya relatif muda namun kapasitas keilmuan yang dimiliki tidak diragukan berkat gemblengan dan disiplin yang tinggi yang telah diajarkan ayahnya.

Habib Anis Al Habsyi merupakan Sosok ulama yang tawadhu yang menganggap bahwa dirinya tidak berarti apa-apa , Walaupun berasal dari keluarga Ahli Bait Rosululloh SAW namun karekter beliau seperti dari keluarga Jawa. Tata krama yang layaknya dimiliki orang jawa adalah Kromo Inggil , memperlakukan siapapun yang datang kepadanya dengan ramah layaknya saudara sendiri. Senyumnya yang khas mampu meluluhkan hati siapapun yang berjumpa dengannya.

Jika beliau membaca “Simtut Durror” serasa Rosululloh saw hadir di Majlis tersebut, suaranya yang khas mendayu menyentuh kalbu kalbu yang merindukan kekasihnya Sayyidul Wujud Muhammad SAW , kadang beliau meneteskan air mata . Tausiyah yang selalu disampaikan selalu mengajak Jamaah untuk selalu mendekatkan diri kepada Alloh dan menteladani akhlak mulia Rosululloh saw. Beliau pernah mengatakan kepada murid-muridnya “Jika kalian ingin mengenalku lebih dekat ,

pertama lihatlah rumahku dan masjid dekat rumahku, disitulah aku selalu mendekatkan diri kepada Alloh.

kedua Jawiyah di Majlis itu aku mendidik Murid muridku agar memilki akhlak seperti Rosululloh saw.

ketiga kusediakan Ribuan kitab dalam perpustakaan agar kalian dapat menggali ilmu yang sebanyak banyaknya.

keempat aku bangun bangunan megah dan pertokoan agar kalian sebagai umat Islam bekerja.



Habib Anis sepanjang hidupnya mengabdikan dirinya untuk mengajar di majlis majlis ilmu, Muridnya tersebar di berbagai plosok tanah air. Sifatnya yang istiqomah menempatkan beliau pada Maqom yang tinggi dikalangan Para ulama, bahkan beliau di sebut sebut sebagai “Paku Bumi” di Indonesia bagian tengah. Jika di barat ada Al walid Habib Abdurrahman bin ahmad assegaf ( bukit duri Jakarta) dan di Timur ada Habib Syech bin Muhammad bin Husein Al idrus (surabaya) dan di Tengah adalah beliau Habib Anis bin Alwi Al habsyi. Karunia alloh yang telah diberikan kepada Hamba-hambanya yang selalu istiqomah dalam mensyiarkan agama Alloh. Keteladan dan akhlak yang tingi tercermin dalam prilaku Habib Anis Al Habsyi. Kalau kita berjalan jalan di kota Solo dari pegawai sampai tukang becak mengenal sosok beliau yang sederhana dan ramah , Habib Anis tak segan segan Naik becak untuk mengunjungi suatu tempat. Maka tak heran sosok beliau begitu berkenan di hati Warga Solo . Tutur katanya yang santun dan Senyum yang Manis selalu beliau tebarkan kepada setiap orang yang berkunjung kerumahnya.

Hari jumat tagl 3 november 2006 , Habib Anis mengalami serangan jantung untuk yang keduakalinya. Saat itu juga Habib Anis di bawa kerumah sakit DR Oen dan dirawat disana. Semakin hari kondisi makin menurun dan beberapa kali pingsang hingga akhirnya Hari senin tgl 06 November 2006 oukul 12.55 Habib Anis berpulang kerahmatulloh. Berita Wafatnya Habis Anis menyebar begitu cepat , maka ribuan orang berdatangan dari berbagai daerah , linangan air mata dan gema takbir Alloh huakbar….. dari murid murid beliau mengiringi kerpergian beliau ketempat peristirahatan terakhir. Beliau dimaqomkan di sebelah timur Maqom Ayahandanya Habib Alwi al habsyi di komplek masjid al riyadh Solo. Semoga alloh tempatkan beliau dalam derajat yang Mulia amiinn

MANAQIB IMAM AL-BUSHIRI

IMAM AL BUSHIRI
(SHOHIBUL BURDAH)

Kasidah Burdah adalah mutiara syair kecintaan kepada Rasulullah. Diciptakan oleh Imam Busyiri pada abad 7 Hijrah dan di baca dalam berbagai acara. Puisi-puisi ini diyakini dapat memberi kesembuhan jiwa dan raga

Al- Bushiri yang bernama lengkap Sarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah as Shanhaji al Bushiri, adalah seorang sufi besar, pengikut Thariqat Syadziliyah, dan menjadi salah satu murid Sulthonul Auliya Syeikh Abul Hasan asy-Syadzily, ra. Ia lahir tahun 1212 M di Maroko. Ia berguru dengan beberapa ulama tasawuf seperti Abu Hayyan, Abu Fath bin Ya’mari dan al ‘Iz bin Jama’ah al Kanani al Hamawi, dan belajar Thariqat Sufi pada Syeikh Abul Hasan asy-Syadzily. Sejak masa kanak, Bushiri dikenal sebagai orang yang wara’ (takut dosa). Pernah suatu ketika ia akan diangkat menjadi pegawai pemerintahan kerajaan Mesir, akan tetapi melihat perilaku pegawai kerajaan membuatnya menolak.

Yang paling menarik adalah kisah pembuatan kasidah Burdah. Menurut al Busyiri bahwa karyanya ini muncul ketika ia tengah sakit lumpuh. Penyakit itu dikenal dengan nama angin merah. Di tengah pembaringannya, Busyiri menulis kasidah Burdah dan membacanya beberapa kali hingga tertidur. Dalam tidur tersebut, ia bermimpi ketemu Rasulullah SAW. Kemudian Nabi Muhammad mengusap mukanya. Setelah itu Busyiripun terbangun dan ia bisa berjalan.

Bahkan dalam sebuah riwayat diceritakan, ketika dalam mimpi al Busyiri terlibat pembicaraan dengan Rasulullah SAW. Busyiripun membacakan karyanya pada bait ke 51 wamabalaghul ilmi an nahu masyarun tidak bisa meneruskan kata-katanya. Rasulullahpun menyuruhnya meneruskan. “Saya tak mampu lagi, jawab Busyiri. Kemudian Rasulullah menyempurnakan bait itu dengan kalimat, “wa annahu khayri khalqillahi kulllihimi.”

Kasidah Busyiri memang bukan sekedar karya. Ia dibaca karena keindahan keindahan kata-katanya. Menurut DR. De Sacy seorang ahli bahasa Arab di Universitas Sorborne memujinya sebagai karya puisi terbaik sepanjang masa.

Beberapa nama ulama besar terutama pada bidang tasawwuf tercatat sebagai guru Al Bushiri. Antara lain Imam Abu Hayyan, Abul Fath bin Sayyidunnas Al Ya’mari Al Asybali Al Misri pengarang,kitab ‘Uyunul Atsar fi Sirah Sayyidil Basyar, Al ‘Iz bin Jama’ah Al Kanani Al Hamawi salah seorang hakim di Mesir, dan banyak lagi kalangan ulama besar Mesir yang memberikan ilmu pengetahuannya kepada AJ Bushiri.

Burdah memang tak hanya mantera. la, dibaca karena keindahan kata-katanya meskipun dipenuhi doa doa yang bisa memberi manfaat pada jiwa.

Burdah memang tak hanya mantera. la, dibaca karena keindahan kata-katanya meskipun dipenuhi doa doa yang bisa memberi manfaat pada jiwa. Karena itu tak heran jika banyak ulama membenkan catatan khusus tentang burdah, baik dalam bentuk syarah (komentar) atau hasiyah (catatan kaki atau catatan pinggir). Menurut Darul Faqih sangat banyak karya syarh atas Burdah yang tak ketahuan lagi siapa pengarangnya. Hanya yang bisa dicatat dan diketahui namanya karena menjadi bahan kajian di beberapa universitas adalah karya Imam Jalaluddin Al Mahalli Asy Syagi yang wafat tahun 864 Hijriyah, imam Zakaria Al Anshari yang wafat tahun 926 Hijriyah, Imam Al Qasthalani yang wafat tahun 923 H, Syaikh Al Malla Ali Qari Al Hanafi yang wafat tahun 1014 H, dan Syaikh Ibrahim Al Bajuri yang wafat tahun 1276 H. Dr. Zaki Mubarak ahli sastra Arab dan Mesir dalam skripsinya Al Madaihun Nabawiyah menyebutkan bahwa gaya puisi Al Burdah banyak mempengaruhi karya karya kemudian. Al Bushiri sebenamya tak hanya, terkenal dengan karya Burdahnya saja. la juga dikenal sebagai seorang ahli fikih dan ilmu kalam. Namun nama Burdah telah menenggelamkannya untuk dikenal sebagai seorang sufi besar yang memiliki banyak murid

MANAQIB RINGKAS IMAM MADZHAB EMPAT

di bawah ini, kami tuliskan sejarah ringkas (manaqib) dari para imam fiqih 4 madzhab

1. IMAM ABU HANIFAH

Nama lengkap beliau adalah Abu Hanifah Nu’man ibn Tsabit At-taimi, beliaun lahir di Kuffah Irak tahun 80 H atau sekitar tahun 699 M. Dalam zamannya beliau terkenal sebagai seorang sarjana dan Maha guru yang luas ilmu pengetahuannya terutama dibidang hukum. Beliau hidup dalam dua Dinasti , Bani Ummayyah dan Bani Abbasyiyyah. Tapi sama sekali tidak turut aktif dalam gerakan politik . Gubernur Irak Yazid ibn Hubairrah, zaman khalifah Marwan ibn Muhammad dari Dinasti Ummayyah , akan mengangkat Abu Hanifah menjadi Hakim tetapi Imam Abu Hanifah menolak dengan Tegas , karena itu Imam Abu Hanifah ditahan dan disiksa di penjara. Hal yang sama pula ketika kerajaan Abbasyiyyah telah berdiri , khalifah Mansyur memanggil Abu Hanifah ke Bagdad dan kemidian ditawari posisi sebagai Hakim Kerajaan , beliaupun menolak karena itu pula beliau di tahan dan disiksa.

Abu Hanifah telah mengabdikan hidupnya dalam studi hukum Islam dan memberikan kuliah-kuliah kepada para Mahasiswanya. Beliau meninggalkan sebuah kitab yang dinamai “AL FIQH AL AKBAR” karya beliau dapat dihargai dengan sesungguhnya karena beliaulah orang pertama yang mencoba mengkodifisir hukum Islam dengan mamakai metode qiyas sebagai dasarnya, dalam menetapkan hukum-hukum Imam Abu Hanifah menggunakan dasar-dasar : Alqur’an, sunnah, pendapat Sahabat, qiyas, istihsan dan tradisi masyarakat (U’rfu). Beliau telah dianggap sebagai pembangun suatu madzhab dimana mempunyai pengikut -pengikut yang tersebar di dunia utamanya di Turki, Pakistan, Afganistan, Indo China , Soviet dan Rusia.

Pada Bulan Rajab tahun 150 H atau sekitar tahun 767 M Beliau berpulang kerahmatulloh dalam usia 68 tahun didalam penjara.

2.IMAM MALIK IBN ANAS

Nama lengkap beliau Iman Abu Abdillah Malik bin Anas Bin Abu Amir bin amr bin haris bin Ghaimal bin Khutsail, lahir di Madinah tahun 95 H atau sekitar tahun 713 M dan menuntut ilmu di kota Madinah, kemudian menjadi Ulama besar yang berpengaruh luas . Imam Malik memilki dua keistimewaan yang melebihi para ulama dalam zamannya, yaitu Spesialis dalam ilmu Hadist dan memangku jabatan sebagai Mufti karyanya yang bernama Al MUWATHTHA’ Yaitu kumpulan hadist hadist yang disusunnya. Disamping itu beliau memberi fatwa dan mengajarkan Hukum -hukum berdasar hasil ijtihadnya sendiri.

Banyak Mahasiswa bahkan Ulama-ulama yang datang belajar kepadanya termasuk Imam Syafi’i. Dalam menetapkan Hukum beliaupun menggunakan Qiyas walaupun dalam arti yang lebih sedikit daripada Imam Abu Hanifah. Sebagaimana Imam Abu Hanifah beliau juga telah membentuk Madzhab Fiqh .Pengikut-pengikutnya sudah barang tentu banyak dikotanya sendiri di Madinah, sekarang pengikutnya tersebar di Maroko, AlJazair, Tunis, Sudan, Kuwait dan Bahrain.

Imam Malik Wafat tahun 179 H atau sekitar tahun 789 M.

3. IMAM ASY SYAFI’I

Nama lengkapnyaImam abu Abdillah bin Muhammad ibn Idris Asy-Syafi’i , beliau dilahirkan di Gaza Palestina pada tahun 150 H atau sekitar tahun 757 M . Beliau punya hubungan silsilah kefamilian dengan Rosululloh SAW dari keturunan Muthollib ibn Abdil Manaf, dilahirkan sebagai seorang yatim sejak kecil tumbuh dan menuntut ilmu di Mekkah bersamanya dengan ibunya yang hidup dalam keadaan miskin dan kekurangan. Sejak usia muda Imam Syafi’i telah hapal Alqur;an 30 juz , terkenal sebagai seorang yang jenius yang memiliki kecerdasan yang luar biasa. Pernah beliau belajar tentang Hadist pada Imam Malik di Madinah dan dalam waktu yang singkat Kitab Imam Malik yang bernama Al Muwaththa itu terhapal semua.

Terhadap semua pengetahuan yang berhubungan dengan alqur’an , sunnah, ucapan-ucapan para sahabat nabi, sejarah serta pendapat-pendapat yang berlawanan daripada para ahli dan sebagainya, diaduknya dengan sempurna dengan pengatahuannya yang mendalam tentang bahasa Arab baik dalam Lughatnya, Nahwunya ,Shorofnya serta syairnya . Imam Ahmad ibn Hambal dengan segenap kejujurannya mengungkapkan bahwa “Imam Syafi’i bagi ummat ini ibarat matahari bagi bumi dan laksana kesehatan bagi tubuh, siapa yang akan dapat menggantikannya?”di forom-forum diskusi beliau termasuk seorang yang ulet dengan argumentasi-argumentasinya yang sulit dipatahkan.

Imam Syafi’i termasuk orang yang beruntung hidupnya dalam bidang ilmiah. Beliau muncul setelah tersusunnya kodifikasi Syari’ah menurut sistem-sistem yang teratur dalam bentuk yang rapih. Dengan demikian beliau mudah mempelajari buah-buah pikiran dari ulama-ulama terdahulu dan belajar langsung dari mahaguru-mahaguru terkemuka. Karena itu belaiu akhirnya dapat mencapai suatu prestasi yang tinggi dalam bidang ilmiah, beliau mampu merumuskan suatu metode yang mempersatukan qur’an, Sunnah, Ijma dan qiyas , Berbeda dengan Imam Abu Hanifah sebagai seorang ahli metode berfikir dan lebih menyetujui suatu metode spekulasi yang hipotesis, maka Imam Asy Syafi’i tidak menyetujui metode itu, namun demikian beliau yang luas pandangan , ilmu dan pengalaman , beliau juga menguasai Fiqh sarjana-sarjana dan ulama-ulama Hijaz dan Fiqh sarjana-sarjana Irak.Sebab itu ketika Imam Asy Syafi’i muncul di bagdad maka ajaran-ajarannnya mendapat pengikut.

Imam Asy Syafi’i mempunyai dua qaul(pendapat). Pertama ketika beliau bermukim di Bagdad namanya qaul qodiem (pendapat terdahulu), Kedua ketika Beliau tinggal di Mesir namanya Qaul Jadied (pendapat baru) . Tidak terhitung banyaknya ulama yang datang belajar kepada beliau . Selama hayatnya beliau telah menulis sejumlah 113 kitab -kitab tentang tafsier, fiqh sastra dan lain-lainnya. Antara lain kitab paling masyhur adalah kitab “AL UM”. Para pengikut madzab Imam Syafi’i banyak tersebar di Indonesia, Hadro maut Yaman, malaysia libanon, mesir.

Imam Syafi’i wafat pada bulan rajab tahun 204 H atau sekitar tahun 820 M.

4. IMAM AHMAD IBN HAMBAL

Beliau lahir di Bagdag Irak pada bulan Robilul awal tahun 164 H atau sekitar tahun 780 M, beliau terkenal ahli dalam hadist, fiqh dan teologi murid dari Imam Asy Syafi’i. Sewaktu Imam Syafi’i meninggalkan Bagdad beliau berkata ” Saya tidak meninggalkan diBagdad orang yang lebih a’lim dan lebih cerdas selain dari Ahmad ibn Hambal”. Pertama kali beliau belajar pada Imam Syafi’i dan setelah cukup ilmu dan pengatahuannya lalau beliau berijtihad dan merintis suatu madzhab tersendiri yang kita kenal dengan Mazdhab Hambali.

Seperti iman-imam Mazdhab yang terdahulu banyak pula ulama-ulama besar yang datang belajar padanya. Beliau terkenal sebagai seorang yang teguh pendirian dan keras mempetahankannya.Watak itu yang menyebabkan khalifah Al makmum menyiksa dan menghukumnya yaitu dalam hal perbedaan pendapat tentang qadim atau barunya al qur’an . Menurut Al makmun sebagaimana pendapat Mu’tazilah yaitu Mazdhab resmi yang dianut oleh kerajaan Khalifah Al makmun waktu itu yang berpendapat bahwa Al QURAN itu makhluk sebab itu adalah baharu (hudust). Pendapat ini dipaksakan oleh Khlifah Al makmun tetapi Imam Ahmad ibn Hambal secara tegas dan konsekwen menolak pendapat tersebut.

Imam Ahmad ibn Hambal banyak menulis buku-buku yang berharga , Nampaknya diantara sekian banyak ilmu pengetahuannya, beliau lebih menonjol dalam hadist . Beliau menyusun sebuah Musnad yang didalamnya terkumpul hadist-hadist yang tidak ditemukan oleh Ulama lainnya. Kitab Musnad Tersebut berisi 40.000 buah hadist .