Teh
hijau alias green tea adalah salah satu jenis teh yang cukup populer
dikonsumsi, terutama di negara-negara Asia seperti Jepang dan Indonesia
sendiri. Di Jepang,
teh hijau
(ryokucha) adalah teh yang sangat sering dikonsumsi sehingga bila
disebut teh (ocha) kemungkinan besar yang dimaksud adalah teh hijau.
Berasal dari bahan yang sama dengan black tea — daun Camelia sinensis — teh hijau tidak mengalami fermentasi seperti
teh hitam. Proses pembuatannya secara garis besar terdiri dari 5 tahap, yaitu:
- Proses Pelayuan.
Daun teh segar hasil pemetikan dari kebun ditebar dan diaduk untuk
mengurangi kandungan air yang ada. Kemudian, daun dilayukan dengan uap
panas tekanan tinggi. Proses ini akan mematikan aktivitas enzim yang
bisa menghambat proses fermentasi. Langkah ini pula bisa menurunkan air
hingga 60 – 70%.
- Proses Pendinginan.
- Proses Penggulungan Daun.
Proses ini bertujuan untuk memecah sel dan sehingga menghasilkan rasa
sepet. Langkah ini mirip dengan proses pembuatan teh hitam, namun daun
tidak sampai hancur seperti halnya pada black tea.
- Proses Pengeringan.
Proses ini dilakukan dalam 2 tahap. Yang pertama pada suhu 110 – 135
derajat celcius selama 30 menit dan yang kedua pada suhu 70 – 90 derajat
celcius selama 60 – 90 menit.
- Proses Sortasi.
Pada tahap ini, teh hijau terbagi dalam beberapa kualitas mutu, seperti
pekko (daun pucuk), jikeng (daun bawah / tua), bubuk / kempring (remukan
daun), dan tulang.
Salah satu khasiat teh hijau yang paling
terkenal adalah sebagai antitumor. Seperti membantu memperkecil dan
mengurangi keganasan tumor, terutama tumor
kanker
payudara, kanker lambung, kanker usur besar, kanker dubur, kanker hati,
dan kanker pankreas. Ini berdasar dari hasil penelitian yang dilakukan
oleh Dr. Gail Sonenshein, dosen biokimia pada Fakultas Kedokteran
Universitas Boston yang melakukan percobaan terhadap tikus dimana
setelah meminum teh hijau, tumor tikus tumbuh lebih lambat dan tidak
lagi menyerang sel-sel sehat.
Selain itu, daun teh hijau yang
dikeringkan dikabarkan mengandung 40% polifenol, zat antioksidan ampuh
yang mampu mengurangi resiko kanker. Senyawa ini akan menetralkan
radikal bebas penyebab munculnya sel kanker..
Sementara itu,
berdasarkan temuan kaseem, peneliti dari Universitas Alexandria, Mesir,
teh hijau mampu membuat 20% bakteri resisten menjadi rentan dengan
antibiotik sefalosporin (sejenis antibiotik penting untuk mengatasi
strain bakteri yang telah berubah menjadi resisten atau kebal). Bahkan
ia dan timnya menyimpulkan teh hijau mampu meningkatkan keampuhan
antibiotik dalam mebunuh bakteri resisten hingga 3 kali lipat.

Satu lagi manfaat teh hijau adalah ia dapat berperan untuk menunjang diet Anda karena teh hijau mampu berfungsi sebagai
fat burneralias
pembakar lemak. Teknisnya, minuman teh hijau bisa membantu metabolisme
trigliserida untuk diubah menjadi asam lemak. Selanjutnya, dengan
berolahraga, maka asam lemak tersebut akan terbakar.
Untuk
mengoptimalkan fungsinya sebagai pembakar lemak, teh hijau sebaiknya
diminum sebelum latihan dan sebelum makan. Mudah, bukan?