Sabtu, 03 November 2012

Kesalahpahaman tentang Generasi Terbaik

Sebagian muslim menyerukan supaya kita ramai-ramai mengikuti generasi Salaf. Ketika mereka mengetahui bahwa saya seorang muslim yang sependapat, mendalami dan menyiarkan  Tasawuf dalam Islam, mereka mengatakan seperti ini,
“Sezuhud-zuhudnya, sewara’-wara’nya, se tawadhu’-tawadhu’nya generasi Khalaf….Tidak akan pernah mampu menandingi generasi salaf”
Pernyataan ini mereka merujuk pada hadits berikut,
Dari Abdullah ibn Mas’ud radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah (yang hidup) di zamanku, kemudian orang-orang setelahnya, kemudian orang-orang setelahnya“. HR. Bukhari, no. 2652, Muslim, no. 6635.
Bagaimana mungkin matan hadits tersebut “sebaik-baiknya manusia adalah (yang hidup) di zamanku” berlaku untuk seluruh manusia generasi salaf di zaman Rasulullah SAW.
Matan hadits itu bertentangan dengan Al-Qur’an yang lebih banyak menyematkan atribut dan sifat-sifat negatif terhadap kebanyakan kaum muslimin yang sezaman dengan Nabiullah Muhammad saw?. Al-Qur’an menginformasikan kepada kita kebanyakan dari mereka yang sezaman dengan Nabi sebagai orang-orang munafik, yang keterlaluan dalam kemunafikannya (Qs. At-Taubah: 101), masih berpenyakit dalam hatinya, tidak memiliki keteguhan iman, dan berprsangka jahiliyah terhadap Allah swt (Qs. Ali-Imran: 154), sangat enggan berjihad (Qs. An-Nisa’: 71-72 dan At-Taubah ayat 38), melakukan kekacauan dalam barisan (Qs. At-Taubah: 47), lari tunggang langgang ketika berhadapan dengan musuh (Qs. Ali-Imran: 153 dan At-Taubah : 25), bahkan kebanyakan mereka lebih memilih perdagangan dan permainan daripada mendengarkan Nabiullah Muhammad saww berkhutbah, “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki.” (Qs. Al-Jumu’ah: 11).
Kalau pula dikatakan bahwa ketiga generasi itu yang dikatakan terbaik, orang-orang muslim semuanya akan berpegang teguh pada satu akidah yang benar sebagaimana yang disampaikan Rasulullah saw.
Namun realitanya beragam sekte, firqah dan mazhab dalam masyarakat Islam timbul pada generasi itu.
Khawarij muncul dipenghujung tahun ke-30 H, mereka memiliki akidah yang batil mengenai keimanan, mereka membunuhi kaum muslimin yang berselisih paham dengan keyakinan mereka, dengan mudah mereka menyematkan kekafiran kepada banyak kaum muslimin, sehingga hamparan bumi bersimbah darah karenanya. Belum berakhir satu abad pertama, kembali muncul Murjiah, mereka mengajak umat Islam untuk berlepas dari tatanan dan komitmen syariat dengan slogan yang terkesan humanis dan elegan, “Selama seseorang masih beriman, maksiat apapun yang dilakukan tidak tercatat sebagai dosa”. Iman bagi paham ini cukup dengan ucapan, sehingga berbagai kewajiban agama, moralitas dan berbagai kode etik diremehkan dan ditinggalkan. Tidak lama berselang setelah itu, muncul kembali Mu’tazilah pada tahun 105 H dengan jarak yang singkat sebelum wafatnya Hasan al Bashri. Kehadiran paham baru ini semakin membuat jurang perselisihan dan perpecahan kaum muslimin semakin menganga dan melebar dan bahkan terkadang perselisihan yang ada mesti diselesaikan dengan pertumpahan darah.
Bagaimana mungkin sebuah hadits bertentangan dengan realita yang terjadi ?
Pengertian sebenarnya dari Salafush Sholeh adalah mereka-mereka generasi salaf yang sholeh, sholeh = berakhlak baik. Yang menjalankan ketiga pokok ajaran Islam , termasuk Ihsan yang artinya berakhlak baik atau pun muslim yang terbaik atau muhsinin. (Ihsan dalam bahasa arab artinya terbaik, sempurna).
Siapa mereka ?, tentu adalah para Sahabat, para Tabi’in dan para Tabi’ut Tabi’in, disini jelas yang dimaksud adalah orangnya bukan generasinya.
Lalu, apakah tidak mungkin muslim yang hidup setelah generasi Salaf menjadi muslim yang terbaik, berakhlak baik, atau muhsinin ?
Firman Allah SWT, “Sungguh sebaik-baiknya diantara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.” (Qs. Al-Hujurat: 13).
Allah SWT berfirman, “Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran.” (Qs. Al-’Asr: 1-3). Ayat ini menegaskan manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka beriman, mengerjakan kebajikan, saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran. Allah SWT tidak mempersyaratkan generasi, masa dan zaman di mana seorang hambanya hidup dan bermukim.
Seorang manusia tidak pernah memilih dan tidak punya ikhtiar mengenai kapan dan dimana ia dilahirkan, sebab telah menjadi hak mutlak Allah swt untuk menetapkannya. Karenanya berdasarkan falsafah keadilan Ilahi adalah keniscayaan tidak menjadikan semata-mata masa dan tempat lahir sebagai persyaratan seseorang disebut memiliki kebaikan dan kemuliaan, melainkan berdasarkan kekuatan iman, kedalaman ilmu dan keikhlasan amal.
Coba kita perhatikan hadits diriwayatkan dari Abu Jum’ah ra yang berkata “Suatu saat kami pernah makan siang bersama Rasulullah saww dan ketika itu ada Abu Ubaidah bin Jarrah ra yang berkata “Wahai Rasulullah saww adakah orang yang lebih baik dari kami? Kami memeluk Islam dan berjihad bersama Engkau”. Beliau saww menjawab “Ya ada, yaitu kaum yang akan datang setelah kalian, yang beriman kepadaku padahal mereka tidak melihatku”. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad Ahmad juz 4 hal 106 hadis no 17017 tahqiq Syaikh Syu’aib Al Arnauth dimana beliau berkata hadis ini shahih.
Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ad Darimi dalam Sunan Ad Darimi juz 2 hal 398 hadis no 2744 dengan sanad yang shahih. Dan diriwayatkan pula oleh Al Hakim dalam kitabnya Mustadrak Ash Shahihain juz 4 hal 85 hadis no 6992 dimana Beliau berkata hadis tersebut shahih dan disepakati oleh Adz Dzahabi dalam Talkhis Al Mustadrak
Begitu juga ada sebagian muslim yang menyerukan bahwa kita sebaiknya tidak mengikuti Imam Madzhab yang empat yakni, Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i dan Imam Hanbali, karena mereka tidak maksum (terjaga dari kesalahan).  Padahal kita tahu bahwa yang maksum adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Imam Madzhab yang empat mengikuti Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam, para Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in. Mereka menggali hukum (fikih) berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits.
Begitu pula dengan metode pemahaman mereka secara dzahir, harfiah atau tekstual mereka beralasan kenapa kita tidak perlu mengikut imam madzhab yang empat, karena imam madzhab pernah menyatakan bahwa jika kita menemukan pendapat mereka yang keliru maka kita kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits.
Mereka memahami pernyataan imam-imam madzhab itu dengan apa-adanya atau tekstual atau secara tersurat.
Padahal maksud Imam-Imam madzhab itu adalah agar kita mengikuti mereka tetap  merujuk pada Al-Qur’an dan Hadits. Yang tersirat dari pernyataan Imam-imam Madzhab itu adalah  sikap tawadhu mereka. Ini adalah suatu tauladan akhlak yang terpuji.
Marilah kita mendalami dan menjalankan pokok-pokok ajaran dalam Islam secara menyeluruh (kaffah), sebaiknya tidak menolak/meningkari satu pokokpun. Pokok-pokok ajaran dalam Islam yakni, , Islam (rukun Islam, fiqih), Iman (rukun Iman, Ushuluddin), Ihsan (akhlak,  Tasawuf). Kita mendalami dan menjalankan keseluruhan pokok-pokok ajaran dalam Islam  agar menjadi muslim yang sholeh, muslim terbaik, muslim yang ihsan atau muhsinin  yakni muslim yang dapat seolah-olah melihat Allah.
Seolah-olah melihat Allah timbul dari akhlakul karimah = keadaan sadar (kesadaran) atau perbuatan/perilaku secara sadar dan Mengingat Allah.
Setiap perilaku kita / akhlak kita harus dengan mengingat Allah, seluruh waktu kita penuh berinteraksi dengan Alllah
Bagaimana caranya?
Caranya adalah menjadikan Qur’an itu sebagai hidayah,
Artinya setiap perilaku kita / akhlak kita selalu sesuai dengan tuntunan Al Qur’an, dan seluruh waktu kita penuh berinteraksi dengan Al Qur’an.
Contoh:
Kita mendirikan Sholat , sholat sudah mengikuti Al-Qur’an dan Hadits (Fikih), sholat dilakukan diniatkan karena Allah (Ushuluddin) , namun memandang (melihat) selainNya (Tasawuf), misalkan timbul di hati memandang (melihat) manusia agar dianggap sebagai muslim yang sholeh. Sehingga sholatnya lalai. Maka celakalah !
Jadi yang benar adalah,  sholat mengikuti Al-Qur’an dan Hadits (fikih), sholat diniatkan karena Allah (Ushuluddin) dan dilakukan secara sadar dan mengingat Allah (tasawuf) ===> amal ibadah sholat kita akan sampai (wushul) ke hadhirat Allah. Inilah yang disebut sholat adalah mi’raj nya kaum muslimin (Ash-shalatul Mi’rajul Mu’minin ).
Wassalam.

pojokan kelas doktoral khusus A, IAIN SUNAN AMPEL,
sebuah refleksi ringkas perkuliahan Metodologi Studi Islam nya Prof. Amin Abdullah, Ph.D

the meaning of Islam

mendefinisikan "ISLAM" secara ilmiah mungkin agak terlalu sulit, karena kita harus membedakan antara "Islamic thought" (pemikiran Islam) dan "Islam as Religion It-self",
#1. *  Islamic Thought mengacu semua kepada semua cabang ilmu-ilmu ke-islam-an yang sedang berkembang, seperti penafsiran Qur'an, Studi Hadist, Teologi (ilmu kalam), ilmu Fiqh, tasawuf dll.
     ** Islam as Religion it self merujuk pada sesuatu yang sakral dan suci.
#2. Islamic Thought itu tunduk pada pada perubahan, sedangkan "Islam as Religion it self" tidak .

Pendidikan Karakter : Mengasah Kepekaan Hati Nurani

Pendahuluan
Bertubi-tubi bangsa Indonesia terkena musibah.  Tidak hanya musibah alam, berupa guncangan gempa di berbagai daerah tetapi juga gempa-gempa sosial,  agama, politik, ekonomi  dan hukum.  Munculnya  peristiwa  satu dan lainnya hampir-hampir tidak berjarak. Belum lepas dari ingatan bangsa Indonesia  bagaimana dahsyatnya musibah tsunami Aceh, gempa dahsyat di  Yogya, Tasikmalaya dan Padang,  kemudian diiringi  peristiwa bom bunuh diri (Suicide bombings) di berbagai daerah dan penyergapan dan penangkapan sebagian para pelakunya.  Disusul pemilihan umum dan pimilukada yang diwarnai money politic dengan berbagai intrik-intrik dan kecurangan yang melekat didalamnya,  diselingi kekerasan yang berbasis ideologi agama, tawuran antar kelompok pemuda dan warga desa, diramaikan pula oleh  kasus cicak-buaya, ledakan bank Century yang mengguncang dunia politik, dan yang paling baru adalah makelar kasus  dan mafia peradilan perpajakan yang menyeret Gayus dengan kekayaannya yang fantastis  dengan melibatkan aparat penegak hukum baik di kepolisian, kejaksaaan maupun kehakiman. Lengkaplah sudah  gempa alam, sosial, agama, politik  dan hukum yang diderita bangsa ini.  Gempa sosial, agama, politik, dan hukum yang bertubi-tubi dan saling silih berganti ini menunjukkan betapa rendahnya kualitas karakter manusia Indonesia, sehingga masuk rangking tertinggi dalam daftar urut negara terkorup di dunia. Krisis multidimensi, krisis etika, krisis kepercayaan diri, krisis kepercayaan sosial belum berakhir dan cenderung menjadi-jadi.
Musibah, krisis multidimensi dan cobaan besar yang diderita oleh bangsa ini menggugah dan memaksa warga negara, masyarakat sipil, pejabat negara dan institusi sosial-kemasyarakatan dan keagamaan untuk introspeksi diri dan melakukan langkah-langkah perbaikan.  Mengapa bangsa dan manusia Indonesia, yang biasa mengklaim dirinya religius, mengidap penyakit akut “split of personality” (Kepribadian yang terpecah)? Yaitu, keterpecahan atau tidak kemampuan  menyatukan perkataan dan perbuatan, antara “teori” dan “praktek”. Orang (bisa jaksa, polisi, hakim, guru, dosen, pejabat negara), bahkan orang-orang beragama, tokoh partai, tokoh organisasi, tokoh LSM sering hafal diluar kepala rumus-rumus, undang-undang, ayat-ayat, tetapi tidak mampu melaksanakan apa yang ia ketahui dan hafal dalam kehidupan nyata sehari-hari. Mudah tergoda oleh berbagai bujuk rayu, iming-iming, kepentingan golongan, ekonomi, agama, partai dan begitu seterusnya.
Penyakit Split of Personality ini dalam al-Qur’an Surat al-Shaff (61), ayat 2-3, sebagai berikut :
(Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kami kerjakan).
Bukankah, salah satu tujuan diutusnya seorang Nabi, rasul, yang kemudian diteruskan (diwariskan) kepada seluruh ulama, great leaders (pemimpin-pemimpin besar) diseluruh antero dunia adalah untuk memperbaiki akhlak manusia (Innama bu’itstu li utammima makarim al-akhlak). Akhlak disini bukanlah sekedar ”Ilmu Akhlak”, tetapi lebih pada menyatunya teori dan praktik, lengkatnya ucapan dan perbuatan, tidak melebarnya jarak antara hafalan, rumus, ayat, undang-undang, PP dan realitas kehidupan riil sehari-hari dalam masyarakat.
Adalah Kementerian Pendidikan Nasional yang mencoba melihat bahwa pangkal tolak persoalannya adalah terletak pada lemahnya pendidikan karakter (Character building) dalam kehidupan berbangsa, beragama, bermasyarakat dan bernegara. Tidak ada anggota masyarakat yang manapun dan dimana pun  di tanah air yang kebal  dari penyakit  sosial ini. Sejauh ini belum ada obat yang mujarab untuk mengobati penyakit yang kronis ini.  Bukankah sudah ditegaskan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.  Singkatnya melalui pendidikan hendak diwujudkan peserta didik yang memiliki berbagai kecerdasan, baik kecerdasan spiritual, emosional, sosial, intelektual maupun kecerdasan kinestetika. Dari segi rumusan, barangkali inilah rumusan tujuan pendidikan yang paling ideal, ambisius dan nyaris sempurna, tetapi tetap saja menyimpan pertanyaan besar mengapa dalam alam praktik kehidupan sosial bernegara, berbangsa, beragama, dan bermasyarakat masih muncul krisis akut yang tak berkesudahan?  What went wrong (apa yang salah ?) dalam berbangsa dan bernegara yang kita cintai bersama ini ? Diperlukan kajian yang komprehensif, radikal. bersinambungan, sungguh-sungguh dan tak perlu jemu mencoba dan salah dan mencoba lagi dan salah dan  sampai berhasil. Tugas ini adalah tugas long life strife, perjuangan sosial sepanjang usia manusia, perjuangan yang tak kenal masa awal dan masa akhir. Semua upaya perbaikan perlu dilakukan terus menerus tak kenal henti, ibarat air yang mengalir, tanpa kenal henti.
Multidimensionalitas Pendidikan Karakter
Tidak mudah mencari jalan keluar dari persoalan yang sedang dihadapi bangsa ini. Tidak ada definisi  Pendidikan Karakter yang memuaskan, karena setiap definisi biasanya hanya menekankan pentingnya aspek tertentu dan mengabaikan aspek lain. Begitu juga pandangan atau pendekatan disiplin keilmuan terhadap Pendidikan Karakter. Tak ada satu pun pendekatan keilmuan – dengan mengabaikan pendekatan disiplin keilmuan lain – yang memuaskan.  Sifat Pendidikan Karakter adalah multidimensi  dan  multidisiplin, sehingga diperlukan pendekatan yang komprehensif, utuh, interkonektif antar berbagai disiplin ilmu,  tidak sektoral-parsial, ad hoc, apalagi atomistik. Pendidikan Karakter mengasumsikan keterkaitan erat antara dimensi moral, sosial, ekonomi, politik, hukum, agama, budaya, dan estetika. Pendidikan agama, begitu juga pendidikan kewarganegaraan pada level manapun tidak dapat berbuat banyak jika ia berdiri sendiri (self sufficiency), karena jika tidak dikaitkan dengan budaya, sosial, hukum dan politik misalnya,  maka pendidikan agama hanya akan jatuh pada rumus-rumus dan preskripsi-preskripsi normatif, yang mungkin mudah dihapal,  tapi seringkali  tidak dapat dipraktikkan dan diimplementasikan dalam dunia sosial sehari-hari yang begitu kompleks.
Menyadari kesulitan yang begitu kompleks, dengan mengambil inspirasi dari seorang  filsuf Jerman era modern, Immanuel Kant, dapat ditegaskan disini bahwa Pendidikan  Karakter adalah pendidikan kemanusiaan yang bertujuan  menjadikan manusia “baik”. Menjadikan manusia “baik” tanpa prasyarat apapun. Meskipun pendapat ini terkesan deontologis dan ahistoris,  tapi justru disitulah letak kekuatan dan relevansinya saat ini.  Pada era Negara bangsa (nation states), Pendidikan Karakter sangat diperlukan oleh bangsa manapun karena dengan Pendidikan Karakter yang berhasil akan membuat warga masyarakat dan warga negara menjadi “baik” tanpa prasyarat apapun. Menjadikan warga negara  yang “baik” tanpa embel-embel syarat agama, sosial, ekonomi, budaya, ras, politik dan hukum. Pendidikan Karakter seperti ini sejalan dengan cita-cita kemandirian manusia (moral otonomy) dalam  bertetangga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.  Pendidikan Karakter yang sukses akan sama dengan tujuan beragama, bermasyarakat, berbangsa dan  bernegara  yang baik dalam ranah  multikultural, multietnis, multibahasa, multi religi di era globalisasi seperti saat sekarang ini.
Namun ada pertanyaan yang sulit dijawab. Seiring dengan keberhasilan pendidikan di tanah air, maka pengetahuan dan keterampilan manusia Indonesia turut meningkat pesat, meskipun belum sebagus dibanding negeri lain, seperti Malayia dan Singapura. Namun mengapa MORALITAS dan KARAKTER manusia Indonesia merosot tajam ? Korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), white color crime (kejahatan kerah putih), mutual distrust antar warga negara,  distrust kepada pejabat publik, pengadilan yang tidak adil, tawuran pelajar, bentrok antar warga desa, antar RT/RW, kekerasan intern umat beragama, juga antar umat beragama, demonstrasi yang anarkhis, suap-menyuap, makelar kasus, kongkalikong perpajakan, birokrasi yang korup ada dimana-mana?  Belum lagi harus disebut rendahnya disiplin lalu lintas, rendahnya solidaritas sosial, disiplin pegawai negeri yang rendah, rendahnya disiplin nasional dan begitu seterusnya.
Bukankah pendidikan kewarganegaraan, pendidikan Pancasila, pendidikan agama telah diselenggarakan dalam setiap jenjang pendidikan? Bahkan untuk pendidikan agama di sekolah saja selama 12 tahun, anak didik memperoleh  tidak kurang dari 960 jam ?  Belum lagi menyebut Penataran P 4 yang dahulu dilakukan oleh pemerintah Orde Baru? Mengapa upaya ini tidak atau belum dapat mengantar anak didik mempunyai Karakter yang baik? Apakah Pendidikan Karakter yang sukses dapat mengurangi kejahatan sosial, ekonomi, politik, hukum, dan agama? Jangan-jangan ada yang  keliru dan perlu ditinjau dalam ulang hal-hal yang terkait dengan metode penyampaian, pendekatan yang digunakan, paradigma yang membimbing pendidikan karakter dan materi yang disusun? Perlu ada kajian dan penelitian yang komprehensif dan mendalam tentang hal ini, melibatkan stakeholders, guru, dosen, dan anak didik untuk semua jenjangnya, peneliti, pengamat sosial, Lembaga Swadaya Masyarakat, tokoh-tokoh agama, kementerian pendidikan  nasional dan kementerian agama, bahkan para jaksa, hakim, kepolisian, pengusaha, pejabat pemda dan masyarakat luas sebelum dilakukan pembenahan yang integratif-interkonektif-menyeluruh dalam Pendidikan Karakter di tanah air. Penelitian dan kajian yang mendalam  dan komprehensif perlu  dilakukan secara periodik dan menjadi agenda nasional atau Rencana Aksi Nasional (RAN), jika saja pemerintah pusat dan daerah dan warganegara pada umumnya memiliki sense of urgency dan sense of crisis.
Peran hatinurani, bukan intelektualitas
Banyak faktor menjadikan Pendidikan Karakter tidak atau kurang berhasil di lingkungan sekolah dan lebih-lebih di masyarakat luas di tanah air. Perangkat undang-undang dan aturan-aturan yang ada sudah lebih dari cukup namun pengawasan pelaksanaannya sangat lemah,  Tapi yang sering dilupakan adalah bahwasanya Pendidikan Karakter memang diawali dengan Pengetahuan (Teori), Pengetahuan (Teori) tersebut bisa bersumber dari pengetahuan agama, sosial, budaya. Kemudian dari pengetahuan itu diharapkan dapat Membentuk Sikap atau akhlak yang mulia. Namun yang paling penting dari rangkaian panjang ini adalah MENGAMALKAN apa yang diketahui itu. Disini terjadi kekeliruan dan  ketidaktepatan  dalam menentukan paradigma pembelajaran Pendidikan Karakter di tanah air. Yang semestinya diperlukan adalah MENGAMALKAN berubah menjadi yang dipentingkan adalah MENGETAHUI atau menghapal, tanpa kemampuan untuk melakukan dan mempraktekkanya di lapangan.
Dapat dijumpai secara mudah di tanah air bahwa  model pembelajaran Pendidikan Karakter atau akhlak yang berjalan sekarang ini lebih mengutamakan ‘alih pengetahuan moral, agama atau karakter’ (transfer of knowledge tentang moral, agama  atau karakter). Dengan paradigma pembelajaran seperti ini,  maka yang ditekankan oleh pendidik adalah penguasaan materi sesuai SAP yang tersedia dan daya serap anak  didik atau memorisasi / hafalan lebih dipentingkan. Praktik ini tergambar dengan jelas dalam model soal ujian atau test yang dibuat oleh guru atau dosen.  Akibat langsung yang tidak dirasakan selama bertahun-tahun adalah bahwa Pendidikan Karakter atau moral dan akhlak terlalu berorientasi pada intelektualisme etis. Padahal model paradigma pembelajaran Pendidikan Karakter (humanities)  semestinya tidaklah seperti pembelajaran sains (natural sciences) yang memang memerlukan ketajaman analisis intelektual .
Model dan paradigma pembelajaran sains dan matematika (Natural sciences) berbeda dari model dan paradigma pembelajaran humanities.  Yang diperlukan dalam pembelajaran humanities, dalam hal ini  Pendidikan Karakter, adalah kemampuan guru, dosen,  pendidik, pemimpin  untuk “menyentuh dan menyapa keseluruhan dan keutuhan pribadi anak didik. Keutuhan pribadi  manusia  meliputi perasaan, rasio, imajinasi, kreativitas dan memori. Dengan begitu, paradigma  Pendidikan Karakter seharusnya lebih tajam diarahkan  pada KEHENDAK dan MOTIVASI, dan bukannya intelektualitas. Oleh karena itu, yang perlu dikenal terlebih dahulu oleh para pendidik adalah Struktur Kepribadian manusia. Sedangkan Motivasi atau Kehendak sangat terkait dengan Hatinurani. Maka Pendidikan Karakter adalah Pendidikan Hatinurani.
Sampai disini, penulis teringat ada sebuah hadis Nabi (bagi penganut agama Islam) yang menyatakan bahwa “ala inna fi al-jasadi mudghah, wa hiya qalbu” (Ketahuilah bahwasanya di dalam tubuh manusia ada segumpal darah, yaitu hati). Hati atau qalbu disini bukanlah  bentuk fisiknya,  yaitu segumpal darah, melainkan  adalah Mind Set atau seperangkat nilai-nilai yang telah membentuk perilaku.  Mind Set inilah  biasa disebut  dengan filsafat hidup pribadi (Mabda’ al hayah), yang telah mendarah mendaging. Dalam Mind Set atau Falsafah hidup pribadi mempunyai berbagai potensi yang seluruhnya perlu disentuh dan digerakkan, antara lain emosi, rasio, imajinasi, memori, kehendak, nafsu, dan kecenderungan-kecenderungan. Seluruh potensi ruhani yang tertimbun dalam badan fisik manusia  akan tampak keluar ke permukaaan dalam bentuk perilaku lahiriyyah, baik dalam bentuk ekspresi wajah atau raut muka (senyum, sangar, cemberut, peduli, ramah), gerak-gerik (bhs Jawa : solah bowo) mencurigakan, slintutan), tutur bicara ( bhs Jawa : muna muni) seperti halus, kasar, galak, manis, tingkah laku (tegas, sopan, kasih sayang)  dan juga kelalaian (lupa, tidak serius, tidak teliti).
Pengalaman menjalani dan melakukan nilai-nilai dalam kehidupan
Oleh karena gambaran model dan pendidikan humanities, lebih-lebih yang menyangkut Pendidikan Karakter, sangat berbeda dari paradigma pengajaran dan pendidikan natural sciences, maka paradigma pendidikan,  pembelajaran dan pembiasaannya  pun tidaklah dapat bertumpu pada akal-intelek semata, atau kemampuan menghafal rumus-rumus perbuatan yang baik, bahkan bukan pula sekedar menghafal dan mengutip ayat-ayat kitab suci atau hadis (khususnya untuk pendidikan agama), tetapi lebih ditekankan pada PENGALAMAN HIDUP (Living Experience). Peserta didik dan lebih-lebih lagi guru, dosen, orang tua, para pejabat dan pemimpin perlu berpengalaman, merasakan, mencoba terlebih dahulu,  mempraktikkan, melakukan dan mengamalkan terlebih dahulu apa yang disebut dengan “rela berkorban”, “jujur”, ”tanggungjawab”, “memaafkan”, ”compassion” (bela negara), “hormat kepada orang lain”, “hormat kepada orang tua”, “hidup sederhana”, “kasih sayang”, “kerjasama”, “peduli”, “toleran”. “Kebebasan”, “bahagia”, “harmoni”, “menghargai perbedaan”, ”kebhinekaan”, ”transparan”, ”pluralitas”,  “empati”, “simpati”, “dedikasi”, “perdamaian”. “persatuan”, “keadilan”, ”kesetaraan”, ”kesejahteraan” dan begitu seterusnya.
Pendidikan humanities yang antara lain meliputi Pendidikan Karakter, pendidikan hati nurani, dan juga pendidikan nilai perlu melibatkan secara utuh aspek  perasaan, imajinasi, ingatan-memori dan kreativitas. Pendidikan Karakter yang berkualitas dan berhasil, dengan sendirinya akan akan dapat menggugah perasaan, merangsang imajinasi, mengaktifkan ingatan dan menggerakkan kreativitas serta  mendorong kehendak untuk berbuat. Salah satu indikator keberhasilan dan kesuksesan Pendidikan Karakter jika pada ujungnya dapat  MEMOTIVASI peserta didik untuk berbuat riiil dan nyata dalam bersikap, berperilaku, dan berbuat dalam alam perbuatan dan amalan yang nyata. Sudah barang tentu contoh-contoh dan kasus-kasus konkrit yang diambil dari PENGALAMAN HIDUP yang nyata  akan mempermudah peserta didik tergerak, meneladani, mengamalkan, mempraktikkan nilai-nilai dan Karakter baik (dan menjauhi yang buruk) dalam kehidupan pribadi dan masyarakat
Salah satu indikator keberhasilan Pendidikan Karakter bermula dari tumbuhnya kesediaan seseorang atau peserta didik untuk menghargai nilai. Menghargai nilai mengandung arti bahwa seseorang atau anak didik telah tersentuh hatinya dan dapat menyimpulkan bahwa nilai tersebut sebagai sesuatu yang indah dan baik untuk diri pribadi dan masyarakatnya. Pribadi-pribadi tersebut menyatakan dalam hati masing-masing  bahwa nilai-nilai baik tersebut menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan dirinya. Menghargai nilai-nilai kemanusiaan yang “baik”. Nilai-nilai yang baik,  tanpa embel-embel syarat apapun. Tanpa embel-embel syarat agama, ras, suku, etnis, kelamin, usia, pendidikan, tingkat intelektualitas, literasi, difable dan begitu seterusnya.  Dengan demikian, ada tahapan-tahapan yang perlu dilalui dalam Pendidikan Karakter, yaitu dari tindakan  dapat Menghargai nilai,  kemudian meningkat ke Penerimaan nilai dengan penuh kesadaran dan ketulusan,  dan akhirnya berujung pada Pengamalan dan penerapan nilai dalam kehidupan pribadi, masyarakat, bangsa, negara bahkan sebagai warga dunia. Sampai disitu,  maka nilai-nilai kebaikan tadi telah melekat, tertanam kokoh  dan terbiasa dalam sepak terjang kehidupan anak didik, mahasiswa dan anggota masyarakat dimanapun dan kapanpun dan dalam cuaca sosial, agama, politik, ekonomi yang bagaimanapun.
Pendidikan Karakter menuntut ketajaman dan kepekaan Hatinurani. Hatinurani jauh lebih penting dari pada kepandaian intelektualitas semata. Kecerdasan spiritualitas dan kecerdasan emosi memang sangat terkait dengan kepekaaan hati nurani. Radius kepekaaan dan ketajaman daya jangkau radar hati nurani memang sangat jauh ke dalam maupun keluar karena akan berpengaruh, membimbing dan memandu Tata Pikir (kecerdasan Intelektualitas), Tutur Kata (Kecerdasan Komunikasi), Sikap-sikap (Kecerdasan emosi), Tindak-tanduk (Kecerdasan sosial). Akumulasi dari berbagai kecerdasan tersebut adalah kecerdasan spiritual. Dengan demikian, Pendidikan Karakter terkait dengan kecerdasan spiritual. Secara ekstrim dapat dikatakan bahwa kematangan kecerdasan spiritual sangat terkait dan tergantung kepada bagaimana impact keberhasilan pendidikan Karakter dilakukan oleh sebuah komunitas manusia. Bahkan pendidikan agama dan pendidikan kewarganegaraan juga akan mengalami kegagalan jika tidak mampu membentuk Karakter yang baik, unggul dan kuat (Character building) bagi pribadi dan masyarakat pendukungnya.
Tindak Lanjut dan Penutup
  1. Diperlukan penyegaran sikap, komitmen seluruh warga masyarakat dan pembaharuan metode dan pendekatan Pendidikan Karakter yang lebih integratif-interkonektif-koordinatif. Multidimensionalitas Pendidikan Karakter perlu dijadikan acuan untuk perbaikan dan penyempurnaan apa  yang telah dilakukan selama ini.
  2. Pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan dan pendidikan Pancasila perlu dikaitkan dengan isu-isu baru yang lebih menyentuh kebutuhan dasar manusia (Human development index) seperti kesehatan (reproductive health), kesetaraan gender (gender equity), pemerintahan yang baik (good governance), kesejahteraan ekonomi (enterpreneurship) dan rembug bersama para pemimpin agama  (faith-based organization) tentang permasalahan sosial kebangsaan.
  3. Diiperlukan upaya aksi nasional atau Rencana Aksi Nasional (RAN) dari tingkat pusat, daerah, kota dan desa untuk mengupdate dan merefresh pimpinan-pimpinan sosial keagamaan yang berpengaruh (Leaders of influence) untuk duduk bersama-sama selama 2 – 3 minggu untuk memperoleh data-data terbaru perihal human development yang comprehensif dan tukar pikiran, pengalaman antar mereka, untuk mencari jalan keluar bersama dalam menghadapi berbagai persoalan sosial, korupsi, kolusi, nepotisme, (narkoba, fandalisme), ekologi (kerusakan lingkungan), disiplin lalu lintas, ekonomi, pemberdayaan ekonomi dan seterusnya. Bangsa kita dapat belajar dari  bangsa lain yang lebih berpengalaman dalam gerakan aksi nasional yang konkrit, non sloganistik.

Kamis, 01 November 2012

web adress on web blog

web kemendiknas:
http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/

web kemensos:
http://www.kemsos.go.id/

web balitbang kemendiknas:
http://www.puskurbuk.net/downloads/browse/Produk_Puskurbuk/2010/Pendidikan+Karakter%2CEkonomi+Kreatif/

Pelajaran Agama Tak Memuaskan, Jadi Awal Radikalisme

             =======00 1 00========
TIBA-tiba publik terperanjat dengan merebaknya aksi tawuran di tanah air antara peserta didik SMA 6 lawan SMA 70 hingga menelan korban jiwa seorang pelajar SMA 6 yang bernama Alawy Yusanto Putra, dan beberapa pelajar luka-luka. Belum kering air mata membasahi pipi, korban kembali berjatuhan dalam
kasus tawuran lainnya dalam hal ini SMA Yayasan Karya 66 lawan SMA Kartika Zenit yang menewaskan Deni Januar (Riau Pos, Jumat 28/9/2012). Praktis dalam dua hari, dua pelajar Jakarta telah menjadi korban kebringasan oleh hantu tawuran.
Sangat disayangkan nyawa anak muda sebagai generasi penerus bangsa hilang tercabut sesama pelajar sendiri. Sulit bagi kita membayangkan bagaimana perasaan kesedihan orangtua yang membayangkan anaknya mati di jalanan di karenakan tawuran. Lebih sedih lagi jika di ketahui bahwa anaknya yang mati itu bukan pelaku tawuran, tetapi hanya jadi korban. Betul bahwa keluarga memegang peranan penting dalam pergaulan anak. Pembacok Alwy, misalnya, berasal dari keluarga yang kurang harmonis. Pihak sekolah, orangtua, masyarakat dan pemerintah, sangat berperan penting dalam mencegah aksiaksi tawuran antara pelajar.
Dari kejadian ini, pemerintah juga harus menegakkan disiplin sekolah yang terbukti melakukan aksi tawuran harus diganti dan kepala sekolahnya dicopot. Guru-guru yang tidak peduli kepada muridnya harus dievaluasi. Begitu juga hendaknya kepala dinas yang tidak mampu mengkap sinyal-sinyal tawuran harus dimutasikan. Inilah sebagian kecil potret pendidikan kita, kekerasan sepertinya bagian dari tingkah-laku kekerasan para pelajar di negeri ini. Seiring dengan itu, setidaknya menurut hemat saya, pendidikan tasawuf dan intes komunikasi dengan orangtua harus disisipkan di sekolah.

Pendidikan Tasawuf
Setidaknya argumen ini terbukti ketika kita melihat kejayaan luar biasa di Baghdad pada tahun 1058-1157 M ketika itu kita melihat kajayaan Madrasah Nizhamiyah dari Dinasti Saljuq yang melahirkan tokoh-tokoh yang dikenang dalam ukiran sejarah seperti Imam al Haramain Al Juwainy (pengagas konsep al-Mashlahan dalam kajian Ushul fiqih), Imam al-Baqillani (perumus dalam teologi tauhid al-Asyari dalam kajian dua puluh sifat yang wajib bagi Allah SWT). Imam al-Ghazali selain ahli di bidang filsafat, juga ahli dalam kajian tasawuf, tidak lupa juga di Madrasah Nizhamiyah, Umar Khayyam dan Abdurrahman, keduanya lebih dikenal ahli astronomin dan matematika (Abd Mukti, Kontruksi Pendidikan dalam Kajian Islam Belajar dari Kejayaan Madrsah Nizamiyah Dinasti Saljuq. Bandung: Cipta Pustaka, 2007).
 Aspek esoteris dalam Islam disebut aspek tasawuf. Dengan lemahnya aspek esoteris selama ini berarti juga bahwa aksi invasi kekerasan sesama peserta didik atau aksi tawuran antar sesama sekolah akan menjadi bagian dari pemandangan para pelajar. Setidaknya kita lihat dari sistem orientasi perkenalan siswa baru di sekolah atau dulu dikenal dengan perploncoan, siswa yang baru seperti di- "keroyok" oleh seniornya. Kalau sistem perkenalan di sekolah sudah menanamkan bibit kekerasan dan menabur benih kebencian, lalu bagaimana nantinya dengan masa depan pendidikan di negeri kita? Padahal seharusnya pengajaran tasawuf(esoteris) itu dilakukan secara seimbang dengan aspek kurikulum Kemendiknas.
Karena tanpa ada pengajaran tasawuf yang seimbang dengan aspek kurikulum Kemendiknas, maka peserta didik kurang menghayati ajaran saling menghargai dan saling menghormati. Oleh karena itu pengajaran tasawuf harus dilakukan secara dini mulai dari SD, SLTP, SLTA hingga ke perguruan tinggi.
Pada tingkat SD, para peserta didik diajarkan syarat, rukun dan hal-hal yang membatalkan ibadah. Juga perlu diajarkan tentang ruh dari setiap perbutan yaitu keikhlasan. Seluruh perbutan dari aspek ibadah, leadership, dan pergaulan dengan teman dan lingkunganya akan menimbulkan sifat ihsan, sifat tersebut akan melekat pada dirinya yaitu sikap hidup yang diliputi oleh semangat kehadiran dan pengawasan Tuhan dalam hidup ini. Kemudian pada tingkat SLTP harus dimulai memperkenankan konsep-konsep tasawuf yang mengarah kepada pembentukan pribadi yang kuat. Selain ikhlas juga diajarkan tentang sabar, taqarub, mahabbah, pemaaf, bertobat, ramah, toleransi, menahan nafsu amarah, dan lainya.
Lantas pengajaran tasawuf pada tingkat SLTA harus merupakan kelanjutan dari jenjang sekolah sebelumnya. Pengembangan lebih lanjut diberikan dengan bertitik tolak dari pembiasaan akan makna nama-nama indah asmaul husna Tuhan. Nama-nama Allah SWT itu dijelaskan dalam Alquran sebagai petunjuk bagaimana persepsi manusia tentang Tuhan, karena persepsi itu biasanya terpengaruh oleh pengalaman hidup manusia itu sendiri. Relevan dengan itu para ahli di kajian tasawuf menegaskan, kita kembali sebagai wakil Tuhan di muka Bumi. Meniru kualitas akhlak "khalifah" Tuhan.
Secara kongnitif tentang tasawuf harus sudah mulai diperkenalkan dengan sejarah tumbuh dan berkembangnya, secara garis besarnya perlu diperkenalkan kepada mereka adanya pemikir-pemikir kajian tasawuf seperti al-Ghazali, al-Qusyairi, Ibnu Arabi, al-Bustami, al-Hallaj, Rabiah al adawiyah dan lainya. Kemudian secara garis besar sudah bisa diperkenalkan atau masuk setiap salah satu peserta didik dalam hanyutan zikir kepada Allah SWT melalui adanya berbagai aliran tarekat seperti Naqsabandiyah, Qadiriyah dan lainya setidaknya akan mempersempit atau mematikan aliran aksi tawuran antar sekolah. Kemudian diperkenalkan aliran-aliran tokoh tasawuf di Indonesia seperti Hamzah Fansuri, Nuruddin Ar Raniri, Syamsuddin Sumatrani, Abdussamad Al Palimbali, Yusuf al-Maqasari, Muhammad Nafis al-Banjari, Abd Rauf Singkel dan lainya, kan melahirkan sebuah khaznah ke ilmuan yang baik moralnya serta mampuni keilmuan umumya.

Peranan Orangtua
Setidaknya dalam asumsi penulis salah satu meminimalisir langkah mempersempit aksi tawuran para pelajar setidaknya ada beberapa poin yang bisa ditawarkan. Pertama, tidak luput dari memberikan kata-kata nasihat, dikarenakan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, nasihat adalah mengajarkan kebaikan. Metode menasihati merupakan ajaran yang paling dasar di dalam pendidikan. Bukankah para guru dan orangtua cukup besar dalam melakukan peranan tersebut? Kedua mendoakan anaknya. Bukankah Rasullah SAW adalah orang yang sangat suka berdoa, sebab doa setidaknya tidak hanya dilakukan saat ibadah saja, tetapi dalam keadaan apapun. Rasullah SAW mendoakan siapa saja antara para keluarganya, sahabat-sahabatnya, bahkan orang yang berbuat buruk kepada beliau sekalipun.
Kita tidak ingin lagi ada korban sia-sia para pelajar, mereka adalah anak-anak negeri ini yang akan menjadi generasi penerus pemimpin bangsa. Pemerintah, pihak sekolah, masyarakat, orangtua, tidak perlu mencari kambing hitam. Ini tanggung jawab bersama mendidik dengan memberikan ketaladanan.

=======00  2  00========
Terduga teroris yang duduk bangku sekolah kemungkinan kurang puas dengan materi pelajaran agama yang diperolehnya di sekolah. Sehingga, untuk memuaskan diri, maka mereka mencoba mencari tambahan pengetahuan di luar sekolah.
"Pendidikan agama disekolah mungkin tidak memuaskan secara intelektual. Jadi kalau ada tawaran yang lebih memuaskan, mereka akan cari tahu di luar sekolah," kata Abduhzen, Pengamat Pendidikan Universitas Paramadina kepada Kompas.com, Selasa (30/10/2012).
Abduhzen menambahkan, hasrat intelektual mengenai agama yang terus meningkat membuat siswa mencari sumber lain yang terkadang malah memberikan ajaran yang salah.
Selain itu, menurut beberapa penelitian, perkumpulan agama di sekolah tak bisa dipungkiri terkadang menyiratkan ajaran radikal yang bisa menyeret para siswa ke dalam pemikiran yang menjurus pada tindakan terorisme.
Menurut Abduhzen, peningkatan mutu pelajaran agama di sekolah dapat mencegah rekrutmen teroris pada tingkatan sekolah.
Kasus terorisme yang melibatkan anak muda, terlebih mereka yang duduk di bangku sekolah memang sangat memprihatinkan.
Tidak hanya pelajaran agama, kata Abduszen, lingkungan tempat tinggal juga bisa mempengaruhi dan memberikan sumbangsih pergeseran sosial kepada siswa. Untuk itu, peran keluarga dan masyarakat bisa mencegah berkembangnya terorisme di kalangan siswa sekolah.
Seperti diberitakan sebelumnya, seorang terduga teroris, Davit Ashari (19), yang ditangkap di Palmerah, Sabtu (27/10/2012), tercatat sebagai pelajar di Sekolah Pelayaran Menengah (SPM) Tri Arga 1 Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Davit terdaftar sebagai siswa kelas tiga sekolah tersebut. Davit ditangkap Densus 88 di kediamannya di kawasan Kemanggisan, Jakarta Barat bersama kakak kandungnya, Herman.
Sumber: KOmpas, 31 Oktober 2012.
salah satu solusinya adalah memperkaya atau memperbanyak jam pelajaran agama,terutama di sekolah-sekolah umum. karena agama itu adalah nasehat yang terindah sepanjang masa,..
kalau kita cermati, tawuran itu terjadi rata-rata (bahkan semuanya) pada siswa kota yang sekolahnya minim pendidikan agama, kita jarang (bahkan tak pernah) mendengar istilah tawuran di daerah / desa apalagi di sekolah yang bernuansa agamis spt pondok pesantren, kecuali memang ada masalah politik atau cinta (kasus syiah di sampang)