Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Mei 2013

ANGKA NOL DAN EKSISTENSI TUHAN

Manusia hidup dunia ini diberi tugas untuk mempercayai, mengenal dan mengakui adanya Tuhan. Adalah salah jika manusia tidak mau mengakui adanya Tuhan, karena hal itu sudah diperintahkan Allah dalam al-Qur’an surat al-A’raaf ayat 172. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana bisa mempercayai, mengenal dan mengakui adanya Tuhan, sementara eksistensi Tuhan sendiri  tidak diketahui.
Memang sangatlah sulit untuk bisa menggambarkan eksistensi Tuhan. Bahkan, pada abad ke-6 M, di Jazirah Arab, seorang laki-laki dengan tanda-tanda khusus, pernah mengatakan “Berpikirlah tentang nikmat-nikmat Allah dan jangan sekali-kali engkau berpikir tentang Dzat Allah.” Hal itu menunjukkan, orang tidak akan bisa  mengetahui eksistensi Tuhan. Akan tetapi, yang dapat diterima  adalah esensi dari Tuhan, berupa sifat-sifat ketuhanan seperti: “Yang Maha Pencipta, Yang Maha Berkuasa, Yang Maha Mengetahui, Yang Maha Berkehendak,  dan sebagainya.
Agar bisa mengakui akan eksistensi Tuhan, salah satunya dapat dilakukan dengan mengenali diri sendiri. Seperti yang diungkapkan pepatah “Kenalilah dirimu, maka kamu akan mengenal Tuhanmu.” Untuk mengenali diri sendiri, orang dapat belajar dari filosofi angka nol.
Angka Nol
Angka nol pertama kali ditemukan dalam tradisi Hinduisme India. Dalam bahasa India, nol berarti sunya, kosong, nihil, hampa, tidak ada apa-apa. Tradisi Hinduisme India telah mengakui adanya konsep “kehampaan,” sebagai simbol diri manusia yang terbebas dari keinginan-keinginan dan hawa nafsu. Menurut tradisi ini, kehidupan merupakan lingkaran samsara (kesengsaraan). Adanya samsara disebabkan bergabungnya ruh dengan badan. Untuk mencapai kebahagiaan sejati harus dilakukan pembebasan (moksha), sehingga ruh bisa menjadi sunya (terbebas dari badan berupa keinginan-keinginan dan hawa nafsu) (Charles: 2000).
Dari India, sejarah angka nol kemudian beralih Arab. Di Arab, angka nol semakin populer setelah diperkenalkan oleh seorang filsuf muslim bernama Muhammad Ibnu Musa al-Khawarizmi. Al-Khawarizmi merupakan seorang matematikawan muslim yang pernah meneliti sistem perhitungan Hindu (India). Dia kemudia menulisnya dalam buku berjudul Hisab Al-Jabr wa Al-Muqabala. Dalam buku al-Khawarizmi, “sunya” diberi nama “al-sifr,” berarti kosong, nihil, hampa atau tidak ada apa-apa. Dengan bukunya pula, al-Khwarizmi memperkenalkan penggunaan bilangan nol sebagai nilai tempat dalam basis sepuluh. Sistem ini disebut sistem bilangan desimal. Dari angka nol itu pula, kini setiap orang bisa menghitung demikian banyaknya (Rizal:2012).
Pada abad pertengahan, angka nol belum diterima oleh kalangan Barat, karena mereka belum mempercayai adanya sesuatu “yang tidak ada.” Mereka belum  mengakui eksistensi kenihilan. Mereka lebih memilih sistem bilangan Romawi yang tidak memiliki angka nol. Hingga akhirnya pada abad ke-13 M, seorang filsuf Italia–Leonardo Fibonacci–berhasil memperkenalkan angka nol kepada orang-orang Barat.
Filosofi Angka Nol
Angka nol melambangkan ketiadaan. Sebab manusia pada dasarnya diciptakan dari ketiadaan. Ketiadaan untuk memilih siapa orang tua yang akan melahirkan, ketiadaan untuk dilahirkan sempurna atau cacat, ketiadaan untuk memilih menjadi miskin atau kaya, dan ketiadaan untuk memiliki apapun. Dalam agama Yahudi-Kristen dinamakan creation ex nihilo. Seorang filsuf China Zen berkata: “Untuk menemukan diri yang sejati, kita harus kehilangan diri kita sendiri.” Ini artinya, orang perlu mengakui bahwa dirinya tidak memiliki apa-apa dan tidak berhak untuk memiliki apa-apa. Karena diri orang itu berasal dari ketiadaan, kehampaan dan kekosongan.
Dari alam kekosongan itulah, pada akhirnya orang akan dapat menyaksikan adanya Tuhan. Seorang filsuf Jerman Imanuel Khan berkata: “Untuk mengenal Tuhan secara benar sesuai dengan keagungan dan kebesaranya, aku mengabaikan semua pengetahuanku.” Oleh karena itu agar orang dapat menyaksikan adanya Tuhan, orang harus kembali ke alam kekosongan.  Caranya dengan menghilangkan semua yang ada di dalam dirinya.  Dalam serat Wedhatama bait ke-14 hal tersebut juga diungkapkan:
“ Bali alaming ngasuwung,
Tak karem karamean
Ingkang sipat wisesa winisesa wus,
Mulih mula mulanira.”
Artinya kembali ke alam yang mengosongkan, tidak mengumbar nafsu duniawi, yang bersifat kuasa menguasai, dan kembali ke asal muasalmu.” Dengan kata lain, manusia akan kembali lagi ke asalnya. Oleh karena itu jangan mengumbar nafsu duniawi dan jangan pula mempunyai sifat yang selalu berkuasa.
Kebalikan dari ketiadaan (prinsip angka nol) adalah sesuatu yang tak terhingga dan tak terbatas. Tuhan adalah pemilik ketakhinggaan yang mutlak. Karena ketakhinggaan-Nya tersebut, tak ada seorang atau sesuatu pun yang dapat menghalangi kuasa-Nya dalam berkehendak. “Dan Dia (Allah) adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Al-Maidah: 120).
Ia adalah Tuhan Yang Maha Mengetahui, yang esensinya tidak memiliki ukuran atau kriteria (Sayid Mujtaba, 1989). Wujud-Nya akan sangat berbeda dengan makhluk ciptaan-Nya (mukhollafatul lil-hawaditsi). Ia melingkupi seluruh alam semesta dan waktu. Oleh karena itulah, manusia tidak akan mampu melukiskan secara visual wujud dari Tuhan Allah. Di dunia ini Ia tidak dapat dilihat (Imam al-Ghazali, tt). “Dia tidak dapat dicapai oleh pengelihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan” (Al-An’am: 103). “Dia-lah yang Esa tanpa penyerupaan, pembagaimanaan, penggambaran, pengasosiasian, dan penyimbolan. Tak satupun di alam semesta ini yang mampu menyamai-Nya” (Al-Qusyairi, tt). Seseorang hanya dapat mengenali Allah SWT dari sifat-sifat serta bukti-bukti eksisteni-Nya lewat apa yang telah dianugerahkan-Nya di alam semesta ini.
Demikianlah filosofi angka nol. Dengan mengikuti filosofi angka nol, orang akan mengakui eksistensi Tuhan dengan mengakui ketiadaan diri, ketidakmampuan diri, serta ketidakberhakan diri untuk memiliki apapun.


Referensi
Al-Qur’an digital versi 2.1, 2004. Diambil dari http://www.alquran-digital.com 27 Juni 2012.
Al-Ghazali, I. tt. Ihya’ Ulumiddin. Diterjemahkan oleh Moh. Zuhri tahun 1990. Semarang : Asy-Syifa’.
Al-Qusyairi. tt. Risalah Qusyairiyah: Sumber Kajian Ilmu Tasawuf. Diterjemahkan oleh Umar Faruq tahun 2007. Jakarta: Pustaka Amani.
Charles, S. 2000. Zero: The Biography of A Dangerous Idea. New York: Penguin Books.
Mujtaba, S. 1989. Mengenal Tuhan dan Sifat-Sifat-Nya. Diterjemahkan oleh Ilham Manshuri dan Mufid Ashfahani tahun 2002. Jakarta: Lentera Basritama.
Rizal, A. 2012. Al-Khawarizmi dan Angka nol. Diambil dari www.al-khawarizmi-dan-angka-nol.htm tanggal 1 Oktober 2012.
Selain referensi di atas, tulisan ini sebagian diambil dari makalah yang ditulis M. Makin dan Lilik Suryani (mahasiswa jurusan pendidikan matematika IAIN Sunan Ampel Surabaya).

GURU 3 K


oleh:
Prof. Dr. H. Moh. Ali Aziz, M.Ag.
Guru Besar pada Fakultas Dakwah
 
Bulan ini, saya bersyukur kedatangan tiga guru spiritual. Mereka bukan ustad yang biasa mengumandangkan ratusan hafalan ayat Al Qur’an dan hadis nabi. Bukan juga pemimpin kelompok dzikir dengan peci putih di kepala dan tasbih melingkar di jari tangan. Tidak satu ayat atau hadispun terucap dari mulut tiga tamu itu. Tapi, sungguh beberapa kata yang disampaikan di tengah pembicaraan itu  membuat saya sangat haru, sekaligus memperoleh banyak pelajaran. Pertama, orang buta (63 tahun) yang datang jauh dari Lumajang (90 km dari Surabaya). Kedua, pengidap tumor ganas dan gangguan jantung (67 tahun) dari Surabaya. Ketiga, tamu dari Sidoarjo (64 tahun). Sebelumnya, ia tidak bisa berjalan selama lima tahun karena mengalami penyempitan pembuluh darah di balik kedua betisnya.
Ketiga tamu itu datang pada waktu dan tempat yang berbeda, tapi memberi pelajaran yang sama: keikhlasan, keridloan dan kepasrahan.  “Saya ikhlas. Senang saja menerima cobaan ini. Saya tidak minta sembuh. Terserah saja apa kehendak Allah,” inilah inti jawaban mereka ketika saya tanya, “Apa bapak meminta sembuh dari penyakit berat ini?”. Luar biasa.  Itulah penggalan kalimat yang membuat saya merinding dan meneteskan air mata tanpa terasa.
Kehebatan mereka terletak pada penguatan mindset, sehingga mereka “meminum yang pahit dengan rasa manis”. Sekalipun demikian, saya ingin menambah semangat kebahagiaan disamping apresiasi besar. Kepada “guru” pertama yang buta, saya mengatakan, “Saya yakin, bapak adalah orang pertama yang melihat cahaya surga. Orang pertama pula yang diberi kesempatan memandang keindahan “wajah” Allah di akhirat kelak. Sebab, bapak telah terbebas dari dosa mata, dan tercabut dari keindahan alam semesta. Dengan kebutaan, bapak telah memperoleh ketajaman atau kepekaan telinga mendengar kalam Allah.”
Kepada “guru” kedua, saya berbagi, “Keriangan bapak menerima tumor sebagai kado dinar dari Allah pasti ampunan dosa dari-Nya, melebihi pengampunan dari ibadah umrah dan haji puluhan kali.” Bagi saya, riang menerima cobaan bernilai lebih tinggi dari kesabaran.  Sakit sedikit karena tertusuk duri di jalan saja sudah mendatangkan ampunan, kata Nabi SAW.  Apalagi gangguan jantung dan tumor. Sekian lama merasakan sakit fisik. Ratusan juta rupiah ia dikeluarkan untuk pengobatan. Di akhir pertemuan, pria lansia itu masih berpesan, “Saya sehat lebih dari 60 tahun. Maka jika saya sakit hanya tiga tahun, tidaklah pantas bagi saya untuk membesar-besarkan penyakit dan melupakan kesehatan yang dianugrahkan sekian lama.”
Kepada “guru” ketiga, saya tidak hanya haru tapi juga kaget. Setelah menguatkan ridla dan keikhlasan menerima kelumpuhan kaki dan pembulatan pasrah kepada Allah dengan puncak kepasrahan dalam rukuk dan sujudnya, tiba-tiba ketika adzan shubuh, Selasa (lupa tanggal) April 2013 itu, ia bisa berjalan sampai ke masjid untuk shalat berjamaah, sekalipun dengan sedikit menyeret kaki. “Dulu saya tiada henti meminta sembuh. Tapi setelah lama tidak sembuh, saya ikhlas dan ridlo saja. Saya bulatkan lagi kepasrahan kepada Allah dalam setiap rukuk dan sujud saya.  Ternyata, di saat demikian, justru diberi kesembuhan,” katanya dengan wajah sumringah.
Salam takdzim untuk ketiga “guru” saya. Saya bertekad menyontoh keikhlasan, keridloan dan kepasrahan mereka.  Saya kirimkan satu hadis Nabi berikut sebagai hadiah dan kenang-kenangan perjumpaan dengan mereka.  “Suatu saat, Ibnu Abbas berkata kepada ‘Attha’ bin Abi Rabah, “Maukah kamu saya tunjukkan perempuan calon penghuni surga?” “Tentu, dengan senang hati,” jawan ‘Atha’. Lalu Ibnu Abbas menunjuk ke arah perempuan berkulit hitam, dan berkata, “Dia pernah mengadu kepada Nabi SAW, “Wahai Nabi, aku punya penyakit ayan, dan terbuka auratku ketika itu. Berdoalah untuk kesembuhanku.” Nabi SAW menjawab, “Jika mau, bersabarlah dan surga pasti untukmu. Tapi jika tetap ingin sembuh, saya akan berdoa untuk kesembuhanmu.” Perempuan itu menjawab, “Aku memilih sabar, wahai nabi. Hanya doakan aku, agar auratku tidak terbuka ketika ayan” Lalu Nabi SAW berdoa (sesuai harapan si tamu). (HR Bukhari Muslim dari ‘Atha’ bin Abi Ribah r.a) (Dalilul Falihin, Juz I: 119). (Surabaya, 2-5-13)

taken from: 
http://www.sunan-ampel.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=996%3Aguru-3-k&catid=45%3Akolom-p-rektor&lang=in

Selasa, 26 Maret 2013

ASWAJA ala Nahdlatul Ulama

Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi yang didirikan para kyai-kyai yang berpengaruh, KH. Hasyim Asy’ari merupakan simbol ulama besar yang berpengaruh. Tujuan didirikannya Nahdlatul Ulama diantaranya adalah memelihara, melestarikan, mengembangkan dan mengamalkan ajaran Islam Ahlus Sunnah Wa al-Jama’ah yang menganut madzhab empat, yakni : Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i dan Imam Hambali. Disamping itu juga bagaimana bisa menyatukan antara ulama dan [para pengikutnya-pengikutnya serta melakukan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk menciptakan kemaslahan masyaraka, kemajuan bangsa dan ketingian harkat dan martabat manusia.
Islam Ahlus Sunnah Wa al-Jama’ah adalah ajaran yang disampaikan Nabi Muhammad SAW kepada sahabat-sahabat-Nya dan beliau amalkan serta diamalkan para sahabat, paham Ahlus Sunnah Wa al-Jama’ah dalam Nahdlatul Ulama mencakup aspek aqidah, syariah dan akhlak. Ketiganya, merupakan satu kesatuan ajaran yang mencakup seluruh aspek prinsip keagamaan Islam. Ahlus Sunnah Wa al-Jama’ah didasarkan pada manhaj (pola pemikiran) Asy’ariyah dan Maturidiyah dalam bidang aqidah, dalam bidang fiqih menganut empat madzhab besar (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali) dalam bidang tasawuf menganut manhaj Imam al-Ghazali dan Imam Abu al-Qasim al-Junaidi al-Bagdadi, serta imam lainnya yang sejalan dengan syari’ah Islam.
Ciri utama Aswaja NU adalah sikap tawassuth dan i’tidal (tengah-tengah atau keseimbangan). Yakni selalu seimbang dalam menggunakan dalail, antara dalil naqli dan dalil aqli, antara pendapat jabariyah dan qodariyah, sikap moderat dalam menghadapi perubahan dunyawiyah. Dalam masalah fiqih sikap pertengahan antara ”ijtihad” dan taqlid buta, yaitu dengan cara bermadzhab, ciri suikap ini adalah tegas dalam hal-hal yang qathi’iyyat dan toreran dalam hal-hal zhanniyyat.
Tawassuth dalam menyikapi budaya ialah mempertahankan budaya lama yang baik dan menerima budaya baru yang lebih baik, dengan sikap ini Aswaja NU tidak apriori menolak atau menerima salah satu dari keduanya.
Sumber Ajaran Aswaja NU
Pola perumusan hukum dan ajaran Ahlul Sunnah Wa al-Jama’ah Nahdlatul Ulama sangat tergantung pada pola pemecahan masalahnya, antara: pola maudhu’iyah (tematik) atau terapan (qonuniyah) dan waqi’yah (kasuistik). Pola maudhu’iyah merupakan pendiskripsian masalah berbentuk tashawur lintas disiplin keilmuan empirik. Ketika rumusan hukum atau ajaran islam dengan kepentingan terapan hukum positif,  maka pendekatan masalahnya berintikan ”tathbiq al-syari’
Ah” disesuaikan dengan kesadaran hukum kemajemukan bangsa. Apabila langkah kerjanya sebatas merespon kejadian faktual yang bersifat kedaerahan atau insidental, cukup menempuh penyelesaian metode eklektif (takhayyur) yaitu memilih kutipan doktrin yang siap pakai (instan).
Metode pengalian atau pengambilan sumber (referensi) dan langkah-langkanya baik deduktif maupun induktif dalam tradisi keagaan Nahdlatul Ulama dalam mengembangkan paham Ahlul Sunnah Wa al-Jama’ah.
  • Madzhab Qauli, pandangan keagamaan ulama yang terindentifikasi sebagai ”ulama sunni” dikutip utuh qaulnya dari kitab mu’tabar (qaulnya Imam Syafi’i) dalam madzhab, untuk memperjelas dan memperluas doktrin yang akan diambil bisa mengunakan kitab syarah yang disusun oleh ulama sunni yang bermadzhab yang sama (Imam al Nawawi)
  • Madzhab Manhaji, madzhab ini lebih mengarah pada masalah yang bersifat kasuistik yang diperlukan penyertaan dalil nash syar’i berupa kutipan al-Quran, nuqilan matan sunnah atau hadist, serta ijmak
  • Madzhab Ijtihad, metode akan ditemui pada permasalahan rancangan undang-undang atau rancangan peraturan daerah, dengan pola ijtihad dengan memgang asas-asa idtihad dan didukung kearifan lokal serta dialakukan secara kolektif.
Aqidah Aswaja
Ketika Rasullah Muhammad SAW masih hidup, setiap persoalan dan perbedaan pendapat di antara kaum muslimin langsung dapat diselesaikan langsung oleh Kanjeng Nabi Muhammmad, tetapi setelah beliau wafat, penyelesaian tersebut tidak ditemukan sehingga sering terjadi perbedaan lalu mengedap dan terjadi permusuhan di antara mereka, awal-awal perbedaan muncul persoalan imamah lalu merembet pada persoalan aqidah, terutama mengenai hukum orang muslim yang berbuat dosa besar apakah dia dihukumi kafir atau mukmin ketika dia mati.
Perdebatan ini akhirnya merembet pada persoalan Tuhan dan Manusia, terutama pada terkait dengan perbuatan manusia dan kekuasaan Tuhan (sifat Tuhan, keadilan Tuhan, melihat Tuhan, ke hudutsan dan ke-qadim-an Tuhan dan kemakhukan Quran), pertetangan tersebut makin meruncing dan kian saling menghujat.
Ditengah-tengah arus kuat perbedaan pendapat munculah pendapat moderat yang mencoba berusaha mengkompromikan kedua pendapat tersebut, kelompok moderat terbut adalah Asy’ariyah dan Maturudiyah yang keduanya kemudian dinamakan kelompok Ahlus Sunnah Wa al-Jama’ah (Aswaja).
Konsep Aqidah Asy’ariyah
Konsep ini dimunculkan oleh Imam Abul Hasan al-Asy’ari, beliau lahir di Basrah sekitar tahun 260 H/873M dan wafat di Baghdad 324H/935M, aqidah Asy’ariyah merupakan jalan tengan dari kelompok-kerlompok keagamaan yang pada waktu itu berkembang yakni kelompok Jabariyah dan Qodariyah yang dikembangkan oleh Mu’tazilah.pertentangan kelompok tersebut terlihat dari pendapat mengenai perbuatan manusia,kelompok Jabariyah berpendapat bahwa perbuatan manusia seluhnya diciptakan oleh Allah dan manusia tidak memiliki andil sedikitpun, berbeda dengan pendapat kelompok Qodariyah, bahwa perbuatan manusia seluruhnya adalah diciptakan oleh manusia itu sendiri terlepas dari Allah, artinya kelompok Jabariyah melihat kekuasaan Allah itu mutlak sedang kelompok Qodariyah melihat kekuasaan Allah terbatas.
Asy’ariyah besikap mengambil jalan tengah (tawasuth) dengan konsep upasya (al-kasb), menurut Asyari perbuatan manusia diciptakan oleh Allah, namun manusia memiliki peranan dalam perbutaannya, artinya upaya (kasb) meiliki makna kebersamaan kekuasaan manusia dengan perbuatan Tuhan, upaya juga bermakna keaktifan dan tanggung jawab manusia atas perbuatannya. Dengan demikian manusia selalu keratif dan berusaha dalam menjalankan kehidupannya, akan tetapi tidak melupakan Tuhan. Konsep Asy’ariyah mengenai toleransi (tasammuh), mengenai konsep kekuasan Tuhan yang mutlak, bagi Mu’taziah Tuhan WAJIB bersikap adil dalam memperlakukan mahluk-Nya, Tuhan wajib memasukan orang baik ke surga dn orang jahat ke neraka, berbeda dengan Asy’ariyah, alasannya kewajiban berati telah terjadi pembatasan terhadap kekuasaan Tuhan, padalah Tuhan memiliki kekuasaan mutlak, tidak ada yang membatasi kekuasaan dan kehendak Tuhan, termasuk soal akal, Mu’tazilah memposisikan akal diatas wahyu, berbeda dengan Asy’ariyah akal dibawal wahyu, namun akal diperlukan dalam memahami wahyu, artinya dalam Asyariyah akal tidak ditolak, dan kerja-kerja rasionalitas dihormati dalam kerangka pemahaman dan penafsiran wahyu berserta langka-langkahnya.
Konsep Aqidah Maturidiyah
Konsep Aqidah Maturudiyah didirikan oleh Imam Abu Manshur al-Maturidi, beliau lahir di Maturid di Samarkand, wafatnya sekitar tahun 333H, konsep Maturiyah tidak jauh berbeda dengan konsep Asy’ariyah, namun pada sandaran madzhabnya saja, kalau Asy’ariyah bermadzhab pada Imam Syafi’i dam Imam Maliki sedangkan Maturidiyah pada Imam Hanafi.
Konsep jalan tengah (tawasuth) yang ditawarkan Maturidiya adalah jalan damai anatar nash dan akal, artinya pendapat Maturidiyah melihat bahwa suatu kesalahan apabilah kita berhenti berbuat pada saat tidak terdapat nash (teks), begitu juga sebaliknya salah jika kita larut dan tidak terkendali dalam mengunakan akal. Artinya sama pentingnya mengunakan nash dan akaldalam memahami kekuasaan (ayat-ayat) Tuhan.
Dengan munculnya Asy’ariyah dan Maturidiyah merupakan perdamaian antara kelompok Jabariyah yang Fatalistik dan Qodariyah yang mengagung-agungkan akal, sikap keduanya merupakan sikap Ahlus Sunnah Wa al-Jama’ah dalam beraqidah, sikap tawasuth diperlukan untuk merealisasikan amar ma’ruf nahi munkar yang selalu mengedepankan kebajikan secara bijak, prinsipnya bagaimana nilai-nilai Islam dijadikan landasan dan pijakan bermasyarakat serta dilakukan sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat setempat.
Syariah ASWAJA an Nahdliyah
Ketika Rasullulaah SWA masih hidup, umat manusia menerima ajarn langsung daribeliau atau dari sahabat yang hadir ketika beliau menyampaikan, setelah rasullulah wafat para sahabat menyebarkan ajaran pada generasi selanjutnya. Dengan perkembangan zaman dan kondisi masyarakat yang kian dinamis banyak persoalan baru yang dihadapi umat, seringkali hal yang muncul tidak tredapat jawabat secara tegas dalam al-Quran dam al-Hadis, maka untuk mengetahui hukum atau ketentuan persoalan baru tersebut diperlukan upaya ijtihad.
Pola pemahaman ajaran Islam melalui ijtihad para mujtahid biasa disebut madzab yang berarti ”jalan pikiran dan jalan pemahaman” atau pola pemahaman. Pola pemahaman dengan metode, prosedur dan produk ijtihad tersebut diikuti oleh umat Isalam yang tidak mampu melakukan ijtihad sendiri, karena keterbatasan ilmu dan syarat-syarat yang dimiliki. Inilah yang disebut bermazhab atau mengunakan mazhab. Dengan cara bermazhab inilah ajaran Islam dapat dikembangkan, disebarluaskan dan diamalkan dengan mudah kepada semua lapisan masyarakat. Melalui sistem inilah pewarisan dan pengamalan ajaran Islam terpelihara kelurusannya serta terjamin kemurnian al-Quran dan al-Hadist dipahami, ditafsirkan dan diopertahankan.
Kenapa harus empat mazhab
Di antara mazhab bidang fiqh yang paling berpengaruh yang pernah ada sebanyak empat (Syafi’i, Maliki, Hambali dan Hanafi), alasan memilih keempat Imam tersebut;
  • Secara kualitas pribadi dan keilmuan mereka sudah mashur, artinya jika disebut nama mereka hampir dapat dipastikan maroritas umat Islam di dunia mengenal dan tidak diperlukan penjelasan detail.
  • Keempat Imam tersebut adalah Imam Mujtahid Mutlak Mustaqil, yaitu Imam yang mampu secara mandiri menciptakan Manhaj al-fikr, pola, metode, proses dan prosedur istimbath dengan seluruh perangkat yang dibutuhkan
  • Para Imam Mazhab memiliki murid yang secara konsisten mengajar dan mengembangkan mazhabnya yang didukung oleh kitab induk yang masih terjamin keasliannya hingga sekarang
  • Keempat Imam tersebut memiliki mata rantai dan jaringan intelektual diantara mereka.
Tasawuf Aswaja ala NU
Ahlus Sunnah Wa al-Jama’ah memiliki prinsip, bahwa hakiki tujuan hidup adalah tercapaianya keseimbangan kepentingan dunia dan akhirat, serta selalu mendekatkan diri pada Allah SWT. Untuk dapat mendekatkan diri pada Allah, diperlukan perjalanan spiritual, yang bertujuan memperoleh hakikat dan kesempurnaan hidup, namun hakikat tidak boleh dicapai dengan meninggalkan rambu-ra,bu syariat yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dalam al-Quran dan Sunnah Rasullullah SAW, ini merupakan prinsip dari tasawuf Aswaja.
Kaum Nahdliyin dapat memasuki kehidupan sufi melalui cara-cara yang telah digunakan oleh seorang sufi tertentu dalam bentuk thariqah, tidak semua thariqah memiliki sanad kepada Nabi Muhammmad, dan yang tidak memiliki sanad pada Nabi Muhammmad tidak diterima sebagai thariqah mu’tabarah oleh Nahdliyin.
Jalan sufi yang telah dicontohkan Nabi Muhammad dan pewarisnya,adalah jalan yang tetap memegang teguh pada perintah-perintah syariat seperti ajaran-ajaran tasawuh yang terdapat dalam tasawuf al-Ghazali dan Junaid al-Baghdadi. Tasawuf model al-Ghazali dan Junaid al-Baghdadi diharapkan umat akan dinamis dan dapat mensandingkan antara kenikmatan bertemu dengan Tuhan dan sekaligus menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi manusia, seperti yang ditunjukan oleh wali songo yang menyerkan islam di Indonesia. Dengan model tasawuf yang moderat memungkinkan umat islam secara individu memiliki hubungan langsung dengan Tuhan dan secara berjamaah dapat melakukn gerakan kebaikan umat, sehingga menjadikan umat memiliki kesalehan individu dan kesalehan sosial.

copied from: http://www.nusurabaya.or.id/kajian-aswaja/

Jumat, 14 Desember 2012

Pesantren Kota


PESANTREN KOTA[1]
( Implementasi Kurikulum Pendidikan Karakter Bernuansa Agama)
Oleh M. Mahbubi[2]


FAKTA
1.      Tawuran kerap sekali terjadi antar siswa sekolah terutama di kota-kota besar.
2.      setiap tahun, selalu terjadi kebocoran dan kecurangan dalam pelaksanaan UN di seluruh Indonesia, bahkan hal ini di sponsori oleh kepala daerah dan kepala dinas pendidikan demi gengsi. Gengsi daerah agar dipandang berhasil bla bla bla bla. (sumber: http://cetak.kompas.com/read/2009/11/14/03415275/pengawasan.un.diperketat).
3.      Di level pembuat kebijakan, pendidikan tak ubahnya sebuah proyek "megatriliun" yang mesti diperebutkan, seperti contoh: proyek pembangunan atau renvasi gedung sekolah, pengadaan buku, pengadaan alat-alat Lab, UN, dll. (sumber: http://www.sindoweekly-magz.com/artikel/12/I/24-30_mei_2012/educare/4/antara_kebangkitan_nasional_dan_carut-marut).
4.      Maraknya kasus mencontek bersama yang dilakukan oleh siswa (contoh kasus yang muncul di permukaan adalah SDN Gadel Surabaya) dan guru (contoh kasus yng muncul di permukaan adalah pada kasus PLPG di Unesa, sumber: http://kampus.okezone.com/read/2012/08/14/373/677334/unesa-usut-aksi-mencontek-plpg)
5.      Pembuatan naskah Soal Ujian nasional ataupun semester yang terpusat telah “membunuh karakter siswa dan kreatifitas guru di daerah yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.
6.      Program rintisan sekolah bertaraf internasional, dan kiprah swasta yang dianggap memandang pendidikan tak lebih dari sekadar komoditas dagangan.
7.      Minimnya Pelajaran Agama (praktek pelajaran Agama di sekolah Umum hanya 2 jam seminggu) dan merosotnya semangat Nasionalisme di semua lini pendidikan.
8.      Minimnya keteladanan yang ditunjukkan oleh guru kepada muridnya. Contoh guru melarang siswa merokok akan tetapi guru tersebut merokok di kantin sekolah, kantor guru bahkan di ruang kelas ketika mengajar.
9.      Minimnya keteladanan yang ditunjukkan oleh orang tua kepada putra-putrinya. Contoh orang tua menyuruh anaknya untuk mengaji di TPQ/ TPA/ musholla setiap sore atau ba’da Maghrib, akan tetapi orang tuanya (terutama ibu) pada jama-jam tersebut menonton sinetron atau “kasak-kusuk” selebritis.


PROBLEMATIKA
1.      Pendidikan seolah-olah tak berhasil mengubah perilaku para anak didik yang kerap berperang terhadap sesama
2.      Pendidikan seakan tak berdaya membendung pengaruh negatif dari kemajuan zaman. Di level pembuat kebijakan, pendidikan tak ubahnya sebuah proyek "megatriliun" yang mesti diperebutkan. Belum lagi soal kebijakan-kebijakan dalam pendidikan yang kerap pro dan kontra.
3.      Lembaga pendidikan saat ini tak lebih seperti tempat penitipan anak bagi kedua orang tua yang sibuk dengan pekerjaannya maing-masing.
4.      Tidak ada sinkronisasi / misskomunikasi antara program sekolah dengan keinginan orang tua dan anak
5.      Minimnya pendidikan agama ditengarai sebagai salah satu penyebab gagalnya sistem pendidikan di indonesia

TAWARAN SOLUSI
1.      Menekankan “hiden kurikulum” pendidikan karakter secara holistik di semua unit penidikan.
2.      Penerapan dan pembiasaan karakter yang bernuansa agamis di semua unit pendidikan.
3.      Menambah porsi pendidikan agama dan pelajaran yang bermuatan “nasionalisme” untuk meminimalisir carut-marutnya pendidikan di Indonesia
4.      Menerapkan sistem pendidikan pesantren (agama) dengan guru dan orang tua sebagai model / suri tauladan
5.      Adanya sinkronisasi dan komunikasi yang intensif tentang program sekolah serta perkembangan siswa kepada orangtua



[1] Di sampaikan  pada sarasehan pendidikan karakter berbasis ke- aswaja-an  di Sidoarjo hari minggu 16 Desember 2012
[2] mahasiswa S3 IAIN Sunan Ampel Surabaya  konsentrasi pendidikan islam

Sabtu, 03 November 2012

Kesalahpahaman tentang Generasi Terbaik

Sebagian muslim menyerukan supaya kita ramai-ramai mengikuti generasi Salaf. Ketika mereka mengetahui bahwa saya seorang muslim yang sependapat, mendalami dan menyiarkan  Tasawuf dalam Islam, mereka mengatakan seperti ini,
“Sezuhud-zuhudnya, sewara’-wara’nya, se tawadhu’-tawadhu’nya generasi Khalaf….Tidak akan pernah mampu menandingi generasi salaf”
Pernyataan ini mereka merujuk pada hadits berikut,
Dari Abdullah ibn Mas’ud radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah (yang hidup) di zamanku, kemudian orang-orang setelahnya, kemudian orang-orang setelahnya“. HR. Bukhari, no. 2652, Muslim, no. 6635.
Bagaimana mungkin matan hadits tersebut “sebaik-baiknya manusia adalah (yang hidup) di zamanku” berlaku untuk seluruh manusia generasi salaf di zaman Rasulullah SAW.
Matan hadits itu bertentangan dengan Al-Qur’an yang lebih banyak menyematkan atribut dan sifat-sifat negatif terhadap kebanyakan kaum muslimin yang sezaman dengan Nabiullah Muhammad saw?. Al-Qur’an menginformasikan kepada kita kebanyakan dari mereka yang sezaman dengan Nabi sebagai orang-orang munafik, yang keterlaluan dalam kemunafikannya (Qs. At-Taubah: 101), masih berpenyakit dalam hatinya, tidak memiliki keteguhan iman, dan berprsangka jahiliyah terhadap Allah swt (Qs. Ali-Imran: 154), sangat enggan berjihad (Qs. An-Nisa’: 71-72 dan At-Taubah ayat 38), melakukan kekacauan dalam barisan (Qs. At-Taubah: 47), lari tunggang langgang ketika berhadapan dengan musuh (Qs. Ali-Imran: 153 dan At-Taubah : 25), bahkan kebanyakan mereka lebih memilih perdagangan dan permainan daripada mendengarkan Nabiullah Muhammad saww berkhutbah, “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki.” (Qs. Al-Jumu’ah: 11).
Kalau pula dikatakan bahwa ketiga generasi itu yang dikatakan terbaik, orang-orang muslim semuanya akan berpegang teguh pada satu akidah yang benar sebagaimana yang disampaikan Rasulullah saw.
Namun realitanya beragam sekte, firqah dan mazhab dalam masyarakat Islam timbul pada generasi itu.
Khawarij muncul dipenghujung tahun ke-30 H, mereka memiliki akidah yang batil mengenai keimanan, mereka membunuhi kaum muslimin yang berselisih paham dengan keyakinan mereka, dengan mudah mereka menyematkan kekafiran kepada banyak kaum muslimin, sehingga hamparan bumi bersimbah darah karenanya. Belum berakhir satu abad pertama, kembali muncul Murjiah, mereka mengajak umat Islam untuk berlepas dari tatanan dan komitmen syariat dengan slogan yang terkesan humanis dan elegan, “Selama seseorang masih beriman, maksiat apapun yang dilakukan tidak tercatat sebagai dosa”. Iman bagi paham ini cukup dengan ucapan, sehingga berbagai kewajiban agama, moralitas dan berbagai kode etik diremehkan dan ditinggalkan. Tidak lama berselang setelah itu, muncul kembali Mu’tazilah pada tahun 105 H dengan jarak yang singkat sebelum wafatnya Hasan al Bashri. Kehadiran paham baru ini semakin membuat jurang perselisihan dan perpecahan kaum muslimin semakin menganga dan melebar dan bahkan terkadang perselisihan yang ada mesti diselesaikan dengan pertumpahan darah.
Bagaimana mungkin sebuah hadits bertentangan dengan realita yang terjadi ?
Pengertian sebenarnya dari Salafush Sholeh adalah mereka-mereka generasi salaf yang sholeh, sholeh = berakhlak baik. Yang menjalankan ketiga pokok ajaran Islam , termasuk Ihsan yang artinya berakhlak baik atau pun muslim yang terbaik atau muhsinin. (Ihsan dalam bahasa arab artinya terbaik, sempurna).
Siapa mereka ?, tentu adalah para Sahabat, para Tabi’in dan para Tabi’ut Tabi’in, disini jelas yang dimaksud adalah orangnya bukan generasinya.
Lalu, apakah tidak mungkin muslim yang hidup setelah generasi Salaf menjadi muslim yang terbaik, berakhlak baik, atau muhsinin ?
Firman Allah SWT, “Sungguh sebaik-baiknya diantara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.” (Qs. Al-Hujurat: 13).
Allah SWT berfirman, “Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran.” (Qs. Al-’Asr: 1-3). Ayat ini menegaskan manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka beriman, mengerjakan kebajikan, saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran. Allah SWT tidak mempersyaratkan generasi, masa dan zaman di mana seorang hambanya hidup dan bermukim.
Seorang manusia tidak pernah memilih dan tidak punya ikhtiar mengenai kapan dan dimana ia dilahirkan, sebab telah menjadi hak mutlak Allah swt untuk menetapkannya. Karenanya berdasarkan falsafah keadilan Ilahi adalah keniscayaan tidak menjadikan semata-mata masa dan tempat lahir sebagai persyaratan seseorang disebut memiliki kebaikan dan kemuliaan, melainkan berdasarkan kekuatan iman, kedalaman ilmu dan keikhlasan amal.
Coba kita perhatikan hadits diriwayatkan dari Abu Jum’ah ra yang berkata “Suatu saat kami pernah makan siang bersama Rasulullah saww dan ketika itu ada Abu Ubaidah bin Jarrah ra yang berkata “Wahai Rasulullah saww adakah orang yang lebih baik dari kami? Kami memeluk Islam dan berjihad bersama Engkau”. Beliau saww menjawab “Ya ada, yaitu kaum yang akan datang setelah kalian, yang beriman kepadaku padahal mereka tidak melihatku”. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad Ahmad juz 4 hal 106 hadis no 17017 tahqiq Syaikh Syu’aib Al Arnauth dimana beliau berkata hadis ini shahih.
Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ad Darimi dalam Sunan Ad Darimi juz 2 hal 398 hadis no 2744 dengan sanad yang shahih. Dan diriwayatkan pula oleh Al Hakim dalam kitabnya Mustadrak Ash Shahihain juz 4 hal 85 hadis no 6992 dimana Beliau berkata hadis tersebut shahih dan disepakati oleh Adz Dzahabi dalam Talkhis Al Mustadrak
Begitu juga ada sebagian muslim yang menyerukan bahwa kita sebaiknya tidak mengikuti Imam Madzhab yang empat yakni, Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i dan Imam Hanbali, karena mereka tidak maksum (terjaga dari kesalahan).  Padahal kita tahu bahwa yang maksum adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Imam Madzhab yang empat mengikuti Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam, para Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in. Mereka menggali hukum (fikih) berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits.
Begitu pula dengan metode pemahaman mereka secara dzahir, harfiah atau tekstual mereka beralasan kenapa kita tidak perlu mengikut imam madzhab yang empat, karena imam madzhab pernah menyatakan bahwa jika kita menemukan pendapat mereka yang keliru maka kita kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits.
Mereka memahami pernyataan imam-imam madzhab itu dengan apa-adanya atau tekstual atau secara tersurat.
Padahal maksud Imam-Imam madzhab itu adalah agar kita mengikuti mereka tetap  merujuk pada Al-Qur’an dan Hadits. Yang tersirat dari pernyataan Imam-imam Madzhab itu adalah  sikap tawadhu mereka. Ini adalah suatu tauladan akhlak yang terpuji.
Marilah kita mendalami dan menjalankan pokok-pokok ajaran dalam Islam secara menyeluruh (kaffah), sebaiknya tidak menolak/meningkari satu pokokpun. Pokok-pokok ajaran dalam Islam yakni, , Islam (rukun Islam, fiqih), Iman (rukun Iman, Ushuluddin), Ihsan (akhlak,  Tasawuf). Kita mendalami dan menjalankan keseluruhan pokok-pokok ajaran dalam Islam  agar menjadi muslim yang sholeh, muslim terbaik, muslim yang ihsan atau muhsinin  yakni muslim yang dapat seolah-olah melihat Allah.
Seolah-olah melihat Allah timbul dari akhlakul karimah = keadaan sadar (kesadaran) atau perbuatan/perilaku secara sadar dan Mengingat Allah.
Setiap perilaku kita / akhlak kita harus dengan mengingat Allah, seluruh waktu kita penuh berinteraksi dengan Alllah
Bagaimana caranya?
Caranya adalah menjadikan Qur’an itu sebagai hidayah,
Artinya setiap perilaku kita / akhlak kita selalu sesuai dengan tuntunan Al Qur’an, dan seluruh waktu kita penuh berinteraksi dengan Al Qur’an.
Contoh:
Kita mendirikan Sholat , sholat sudah mengikuti Al-Qur’an dan Hadits (Fikih), sholat dilakukan diniatkan karena Allah (Ushuluddin) , namun memandang (melihat) selainNya (Tasawuf), misalkan timbul di hati memandang (melihat) manusia agar dianggap sebagai muslim yang sholeh. Sehingga sholatnya lalai. Maka celakalah !
Jadi yang benar adalah,  sholat mengikuti Al-Qur’an dan Hadits (fikih), sholat diniatkan karena Allah (Ushuluddin) dan dilakukan secara sadar dan mengingat Allah (tasawuf) ===> amal ibadah sholat kita akan sampai (wushul) ke hadhirat Allah. Inilah yang disebut sholat adalah mi’raj nya kaum muslimin (Ash-shalatul Mi’rajul Mu’minin ).
Wassalam.

pojokan kelas doktoral khusus A, IAIN SUNAN AMPEL,
sebuah refleksi ringkas perkuliahan Metodologi Studi Islam nya Prof. Amin Abdullah, Ph.D

the meaning of Islam

mendefinisikan "ISLAM" secara ilmiah mungkin agak terlalu sulit, karena kita harus membedakan antara "Islamic thought" (pemikiran Islam) dan "Islam as Religion It-self",
#1. *  Islamic Thought mengacu semua kepada semua cabang ilmu-ilmu ke-islam-an yang sedang berkembang, seperti penafsiran Qur'an, Studi Hadist, Teologi (ilmu kalam), ilmu Fiqh, tasawuf dll.
     ** Islam as Religion it self merujuk pada sesuatu yang sakral dan suci.
#2. Islamic Thought itu tunduk pada pada perubahan, sedangkan "Islam as Religion it self" tidak .

Pendidikan Karakter : Mengasah Kepekaan Hati Nurani

Pendahuluan
Bertubi-tubi bangsa Indonesia terkena musibah.  Tidak hanya musibah alam, berupa guncangan gempa di berbagai daerah tetapi juga gempa-gempa sosial,  agama, politik, ekonomi  dan hukum.  Munculnya  peristiwa  satu dan lainnya hampir-hampir tidak berjarak. Belum lepas dari ingatan bangsa Indonesia  bagaimana dahsyatnya musibah tsunami Aceh, gempa dahsyat di  Yogya, Tasikmalaya dan Padang,  kemudian diiringi  peristiwa bom bunuh diri (Suicide bombings) di berbagai daerah dan penyergapan dan penangkapan sebagian para pelakunya.  Disusul pemilihan umum dan pimilukada yang diwarnai money politic dengan berbagai intrik-intrik dan kecurangan yang melekat didalamnya,  diselingi kekerasan yang berbasis ideologi agama, tawuran antar kelompok pemuda dan warga desa, diramaikan pula oleh  kasus cicak-buaya, ledakan bank Century yang mengguncang dunia politik, dan yang paling baru adalah makelar kasus  dan mafia peradilan perpajakan yang menyeret Gayus dengan kekayaannya yang fantastis  dengan melibatkan aparat penegak hukum baik di kepolisian, kejaksaaan maupun kehakiman. Lengkaplah sudah  gempa alam, sosial, agama, politik  dan hukum yang diderita bangsa ini.  Gempa sosial, agama, politik, dan hukum yang bertubi-tubi dan saling silih berganti ini menunjukkan betapa rendahnya kualitas karakter manusia Indonesia, sehingga masuk rangking tertinggi dalam daftar urut negara terkorup di dunia. Krisis multidimensi, krisis etika, krisis kepercayaan diri, krisis kepercayaan sosial belum berakhir dan cenderung menjadi-jadi.
Musibah, krisis multidimensi dan cobaan besar yang diderita oleh bangsa ini menggugah dan memaksa warga negara, masyarakat sipil, pejabat negara dan institusi sosial-kemasyarakatan dan keagamaan untuk introspeksi diri dan melakukan langkah-langkah perbaikan.  Mengapa bangsa dan manusia Indonesia, yang biasa mengklaim dirinya religius, mengidap penyakit akut “split of personality” (Kepribadian yang terpecah)? Yaitu, keterpecahan atau tidak kemampuan  menyatukan perkataan dan perbuatan, antara “teori” dan “praktek”. Orang (bisa jaksa, polisi, hakim, guru, dosen, pejabat negara), bahkan orang-orang beragama, tokoh partai, tokoh organisasi, tokoh LSM sering hafal diluar kepala rumus-rumus, undang-undang, ayat-ayat, tetapi tidak mampu melaksanakan apa yang ia ketahui dan hafal dalam kehidupan nyata sehari-hari. Mudah tergoda oleh berbagai bujuk rayu, iming-iming, kepentingan golongan, ekonomi, agama, partai dan begitu seterusnya.
Penyakit Split of Personality ini dalam al-Qur’an Surat al-Shaff (61), ayat 2-3, sebagai berikut :
(Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kami kerjakan).
Bukankah, salah satu tujuan diutusnya seorang Nabi, rasul, yang kemudian diteruskan (diwariskan) kepada seluruh ulama, great leaders (pemimpin-pemimpin besar) diseluruh antero dunia adalah untuk memperbaiki akhlak manusia (Innama bu’itstu li utammima makarim al-akhlak). Akhlak disini bukanlah sekedar ”Ilmu Akhlak”, tetapi lebih pada menyatunya teori dan praktik, lengkatnya ucapan dan perbuatan, tidak melebarnya jarak antara hafalan, rumus, ayat, undang-undang, PP dan realitas kehidupan riil sehari-hari dalam masyarakat.
Adalah Kementerian Pendidikan Nasional yang mencoba melihat bahwa pangkal tolak persoalannya adalah terletak pada lemahnya pendidikan karakter (Character building) dalam kehidupan berbangsa, beragama, bermasyarakat dan bernegara. Tidak ada anggota masyarakat yang manapun dan dimana pun  di tanah air yang kebal  dari penyakit  sosial ini. Sejauh ini belum ada obat yang mujarab untuk mengobati penyakit yang kronis ini.  Bukankah sudah ditegaskan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.  Singkatnya melalui pendidikan hendak diwujudkan peserta didik yang memiliki berbagai kecerdasan, baik kecerdasan spiritual, emosional, sosial, intelektual maupun kecerdasan kinestetika. Dari segi rumusan, barangkali inilah rumusan tujuan pendidikan yang paling ideal, ambisius dan nyaris sempurna, tetapi tetap saja menyimpan pertanyaan besar mengapa dalam alam praktik kehidupan sosial bernegara, berbangsa, beragama, dan bermasyarakat masih muncul krisis akut yang tak berkesudahan?  What went wrong (apa yang salah ?) dalam berbangsa dan bernegara yang kita cintai bersama ini ? Diperlukan kajian yang komprehensif, radikal. bersinambungan, sungguh-sungguh dan tak perlu jemu mencoba dan salah dan mencoba lagi dan salah dan  sampai berhasil. Tugas ini adalah tugas long life strife, perjuangan sosial sepanjang usia manusia, perjuangan yang tak kenal masa awal dan masa akhir. Semua upaya perbaikan perlu dilakukan terus menerus tak kenal henti, ibarat air yang mengalir, tanpa kenal henti.
Multidimensionalitas Pendidikan Karakter
Tidak mudah mencari jalan keluar dari persoalan yang sedang dihadapi bangsa ini. Tidak ada definisi  Pendidikan Karakter yang memuaskan, karena setiap definisi biasanya hanya menekankan pentingnya aspek tertentu dan mengabaikan aspek lain. Begitu juga pandangan atau pendekatan disiplin keilmuan terhadap Pendidikan Karakter. Tak ada satu pun pendekatan keilmuan – dengan mengabaikan pendekatan disiplin keilmuan lain – yang memuaskan.  Sifat Pendidikan Karakter adalah multidimensi  dan  multidisiplin, sehingga diperlukan pendekatan yang komprehensif, utuh, interkonektif antar berbagai disiplin ilmu,  tidak sektoral-parsial, ad hoc, apalagi atomistik. Pendidikan Karakter mengasumsikan keterkaitan erat antara dimensi moral, sosial, ekonomi, politik, hukum, agama, budaya, dan estetika. Pendidikan agama, begitu juga pendidikan kewarganegaraan pada level manapun tidak dapat berbuat banyak jika ia berdiri sendiri (self sufficiency), karena jika tidak dikaitkan dengan budaya, sosial, hukum dan politik misalnya,  maka pendidikan agama hanya akan jatuh pada rumus-rumus dan preskripsi-preskripsi normatif, yang mungkin mudah dihapal,  tapi seringkali  tidak dapat dipraktikkan dan diimplementasikan dalam dunia sosial sehari-hari yang begitu kompleks.
Menyadari kesulitan yang begitu kompleks, dengan mengambil inspirasi dari seorang  filsuf Jerman era modern, Immanuel Kant, dapat ditegaskan disini bahwa Pendidikan  Karakter adalah pendidikan kemanusiaan yang bertujuan  menjadikan manusia “baik”. Menjadikan manusia “baik” tanpa prasyarat apapun. Meskipun pendapat ini terkesan deontologis dan ahistoris,  tapi justru disitulah letak kekuatan dan relevansinya saat ini.  Pada era Negara bangsa (nation states), Pendidikan Karakter sangat diperlukan oleh bangsa manapun karena dengan Pendidikan Karakter yang berhasil akan membuat warga masyarakat dan warga negara menjadi “baik” tanpa prasyarat apapun. Menjadikan warga negara  yang “baik” tanpa embel-embel syarat agama, sosial, ekonomi, budaya, ras, politik dan hukum. Pendidikan Karakter seperti ini sejalan dengan cita-cita kemandirian manusia (moral otonomy) dalam  bertetangga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.  Pendidikan Karakter yang sukses akan sama dengan tujuan beragama, bermasyarakat, berbangsa dan  bernegara  yang baik dalam ranah  multikultural, multietnis, multibahasa, multi religi di era globalisasi seperti saat sekarang ini.
Namun ada pertanyaan yang sulit dijawab. Seiring dengan keberhasilan pendidikan di tanah air, maka pengetahuan dan keterampilan manusia Indonesia turut meningkat pesat, meskipun belum sebagus dibanding negeri lain, seperti Malayia dan Singapura. Namun mengapa MORALITAS dan KARAKTER manusia Indonesia merosot tajam ? Korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), white color crime (kejahatan kerah putih), mutual distrust antar warga negara,  distrust kepada pejabat publik, pengadilan yang tidak adil, tawuran pelajar, bentrok antar warga desa, antar RT/RW, kekerasan intern umat beragama, juga antar umat beragama, demonstrasi yang anarkhis, suap-menyuap, makelar kasus, kongkalikong perpajakan, birokrasi yang korup ada dimana-mana?  Belum lagi harus disebut rendahnya disiplin lalu lintas, rendahnya solidaritas sosial, disiplin pegawai negeri yang rendah, rendahnya disiplin nasional dan begitu seterusnya.
Bukankah pendidikan kewarganegaraan, pendidikan Pancasila, pendidikan agama telah diselenggarakan dalam setiap jenjang pendidikan? Bahkan untuk pendidikan agama di sekolah saja selama 12 tahun, anak didik memperoleh  tidak kurang dari 960 jam ?  Belum lagi menyebut Penataran P 4 yang dahulu dilakukan oleh pemerintah Orde Baru? Mengapa upaya ini tidak atau belum dapat mengantar anak didik mempunyai Karakter yang baik? Apakah Pendidikan Karakter yang sukses dapat mengurangi kejahatan sosial, ekonomi, politik, hukum, dan agama? Jangan-jangan ada yang  keliru dan perlu ditinjau dalam ulang hal-hal yang terkait dengan metode penyampaian, pendekatan yang digunakan, paradigma yang membimbing pendidikan karakter dan materi yang disusun? Perlu ada kajian dan penelitian yang komprehensif dan mendalam tentang hal ini, melibatkan stakeholders, guru, dosen, dan anak didik untuk semua jenjangnya, peneliti, pengamat sosial, Lembaga Swadaya Masyarakat, tokoh-tokoh agama, kementerian pendidikan  nasional dan kementerian agama, bahkan para jaksa, hakim, kepolisian, pengusaha, pejabat pemda dan masyarakat luas sebelum dilakukan pembenahan yang integratif-interkonektif-menyeluruh dalam Pendidikan Karakter di tanah air. Penelitian dan kajian yang mendalam  dan komprehensif perlu  dilakukan secara periodik dan menjadi agenda nasional atau Rencana Aksi Nasional (RAN), jika saja pemerintah pusat dan daerah dan warganegara pada umumnya memiliki sense of urgency dan sense of crisis.
Peran hatinurani, bukan intelektualitas
Banyak faktor menjadikan Pendidikan Karakter tidak atau kurang berhasil di lingkungan sekolah dan lebih-lebih di masyarakat luas di tanah air. Perangkat undang-undang dan aturan-aturan yang ada sudah lebih dari cukup namun pengawasan pelaksanaannya sangat lemah,  Tapi yang sering dilupakan adalah bahwasanya Pendidikan Karakter memang diawali dengan Pengetahuan (Teori), Pengetahuan (Teori) tersebut bisa bersumber dari pengetahuan agama, sosial, budaya. Kemudian dari pengetahuan itu diharapkan dapat Membentuk Sikap atau akhlak yang mulia. Namun yang paling penting dari rangkaian panjang ini adalah MENGAMALKAN apa yang diketahui itu. Disini terjadi kekeliruan dan  ketidaktepatan  dalam menentukan paradigma pembelajaran Pendidikan Karakter di tanah air. Yang semestinya diperlukan adalah MENGAMALKAN berubah menjadi yang dipentingkan adalah MENGETAHUI atau menghapal, tanpa kemampuan untuk melakukan dan mempraktekkanya di lapangan.
Dapat dijumpai secara mudah di tanah air bahwa  model pembelajaran Pendidikan Karakter atau akhlak yang berjalan sekarang ini lebih mengutamakan ‘alih pengetahuan moral, agama atau karakter’ (transfer of knowledge tentang moral, agama  atau karakter). Dengan paradigma pembelajaran seperti ini,  maka yang ditekankan oleh pendidik adalah penguasaan materi sesuai SAP yang tersedia dan daya serap anak  didik atau memorisasi / hafalan lebih dipentingkan. Praktik ini tergambar dengan jelas dalam model soal ujian atau test yang dibuat oleh guru atau dosen.  Akibat langsung yang tidak dirasakan selama bertahun-tahun adalah bahwa Pendidikan Karakter atau moral dan akhlak terlalu berorientasi pada intelektualisme etis. Padahal model paradigma pembelajaran Pendidikan Karakter (humanities)  semestinya tidaklah seperti pembelajaran sains (natural sciences) yang memang memerlukan ketajaman analisis intelektual .
Model dan paradigma pembelajaran sains dan matematika (Natural sciences) berbeda dari model dan paradigma pembelajaran humanities.  Yang diperlukan dalam pembelajaran humanities, dalam hal ini  Pendidikan Karakter, adalah kemampuan guru, dosen,  pendidik, pemimpin  untuk “menyentuh dan menyapa keseluruhan dan keutuhan pribadi anak didik. Keutuhan pribadi  manusia  meliputi perasaan, rasio, imajinasi, kreativitas dan memori. Dengan begitu, paradigma  Pendidikan Karakter seharusnya lebih tajam diarahkan  pada KEHENDAK dan MOTIVASI, dan bukannya intelektualitas. Oleh karena itu, yang perlu dikenal terlebih dahulu oleh para pendidik adalah Struktur Kepribadian manusia. Sedangkan Motivasi atau Kehendak sangat terkait dengan Hatinurani. Maka Pendidikan Karakter adalah Pendidikan Hatinurani.
Sampai disini, penulis teringat ada sebuah hadis Nabi (bagi penganut agama Islam) yang menyatakan bahwa “ala inna fi al-jasadi mudghah, wa hiya qalbu” (Ketahuilah bahwasanya di dalam tubuh manusia ada segumpal darah, yaitu hati). Hati atau qalbu disini bukanlah  bentuk fisiknya,  yaitu segumpal darah, melainkan  adalah Mind Set atau seperangkat nilai-nilai yang telah membentuk perilaku.  Mind Set inilah  biasa disebut  dengan filsafat hidup pribadi (Mabda’ al hayah), yang telah mendarah mendaging. Dalam Mind Set atau Falsafah hidup pribadi mempunyai berbagai potensi yang seluruhnya perlu disentuh dan digerakkan, antara lain emosi, rasio, imajinasi, memori, kehendak, nafsu, dan kecenderungan-kecenderungan. Seluruh potensi ruhani yang tertimbun dalam badan fisik manusia  akan tampak keluar ke permukaaan dalam bentuk perilaku lahiriyyah, baik dalam bentuk ekspresi wajah atau raut muka (senyum, sangar, cemberut, peduli, ramah), gerak-gerik (bhs Jawa : solah bowo) mencurigakan, slintutan), tutur bicara ( bhs Jawa : muna muni) seperti halus, kasar, galak, manis, tingkah laku (tegas, sopan, kasih sayang)  dan juga kelalaian (lupa, tidak serius, tidak teliti).
Pengalaman menjalani dan melakukan nilai-nilai dalam kehidupan
Oleh karena gambaran model dan pendidikan humanities, lebih-lebih yang menyangkut Pendidikan Karakter, sangat berbeda dari paradigma pengajaran dan pendidikan natural sciences, maka paradigma pendidikan,  pembelajaran dan pembiasaannya  pun tidaklah dapat bertumpu pada akal-intelek semata, atau kemampuan menghafal rumus-rumus perbuatan yang baik, bahkan bukan pula sekedar menghafal dan mengutip ayat-ayat kitab suci atau hadis (khususnya untuk pendidikan agama), tetapi lebih ditekankan pada PENGALAMAN HIDUP (Living Experience). Peserta didik dan lebih-lebih lagi guru, dosen, orang tua, para pejabat dan pemimpin perlu berpengalaman, merasakan, mencoba terlebih dahulu,  mempraktikkan, melakukan dan mengamalkan terlebih dahulu apa yang disebut dengan “rela berkorban”, “jujur”, ”tanggungjawab”, “memaafkan”, ”compassion” (bela negara), “hormat kepada orang lain”, “hormat kepada orang tua”, “hidup sederhana”, “kasih sayang”, “kerjasama”, “peduli”, “toleran”. “Kebebasan”, “bahagia”, “harmoni”, “menghargai perbedaan”, ”kebhinekaan”, ”transparan”, ”pluralitas”,  “empati”, “simpati”, “dedikasi”, “perdamaian”. “persatuan”, “keadilan”, ”kesetaraan”, ”kesejahteraan” dan begitu seterusnya.
Pendidikan humanities yang antara lain meliputi Pendidikan Karakter, pendidikan hati nurani, dan juga pendidikan nilai perlu melibatkan secara utuh aspek  perasaan, imajinasi, ingatan-memori dan kreativitas. Pendidikan Karakter yang berkualitas dan berhasil, dengan sendirinya akan akan dapat menggugah perasaan, merangsang imajinasi, mengaktifkan ingatan dan menggerakkan kreativitas serta  mendorong kehendak untuk berbuat. Salah satu indikator keberhasilan dan kesuksesan Pendidikan Karakter jika pada ujungnya dapat  MEMOTIVASI peserta didik untuk berbuat riiil dan nyata dalam bersikap, berperilaku, dan berbuat dalam alam perbuatan dan amalan yang nyata. Sudah barang tentu contoh-contoh dan kasus-kasus konkrit yang diambil dari PENGALAMAN HIDUP yang nyata  akan mempermudah peserta didik tergerak, meneladani, mengamalkan, mempraktikkan nilai-nilai dan Karakter baik (dan menjauhi yang buruk) dalam kehidupan pribadi dan masyarakat
Salah satu indikator keberhasilan Pendidikan Karakter bermula dari tumbuhnya kesediaan seseorang atau peserta didik untuk menghargai nilai. Menghargai nilai mengandung arti bahwa seseorang atau anak didik telah tersentuh hatinya dan dapat menyimpulkan bahwa nilai tersebut sebagai sesuatu yang indah dan baik untuk diri pribadi dan masyarakatnya. Pribadi-pribadi tersebut menyatakan dalam hati masing-masing  bahwa nilai-nilai baik tersebut menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan dirinya. Menghargai nilai-nilai kemanusiaan yang “baik”. Nilai-nilai yang baik,  tanpa embel-embel syarat apapun. Tanpa embel-embel syarat agama, ras, suku, etnis, kelamin, usia, pendidikan, tingkat intelektualitas, literasi, difable dan begitu seterusnya.  Dengan demikian, ada tahapan-tahapan yang perlu dilalui dalam Pendidikan Karakter, yaitu dari tindakan  dapat Menghargai nilai,  kemudian meningkat ke Penerimaan nilai dengan penuh kesadaran dan ketulusan,  dan akhirnya berujung pada Pengamalan dan penerapan nilai dalam kehidupan pribadi, masyarakat, bangsa, negara bahkan sebagai warga dunia. Sampai disitu,  maka nilai-nilai kebaikan tadi telah melekat, tertanam kokoh  dan terbiasa dalam sepak terjang kehidupan anak didik, mahasiswa dan anggota masyarakat dimanapun dan kapanpun dan dalam cuaca sosial, agama, politik, ekonomi yang bagaimanapun.
Pendidikan Karakter menuntut ketajaman dan kepekaan Hatinurani. Hatinurani jauh lebih penting dari pada kepandaian intelektualitas semata. Kecerdasan spiritualitas dan kecerdasan emosi memang sangat terkait dengan kepekaaan hati nurani. Radius kepekaaan dan ketajaman daya jangkau radar hati nurani memang sangat jauh ke dalam maupun keluar karena akan berpengaruh, membimbing dan memandu Tata Pikir (kecerdasan Intelektualitas), Tutur Kata (Kecerdasan Komunikasi), Sikap-sikap (Kecerdasan emosi), Tindak-tanduk (Kecerdasan sosial). Akumulasi dari berbagai kecerdasan tersebut adalah kecerdasan spiritual. Dengan demikian, Pendidikan Karakter terkait dengan kecerdasan spiritual. Secara ekstrim dapat dikatakan bahwa kematangan kecerdasan spiritual sangat terkait dan tergantung kepada bagaimana impact keberhasilan pendidikan Karakter dilakukan oleh sebuah komunitas manusia. Bahkan pendidikan agama dan pendidikan kewarganegaraan juga akan mengalami kegagalan jika tidak mampu membentuk Karakter yang baik, unggul dan kuat (Character building) bagi pribadi dan masyarakat pendukungnya.
Tindak Lanjut dan Penutup
  1. Diperlukan penyegaran sikap, komitmen seluruh warga masyarakat dan pembaharuan metode dan pendekatan Pendidikan Karakter yang lebih integratif-interkonektif-koordinatif. Multidimensionalitas Pendidikan Karakter perlu dijadikan acuan untuk perbaikan dan penyempurnaan apa  yang telah dilakukan selama ini.
  2. Pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan dan pendidikan Pancasila perlu dikaitkan dengan isu-isu baru yang lebih menyentuh kebutuhan dasar manusia (Human development index) seperti kesehatan (reproductive health), kesetaraan gender (gender equity), pemerintahan yang baik (good governance), kesejahteraan ekonomi (enterpreneurship) dan rembug bersama para pemimpin agama  (faith-based organization) tentang permasalahan sosial kebangsaan.
  3. Diiperlukan upaya aksi nasional atau Rencana Aksi Nasional (RAN) dari tingkat pusat, daerah, kota dan desa untuk mengupdate dan merefresh pimpinan-pimpinan sosial keagamaan yang berpengaruh (Leaders of influence) untuk duduk bersama-sama selama 2 – 3 minggu untuk memperoleh data-data terbaru perihal human development yang comprehensif dan tukar pikiran, pengalaman antar mereka, untuk mencari jalan keluar bersama dalam menghadapi berbagai persoalan sosial, korupsi, kolusi, nepotisme, (narkoba, fandalisme), ekologi (kerusakan lingkungan), disiplin lalu lintas, ekonomi, pemberdayaan ekonomi dan seterusnya. Bangsa kita dapat belajar dari  bangsa lain yang lebih berpengalaman dalam gerakan aksi nasional yang konkrit, non sloganistik.