Tampilkan postingan dengan label Teknologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknologi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Mei 2013

Pembelajaran Teks dalam Kurikulum 2013

Dari sudut pandang teori semiotika sosial, teks merupakan suatu proses sosial yang berorientasi pada suatu tujuan sosial. Tujuan sosial yang hendak dicapai memiliki ranah-ranah pemunculan yang disebut konteks situasi. Sementara itu, proses sosial akan berlangsung jika terdapat sarana komunikasi yang disebut bahasa. Dengan kata lain, proses sosial akan merefleksikan diri menjadi bahasa dalam konteks situasi tertentu sesuai tujuan proses sosial yang hendak dicapai. Bahasa yang muncul berdasarkan konteks situasi inilah yang menghasilkan register atau bahasa sebagai teks.
Oleh karena konteks situasi pemakaian bahasa itu sangat beragam, maka akan beragam pula jenis teks. Selanjutnya, proses sosial yang berlangsung selalu memiliki muatan nilai-nilai atau norma-norma kultural. Nilai-nilai atau norma-norma kultural yang direalisasikan dalam suatu proses sosial itulah yang disebut genre. Satu genre dapat muncul dalam berbagai jenis teks. Misalnya genre cerita, di antaranya, dapat muncul dalam bentuk teks: cerita ulang, anekdot, eksemplum, dan naratif, dengan struktur teks (struktur berpikir) yang berbeda; tidak berstruktur tunggal seperti dipahami dalam kurikulum bahasa Indonesia pada KTSP, yang semua jenis teks berstruktur: pembuka, isi, dan penutup (periksa KD BI, kelas XI, semester 2, butir: 12.2).

Pada jenis teks cerita ulang (recount) unsur utamanya berupa peristiwa yang di dalamnya menyangkut siapa, mengalami apa, pada waktu lampau, dengan struktur: orientasi (pengenalan pelaku, tempat, dan waktu) diikuti rekaman kejadian; pada teks anekdot, peristiwa yang terdapat pada teks cerita ulang harus menimbulkan krisis. Partisipan yang terlibat bereaksi pada peristiwa itu, sehingga teksnya berstruktur: orientasi, krisis, lalu diikuti reaksi. Berbeda dengan eksemplum, pada jenis teks ini peristiwa yang terdapat pada teks cerita ulang maupun anekdot memunculkan insiden, dan dari insiden itu muncul interpretasi (perenungan). Dengan demikian, teks jenis ini berstruktur: orientasi, insiden, lalu diikuti interpretasi. Adapun jenis teks naratif, peristiwa yang diceritakan harus memunculkan konflik antartokoh atau konflik pelaku dengan dirinya sendiri atau dengan lingkungannya. Oleh karena itu, teks naratif berstruktur: orientasi, komplikasi, dan resolusi. Setiap struktur teks dalam masing-masing jenis teks memiliki perangkat-perangkat kebahasaan yang digunakan untuk mengekspresikan pikiran yang dikehendaki dan secara terpadu diorientasikan pada pencapaian tujuan sosial teks secara menyeluruh. Untuk itu, pembicaraan ihwal satuan leksikal, gramatikal (tata bahasa) dalam pembelajaran berbasis teks harus berupa pembicaraan tentang satuan kebahasaan yang berhubungan dengan struktur berpikir yang menjadi tujuan sosial teks, bukan dalam bentuk serpihan-serpihan.

Dalam teori genre, terdapat dua konteks yang melatarbelakangi kehadiran suatu teks, yaitu konteks budaya (yang di dalamnya ada nilai dan norma kultural yang akan mewejawantahkan diri melalui proses sosial) dan konteks situasi yang di dalamnya terdapat: pesan yang hendak dikomunikasikan (medan/field), pelaku yang dituju (pelibat/tenor), dan format bahasa yang digunakan untuk menyampaikan pesan itu (sarana/mode). Hadirnya konteks budaya dalam teks dapat ditunjukkan, misalnya pada teks laporan dan teks deskripsi. Kedua teks ini sama-sama dikelompokkan ke dalam genre faktual, tetapi memiliki struktur teks dan nilai/norma yang melatarbelakangi berbeda. Teks laporan berstruktur: klasifikasi umum lalu diikuti deskripsi bagian, sedangkan teks deskripsi bersruktur: deskripsi umum diikuti deskripsi bagian-bagian. Satuan leksikogramatikal yang terdapat pada teks laporan harus mendukung nilai-nilai objektif, faktual bukan opini serta bersifat generik, sedangkan pada teks deskripsi satuan leksikogramatika yang merupakan opini ataupun tanggapan yang bersifat subjektif masih dapat dimunculkan dan lebih bersifat spesifik. Itu sebabnya, dalam pembelajaran bahasa berbasis teks tidak boleh dilihat bahasa secara parsial, melainkan secara utuh. Pembelajaran bahasa berbasis teks bukanlah belajar keping-keping atau serpih-serpih tentang bahasa yang cenderung bertujuan menghafal.

Pilihan pada pembelajaran bahasa berbasis teks membawa implikasi metodologis pada pembelajaran yang bertahap. Mulai dari kegiatan guru membangun konteks, dilanjutkan dengan kegiatan pemodelan, membangun teks secara bersama-sama, sampai pada membangun teks secara mandiri. Hal ini dilakukan karena teks merupakan satuan bahasa yang mengandung pikiran dengan struktur yang lengkap. Guru harus benar-benar meyakini bahwa pada akhirnya siswa mampu menyajikan teks secara mandiri.

Kehadiran konteks budaya, selain konteks situasi yang melatarbelakangi lahirnya suatu teks menunjukkan adanya kesejajaran antara pembelajaran berbasis teks (konsep bahasa) dengan filosofi pengembangan Kurikulum 2013, khusunya yang terkait dengan rumusan kebutuhan kompetensi peserta didik dalam bentuk kompetensi inti (KI) atas domein sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Kompetensi inti yang menyangkut sikap, baik sikap spiritual (KI: A) maupun sikap sosial (KI: B) terkait dengan konsep kebahasaan tentang nilai, norma kultural, serta konteks sosial yang menjadi dasar terbentuknya register (bahasa sebagai teks); kompetensi inti yang menyangkut pengetahuan (KI: C) dan keterampilan (KI: D) terkait langsung dengan konsep kebahasaan yang berhubungan dengan proses sosial (genre) dan register (bahasa sebagai teks). Selain itu, antarkompetensi dasar (KD) yang dikelompokkan berdasarkan KI tersebut memiliki hubungan pendasaran satu sama lain. Ketercapaian KD dalam kelompok KI: A dan B ditentukan oleh ketercapaian KD dalam kelompok KI: C dan D. KD dalam kelompok KI: A dan B bukan untuk diajarkan melainkan implikasi dari ketercapaian KD dalam kelompok KI: C dan D. Oleh karena itu pula, mengkritisi keberadaan KD-KD dalam Kurikulum 2013, termasuk tentang Kurikulum Bahasa Indonesia secara lepas, berdiri sendiri mengakibatkan munculnya tanggapan yang menyesatkan. Jika rumusan KD tentang sikap dihubungkan dengan KD tentang pengetahuan dan keterampilan, tentu pernyataannya tentang tidak logisnya rumusan KD, dalam Kurikulum 2013, seperti dinyatakan Acep (Kompas, 18 Maret 2013), tidak akan muncul.

Begitu pula jika, KD tentang pengetahuan yang dikritisi itu dihubungkan dengan KD tentang keterampilan, maka pernyataan bahwa Kurikulum 2013 hanya akan menghasilkan siswa penghafal, seperti dinyatakan Bambang (Kompas, 20 Maret 2013) tidak akan lahir. Selanjutnya, jika dibandingkan antara KD yang dirumuskan dalam Kurikulum 2013 dengan KD dalam KTSP, maka terdapat beberapa persamaan dan perbedaan yang mendasar. Persamaannya, kedua kurikulum itu menampilkan teks sebagai butir-butir KD. Sebagai contoh, dalam KTSP (2006) untuk kelas I, dan kelas IV semester 1, ditemukan KD 2.3: “Mendeskripsikan benda-benda di sekitar dan fungsi anggota tubuh dengan kalimat sederhana” dan KD 4.2: “Menulis petunjuk untuk melakukan sesuatu atau penjelasan tentang cara membuat sesuatu”. Bandingkan rumusan KD itu dengan KD dalam Kurikulum 2013 kelas 1 SD pada aspek pengetahuan: (a) KD3.1:“Mengenal Teks deskriptif tentang anggota tubuh dan panca indera …”; (b) KD 3.2: “Mengenal teks petunjuk/arahan tentang perawatan tubuh serta pemeliharaan kesehatan dan …”. Baik pada KTSP maupun pada Kurikulum 2013 teks disajikan sebagai butir-butir yang dicantumkan sebagai KD, tidak seperti yang dinyatakan Bambang. Hanya saja, pada Kurikulum 2013 dibedakan antara KD yang berhubungan dengan aspek pengetahuan, kerampilan, dan sikap. Adapun perbedaannya, KD pada KTSP masih banyak yang disusun berdasarkan pandangan linguistik struktural, misalnya: rumusan KD kelas I semester 1 berikut. KD 3.1: “Membaca nyaring suku kata, kata dengan lafal yang tepat” dan KD 3.2: “Membaca nyaring kalimat sederhana dengan lafal dan intonasi yang tepat”. Kedua rumusan KD ini mencerminkan pembelajaran kompetensi berbahasa yang bersifat struktural, dari kemampuan melafalkan unsur bahasa yang terkecil: suku kata, meningkat ke pelafalan kata, dan diteruskan ke pelafalan kalimat, bahkan sampai ke teks (cermati KD kelas II, semester 2, butir 7.1: “Membaca nyaring teks (15-20 kalimat) dengan memperhatikan lafal dan intonasi yang tepat”. Dengan mencermati KD-KD-nya, maka penyusunan kurikulum bahasa Indonesia pada KTSP dapat dikatakan dilakukan dengan setengah berlandaskan pendekatan struktural dan setengahnya lagi berlandaskan pada pendekatan teks. Bahkan masih terdapat pencampuradukan antara konsep teks dengan paragrap. Cermati KD Kelas X, semester 1: 4.2: “Menulis hasil observasi dalam bentuk paragrap deskriptif”. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kurikulum bahasa Indonesia sejak Kurikulum 1994 sampai KTSP yang didengung-dengungkan berbasis kontekstual adalah tidak sepenuhnya benar. Berbeda jauh dengan Kurikulum 2013 yang sepenuhnya berbasisi teks. ***

Sabtu, 20 April 2013

teori tentang peran GURU dalam pembelajaran


a. Guru sebagai Pendidikan
Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan dan identifikasi bagi para peserta didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu guru harus memiliki standar kualitas pribadi tertentu, yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri dan disiplin.
Berkaitan dengan tanggung jawab guru harus mengetahui serta memahami nilai, norma moral dan sosial serta berusaha berperilaku dan berbuat sesuai dengan norma tersebut.
b. Guru Sebagai Pengajar
Berkembangnya teknologi, khususnya teknologi informasi yang begitu pesat berkembangnya, belum mampu menggantikan peran dan fungsi guru, hanya sedikit bergeser atau mengubah fungsinya itupun terjadi di kota-kota besar saja, ketika para peserta didik memiliki berbagai sumber belajar dirumah.
Perkembangan teknologi mengubah peran guru dari pengajar yang bertugas menyampaikan materi pembelajaran menjadi fasilitator yang memberikan kemudahan belajar. Hal ini dimungkinkan karena perkembangan teknologi menimbulkan banyak buku dengan harga relatif murah. Di samping itu, peserta didik dapat belajar dari berbagai sumber seperti radio, televisi, berbagai film pembelajaran bahkan program internet atau electronic learning (e-learning)
c. Guru Sebagai Pembimbing
Guru dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan (journey), yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya bertangung jawab atas kelancaran perjalanannya itu. Dalam hal ini, istilah perjalanan tidak hanya menyangkut fisik tetapi juga perjalanan mental, emosional, kreatifitas, moral dan spiritual yang lebih dalam dan kompleks. Sebagai pembimbing, guru harus merumuskan tujuan secara jelas, menetapkan waktu perjalanan, menetapkan jalan yang harus ditempuh, menggunakan petunjuk perjalanan, serta menilai kelancaran sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan peserta didik. Semua itu dilakukan berdasarkan kerjasama yang baik dengan peserta didik, tetapi guru memberikan pengaruh utama dalam setiap aspek perjalanan. Sebagai pembimbing, guru memiliki berbagai hak dan tanggung jawab dalam setiap perjalanan yang direncanakan dan dilaksanakan.
Istilah perjalanan merupakan proses suatu proses belajar, baik dalam kelas maupun diluar kelas yang mencakup seluruh kehidupan. Analogi dari perjalanan itu sendiri merupakan pengembangan setiap aspek yang terlibat dalam proses pembelajaran. Setiap perjalanan tentu mempunyai tujuan, kecuali orang yang berjalan secara kebetulan. Keinginan, kebutuhan dan bahkan naluri manusia menuntut adanya suatu tujuan. Suatu rencana dibuat, perjalanan dilaksanakan dari waktu ke waktu terdapatlah saat berhenti untuk melihat kebelakang untuk mengukur sifat, arti dan efektivitas perjalanan sampai tempat berhenti tadi.
Berdasarkan ilustrasi di atas, dapat disimpulkan bahwa sebagai pembimbing perjalanan, guru memerlukan kompetensi yang tinggi untuk melaksanakn empat hal berikut:
Pertama, guru harus merencanakan tujuan dan mengidentifikasi kompetensi yang hendak dicapai. Tugas guru adalah menetapkan apa yang telah dimiliki oleh peserta didik sehubungan dengan latar belakang dan kemampuannya serta komptensi apa yang mereka perlukan untuk dipelajari dalam mencapai tujuan.
Kedua, guru harus melihat keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran dan yang paling penting bahwa peserta didik melaksanakan kegiatan belajar itu tidak hanya secara jasmaniah, tetapi harus terlibat secara psikologis.
Ketiga, guru harus memaknai kegiatan belajar. Hal ini mungkin tugas yang paling sukat tetapi penting karena guru harus memberikan kehidupan dan arti terhadap kegiatan belajar.
Kempat, guru harus melaksanakan penilaian.
d. Guru Sebagai Pelatih
Proses pendidikan dan pembelajaran memerlukan latihan keterampilan, baik intelektual maupun motorik, sehingga menuntut guru untuk bertindak sebagai pelatih. Hal ini lebih ditekankan lagi dalam kurikulum 2004 yang berbasis komptensi, karena tanpa latihan peserta didik tidak akan mampu menunjukan pennguasaan komptensi dasar, dan tidak akan mahir dalam berbagai keterampilan yang dikembangkan sebagai materi standar. Oleh karena itu guru harus berperan sebagai pelatih, yang bertugas melatih perserta didik dalam pembentukan kompetensi dasar, sesuai dengan potensi masing-masing.
e. Guru Sebagai Penasehat
Guru adalah penasehat bagi peserta didik, bahkan bagi orang tua, meskipun mereka tidak memiliki latihan khusus sebagai penasehat dan dalam beberapa hal tidak dapat berharap untuk menasehati orang. Banyak guru cenderung menganggap konseling terlalu banyak membicarakan klien, seakan-akan berusaha mengatur kehidupan orang, dan oleh karenanya mereka tidak senang melaksanakan fungsi ini.
Agar guru dapat menyadari perannya sebagai orang kepercayaan dan penasehat secara lebih mendalam, ia harus memahami psikologi keperibadian dan ilmu kesehatan mental.
f. Guru Sebagai Pembaharu (Innovator)
Guru menerjemahkan pengalaman yang telah lalu kedalam kehidupan yang bermakna bagi peserta didik. Dalam hal ini, terdapat jurang yang dalam dan luas antara generasi yang satu dengan yang lain, demimikian halnya dengan pengalaman orang tua memiliki arti lebih banyak dari nenek kita.
Unsur yang hebat dari manusia adalah kemampuannya untuk belajar dari kemampuan orang lain. Kita menyadari bahwa manusia normal dapat menerima pendidikan, dengan memiliki kesempatan yang cukup, ia dapat mengambil bagian dari pengalaman yang bertahun-tahun, proses belajar serta prestasi manusia dan dalam jangka waktu tertentu. Manusia tidak hanya terbatas pada pengalaman pribadinya, melainkan dapat mewujudkan pengalaman dari semua waktu dan dari setiap kebudayaan. Dengan demikian, ia dapat berdiri bebas pada saat terbaiknya, dan guru yang tidak sensitif adalah buta akan arti kompetensi profesional. Kemampuan manusia yang uni ini harus dikembangkan sehingga memberikan arti penting terhadap kinerja guru.
Prinsip modernisasi tidak hanya diwujudkan dalam bentuk buku-buku sebagai alat utama pendidikan melainkan dalam semua rekaman tentang pengalaman manusia. Tugas guru adalah menerjemahkan kebijakan dan penglaman yang berharga ini kedalam istilah atau dalam bahasa modern yang akan diterima oleh peserta didik.
g. Guru Sebagai Model dan Teladan
Guru merupakan model atau teladan bagi para peserta didik dan semua orang yang mengnggap dia sebagai guru. Sebagai teladan, tentu saja pribadi dan apa yang dilakukan guru akan mendapat sorotan peserta didik serta orang disekitar lingkungannya yang mengganggap atau mengakuinya sebagai guru. Sehubungan itu, beberapa hal dibawah ini perlu mendapat perhatian para guru.
1. Sikap dasar: postur psikologis yang akan nampak dalam masalah-masalah penting, sehingga keberhasilan, kegagalan, pembelajaran, kebenaran hubungan antar manusia, agama, pekerjaan dan diri
2. Bicara dan gaya bicara: penggunaan bahasa sebagai alat berpikir.
3. Kebiasaan bekerja: gaya yang dipakai oleh seseorang dalam bekerja yang ikut mewarnai kehidupannya.
4. Sikap melalui pengalaman dan kesalahan: pengertian hubungan antara luasnya pengalaman dan nilai serta tidak mungkinnya mengelak dari kesalahan.
5. Pakaian: merupakan perlengkapan pribadi yang amat penting dan menampakan ekspresi seluruh kepribadian.
6. Hubungan kemanusian: diwujudkan dalam semua pergaulan manusia, intelektual, moral, keindahan, terutama bagiamana berperilaku.
7. Proses berpikir: cara yang digunakan oleh pikiran dalam mengahadapi dan memecahkan masalah.
8. Perilaku neurotis: suatu pertahanan yang dipergunakan untuk melindungi diri dan bisa juga untuk menyakiti orang lain.
9. Selera: pilihan yang secara jelas merefleksikan nilai-nilai yang dimiliki oleh pribadi yang bersangkutan.
10. Keputusan:keterampilan rasional dan intuitif yang dipergunakan untuk menilai situasi.
11. Kesehatan: kualitas tubuh, dan semangat yang merefleksikan kekuatan, perspektif, sikap tenang, antusias dan semangat hidup.
12. Gaya hidup secara umum: apa yang dipercaya oleh seseorang tentang setiap aspek kehidupan dan tindakan untuk mewujudkan kepercayaan itu.
h. Guru Sebagai Pribadi
Sebagai pribadi yang hidup ditengah-tengah masyarakat, guru perlu juga memiliki kemampuan untuk berbaur dengan masyarakat melalui kemampuannya, antara lain melalui kegiatan olah raga, keagamaan dan kepemudaan. Keluwesan bergaul harus dimiliki, sebab kalau tidak bergaulannya akan menjadi kaku dan berakibat yang bersangkutan kurang bias diterima oleh masyarakat.
Jika dimasyarakat, guru diamati dan nilai oleh masyarakat, maka disekolah diamati dan nilai oleh peserta didik dan oleh teman sejawat serta atasannya. Dalam kesempatan tertentu sejumlah peserta didik membicarakan kebaikan gurunya, tetapi dalam situasi lain mereka membicarakan kekurangannya. Ada baiknya jika guru sering minta pendapat teman sejawat atau peserta didik tentang penampilannya sehari-hari, baik dalam maupun diluar kelas, dan segera memanfaatkan pendapat yang telah diterima dalam upaya mengubah atau memperbaiki penampilan tertentu yang kurang tepat.
i. Guru Sebagai Peneliti
Pembelajaran merupakan seni, yang dalam pelaksanaannya memerlukan penyesuaian-penyesuaian dengan kondisi lingkungan . Untuk itu diperlukan berbagai penelitian, yang didalamnya melibatkan guru. Oleh karena itu guru adalah seorang pencari atau peneliti. Dia tidak tahu dan dia tahu bahwa dia tidak tahu, oleh karena itu dia sendiri merupakan subyek pembelajaran. Dengan kesadaran bahwa ia tidak mengetahui sesuatu maka ia berusaha mencarinya melalui kegiatan penelitian. Usaha mencari sesuatu itu adalah kebenaran, seperti seorang ahli filsafat yang senantiasa mencari dan menemukan dan mengemukakan kebenaran.
j. Guru Sebagai Pendorong Kreativitas
Kreativitas merupakan hal yang penting dalam pembelajaran dan guru dituntut untuk mendemonstrasikan dan menunjukan proses kreativitas tersebut. Kreativitas merupakan sesuatu yang bersifat universal dan merupakan cirri aspek dunia kehidupan di sekitar kita. Kreativitas ditandai oleh adanya kegiatan menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada dan tidak dilakukan oleh seseorang atau adanya kecenderungan untuk menciptakan sesuatu.
k. Guru Sebagai Pembangkit Pandangan
Dunia ini panggung sandiwara, yang penuh dengan berbagai kisah dan peristiwa, mulai dari kisah nyata sampai yang direkayasa. Dalam hal ini guru dituntut untuk memberikan dan memelihara pandangan tentang keagungan pada peserta didiknya. Mengemban fungsi ini guru harus terampil dalam berkomunikasi dengan peserta didik dalam segala umur, sehingga dalam setiap langka dari proses pendidikan yang dikelolanya dilaksanakan untuk menunjang fungsi ini. Guru tahu bahwa ia tidak dapat membangkitkan pandangan tentang kebesaran kepada peserta didik jika ia sendiri tidak memilikinya. Oleh karena itu, para guru perlu dibekali dengan ajaran tentang hakekat manusia dan setelah mengenalnya akan mengenal pula kebesaran Allah yang menciptakannya.
l. Guru Sebagai Pekerja Rutin
Sebegaian besar kegiatan manusia dalam suatu masyarakat yang kompleks merupakan suatu hal yang rutin. Pekerjaan yang rutin memang banyak dibenci, baik oleh orang dewasa maupun anak-anak; namun setiap profesi dan bahkan setiap aspek kehidupan manusia memerlukan keterampilan rutin yang harus dikuasai dan dikerjakan secara teratur, termasuk pembelajaran. Sedikitnya terdapat 17 (tujuh belas0 kegiatan rutin yang sering dikerjakan guru dalam pembelajaran di setiap tingkat, yaitu:
1. Bekerja tepat waktu baik di awal maupun akhir pembelajaran.
2. Membuat catatan dan laporan sesuai dengan standard kinerja, ketepatan dan jadwal waktu.
3. Membaca, mengevaluasi dan mengembalikan hasil kerja peserta didik.
4. Mengatur kehadiran peserta didik dengan penuh tanggung jawab.
5. Mengatur jadwal, kegiatan harian, mingguan, semesteran dan tahuanan.
6. Mengembangkan peraturan dan prosedur kegiatan kelompok termasuk diskusi.
7. Menetapkan jadwal peserta didik.
8. Mengadakan pertemuan dengan orang tua dan dengan peserta didik.
9. Mengatur tempat duduk peserta didik.
10. Mencatat kehadiran peserta didik.
11. Memahami peserta didik.
12. Menyiapkan bahan-bahan pembelajaran, kepustakaan dan media pembelajaran.
13. Menghadiri pertemuan dengan guru, orang tua peserta didik dan alumni.
14. Menciptakan iklim kelas yang kondusif
15. Melaksanakan latihan-latihan pembelajaran.
16. Merencanakan program khusus dalam pembelajaran, misalnya karya wisata.
17. Menasehati peserta didik.
m. Guru Sebagai Pemindah Kemah
Hidup ini selalu berubah dan guru adalah seorang pemindah kemah yang suka memindah-mindahkan dan membantu peserta didik meninggalkan hal lama menuju sesuatu hal yang baru yang bisa mereka alami. Guru berusaha keras untuk mengetahui masalah peserta didik, kepercayaan dan kebiasaan yang menghalangi kemajuan serta membantu menjahui dan meninggalkannya untuk mendapatkan cara-cara baru yang lebih sesuai.
n. Guru Sebagai Pembawa Cerita
Cerita berlangsung secara lisan sehingga mencapai era kristalisasi kata-kata yang tertulis telah memberikan keberhasilan generasi baru dengan generasi berikutnya, serta dengan kesabaran melengkapi manusia dengan catatan tentang pewarisnya. Dalam hal ini perpustakaan yang besar telah menjadi monumen yang hebat bagi pikiran manusia, kekayaan yang ditinggalkan manusia sedunia telah berada dalam buku-buku, halaman, garis-garis yang menyimpan kata-kata tertulis.
Cerita adalah cermin yang bagus dan merupakan tongkat pengukur. Dengan cerita manusia bisa mengamati bagaimana memecahkan masalah yang dengan yang dihadapinya, menemukan gagasan dan kehidupan yang nampak diperlukan manusia lain yang bisa disesuaikan dengan kehidupan mereka.
o. Guru Sebagi Aktor
Sebagai seorang aktor, guru harus melakukan apa yang ada didalam naska yang telah disusun dengan mempertimbangkan pesan yang akan disampaikan pada penonton. Penampilan yang bagus dan seorang aktor akn mengakibatkan para penonton tertawa, mengikuti dengan sungguh-sungguh dan bisa pula menangis mengikuti penampilan sang aktor.
Sebagai aktor, guru berangkat dengan jiwa pengabdian dan inspirasi yang dalam yang akan mengarahkan kegiatannya. Guru harus menguasai materi standar dalam bidang study yang menjadi tanggung jawabnya, memperbaiki keterampilan dan mengembangkan untuk mentransfer bidang studi itu.
p. Guru Sebagai Emansipator
Dengan kecerdikannya, guru mampu memahami potensi peserta didik, menghormati setiap insan, dan menyadari bahwa kebanyakan insan merupakan ”budak” stagnasi kebudayaan. Ketika masyarakat membicarakan rasa tidak senang kepada peserta didik tertentu guru harus mengenal kebutuhan peserta didik tersebut akan pengalaman, pengakuan dan dorongan. Dia tahu bahwa pengalaman, pengakuan dan dorongan membebaskan peserta didik dari “self image” yang tidak menyenangkan, kebodohan, dan perasaan tertolak dan rendah diri.
q. Guru Sebagai Evaluator
Sebagai suatu proses, penilaian dilaksanakan dengan prinsip-prinsip dan dengan teknik yang sesuai, mungkin tes dan nontes. Teknik apapun yang dipilih, penilaian harus dilakukan dengan prosedur yang jelas, yang meliputi tiga tahap yaitu persiapan, pelaksanaan dan tindak lanjut.
Mengingat kompleksnya proses penilaian, guru perlu memiliki pengetahuan, keterampilam dan sikap yang memadai.
r. Guru Sebagai Pengawet
Salah satu tudas pendidik adalah mewariskan kebudayaan dari generasi ke generasi berikutnya, karena hasil karya manusia terdahulu masih banyak yang bermakna bagi kehidupan manusia sekarang maupun masa depan. Untuk melaksanakan tugasnya sebagai pengawet terhadapa apa yang telah dicapai manusia terdahulu, dikembangkan salah satu sarana pendidikan yaitu kurikulum, yang secara sederhana diartikan sebagai program pembelajaran. Dengan kurikulum, maka jaminan pengetahuan yang telah ditemukan dan disusun oleh para pemikir pendidika yang lebih kuat. Dalam perkembangannya kurikulum memiliki sifat yang fleksibel, sehingga memungkinkan perubahan, memungkinkan guru mengembangkan kreativitasnya, memberi peluang untuk penyesuaian dengan kebutuhan masyarakat seperti muatan lokal, desentralisasi dan kurikulum yang berbasis kompetensi.
s. Guru Sebagai Kulminator
Guru adalah orang yang mengarahkan proses belajar secara bertahap dari awal hingga akhir (kulminasi). Dengan rancangannya peserta didik akan melewati tahap kulminasi, suatu tahap yang memungkinkan setiap peserta didik bias mengetahui kemajuan belajarnya. Disini peran sebagai kulminator terpadu dengan peran sebagai evaluator.

karakter ASWAJA menciptakan manusia utuh dan unggul

Ahlussunnah Wal Jama'ah (Awaja) sebagai nilai (value) harus ditanamkan kepada murid-murid sejak dini baik MTs/SMP maupun MA/SMA khususnya di lingkungan LP Ma'arif NU. Intisari ajaran Aswaja itu juga harus dipahami oleh semua guru, bukan hanya murid saja, karena Aswaja adalah ciri khas, karakter pendidikan yang dibawah naungan jam'iyyah Nahdlatul Ulama.

salah satu tawaran solusi adalah karakter aswaja, atas carut marutnya sistem pendidikan indonesia. karena tujuan utama pendidikan adalah menjadikan generasi muda yang pinter (secara IQ), menjadi orang yang baik (secara EQ) dan bener (SQ) sehingga menjadi generasi indonesia yang utuh dan unggul (ESQ)
 kalau yang ini cuma salah satu referensi tentang karakter aswaja....
http://edukasi.kompasiana.com/2012/10/22/review-buku-pendidikan-karakter-implementasi-aswaja-sebagai-nilai-pendidikan-karakter-503357.html

Bahaya Menggunakan Jaringan Hotspot

jaringan hotspot
Add caption

Jaringan hotspot adalah istilah untuk lokasi yang menyediakan akses internet untuk umum. Sehingga pengunjung yang memiliki laptop dengan kartu jaringan dapat terkoneksi ke internet. Dewasa ini jaringan hotspot sangat mudah untuk temui, mulai dari warung kopi, mall, bahkan hampir di semua sudut kampus. Namun, laiknya dua sisi mata uang, ada plus-minus nya. Dengan adanya jaringan internet gratis ini, selain terus dapat terhubung dengan teman melalui jaringan sosial media, kita juga dapat terus mendapatkan informasi yang bermanfaat. Di sisi lain, cerita-cerita sedih dan tragis pun banyak yang diakibatkan oleh perkembangan internet ini.

Jaringan Hotspot – Internet memang tidak bisa dipungkiri lagi menjadi kebutuhan primer bagi kebanyakan orang, tiada hari tanpa mengunjungi situs sosial media untuk terus selalu update ataupun situs yang penuh akan informasi. Searching, browsing, chatting seolah sudah menjadi hal yang harus tidak boleh hilang dalam daftar yang harus dilakukan setiap harinya. Selain semakin murahnya layanan internet dari para provider, perkembangan internet di Indonesia dewasa ini juga dipengaruhi oleh semakin menjamurnya layanan jaringan hotspot gratis.
Karena mungkin keasyikan mengakses internet gratis ini pula kita mungkin tidak sadar bahwa jaringan hotspot mempunyai beberapa ancaman dan dampak negatif dalam segi keamanan jaringan ketika mengakses internet dari sebuah jaringan yang terbuka dan rawan akan tangan-tangan jahil. Beberapa bahaya menggunakan jaringan hotspot tersebut setidaknya dapat dilihat dari hal-hal berikut ini:
1. Netcut
Pernahkan Anda merasa koneksi di wifi hostspot menjadi lambat atau bahkan tidak jalan sama sekali? Selain koneksi ke ISP yang bermasalah, bisa juga ada pengguna hotspot lain yang menggunakan aplikasi pemutus koneksi dari client ke server.
Adalah Netcut, sebuah aplikasi pemotong akses internet pada public/private wifi hotspot, atau sebuah PC LAN workgroup dari client ke server atau pun sebaliknya. Program ini pada umumnya dipergunakan oleh pengguna jaringan yang ingin mengambil kuota bandwidth untuk dipakai sendiri tanpa mau share kepada client yang lain.
Pasti jengkel kan kalau kejadiannya seperti itu. Untuk menghindari penggunaan Netcut, kita dapat mengubah IP address menggunakan anti-netcut. Atau dapat juga menyembunyikan komputer dari jaringan LAN menggunakan XP anti-spy, demikian juga dapat mencoba install anti ARP, dan mengubah MAC address. 
2. Sniffer
Sebuah program sniffer merupakan pengganggu yang tidak kita rasakan ketika kita mengakses internet, namun dampaknya data-data yang seharusnya menjadi rahasia kita dapat tersadap oleh orang yang menggunakan program ini. Sniffing merupakan satu aktifitas menyadap data-data yang orang lain kirim atau terima dalam sebuah jaringan. Data-data itu bisa saja berupa username dan password Facebook, email, atau password berbagai situs yang kita miliki. Bisa juga mengenai data-data penting mengenai kartu kredit, rekening, atau email yang kirim/terima, bahkan pesan chat kita di YM, Gchat, MIRC, dll. dibaca oleh pihak lain yang tidak berkepentingan. Program sniffer yang paling sering digunakan untuk OS Windows adalah Cain & Abel dan Wireshark atau ethreal.
Guna menghindarinya kita dapat melihat daftar ARP, ping ke beberapa host yang mencurigakan serta menginstal aplikasi anti sniffing dari Microsoft, yakni Promqry 1.0.
3. Radiasi Wifi
Bahaya mengguakan jaringan hotspot berikutnya adalah ancaman akan radiasi wifi. Dampak radiasi wifi relatif kecil dibandingkan dengan jaringan ponsel, karena peralatan wifi mengirimkan sinyal pada jarak yang lebih pendek daripada peralatan jaringan ponsel, sehingga dapat beroperasi pada kekuatan rendah. Menurut Health Protection Agency, seseorang yang duduk di dalam area hotspot selama satu tahun terus menerus akan menerima dosis radiasi yang sama dengan orang yang menggunakan ponsel selama 20 menit.
Itulah ketiga bahaya menggunakan jaringan hotspot di samping masih banyak lagi bahaya-bahaya lainnya. Kita perlu hati-hati untuk menggunakan jaringan hotspot yang harus cermat jangan sampai bahaya itu menimpa kita di saat kita menggunakan layanan internet gratis untuk mengakses ilmu pengetahuan

Sabtu, 03 November 2012

the meaning of Islam

mendefinisikan "ISLAM" secara ilmiah mungkin agak terlalu sulit, karena kita harus membedakan antara "Islamic thought" (pemikiran Islam) dan "Islam as Religion It-self",
#1. *  Islamic Thought mengacu semua kepada semua cabang ilmu-ilmu ke-islam-an yang sedang berkembang, seperti penafsiran Qur'an, Studi Hadist, Teologi (ilmu kalam), ilmu Fiqh, tasawuf dll.
     ** Islam as Religion it self merujuk pada sesuatu yang sakral dan suci.
#2. Islamic Thought itu tunduk pada pada perubahan, sedangkan "Islam as Religion it self" tidak .

Pendidikan Karakter : Mengasah Kepekaan Hati Nurani

Pendahuluan
Bertubi-tubi bangsa Indonesia terkena musibah.  Tidak hanya musibah alam, berupa guncangan gempa di berbagai daerah tetapi juga gempa-gempa sosial,  agama, politik, ekonomi  dan hukum.  Munculnya  peristiwa  satu dan lainnya hampir-hampir tidak berjarak. Belum lepas dari ingatan bangsa Indonesia  bagaimana dahsyatnya musibah tsunami Aceh, gempa dahsyat di  Yogya, Tasikmalaya dan Padang,  kemudian diiringi  peristiwa bom bunuh diri (Suicide bombings) di berbagai daerah dan penyergapan dan penangkapan sebagian para pelakunya.  Disusul pemilihan umum dan pimilukada yang diwarnai money politic dengan berbagai intrik-intrik dan kecurangan yang melekat didalamnya,  diselingi kekerasan yang berbasis ideologi agama, tawuran antar kelompok pemuda dan warga desa, diramaikan pula oleh  kasus cicak-buaya, ledakan bank Century yang mengguncang dunia politik, dan yang paling baru adalah makelar kasus  dan mafia peradilan perpajakan yang menyeret Gayus dengan kekayaannya yang fantastis  dengan melibatkan aparat penegak hukum baik di kepolisian, kejaksaaan maupun kehakiman. Lengkaplah sudah  gempa alam, sosial, agama, politik  dan hukum yang diderita bangsa ini.  Gempa sosial, agama, politik, dan hukum yang bertubi-tubi dan saling silih berganti ini menunjukkan betapa rendahnya kualitas karakter manusia Indonesia, sehingga masuk rangking tertinggi dalam daftar urut negara terkorup di dunia. Krisis multidimensi, krisis etika, krisis kepercayaan diri, krisis kepercayaan sosial belum berakhir dan cenderung menjadi-jadi.
Musibah, krisis multidimensi dan cobaan besar yang diderita oleh bangsa ini menggugah dan memaksa warga negara, masyarakat sipil, pejabat negara dan institusi sosial-kemasyarakatan dan keagamaan untuk introspeksi diri dan melakukan langkah-langkah perbaikan.  Mengapa bangsa dan manusia Indonesia, yang biasa mengklaim dirinya religius, mengidap penyakit akut “split of personality” (Kepribadian yang terpecah)? Yaitu, keterpecahan atau tidak kemampuan  menyatukan perkataan dan perbuatan, antara “teori” dan “praktek”. Orang (bisa jaksa, polisi, hakim, guru, dosen, pejabat negara), bahkan orang-orang beragama, tokoh partai, tokoh organisasi, tokoh LSM sering hafal diluar kepala rumus-rumus, undang-undang, ayat-ayat, tetapi tidak mampu melaksanakan apa yang ia ketahui dan hafal dalam kehidupan nyata sehari-hari. Mudah tergoda oleh berbagai bujuk rayu, iming-iming, kepentingan golongan, ekonomi, agama, partai dan begitu seterusnya.
Penyakit Split of Personality ini dalam al-Qur’an Surat al-Shaff (61), ayat 2-3, sebagai berikut :
(Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kami kerjakan).
Bukankah, salah satu tujuan diutusnya seorang Nabi, rasul, yang kemudian diteruskan (diwariskan) kepada seluruh ulama, great leaders (pemimpin-pemimpin besar) diseluruh antero dunia adalah untuk memperbaiki akhlak manusia (Innama bu’itstu li utammima makarim al-akhlak). Akhlak disini bukanlah sekedar ”Ilmu Akhlak”, tetapi lebih pada menyatunya teori dan praktik, lengkatnya ucapan dan perbuatan, tidak melebarnya jarak antara hafalan, rumus, ayat, undang-undang, PP dan realitas kehidupan riil sehari-hari dalam masyarakat.
Adalah Kementerian Pendidikan Nasional yang mencoba melihat bahwa pangkal tolak persoalannya adalah terletak pada lemahnya pendidikan karakter (Character building) dalam kehidupan berbangsa, beragama, bermasyarakat dan bernegara. Tidak ada anggota masyarakat yang manapun dan dimana pun  di tanah air yang kebal  dari penyakit  sosial ini. Sejauh ini belum ada obat yang mujarab untuk mengobati penyakit yang kronis ini.  Bukankah sudah ditegaskan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.  Singkatnya melalui pendidikan hendak diwujudkan peserta didik yang memiliki berbagai kecerdasan, baik kecerdasan spiritual, emosional, sosial, intelektual maupun kecerdasan kinestetika. Dari segi rumusan, barangkali inilah rumusan tujuan pendidikan yang paling ideal, ambisius dan nyaris sempurna, tetapi tetap saja menyimpan pertanyaan besar mengapa dalam alam praktik kehidupan sosial bernegara, berbangsa, beragama, dan bermasyarakat masih muncul krisis akut yang tak berkesudahan?  What went wrong (apa yang salah ?) dalam berbangsa dan bernegara yang kita cintai bersama ini ? Diperlukan kajian yang komprehensif, radikal. bersinambungan, sungguh-sungguh dan tak perlu jemu mencoba dan salah dan mencoba lagi dan salah dan  sampai berhasil. Tugas ini adalah tugas long life strife, perjuangan sosial sepanjang usia manusia, perjuangan yang tak kenal masa awal dan masa akhir. Semua upaya perbaikan perlu dilakukan terus menerus tak kenal henti, ibarat air yang mengalir, tanpa kenal henti.
Multidimensionalitas Pendidikan Karakter
Tidak mudah mencari jalan keluar dari persoalan yang sedang dihadapi bangsa ini. Tidak ada definisi  Pendidikan Karakter yang memuaskan, karena setiap definisi biasanya hanya menekankan pentingnya aspek tertentu dan mengabaikan aspek lain. Begitu juga pandangan atau pendekatan disiplin keilmuan terhadap Pendidikan Karakter. Tak ada satu pun pendekatan keilmuan – dengan mengabaikan pendekatan disiplin keilmuan lain – yang memuaskan.  Sifat Pendidikan Karakter adalah multidimensi  dan  multidisiplin, sehingga diperlukan pendekatan yang komprehensif, utuh, interkonektif antar berbagai disiplin ilmu,  tidak sektoral-parsial, ad hoc, apalagi atomistik. Pendidikan Karakter mengasumsikan keterkaitan erat antara dimensi moral, sosial, ekonomi, politik, hukum, agama, budaya, dan estetika. Pendidikan agama, begitu juga pendidikan kewarganegaraan pada level manapun tidak dapat berbuat banyak jika ia berdiri sendiri (self sufficiency), karena jika tidak dikaitkan dengan budaya, sosial, hukum dan politik misalnya,  maka pendidikan agama hanya akan jatuh pada rumus-rumus dan preskripsi-preskripsi normatif, yang mungkin mudah dihapal,  tapi seringkali  tidak dapat dipraktikkan dan diimplementasikan dalam dunia sosial sehari-hari yang begitu kompleks.
Menyadari kesulitan yang begitu kompleks, dengan mengambil inspirasi dari seorang  filsuf Jerman era modern, Immanuel Kant, dapat ditegaskan disini bahwa Pendidikan  Karakter adalah pendidikan kemanusiaan yang bertujuan  menjadikan manusia “baik”. Menjadikan manusia “baik” tanpa prasyarat apapun. Meskipun pendapat ini terkesan deontologis dan ahistoris,  tapi justru disitulah letak kekuatan dan relevansinya saat ini.  Pada era Negara bangsa (nation states), Pendidikan Karakter sangat diperlukan oleh bangsa manapun karena dengan Pendidikan Karakter yang berhasil akan membuat warga masyarakat dan warga negara menjadi “baik” tanpa prasyarat apapun. Menjadikan warga negara  yang “baik” tanpa embel-embel syarat agama, sosial, ekonomi, budaya, ras, politik dan hukum. Pendidikan Karakter seperti ini sejalan dengan cita-cita kemandirian manusia (moral otonomy) dalam  bertetangga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.  Pendidikan Karakter yang sukses akan sama dengan tujuan beragama, bermasyarakat, berbangsa dan  bernegara  yang baik dalam ranah  multikultural, multietnis, multibahasa, multi religi di era globalisasi seperti saat sekarang ini.
Namun ada pertanyaan yang sulit dijawab. Seiring dengan keberhasilan pendidikan di tanah air, maka pengetahuan dan keterampilan manusia Indonesia turut meningkat pesat, meskipun belum sebagus dibanding negeri lain, seperti Malayia dan Singapura. Namun mengapa MORALITAS dan KARAKTER manusia Indonesia merosot tajam ? Korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), white color crime (kejahatan kerah putih), mutual distrust antar warga negara,  distrust kepada pejabat publik, pengadilan yang tidak adil, tawuran pelajar, bentrok antar warga desa, antar RT/RW, kekerasan intern umat beragama, juga antar umat beragama, demonstrasi yang anarkhis, suap-menyuap, makelar kasus, kongkalikong perpajakan, birokrasi yang korup ada dimana-mana?  Belum lagi harus disebut rendahnya disiplin lalu lintas, rendahnya solidaritas sosial, disiplin pegawai negeri yang rendah, rendahnya disiplin nasional dan begitu seterusnya.
Bukankah pendidikan kewarganegaraan, pendidikan Pancasila, pendidikan agama telah diselenggarakan dalam setiap jenjang pendidikan? Bahkan untuk pendidikan agama di sekolah saja selama 12 tahun, anak didik memperoleh  tidak kurang dari 960 jam ?  Belum lagi menyebut Penataran P 4 yang dahulu dilakukan oleh pemerintah Orde Baru? Mengapa upaya ini tidak atau belum dapat mengantar anak didik mempunyai Karakter yang baik? Apakah Pendidikan Karakter yang sukses dapat mengurangi kejahatan sosial, ekonomi, politik, hukum, dan agama? Jangan-jangan ada yang  keliru dan perlu ditinjau dalam ulang hal-hal yang terkait dengan metode penyampaian, pendekatan yang digunakan, paradigma yang membimbing pendidikan karakter dan materi yang disusun? Perlu ada kajian dan penelitian yang komprehensif dan mendalam tentang hal ini, melibatkan stakeholders, guru, dosen, dan anak didik untuk semua jenjangnya, peneliti, pengamat sosial, Lembaga Swadaya Masyarakat, tokoh-tokoh agama, kementerian pendidikan  nasional dan kementerian agama, bahkan para jaksa, hakim, kepolisian, pengusaha, pejabat pemda dan masyarakat luas sebelum dilakukan pembenahan yang integratif-interkonektif-menyeluruh dalam Pendidikan Karakter di tanah air. Penelitian dan kajian yang mendalam  dan komprehensif perlu  dilakukan secara periodik dan menjadi agenda nasional atau Rencana Aksi Nasional (RAN), jika saja pemerintah pusat dan daerah dan warganegara pada umumnya memiliki sense of urgency dan sense of crisis.
Peran hatinurani, bukan intelektualitas
Banyak faktor menjadikan Pendidikan Karakter tidak atau kurang berhasil di lingkungan sekolah dan lebih-lebih di masyarakat luas di tanah air. Perangkat undang-undang dan aturan-aturan yang ada sudah lebih dari cukup namun pengawasan pelaksanaannya sangat lemah,  Tapi yang sering dilupakan adalah bahwasanya Pendidikan Karakter memang diawali dengan Pengetahuan (Teori), Pengetahuan (Teori) tersebut bisa bersumber dari pengetahuan agama, sosial, budaya. Kemudian dari pengetahuan itu diharapkan dapat Membentuk Sikap atau akhlak yang mulia. Namun yang paling penting dari rangkaian panjang ini adalah MENGAMALKAN apa yang diketahui itu. Disini terjadi kekeliruan dan  ketidaktepatan  dalam menentukan paradigma pembelajaran Pendidikan Karakter di tanah air. Yang semestinya diperlukan adalah MENGAMALKAN berubah menjadi yang dipentingkan adalah MENGETAHUI atau menghapal, tanpa kemampuan untuk melakukan dan mempraktekkanya di lapangan.
Dapat dijumpai secara mudah di tanah air bahwa  model pembelajaran Pendidikan Karakter atau akhlak yang berjalan sekarang ini lebih mengutamakan ‘alih pengetahuan moral, agama atau karakter’ (transfer of knowledge tentang moral, agama  atau karakter). Dengan paradigma pembelajaran seperti ini,  maka yang ditekankan oleh pendidik adalah penguasaan materi sesuai SAP yang tersedia dan daya serap anak  didik atau memorisasi / hafalan lebih dipentingkan. Praktik ini tergambar dengan jelas dalam model soal ujian atau test yang dibuat oleh guru atau dosen.  Akibat langsung yang tidak dirasakan selama bertahun-tahun adalah bahwa Pendidikan Karakter atau moral dan akhlak terlalu berorientasi pada intelektualisme etis. Padahal model paradigma pembelajaran Pendidikan Karakter (humanities)  semestinya tidaklah seperti pembelajaran sains (natural sciences) yang memang memerlukan ketajaman analisis intelektual .
Model dan paradigma pembelajaran sains dan matematika (Natural sciences) berbeda dari model dan paradigma pembelajaran humanities.  Yang diperlukan dalam pembelajaran humanities, dalam hal ini  Pendidikan Karakter, adalah kemampuan guru, dosen,  pendidik, pemimpin  untuk “menyentuh dan menyapa keseluruhan dan keutuhan pribadi anak didik. Keutuhan pribadi  manusia  meliputi perasaan, rasio, imajinasi, kreativitas dan memori. Dengan begitu, paradigma  Pendidikan Karakter seharusnya lebih tajam diarahkan  pada KEHENDAK dan MOTIVASI, dan bukannya intelektualitas. Oleh karena itu, yang perlu dikenal terlebih dahulu oleh para pendidik adalah Struktur Kepribadian manusia. Sedangkan Motivasi atau Kehendak sangat terkait dengan Hatinurani. Maka Pendidikan Karakter adalah Pendidikan Hatinurani.
Sampai disini, penulis teringat ada sebuah hadis Nabi (bagi penganut agama Islam) yang menyatakan bahwa “ala inna fi al-jasadi mudghah, wa hiya qalbu” (Ketahuilah bahwasanya di dalam tubuh manusia ada segumpal darah, yaitu hati). Hati atau qalbu disini bukanlah  bentuk fisiknya,  yaitu segumpal darah, melainkan  adalah Mind Set atau seperangkat nilai-nilai yang telah membentuk perilaku.  Mind Set inilah  biasa disebut  dengan filsafat hidup pribadi (Mabda’ al hayah), yang telah mendarah mendaging. Dalam Mind Set atau Falsafah hidup pribadi mempunyai berbagai potensi yang seluruhnya perlu disentuh dan digerakkan, antara lain emosi, rasio, imajinasi, memori, kehendak, nafsu, dan kecenderungan-kecenderungan. Seluruh potensi ruhani yang tertimbun dalam badan fisik manusia  akan tampak keluar ke permukaaan dalam bentuk perilaku lahiriyyah, baik dalam bentuk ekspresi wajah atau raut muka (senyum, sangar, cemberut, peduli, ramah), gerak-gerik (bhs Jawa : solah bowo) mencurigakan, slintutan), tutur bicara ( bhs Jawa : muna muni) seperti halus, kasar, galak, manis, tingkah laku (tegas, sopan, kasih sayang)  dan juga kelalaian (lupa, tidak serius, tidak teliti).
Pengalaman menjalani dan melakukan nilai-nilai dalam kehidupan
Oleh karena gambaran model dan pendidikan humanities, lebih-lebih yang menyangkut Pendidikan Karakter, sangat berbeda dari paradigma pengajaran dan pendidikan natural sciences, maka paradigma pendidikan,  pembelajaran dan pembiasaannya  pun tidaklah dapat bertumpu pada akal-intelek semata, atau kemampuan menghafal rumus-rumus perbuatan yang baik, bahkan bukan pula sekedar menghafal dan mengutip ayat-ayat kitab suci atau hadis (khususnya untuk pendidikan agama), tetapi lebih ditekankan pada PENGALAMAN HIDUP (Living Experience). Peserta didik dan lebih-lebih lagi guru, dosen, orang tua, para pejabat dan pemimpin perlu berpengalaman, merasakan, mencoba terlebih dahulu,  mempraktikkan, melakukan dan mengamalkan terlebih dahulu apa yang disebut dengan “rela berkorban”, “jujur”, ”tanggungjawab”, “memaafkan”, ”compassion” (bela negara), “hormat kepada orang lain”, “hormat kepada orang tua”, “hidup sederhana”, “kasih sayang”, “kerjasama”, “peduli”, “toleran”. “Kebebasan”, “bahagia”, “harmoni”, “menghargai perbedaan”, ”kebhinekaan”, ”transparan”, ”pluralitas”,  “empati”, “simpati”, “dedikasi”, “perdamaian”. “persatuan”, “keadilan”, ”kesetaraan”, ”kesejahteraan” dan begitu seterusnya.
Pendidikan humanities yang antara lain meliputi Pendidikan Karakter, pendidikan hati nurani, dan juga pendidikan nilai perlu melibatkan secara utuh aspek  perasaan, imajinasi, ingatan-memori dan kreativitas. Pendidikan Karakter yang berkualitas dan berhasil, dengan sendirinya akan akan dapat menggugah perasaan, merangsang imajinasi, mengaktifkan ingatan dan menggerakkan kreativitas serta  mendorong kehendak untuk berbuat. Salah satu indikator keberhasilan dan kesuksesan Pendidikan Karakter jika pada ujungnya dapat  MEMOTIVASI peserta didik untuk berbuat riiil dan nyata dalam bersikap, berperilaku, dan berbuat dalam alam perbuatan dan amalan yang nyata. Sudah barang tentu contoh-contoh dan kasus-kasus konkrit yang diambil dari PENGALAMAN HIDUP yang nyata  akan mempermudah peserta didik tergerak, meneladani, mengamalkan, mempraktikkan nilai-nilai dan Karakter baik (dan menjauhi yang buruk) dalam kehidupan pribadi dan masyarakat
Salah satu indikator keberhasilan Pendidikan Karakter bermula dari tumbuhnya kesediaan seseorang atau peserta didik untuk menghargai nilai. Menghargai nilai mengandung arti bahwa seseorang atau anak didik telah tersentuh hatinya dan dapat menyimpulkan bahwa nilai tersebut sebagai sesuatu yang indah dan baik untuk diri pribadi dan masyarakatnya. Pribadi-pribadi tersebut menyatakan dalam hati masing-masing  bahwa nilai-nilai baik tersebut menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan dirinya. Menghargai nilai-nilai kemanusiaan yang “baik”. Nilai-nilai yang baik,  tanpa embel-embel syarat apapun. Tanpa embel-embel syarat agama, ras, suku, etnis, kelamin, usia, pendidikan, tingkat intelektualitas, literasi, difable dan begitu seterusnya.  Dengan demikian, ada tahapan-tahapan yang perlu dilalui dalam Pendidikan Karakter, yaitu dari tindakan  dapat Menghargai nilai,  kemudian meningkat ke Penerimaan nilai dengan penuh kesadaran dan ketulusan,  dan akhirnya berujung pada Pengamalan dan penerapan nilai dalam kehidupan pribadi, masyarakat, bangsa, negara bahkan sebagai warga dunia. Sampai disitu,  maka nilai-nilai kebaikan tadi telah melekat, tertanam kokoh  dan terbiasa dalam sepak terjang kehidupan anak didik, mahasiswa dan anggota masyarakat dimanapun dan kapanpun dan dalam cuaca sosial, agama, politik, ekonomi yang bagaimanapun.
Pendidikan Karakter menuntut ketajaman dan kepekaan Hatinurani. Hatinurani jauh lebih penting dari pada kepandaian intelektualitas semata. Kecerdasan spiritualitas dan kecerdasan emosi memang sangat terkait dengan kepekaaan hati nurani. Radius kepekaaan dan ketajaman daya jangkau radar hati nurani memang sangat jauh ke dalam maupun keluar karena akan berpengaruh, membimbing dan memandu Tata Pikir (kecerdasan Intelektualitas), Tutur Kata (Kecerdasan Komunikasi), Sikap-sikap (Kecerdasan emosi), Tindak-tanduk (Kecerdasan sosial). Akumulasi dari berbagai kecerdasan tersebut adalah kecerdasan spiritual. Dengan demikian, Pendidikan Karakter terkait dengan kecerdasan spiritual. Secara ekstrim dapat dikatakan bahwa kematangan kecerdasan spiritual sangat terkait dan tergantung kepada bagaimana impact keberhasilan pendidikan Karakter dilakukan oleh sebuah komunitas manusia. Bahkan pendidikan agama dan pendidikan kewarganegaraan juga akan mengalami kegagalan jika tidak mampu membentuk Karakter yang baik, unggul dan kuat (Character building) bagi pribadi dan masyarakat pendukungnya.
Tindak Lanjut dan Penutup
  1. Diperlukan penyegaran sikap, komitmen seluruh warga masyarakat dan pembaharuan metode dan pendekatan Pendidikan Karakter yang lebih integratif-interkonektif-koordinatif. Multidimensionalitas Pendidikan Karakter perlu dijadikan acuan untuk perbaikan dan penyempurnaan apa  yang telah dilakukan selama ini.
  2. Pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan dan pendidikan Pancasila perlu dikaitkan dengan isu-isu baru yang lebih menyentuh kebutuhan dasar manusia (Human development index) seperti kesehatan (reproductive health), kesetaraan gender (gender equity), pemerintahan yang baik (good governance), kesejahteraan ekonomi (enterpreneurship) dan rembug bersama para pemimpin agama  (faith-based organization) tentang permasalahan sosial kebangsaan.
  3. Diiperlukan upaya aksi nasional atau Rencana Aksi Nasional (RAN) dari tingkat pusat, daerah, kota dan desa untuk mengupdate dan merefresh pimpinan-pimpinan sosial keagamaan yang berpengaruh (Leaders of influence) untuk duduk bersama-sama selama 2 – 3 minggu untuk memperoleh data-data terbaru perihal human development yang comprehensif dan tukar pikiran, pengalaman antar mereka, untuk mencari jalan keluar bersama dalam menghadapi berbagai persoalan sosial, korupsi, kolusi, nepotisme, (narkoba, fandalisme), ekologi (kerusakan lingkungan), disiplin lalu lintas, ekonomi, pemberdayaan ekonomi dan seterusnya. Bangsa kita dapat belajar dari  bangsa lain yang lebih berpengalaman dalam gerakan aksi nasional yang konkrit, non sloganistik.

Kamis, 01 November 2012

Pelajaran Agama Tak Memuaskan, Jadi Awal Radikalisme

             =======00 1 00========
TIBA-tiba publik terperanjat dengan merebaknya aksi tawuran di tanah air antara peserta didik SMA 6 lawan SMA 70 hingga menelan korban jiwa seorang pelajar SMA 6 yang bernama Alawy Yusanto Putra, dan beberapa pelajar luka-luka. Belum kering air mata membasahi pipi, korban kembali berjatuhan dalam
kasus tawuran lainnya dalam hal ini SMA Yayasan Karya 66 lawan SMA Kartika Zenit yang menewaskan Deni Januar (Riau Pos, Jumat 28/9/2012). Praktis dalam dua hari, dua pelajar Jakarta telah menjadi korban kebringasan oleh hantu tawuran.
Sangat disayangkan nyawa anak muda sebagai generasi penerus bangsa hilang tercabut sesama pelajar sendiri. Sulit bagi kita membayangkan bagaimana perasaan kesedihan orangtua yang membayangkan anaknya mati di jalanan di karenakan tawuran. Lebih sedih lagi jika di ketahui bahwa anaknya yang mati itu bukan pelaku tawuran, tetapi hanya jadi korban. Betul bahwa keluarga memegang peranan penting dalam pergaulan anak. Pembacok Alwy, misalnya, berasal dari keluarga yang kurang harmonis. Pihak sekolah, orangtua, masyarakat dan pemerintah, sangat berperan penting dalam mencegah aksiaksi tawuran antara pelajar.
Dari kejadian ini, pemerintah juga harus menegakkan disiplin sekolah yang terbukti melakukan aksi tawuran harus diganti dan kepala sekolahnya dicopot. Guru-guru yang tidak peduli kepada muridnya harus dievaluasi. Begitu juga hendaknya kepala dinas yang tidak mampu mengkap sinyal-sinyal tawuran harus dimutasikan. Inilah sebagian kecil potret pendidikan kita, kekerasan sepertinya bagian dari tingkah-laku kekerasan para pelajar di negeri ini. Seiring dengan itu, setidaknya menurut hemat saya, pendidikan tasawuf dan intes komunikasi dengan orangtua harus disisipkan di sekolah.

Pendidikan Tasawuf
Setidaknya argumen ini terbukti ketika kita melihat kejayaan luar biasa di Baghdad pada tahun 1058-1157 M ketika itu kita melihat kajayaan Madrasah Nizhamiyah dari Dinasti Saljuq yang melahirkan tokoh-tokoh yang dikenang dalam ukiran sejarah seperti Imam al Haramain Al Juwainy (pengagas konsep al-Mashlahan dalam kajian Ushul fiqih), Imam al-Baqillani (perumus dalam teologi tauhid al-Asyari dalam kajian dua puluh sifat yang wajib bagi Allah SWT). Imam al-Ghazali selain ahli di bidang filsafat, juga ahli dalam kajian tasawuf, tidak lupa juga di Madrasah Nizhamiyah, Umar Khayyam dan Abdurrahman, keduanya lebih dikenal ahli astronomin dan matematika (Abd Mukti, Kontruksi Pendidikan dalam Kajian Islam Belajar dari Kejayaan Madrsah Nizamiyah Dinasti Saljuq. Bandung: Cipta Pustaka, 2007).
 Aspek esoteris dalam Islam disebut aspek tasawuf. Dengan lemahnya aspek esoteris selama ini berarti juga bahwa aksi invasi kekerasan sesama peserta didik atau aksi tawuran antar sesama sekolah akan menjadi bagian dari pemandangan para pelajar. Setidaknya kita lihat dari sistem orientasi perkenalan siswa baru di sekolah atau dulu dikenal dengan perploncoan, siswa yang baru seperti di- "keroyok" oleh seniornya. Kalau sistem perkenalan di sekolah sudah menanamkan bibit kekerasan dan menabur benih kebencian, lalu bagaimana nantinya dengan masa depan pendidikan di negeri kita? Padahal seharusnya pengajaran tasawuf(esoteris) itu dilakukan secara seimbang dengan aspek kurikulum Kemendiknas.
Karena tanpa ada pengajaran tasawuf yang seimbang dengan aspek kurikulum Kemendiknas, maka peserta didik kurang menghayati ajaran saling menghargai dan saling menghormati. Oleh karena itu pengajaran tasawuf harus dilakukan secara dini mulai dari SD, SLTP, SLTA hingga ke perguruan tinggi.
Pada tingkat SD, para peserta didik diajarkan syarat, rukun dan hal-hal yang membatalkan ibadah. Juga perlu diajarkan tentang ruh dari setiap perbutan yaitu keikhlasan. Seluruh perbutan dari aspek ibadah, leadership, dan pergaulan dengan teman dan lingkunganya akan menimbulkan sifat ihsan, sifat tersebut akan melekat pada dirinya yaitu sikap hidup yang diliputi oleh semangat kehadiran dan pengawasan Tuhan dalam hidup ini. Kemudian pada tingkat SLTP harus dimulai memperkenankan konsep-konsep tasawuf yang mengarah kepada pembentukan pribadi yang kuat. Selain ikhlas juga diajarkan tentang sabar, taqarub, mahabbah, pemaaf, bertobat, ramah, toleransi, menahan nafsu amarah, dan lainya.
Lantas pengajaran tasawuf pada tingkat SLTA harus merupakan kelanjutan dari jenjang sekolah sebelumnya. Pengembangan lebih lanjut diberikan dengan bertitik tolak dari pembiasaan akan makna nama-nama indah asmaul husna Tuhan. Nama-nama Allah SWT itu dijelaskan dalam Alquran sebagai petunjuk bagaimana persepsi manusia tentang Tuhan, karena persepsi itu biasanya terpengaruh oleh pengalaman hidup manusia itu sendiri. Relevan dengan itu para ahli di kajian tasawuf menegaskan, kita kembali sebagai wakil Tuhan di muka Bumi. Meniru kualitas akhlak "khalifah" Tuhan.
Secara kongnitif tentang tasawuf harus sudah mulai diperkenalkan dengan sejarah tumbuh dan berkembangnya, secara garis besarnya perlu diperkenalkan kepada mereka adanya pemikir-pemikir kajian tasawuf seperti al-Ghazali, al-Qusyairi, Ibnu Arabi, al-Bustami, al-Hallaj, Rabiah al adawiyah dan lainya. Kemudian secara garis besar sudah bisa diperkenalkan atau masuk setiap salah satu peserta didik dalam hanyutan zikir kepada Allah SWT melalui adanya berbagai aliran tarekat seperti Naqsabandiyah, Qadiriyah dan lainya setidaknya akan mempersempit atau mematikan aliran aksi tawuran antar sekolah. Kemudian diperkenalkan aliran-aliran tokoh tasawuf di Indonesia seperti Hamzah Fansuri, Nuruddin Ar Raniri, Syamsuddin Sumatrani, Abdussamad Al Palimbali, Yusuf al-Maqasari, Muhammad Nafis al-Banjari, Abd Rauf Singkel dan lainya, kan melahirkan sebuah khaznah ke ilmuan yang baik moralnya serta mampuni keilmuan umumya.

Peranan Orangtua
Setidaknya dalam asumsi penulis salah satu meminimalisir langkah mempersempit aksi tawuran para pelajar setidaknya ada beberapa poin yang bisa ditawarkan. Pertama, tidak luput dari memberikan kata-kata nasihat, dikarenakan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, nasihat adalah mengajarkan kebaikan. Metode menasihati merupakan ajaran yang paling dasar di dalam pendidikan. Bukankah para guru dan orangtua cukup besar dalam melakukan peranan tersebut? Kedua mendoakan anaknya. Bukankah Rasullah SAW adalah orang yang sangat suka berdoa, sebab doa setidaknya tidak hanya dilakukan saat ibadah saja, tetapi dalam keadaan apapun. Rasullah SAW mendoakan siapa saja antara para keluarganya, sahabat-sahabatnya, bahkan orang yang berbuat buruk kepada beliau sekalipun.
Kita tidak ingin lagi ada korban sia-sia para pelajar, mereka adalah anak-anak negeri ini yang akan menjadi generasi penerus pemimpin bangsa. Pemerintah, pihak sekolah, masyarakat, orangtua, tidak perlu mencari kambing hitam. Ini tanggung jawab bersama mendidik dengan memberikan ketaladanan.

=======00  2  00========
Terduga teroris yang duduk bangku sekolah kemungkinan kurang puas dengan materi pelajaran agama yang diperolehnya di sekolah. Sehingga, untuk memuaskan diri, maka mereka mencoba mencari tambahan pengetahuan di luar sekolah.
"Pendidikan agama disekolah mungkin tidak memuaskan secara intelektual. Jadi kalau ada tawaran yang lebih memuaskan, mereka akan cari tahu di luar sekolah," kata Abduhzen, Pengamat Pendidikan Universitas Paramadina kepada Kompas.com, Selasa (30/10/2012).
Abduhzen menambahkan, hasrat intelektual mengenai agama yang terus meningkat membuat siswa mencari sumber lain yang terkadang malah memberikan ajaran yang salah.
Selain itu, menurut beberapa penelitian, perkumpulan agama di sekolah tak bisa dipungkiri terkadang menyiratkan ajaran radikal yang bisa menyeret para siswa ke dalam pemikiran yang menjurus pada tindakan terorisme.
Menurut Abduhzen, peningkatan mutu pelajaran agama di sekolah dapat mencegah rekrutmen teroris pada tingkatan sekolah.
Kasus terorisme yang melibatkan anak muda, terlebih mereka yang duduk di bangku sekolah memang sangat memprihatinkan.
Tidak hanya pelajaran agama, kata Abduszen, lingkungan tempat tinggal juga bisa mempengaruhi dan memberikan sumbangsih pergeseran sosial kepada siswa. Untuk itu, peran keluarga dan masyarakat bisa mencegah berkembangnya terorisme di kalangan siswa sekolah.
Seperti diberitakan sebelumnya, seorang terduga teroris, Davit Ashari (19), yang ditangkap di Palmerah, Sabtu (27/10/2012), tercatat sebagai pelajar di Sekolah Pelayaran Menengah (SPM) Tri Arga 1 Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Davit terdaftar sebagai siswa kelas tiga sekolah tersebut. Davit ditangkap Densus 88 di kediamannya di kawasan Kemanggisan, Jakarta Barat bersama kakak kandungnya, Herman.
Sumber: KOmpas, 31 Oktober 2012.
salah satu solusinya adalah memperkaya atau memperbanyak jam pelajaran agama,terutama di sekolah-sekolah umum. karena agama itu adalah nasehat yang terindah sepanjang masa,..
kalau kita cermati, tawuran itu terjadi rata-rata (bahkan semuanya) pada siswa kota yang sekolahnya minim pendidikan agama, kita jarang (bahkan tak pernah) mendengar istilah tawuran di daerah / desa apalagi di sekolah yang bernuansa agamis spt pondok pesantren, kecuali memang ada masalah politik atau cinta (kasus syiah di sampang)

Sabtu, 15 September 2012

Menyiram Air dan Karangan Bunga di Kuburan

Banyak sekali ragam tradisi yang berhubungan dengan ziarah kubur. Mulai dari mengaji al-Qur’an, tahlil, yasinan hingga menyirami pusara dengan air. Tentang dasar hukum berbagai tradisi tersebut telah sering disebutkan dalam rubrik ubudiyah. Kali ini redaksi akan menerangkan dasar hukum menyiram kuburan dengan air dingin atupun air wewangian.Imam Nawawi al-Bantani dalam Nihayatuz Zain menerangkan bahwa hukum menyiram kuburan dengan air dingin adalah sunnah. Tindakan ini merupakan sebuah pengharapan –tafaul- agar kondisi mereka yang dalam kuburan tetap dingin.
وَيُنْدَبُ رَشُّ الْقَبْرِ بِمَاءٍ باَرِدٍ تَفاَؤُلاً بِبُرُوْدَةِ الْمَضْجِعِ وَلاَ بَأْسَ بِقَلِيْلٍ مِنْ مَّاءِ الْوَرْدِ ِلأَنَّ الْمَلاَ ئِكَةَ تُحِبُّ الرَّائِحَةَ الطِّيْبِ (نهاية الزين 154)
Disunnahkan untuk menyirami kuburan dengan air yang dingin. Perbuatan ini dilakukan sebagai pengharapan dengan dinginnya tempat kembali (kuburan) dan juga tidak apa-apa menyiram kuburan dengan air mawar meskipun sedikit, karena malaikat senang pada aroma yang harum.
Begitu pula yang termaktub dalam al-Bajuri
...ويندب أن يرش القبر بماء والأولى أن يكون طاهرا باردا لأنه صلى الله عليه وسلم فعله بقبرولده إبراهم وخرج بالماء ماء الورد فيكره الرش به لأنه إضاعة مال لغرض حصول رائحته فلاينافى أن إضاعة المال حرام وقال السبكى لا بأس باليسير منه إن قصد به حضور الملائكة فإنها تحب الرائحة الطيبة...
Disunnahkan menyiram kubur dengan air, terutama air dingin sebagaimana pernah dilakukan rasulullah saw terhadap pusara anyaknya, Ibrahim. Hanya saja hukumnya menjadi makruh apabila menyiraminya menggunakan air mawar dengan alasan menyia-nyiakan (barang berharga). Meski demikian menurut Imam Subuki tidak mengapa kalau memang penyiraman air mawar itu mengharapkan kehadiran malaikat yang menyukai bau wangi.
Hal ini sebenarnya pernah pula dilakukan oleh Rasulullah saw
” أن النبي ( صلى الله عليه وسلم ) رش على قبر ابراهيم ابنه ووضع عليه حصباء ”
Artinya: “Sesungguhnya Nabi Muhammad ShallaAllahu alaihi wa sallam menyiram [air] di atas kubur Ibrahim, anaknya dan meletakkan kerikil diatasnya.”
Begitu juga dengan meletakkan karangan bunga ataupun bunga telaseh yang biasanya diletakkan di atas pusara ketika menjelang lebaran. Hal ini dilakukan dalam rangka Itba’ sunnah Rasulullah saw. sebagaimana diterangkan dalam hadits 
حَدثَناَ يَحْيَ : حَدَثَناَ أَبُوْ مُعَاوِيَةَ عَنِ الأعمش عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ طاووس عن ابن عباس رضي الله عنهما عَنِ النَّبِيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ مَرَّ بِقَبْرَيْنِ يُعَذِّباَنِ فَقاَلَ: إِنَّهُمَا لَـيُعَذِّباَنِ وَماَ يُعَذِّباَنِ فِيْ كَبِيْرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ البَوْلِِ وَأَمَّا اْلآخَرُ فَكَانَ يَمْشِيْ باِلنَّمِيْمَةِ . ثُمَّ أَخُذِ جَرِيْدَةً رَطْبَةً فَشْقِهَا بِنَصْفَيْنِ، ثُمَّ غُرِزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةٍ، فَقَالُوْا: ياَ رَسُوْلَ اللهِ لِمَ صَنَعْتَ هٰذَا ؟ فقاَلَ: ( لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَالَمْ يَيْـبِسَا)
Dari Ibnu Umar ia berkata; Suatu ketika Nabi melewati sebuah kebun di Makkah dan Madinah lalu Nabi mendengar suara dua orang yang sedang disiksa di dalam kuburnya. Nabi bersabda kepada para sahabat “Kedua orang (yang ada dalam kubur ini) sedang disiksa. Yang satu disiksa karena tidak memakai penutup ketika kencing sedang yang lainnya lagi karena sering mengadu domba”. Kemudian Rasulullah menyuruh sahabat untuk mengambil pelepah kurma, kemudian membelahnya menjadi dua bagian dan meletakkannya pada masing-masing kuburan tersebut. Para sahabat lalu bertanya, kenapa engkau melakukan hal ini ya Rasul?. Rasulullah menjawab: Semoga Allah meringankan siksa kedua orang tersebut selama dua pelepah kurma ini belum kering. (Sahih al-Bukhari, [1361])
Lebih ditegaskan lagi dalam I’anah al-Thalibin;
يُسَنُّ وَضْعُ جَرِيْدَةٍ خَضْرَاءَ عَلَى الْقَبْرِ لِلْإ تِّباَعِ وَلِأَنَّهُ يُخَفِّفُ عَنْهُ بِبَرَكَةِ تَسْبِيْحِهَا وَقيِْسَ بِهَا مَا اعْتِيْدَ مِنْ طَرْحِ نَحْوِ الرَّيْحَانِ الرَّطْبِ
Disunnahkan meletakkan pelepah kurma yang masih hijau di atas kuburan, karena hal ini adalah sunnah Nabi Muhammad Saw. dan dapat meringankan beban si mayat karena barokahnya bacaan tasbihnya bunga yang ditaburkan dan hal ini disamakan dengan sebagaimana adat kebiasaan, yaitu menaburi bunga yang harum dan basah atau yang masih segar.

Kamis, 06 September 2012

Doa Dimudahkan Mendapatkan Jodoh

Doa Dimudahkan Mendapatkan Jodoh

1.Doa mendapatkan jodoh
“Rabbana hablana min azwaajina, wa dzurriyyatina qurrata a’yuniw, waj’alna lil muttaqiena imaamaa.”
Artinya:
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami jodoh [2] kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang2 yang bertakwa.” (QS 25:74)
2.Do’a agar dimudahkan dalam mendapatkan jodoh :
“ROBBI LAA TADZARNI FARDAN WA ANTA KHOIRUL WAARITSIN”.
Artinya:
“Ya Allah janganlah engkau tinggalkan aku seorang diri dan engkau sebaik2nya dzat yang mewarisi”.
3. Doa bagi laki2 yang berharap jodoh :
“ROBBI HABLII MILLADUNKA ZAUJATAN THOYYIBAH AKHTUBUHA WA ATAZAWWAJ BIHA WATAKUNA SHOOHIBATAN LII FIDDIINI WADDUNYAA WAL AAKHIROH”.
Artinya:
“Ya Robb, berikanlah kepadaku istri yang terbaik dari sisi-Mu, istri yang aku lamar dan nikahi dan istri yang menjadi sahabatku dalam urusan agama, urusan dunia dan akhirat”.
4. Doa bagi wanita yang berharap jodoh :
“ROBBI HABLII MILLADUNKA ZAUJAN THOYYIBAN WAYAKUUNA SHOOHIBAN LII FIDDIINI WADDUNYAA WAL AAKHIROH”.
Artinya:
“Ya Robb, berikanlah kepadaku suami yang terbaik dari sisi-Mu, suami yang juga menjadi sahabatku dalam urusan agama, urusan dunia & akhirat”.
5. ALLAAHUMMAFTAHLII HIKMATAKA WANSYUR ‘ALAYYA MIN KHOZAA INI ROHMATIKA YAA ARHAMAR-ROOHIMIIN”.
Artinya:
“Ya Allah bukakanlah bagiku hikmah-Mu dan limpahkanlah padaku keberkahan-Mu, wahai Yang Maha Pengasih dan Penyayang”.
6. “ROBBI INNII LIMAA ANZALTA ILAYYA MIN KHOIRIN FAQIIR”.
Artinya:
Ya Robb, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”. (Q.S. 28 : 24)
7. “HASBUNALLOOH WANI’MAL WAKIIL NI’MAL MAULA WANI’MAN NASHIIR”.
Artinya:
“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung, Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong”. (Q.S. 3 : 173 & 8 : 40).
8. “ROBBANAA HABLANAA MIN AZWAAJINAA WADZURRIYYAATINAA QURROTA A’YUN WAJ ‘ALNAA LIL MUTTAQIINA IMAAMAA”.
Artinya:
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri2 kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami imam bagi orang2 yang bertakwa”. (Q.S. 25 : 74)

Minggu, 02 September 2012

PENDIDIKAN KARAKTER : Implementasi Aswaja Nilai Pendidikan Karakter





Judul:
PENDIDIKAN KARAKTER : Implementasi  Aswaja Nilai Pendidikan Karakter
Penulis:
M. Mahbubi, S.Fil.I., M.Pd.I.
Penerbit:
Pustaka Ilmu Yogyakarta. Cetakan Pertama Agustus 2012

Deskripsi Umum:
buku ini mengupas tentang sejarah dan teori pendidikan karakter dan Ahlus Sunnah Wal-Jamaah khususnya versi Nahdlatul Ulama.serta SMP Khadijah Surabaya.
SMP Khadijah Surabaya adalah salah satu sekolah tingkat SMP Islam di Jawa Timur (Surabaya) bahkan bisa di katakan sebagai salah satu sekolah favorit di Indonesia.
SMP Khadijah secara Historis didirikan oleh PBNU dan PP Ma'arif NU melalui Yayasan Khadijah (YTPS  NU KHadijah), maka dari itu tak heran jika di sekolah itu sangat kental dengan nuansa Ke- Nahdlatul Ulama'an nya. selain itu di SMP tersebut memiliki kuota pendidikan agama (yaitu 12 jam seminggu) yang jauh lebih banyak dari pada SMP pada umumnya (yang hanya 2 jam seminggu). namun tidak mengurangi mata peljaran UMUM lainnya.
SMP Khadijah juga telah menerapkan PENDIDIKAN KARAKTER jauh sebelum pemerintah dengan kemendikbudnya menerapkan kurikulum pendidikan karakter,


DAFTAR ISI BUKU:

BAB  I : KARAKTER NU: Implementasi Aswaja Sebagai Nilai Pendidikan Karakter
              di SMP  Khadijah Surabaya...................................................................... 1
A.          Permasalahan ........................................................................................... 1
B.           Kerangka Teoritik .................................................................................... 4
C.           Metode Penelitian .................................................................................... 5

BAB  II : ASWAJA DAN PENDIDIKAN KARAKTER ................................. 12
  1. Konsep Aswaja ......................................................................................... 12
1. Aswaja Versi  NU .................................................................................. 15
2. Karakteristik Aswaja Versi NU.............................................................. 17
3. Tradisi Aswaja NU ............................................................................... 21
4. Pembelajaran Aswaja Di Sekolah NU ................................................... 22

  1. Konsep Pendidikan Karakter..................................................................... 26
1. Nilai-Nilai dalam Pendidikan Karakter.................................................. 31
2. Bentuk-Bentuk Pendidikan Karakter..................................................... 34
3. Metode Pendidikan Karakter................................................................. 35
4. Landasan Pendidikan Karakter.............................................................. 37
a. Landasan Filosofis .............................................................................. 37
b. Landasan Hukum ............................................................................... 40
c. Landasan Relgius ................................................................................ 41
  1. Sejarah Pendidikan Karakter .................................................................... 43
1. Pendidikan Karakter Masa Klasik.......................................................... 43
2. Pendidikan Karakter Masa Nabi Saw..................................................... 44
3. Pendidikan Karakter Abad 18  Hingga Kontemporer............................ 46
4. Pendidikan Karakter di Indonesia.......................................................... 48

BAB  III : SELAYANG PANDANG SMP KHADIJAH SURABAYA .......... 50
A.          Sejarah Ringkas Yayasan Khadijah........................................................ 50
B.           Visi dan Misi SMP Khadijah Surabaya ................................................. 53
C.           Struktur Organisasi, Pendidik dan Tenaga Kependidikan SMP Khadijah
         Surabaya ................................................................................................ 55
D.          Jadwal KBM SMP Khadijah Surabaya ................................................. 58
E.           Sarana Dan Prasarana SMP Khadijah Surabaya .................................... 59
F.            Program Pendidikan SMP Khadijah Surabaya....................................... 67
G.          Kurikulum SMP Khadijah Surabaya ..................................................... 67
H.          Kondisi Siswa SMP Khadijah Surabaya ............................................... 70
I.             Karakteristik SMP Khadijah Surabaya .................................................. 73         

BAB  IV : IMPLEMENTASI ASWAJA ............................................................ 75
  1. Implementasi Pendidikan Karakter di SMP Khadijah Surabaya .............. 75
1.    Pengembangan Kurikulum Pendidikan Karakter ................................... 75
2.    Proses Implementasi Pendidikan Karakter di SMP Khadijah ................ 78
a. Perencanaan Pembelajaran .................................................................. 79
1). Silabus .......................................................................................... 79
2). Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)................................ 80
3). Bahan/ Buku Ajar.......................................................................... 81
b. Pelaksanaan Pembelajaran .................................................................. 84
1). Pendahuluan.................................................................................. 84
2). Inti................................................................................................. 85
3). Penutup.......................................................................................... 88
3.    Desain Implementasi Pendidikan Karakter SMP Khadijah Surabaya .... 90
1). Pendidikan Karakter Berbasis Kelas ............................................ 90
2). Pendidikan Karakter Berbasis Sekolah ........................................ 91
3). Pendidikan Karakter Berbasis Keluarga ....................................... 92
4.    Penilaian Pendidikan Karakter di SMP Khadijah Surabaya................... 93
5.    Evaluasi dan Monitoring di SMP Khadijah Surabaya............................. 96
  1. Pengaruh Pembelajaran Aswaja Terhadap Karakter Murid SMP Khadijah
Surabaya ................................................................................................... 98
1.    Kondisi Karakter Murid SMP Khadijah Surabaya.................................. 98
2.    Factor-faktor Pembentuk Karakter Murid SMP Khadijah Surabaya ... 101
3.    Pembelajaran Aswaja dan Pesantren Kota di Lingkungan SMP Khadijah
Surabaya ............................................................................................... 103

BAB  V : PENUTUP ......................................................................................... 109
A.    Kesimpulan .................................................................................... 109
B.     Saran-Saran .................................................................................... 109

BIBLIOGRAFI .................................................................................................. 111



mau tau bagaimana penerapan atau implementasi pendidikan karakter melalui pelajaran Aswaja di SMP Khadijah Surabaya??????
silahkan baca buku ini, karena sangat bermanfaat bagi siapa saja yang konsen dengan dunia pendidikan terutama di bidang pendidikan karakter...

dapatkan buku ini di toko-toko buku terdekat, hanya RP 45.000 rupiah.....

dan dapatkan diskon menarik untuk pembelian ke penulis langsung.
hubungi penulis di: 
doel_gemmek@yahoo.com 
atau add 
https://www.facebook.com/muhammad.mahbubi
call/ sms ke: 085-630-630-77