Senin, 29 Maret 2010

DALAM 7 HARI YANG TELAH LALU DAN MUNGKIN AKAN TERULANG

Hari per-1, tahajudku tetinggal

Dan aku begitu sibuk akan duniaku

Hingga zuhurku, kuselesaikan saat ashar mulai memanggil

Dan sorenya kulewati saja masjid yang mengumandangkan azan magrib

Dengan niat kulakukan bersama isya itupun terlaksana setelah acara

tv selesai

Hari ke-2, tahajudku tertinggal lagi

Dan hal yang sama aku lakukan sebagaimana hari pertama

Hari ke-3 aku lalai lagi akan tahujudku

Temanku memberi hadiah novel best seller yang lebih dr 200 hlmn

Dalam waktu tidak 1 hari aku telah selesai membacanya

Tapi... enggan sekali aku membaca Al-qur'an walau cuma 1 juzz

Al-qur'an yg 114 surat, hanya 1,2 surat yang kuhapal itupun dengan

terbata-bata

Tapi... ketika temanku bertanya ttg novel tadi betapa mudah dan

lancarnya aku menceritakan

Hari ke-4 kembali aku lalai lagi akan tahajudku

Sorenya aku datang ke Selatan Jakarta dengan niat mengaji

Tapi kubiarkan ustazdku yang sedang mengajarkan kebaikan

Kubiarkan ustadzku yang sedang mengajarkan lebih luas tentang agamaku

Aku lebih suka mencari bahan obrolan dengan teman yg ada disamping

kiri & kananku

Padahal bada magrib tadi betapa sulitnya aku merangkai

Kata-kata untuk kupanjatkan saat berdoa

Hari ke-5 kembali aku lupa akan tahajudku

Kupilih shaf paling belakang dan aku mengeluh saat imam sholat jum'at

kelamaan bacaannya Padahal betapa dekat jaraknya aku dengan televisi dan

betapa nikmat,

serunya saat perpanjangan waktu sepak bola favoritku tadi malam

Hari ke-6 aku semakin lupa akan tahajudku

Kuhabiskan waktu di mall & bioskop bersama teman2ku

Demi memuaskan nafsu mata & perutku sampai puluhan ribu tak terasa keluar

Aku lupa.. waktu diperempatan lampu merah tadi

Saat wanita tua mengetuk kaca mobilku

Hanya uang dua ratus rupiah kuberikan itupun tanpa menoleh

Hari ke-7 bukan hanya tahajudku tapi shubuhkupun tertinggal

Aku bermalas2an ditempat tidurku menghabiskan waktu

Selang beberapa saat dihari ke-7 itu juga

Aku tersentak kaget mendengar khabar temanku kini

Telah terbungkus kain kafan padahal baru tadi malam aku bersamanya

& ¾ malam tadi dia dengan misscallnya mengingat aku ttg tahajud

kematian kenapa aku baru gemetar mendengarnya?

Padahal dari dulu sayap2nya selalu mengelilingiku dan

Dia bisa hinggap kapanpun dia mau

¼ abad lebih aku lalai....

Dari hari ke hari, bulan dan tahun

Yang wajib jarang aku lakukan apalagi yang sunah

Kurang mensyukuri walaupun KAU tak pernah meminta

Berkata kuno akan nasehat ke-2 orang tuaku

Padahal keringat & airmatanya telah terlanjur menetes demi aku

Tuhan andai ini merupakan satu titik hidayah

Walaupun imanku belum seujung kuku hitam

Aku hanya ingin detik ini hingga nafasku yang saat nanti tersisa

Tahajud dan sholatku meninggalkan bekas

Saat aku melipat sajadahku.....

Amin....

Rabu, 17 Maret 2010

Dr. Abdul Kadir Riyadi, MA, Lc

ini adalah profil dosen favorit saya semester ini,
saat ini beliau mengampu mata kuliah AKHLAK: isu-isu modern dan kontemporer.

Dr. Abdul Kadir Riyadi, MA., lahir di Rembang 13 Agustus 1970. Pernah nyantri di Pondok Modern Gontor Ponorogo, tamat 1990. Melanjutkan ke Universitas Al-Azhar, Kairo Jurusan Hukum Islam, lulus 1995. Memperoleh predikat Magister dari University of Cape Town, Afrika Selatan Jurusan Sosiologi Agama, tamat 1999, dengan judul tesis ‘Identity on The Line; A Cultural Analysis on the First Principle of Pancasila’, dan predikat Doktor dari Universitas yang sama dengan Jurusan Filasafat Islam, tamat 2004, dengan judul disertasi ‘Show Me Things As They Are; Study on the Religious Thought of Muhammad Jalaluddin Rumi’.

Sebelum menjadi dosen Fakultas Ushuluddin dan PPs IAIN Sunan Ampel (sejak 2005), dia pernah menjadi guru pada Pesantren Al-Husnayain Jakarta (1990-1991), dosen pada Islamic College of Southern Africa (1999-2000), serta penerjemah pada Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Cape Town (2000-2004).

Direktur Pesantren Mahasiswa IAIN Sunan Ampel ini, pernah mengikuti pelatihan ‘Human Resource Managemet’ di Cape Technikon, Cape Town, Afsel (1996), dan menjadi narasumber pada seminar ‘Human Rights and the Renewing of Religious Discourse’ di Alexandria Mesir (2006).

Beberapa tulisannya yang termuat di jurnal ilmiah antara lain, Interrogating the Stucture of the Ash’arite Dogma, (Journal of Muslim Philosophy, London, 2005), Leadership and Charisma; Understanding the Nature of the Authority of the Prophet (Journal of Islamic College of Southern Africa, Cape Town, 1999), Maslaha (Buletin Iqra, 1999), dan Intellect as Wisdom; A Survey on Ibn Sina’s Ethics (Journal of Islamic College of Southern Africa, Cape Town, 2000).

Minggu, 14 Maret 2010

solusi multi dimensi bangsa indonesia (1)

Solusi krisis multi dimensi bangsa indonesia

Korupsi, kolusi dan nepotisme (yang terkenal dengan singkata KKN) adalah penyakit kronis yang telah menjangkiti para pemimpin bangsa indonesia ini. Sejauh pembacaan sejarah yang pernah saya baca, sejarah per-KKN-an di indonsia yang terjadi kronis bermula pada zamannya presiden kedua kita tercinta, yaitu Jendral Besar (Alm.) Soeharto, yang berkuasa ± 30 tahun di indonesia, selama enam dekade itu pula banyak perkembangan yang berhasil di raih oleh Indonesia selama presiden kedua ini memimpin, diantaranya pertanian, ekonomi, angka pengangguran dan kemiskinan yang kecil selama bertahun-tahun, tapi semua itu hanyalah pencitraan semu belaka, yang di ciptakan Soeharto untuk mengelabui seluruh elemen masyarakat indonesia dan internasional. Yang terjadi sebenarnya buaian-buaian semu untuk masyarakat indonesia.
Buaian semu itu berupa: bensin yang murah, sembako yang murah (karena subsidi dari pemerintah yang berasal dari pinjeman hutang luar negeri, yang ujung-ujungnya masyarakat indonesia juga yang harus membayar hutang tersebut), selain itu KKN berkembang subur di seluruh lapisan pemerintah (mulai dari tingkat RT/RW hingga para menteri) terutama yang berurusan dengan hal-hal yang berbau Administrasi,
sebagai contoh yang simpel adalah pembuatan KTP; ketika akan mengurus KTP (di era orba) kita harus mengurus sendiri birokrasi puatan KTPnya, mulai minta tanda tangan ke ketua RT, ketua RW, pak Lurah/ Kepala Desa, Pak camat, dan pencetakan KTP. Setiap minta tanda tangan mulai dari RT sampai Kecamatan pasti ada biaya administrasi “pengganti tinta” atau “uang rokok” atau “uang lelah” dll, belum lagi biaya pembuatan KTP itu sendiri, makanya tak jarang ketika ada seseorang yang hendak membuat KTP biayanya bisa lebih dai 100 ribu. Padahal di aturannya yang asli, pembuatan KTP hanya 10 ribu saja.
Belum lagi apabila ada pendaftaran PNS/ Polisi/ tentara, pasti ada yang “main mata” antara panitia penerimaan PNS/ Polisi/ tentara tadi. Nah orang yang baru diterima setelah “main mata” pasti ia diterima di salah satu departemen yang telah diepakati sebelumnya, tentu saja setelah pelamar PNS itu menyerahkan `segepok uang ` kepada panitia penerimaan tsb, hal ini masih berlangsung hingga saat ini, di saat yang kono katanya orang-orang cerdas dan pintar adalah `era reformasi`, era keterbukaan di sana-sini, tapi kenyataannya sama KKN berkembang biak dengan subur.
Dua contoh di atas hanyalah secuil fenomena terjadinya KKN di negeri Indonesia tercinta ini.
Di dalam dunia islam, sudah jelas sekali bahwa Korupsi Kolusi dan nepotisme sangat di larang dan di benci oleh nabi Muhammad dan Allah Swt. Banyak hadis yang telah menebutkkan hal itubentuk praktis dan kepanjangan dari KKN terssebut adalah suap menyuap. Dimana orang yang menyuap dan di suap besuk di akherat sama-sama ditempatkan di neraka. A`udzuhi min dzalik…
Menurut hemat saya; semua penyakit kronis bangsa indonesia ini bisa disembuhkan dengan memberikan porsi yang mencukupi pada pendidikan agama di bangku sekolah, baik di tingkataan dasar maupun di bangku kuliah, baik sekolah yang dibawah naungan depag maupun yang di bawah naungan diknas

Senin, 01 Maret 2010

promosi singkat

bagi semua teman-teman dan non teman-teman yang mau berbisnis di bidang perpulsaaan,
baik multi operator dan MKios, silahkan kirim imel ke saya atau hubungi saya via hp

Senin, 23 November 2009

Guru Besar yang cerdas dan sederhana

Prof Dr HM Roem Rowi, MA (01)
(beliau adalah salah satu dosen penulis di pasca sarjana iain sunan ampel surabaya)

Doktor Ilmu Tafsir, ini seorang berkepribadian ulet, tidak kenal menyerah. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur (2000-2005) ini seorang penyelami rahasia Al-Qur’an terkemuka di Indonesia. Guru Besar Ilmu Al-Quran Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel, Surabaya, ini tak pernah berhenti menyelami rahasia Ilahi dan mengkaji sistematika Allah dalam Al-Qur’an.

Prof Dr HM Roem Rowi, MA, putera bangsa kelahiran Ponorogo, 3 Oktober 1947, yang tanpa terasa menitikkan air mata tatkala berkesempatan masuk Ka’bah, itu sebagai
seorang muslim, menjalani kehidupan dengan bersahaja di bawah ridho ilahi. Segala aktivitasnya diserahkan dan dipertanggungjawabkan kepada kehendak Allah.

Selain sebagai guru besar di Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel, Surabaya, Roem Rowi juga aktif mengajar di berbagai perguruan tinggi, di antaranya dosen Pascasarjana Unair, Undar, Ikaha, IAIN Sunan Kalijaga dan UMY.

Pengabdiannya juga tidak terbatas hanya pada lingkungan pendidikan tinggi. Dia juga aktif di berbagai kegiatan keagamaan. Tahun 1998-2000, Roem pernah menjabat Plt. Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim. Kemudian dia menjabat Ketua MUI Jawa Timur (2000-2005).

Saat ini, alumni Pondok Modern Gontor Ponorogo (1967), IAIN Ciputat, Jakarta (1967), S1 Universitas Islam Madinah (1971) dan S2 Universitas Al-Azhar Cairo (1973), ini aktif sebagai Anggota Dewan Penasehat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat.

Direktur Imarah Masjid Agung Al-Akbar, Surabaya, ini pernah menjabat Ketua Dewan Hakim MTQ Jawa Timur dan Nasional. Bahkan tahun 1992 dan 2002, dia terpilih sebagai Anggota Dewan Hakim MTQ Internasional di Mekkah. Kemudian menjabat Ketua Dewan Hakim MTQ Internasional di Jakarta (2003).

Anggota Dewan Pakar ICMI Korwil Jatim, ini juga mengabdikan diri sebagai Ketua Dewan Syari’ah Lembaga Manajemen Infaq Jawa Timur. Dia juga aktif sebagai Ketua Dewan Syari’ah BPRS Amanah Sejahtera Cerme Gresik. Anggota Dewan Syariah BPRS Bakti Makmur Indah Krian Sidoarjo.

Juga aktif sebagai pembimbing dan konsultan agama PT Linda Jaya Tours dan Travel Surabaya, Pembina KBIH Multazam Surabaya, Anggota Pembina Kerohanian Islam pada PT Telkom Divre V Jatim, PT lndosat Divre Indonesia Timur, Surabaya, Dai/Miballigh dan Penyuluh Utama Kanwil Depag Jawa Timur, dan Pembina Tafsir Kafilah Jatim dan Indonesia untuk MTQ Nasional maupun Internasional.

Doktor lulusan Universitas Al-Azhar Cairo (1989), ini juga mengabdikan diri sebagai Promotor dan Co Promotor 2 Disertasi di IAIN Sunan Kalijaga, serta Penguji Ujian Tertutup dan Promosi Terbuka Dissertasi di IAIN Sunan Ampel dan Sunan Kalijaga.

Dengan pengabdiannya sebagai dosen di IAIN Sunan Ampel, Surabaya sejak 1977, pada hari Sabtu, 20 Agustus 2005, Roem Rowi dikukuhkan sebagai Guru Besar (Profesor) Ilmu Al-Qur’an Program Pascasarjana. Ketika itu, dia menyampaikan orasi ilmiah berjudul: “Menimbang Kembali Signifikasi Asbab an-Nuzul dalam Pemahaman Al-Qur’an.”

Dia mencoba melakukan kajian singkat sejauh mana signifikasi (posisi dan fungsi) Asbab al-Nuzul dalam pemahaman Al-Qur’an. Dijelaskannya, Dalam kitab-kitab ‘Ulum al-Qur’an atau ‘Ulum al-Tafsir, baik yng klasik ataupun yang kontemporer, hampir semua ulama sepakat tentang pentingnya memelajari dan mengetahui Asbab an-Nuzul dalam rangka memahami atau menafsirkan al-Qur’an.

Hal ini, katanya, karena begitu besar dan banyaknya manfaat Asbab al¬-Nuzul untuk mengantarkan seseorang pada penafsiran yang benar terhadap kandungan ayat-ayat al-Qur’an.

Menurutnya, dari hasil penghitungan terhadap jumlah ayat-ayat yang mempunyai asbab al-nuzul serta jumlah hadith-hadithnya pada kitab Asbab al-Nuzul karya al-Wahidi, Lubab al-Nuqul Fi Asbab al-Nuzul karya al-Suyuti serta kitab al-Musnad al¬-Sahih Min Asbab al-Nuzul karya Muqbil bin Hadi al-Wadi’i, maka diperoleh beberapa temuan sebagai berikut:

Pertama, tidak semua ayat mempunyai Asbab al-Nuzul. Dari 6234 ayat, yang mempunyai asbab al-nuzul hanya sebanyak 715 ayat / 11,46% (al-Wahidi), 711 ayat / 11,40% (al-Suyuti), dan 333 ayat 5,34 (Muqbil bin Hadi al-Wadi’i). Dengan demikian bisa dikatakan bahwa ayat-ayat yang mempunyai Asbab al-Nuzul sangat sedikit dibanding dengan jumlah ayat al-Qur’an secara keseluruhan.

Kedua, bahwa jumlah surat yang memiliki Asbab al¬-Nuzul menurut ketiga ulama tersebut cukup dominan. Dari 114 surat-surat al-Qur’an, maka jumlah surat yang ayat ayatnya mempunyai Asbab al-Nuzul perinciannya adalah sebanyak: 82 surat / 71,90% (al-Wahidi), 103 surat 90,35% (al-Suyuti), dan 55 surat 48,24% (Muqbil bin Hadi).

Meskipun dari jumlah surat al-Qur’an lebih dari separoh yang mempunyai Asbab al-Nuzul, bahkan bagi al-Suyuti hampir semuanya, namun tetap tidak signifikan karena yang menjadi ukuran adalah jumlah ayat yang mempunyai Asbab al-Nuzul. Padahal jumlah ayat Al-Qur’an yang mempunyai Asbab al-Nuzul, hanya sedikit saja dibanding jumlah ayat Al-Qur’an secara keseluruhan.

“Apalagi jika yang dilakukan seleksi ketat untuk mengambil riwayat¬-riwayat yang terpercaya saja seperti yang dilakukan Shaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i, di mana hanya tinggal 333 ayat,” kata mantan guru Madrasah Aliyah Yayasan Masjid Mujahidin, Surabaya, ini.

Setelah menyelesaikan studi S2 Universitas Al-Azhar Cairo (1973), Roem telah mengabdi dalam profesi guru. Dia menjadi tenaga pengajar di Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel, Surabaya sekaligus menjabat Ketua Biro Skripsi Fakultas Adab (1977-1989). Dia juga pernah menjabat Assisten Direktur Lembaga Bahasa IAIN Sunan Ampel, Surabaya Bidang Bahasa Arab (1979-1987).

Sejak 1989 dia pun mengajar di Fakultas Ushuludin IAIN Sunan Ampel, Surabaya. Lalu menjabat Ketua Jurusan Tafsir Hadith Fakultas Ushuludin IAIN Sunan Ampel, Surabaya (1990-1994). Kemudian sempat bertugas sebagai Plt. Ketua Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel, Surabaya (1994-1997), sebelum menjabat sebagai Assisten Direktur II Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel, Surabaya (1997-2005). Sejak 1977, dia juga aktif sebagai dosen Pascasarjana Unair, Undar, Ikaha, IAIN Sunan Kalijaga dan UMY.

Sebagai ahli tafsir, Roem Rowi juga telah menilis berbagai karya ilmiah. Di antaranya: (1) M. Abdul Wahab dan Gerakan Tajdidnya; (2) Surat Yasin, Tafsir, Rahasiadan Hikmahnya; (3) Hamka Dalam Karya Monumental Tafsir Al-Azhar; (4) Al-Qur’an, Manusia, dan Moralitas (Ceramah Nuzul Al-Qur’an oleh Negara di Masjid Istiqlal 1997); (5) Spektrum Al-Qur’an; (6) Sejarah Sosial Rukun Islam; (7) Menafsir Ulum Al-Qur’an; (8) Ragam Tafsir Al-Qur’an; dan (9) Beberapa Artikel dalam beberapa jurnal terakreditasi.

Raih Doktor, Tercepat Setelah Hampir DO
Dia menimba banyak pengalaman dalam perjuangannya yang sangat panjang dan melelahkan, ketika studi, yang akhirnya membuahkan gelar doktor pada program ilmu tafsir Al Qur’an di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir.

Setiap kali usulan program doktornya ditolak, Roem tak pernah surut untuk mengusulkannya kembali. Baginya tak ada kata menyerah. Dia berjuang sepuluh tahun agar bisa mengikuti program doktor jurusan tafsir Al-Qur’an. Sebenarnya tidak perlu menunggu sampai 11 tahun jika Roem tidak segera kembali ke Jawa Timur setelah meraih gelar S-2 di Kairo, tahun 1974. Namun berita “kepergian” ayahnya memaksanya tidak bisa menunggu setahun lagi di Kairo.

Roem dipanggil pihak Universitas Al Azhar untuk mengikuti program doktor, tahun 1975, tetapi dia sudah kembali ke Indonesia. Dia mengajar mata kuliah tafsir Al-Qur’an di IAIN Sunan Ampel, Surabaya. Bagi Roem sangat berat meninggalkan ibu dan banyak adiknya yang belum bisa mandiri setelah kepergian ayahnya. Roem memilih menyelamatkan adik-adiknya yang masih kecil, menunda obsesinya untuk menjadi doktor.

Semula Roem ingin melupakan sama sekali mimpinya menjadi doktor, memusatkan diri pada pekerjaannya sambil menulis. Ternyata, selama 10 tahun tak satu pun karya tulis yang dihasilkanya. Sebenarnya, dia melakukan kontak ke Kairo mulai tahun 1976, baru dijawab tahun 1986. Selama 10 tahun tidak ada hasil. Dia pun mengirim surat kepada seorang sahabat di sana. Sahabatnya itu bekerja di Kairo sembari mengikuti program S-3. Sudah 12 tahun berjalan, program doktornya tidak selesai juga.

Roem memutuskan untuk kembali ke Kairo tahun 1987. Tetapi dia tidak diberitahu bahwa batas waktu maksimum agar bisa masuk kembali ke program S-3 adalah 12 tahun. Sedangkan dia sudah 11 tahun meninggalkan bangku kuliah. Artinya, sisa waktunya tinggal setahun. Roem tidak kehabisan akal. Dia meminta perpanjangan batas waktu dengan alasan bahwa dia pulang dan menetap lama di Indonesia lantaran ayahnya meninggal dan mengurus adik-adiknya.

Tetapi alasan tersebut tidak bisa diterima. Satu-satunya alasan yang bisa diterima, kalau dia menderita sakit kronis. Karena itu dia harus ke dokter untuk memberikan keterangan tentang penyakit yang pernah diidapnya. Kebetulan, Roem punya teman yang kuliah di fakultas kedokteran. Temannya itu setuju memberikan Roem surat keterangan menderita penyakit stres (sakit jiwa).

Persoalannya belum selesai sampai di situ. Waktu itu, dia diharuskan kembali ke dokter jiwa. Soalnya dia grogi ketika ditanya, “kamu diberi obat oleh siapa?” Roem datang ke dokter jiwa, diberi obat dan rekomendasi sakit jiwa. Dengan demikian peluang Roem di perpanjang. “Jadi harus berpura-pura gila. Tetapi setelah diberi perpanjangan, saya ngebut,” kata Roem kepada Tim Wartawan Tokoh Indonesia di ruang kerjanya selaku Direktur Masjid Agung Al-Akbar Surabaya.

Sebelum merampungkan disertasinya, Roem terdampar tiga bulan, mempertahankan disertasinya. Persoalan pokok terletak pada promotornya, seorang profesor yang tuna netra. Sang promotor sulit sekali ditemui. Hanya mau ditemui di ruang kantor dosen. Ketika ke ruang dosen, Roem bertemu dengan promotornya, tetapi ketika memulai pembicaraan selalu dipotong oleh tamu. Demikian seterusnya. Kebiasaan orang Arab, bertamu lama sekali.

Roem minta izin ke rumahnya, malah dimarahi, tidak boleh. Keadaan seperti ini berjalan selama tiga bulan. Dia pun sadar, kalau begitu terus tidak akan berhasil. Akhirnya, Roem memberanikan diri datang ke rumahnya. Ketemu. Promotornya meminta Roem menyiapkan sekian pasal. Diuji dari pagi sampai jam sembilan malam, nonstop. Roem membacakan, dosennya mendengarkan sambil memberi petunjuk: “ini boleh, ini tidak boleh, harus begini, harus begitu.” Ketika Roem membaca sebuah pasal, dosennya masih ingat apa yang diujikannya dua tahun lalu. Padahal Roem sendiri sudah lupa.

Tepat dua tahun, Roem menyelesaikan program doktronya. Dia pun melapor ke Kedubes Indonesia di Kairo. Kepada seorang staf Kedubes, teman lamanya, Roem memberitahukan bahwa dia akan menerima promosi doktor. Temannya malah heran karena merasa Roem belum lama berada di Mesir, kok tiba-tiba sudah selesai. Padahal dia sendiri sudah sekian tahun tidak selesai juga. Dan tragisnya, sempat terancam di-DO (drop out).

Setelah melapor, Kedubes memberi respon positif, karena hanya Roem yang lulus tepat waktu, setelah sekian lama tidak ada lulusan doktor. Kata Roem, Al Azhar memang lain dari yang lain. Ijazah asli baru boleh diambil setelah dua tahun. Ini jadi masalah karena setelah selesai kuliah, dia harus kembali ke Indonesia. Dicoba dengan semua cara, ijazah aslinya tetap tidak boleh diambil. Kalau dikirim lewat pos, kadang-kadang tidak sampai, bahkan bisa hilang.

Akhirnya untuk orang asing dibolehkan juga. Setelah mengajukan permohonan dan berbagai alasan, permintaan Roem diproses. Uniknya, menurut Roem, proses itu harus melewati banyak meja. Di belakang ijazah, isinya puluhan paraf. Seperti mainan anak-anak, karena penuh dengan paraf. Setelah menunggu dua bulan, ijazah asli (S-3) Roem dikasih, ukurannya sekoper kecil, susah jika mau difotokopi. Setelah menerima ijazah doktor, Roem berencana segera kembali ke Indonesia.

Sebetulnya, izin belajar dari pemerintah tiga tahun, sehingga bagi Roem masih ada sisa setahun. Ada temannya yang mengajak mengajar di Brunai Darussalam. Tentu dengan imbalan yang cukup besar. Roem hampir tergiur, hampir mengiyakan, karena mengajar di sana cukup lima atau enam bulan, bisa memperoleh imbalan yang cukup besar.

Dia memikirkan tawaran itu dengan sangat serius, soalnya dia pegawai negeri. Jika dia mengambil tawaran tersebut, kemudian ketahuan dan ditulis di koran, akibatnya tidak karuan. Karena itu Roem memutuskan pulang langsung ke Indonesia. Namun di luar dugaannya, sekembalinya di IAIN Sunan Ampel, dia dipindahkan jadi Ketua Jurusan Fakultas Ushuluddin.

Tahun 1994, IAIN Sunan Ampel membuka program Pascasarjana (S-2), dan Roem ditarik ke situ. Dialah “sopir” (ketua) pertama program Pascasarjana IAIN. Roem menjabat sampai tahun 2005. Setelah masa jabatannya selesai, Roem tetap mengajar sebagai ahli tafsir Al-Qur’an.

Kesempatan Masuk Ka’bah
Salah satu pengalaman hidup yang amat berkesan baginya adalah kesempatan tak terduga masuk ke Ka’bah. Kala itu, Roem terpilih masuk ke sebuah tim yang mewakili Asia Tenggara menjadi hakim MTQ Internasional di Mekah, tahun 1993. Indonesia bergiliran masing-masing setahun dengan Malaysia. Pengalaman yang tidak bisa dilupakannya, ketika diberi kesempatan masuk ke Ka’bah. Biasanya yang masuk ke situ hanya kepala negara, presiden dan tamunya raja.

Sebelumnya, dia sendiri dan anggota rombongan lainnya belum tahu akan masuk Ka’bah karena tidak diumumkan. Namun orang-orang Indonesia di Masjidil Haram rupanya sudah tahu. Begitu rombongan MTQ datang dan ditempatkan di satu tempat, mereka malah ngelinap masuk ke rombongan tersebut. Bertambah banyak, akhirnya polisi bingung, digeser ke sana bertambah banyak lagi.

Akhirnya rombongan juri MTQ Internasional itu dibawa masuk lewat Hijir Ismail. Ketika mau masuk, polisi meminta kartu sebagai hakim, peserta dan panitia, diperlihatkan. Yang tidak punya kartu, tentu tidak diperbolehkan masuk. Tetapi orang-orang Indonesia itu tidak kehabisan akal. Mereka meminjam kartu orang-orang yang baru keluar. Diberi, dan mereka masuk. “Itulah canggihnya orang Indonesia,” kata Roem.

Di dalam Ka’bah, Roem mengaku tidak melihat apa-apa, gelap. Yang ada hanya barang-barang peninggalan zaman Nabi Muhammad SAW, seperti, pedang emas peninggalan zaman kerajaan Islam, dan tiang penyanggah dari kayu yang usianya lebih dari 1000 tahun, sejak era sahabat Nabi.
“Ketika berada di dalam Ka’bah perasaan saya biasa saja. Tetapi karena kesempatan itu di luar dugaan saya, tanpa terasa saya menangis,” kata Roem.

Rahasia Al-Qur’an
Selama jadi dosen pascasarjana, Roem sekali waktu pernah menemukan sebuah pengalaman yang dianggapnya cukup aneh. Dalam kesempatan mengajar mata kuliah khusus, Roem berhadapan dengan sebuah pertanyaan aneh dari seorang mahasiswa program pascasarjananya. Si mahasiswa merasa semakin yakin bahwa Al-Qur’an bukan lagi kitab suci. Alasannya: Pertama, Al Qu’ran tidak sistematis; Kedua, banyak sekali pengulangan, misalnya tentang Nabi Adam dan iblis di Surat Al Baqarah.

Roem menjawab dengan sebuah pertanyaan: “Apakah Anda sudah sarapan?”

Mahasiswa itu tersentak kaget. Apa hubungan antara sistematika Al Qur’an dengan sarapan pagi? Tetapi dia menjawab, “Sudah Pak.”

Kata Roem selanjutnya, baiklah kalau sudah sarapan, mulai hari ini dan seterusnya, jangan mengulang lagi sarapan Anda.
“Lho kenapa Pak?” tanya sang mahasiswa.

“Anda kan tidak setuju dengan pengulangan Al-Qur’an,” kata Roem. Lantas Roem meneruskan argumentasinya: “Anda bilang Al-Qur’an itu tidak sistematis. Sistematis itu artinya mengikuti salah satu sistem. Kalau menurut Anda sistematik itu adalah bab satu, dua, tiga dan seterusnya, kesimpulan, saran-saran, dan daftar pustaka. Kalau sistematisnya Al-Quran harus begitu, berarti Anda meminta Allah SWT belajar sama kamu.”

Kata Roem, sistematika Al-Quran seperti adanya sekarang. Surat Al-Fatihah, miniatur-nya Al-Qur’an. Fondasinya, Surat Al-Baqarah, paling panjang. Semakin ke atas semakin kecil, seperti bentuk piramid. Kosa kata dalam dasar itu mudah dipahami. Surat Al-Baqarah, artinya surat tentang seekor sapi.

Semakin ke atas, semakin sulit menangkap maknanya, misalnya, Surat Al-Kausar (inna aktoina kal kausar). Al kausar itu apa? Artinya, nikmat yang banyak. Tetapi apakah hanya itu? Perlu tafsiran yang lebih panjang.

Menurut Roem, Al-Qur’an itu dimulai dari yang mudah. Puncaknya kecil, tetapi penafsirannya lebih sulit. Memang ada rahasia Ilahi di sini. Ternyata, setelah dia teliti di dalam Al-Baqarah, terdapat 80 persen dari seluruh kosa kata Al-Qur’an. Jadi, setiap muslim yang sudah menguasai Al-Bagarah, maka 80 persen kosa kata Al-Qur’an sudah dia fahami. Sehingga surat yang lain mudah dipahami, karena kuncinya sudah ada di tangan. Dan yang lebih mengejutkan lagi, juz pertama terdiri dari 3316 kosa kata. Dalam juz pertama 70 persen terdapat kosa kata Al-Quran. Juz pertama tadi bisa difahami dalam tempo 40 jam. Kalau juz pertama bisa difahami dalam 40 jam, maka juz kedua dapat difahami dalam 20 jam.

Bisa difahami lebih singkat, kenapa? Jawabnya, karena kuncinya sudah dikuasai. “Itulah sistematika Al-Quran. Kalau ada orang mengatakan Al-quran itu tidak sistematis, itu tidak benar. Allah punya sistem lain, sehingga Allah tidak perlu belajar sama Anda,” kata Roem. ►mti/crs/syahbuddin hamzah

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Prof Dr HM Roem Rowi, MA (03)
Tukang Cuci Piring di Belanda

Roem Rowi acapkali bernasib mujur. Tidak lama setelah tamat dari Universitas Islam Madinah, dia memperoleh beasiswa di Universitas Al-Azhar, Mesir. Beasiswa itu didapat dari Ketua MPRS AH Nasution yang menunaikan ibadah haji, kemudian melakukan lawatan ke beberapa negara di Timur Tengah. Namun untuk menambah biaya kuliahnya, Roem melanglang ke Belanda, jadi pekerja kasar.

Selesai kuliah selama empat tahun di Universitas Islam
Madinah, Roem memperoleh gelar strata satu (S-1).
Sedangkan di Indonesia saat itu hanya dikenal gelar sarjana muda (BA) dan doktorandus (Drs). Gekar BA diraih tiga tahun, dan sarjana lengkap lima tahun. Jadi ada kesenjangan masing-masing setahun.

Sepulang ke Indonesia, Roem mengalami kerepotan dengan titelnya lantaran kesenjangan tersebut, disamakan dengan BA lebih setahun, mau disamakan dengan Drs, kurang setahun.
Tahun 1970-an, di Indonesia tidak ada gelar S-1 empat tahun, yang ada hanya sarjana lengkap lima tahun, dan sarjana muda tiga tahun. Awalnya S-1 disamakan dengan sarjana lengkap, terakhir malah disiapkan sebagai sarjana muda. Kemudian, saat itu AH Nasution (Pak Nas), setelah menunaikan ibadah haji, melakukan lawatan keliling ke Kuwait, Bagdad, Syria dan Mesir. Pada setiap negara yang dikunjunginya dia ditawari beasiswa untuk para mahasiswa Indonesia. Semua ditampung oleh Pak Nas.

Roem dan teman-temannya yang baru menyelesaikan kuliah di Madinah mendapat tawaran beasiswa tersebut dari Nasution. Mereka ditawari untuk melanjutkan ke Al-Azhar, Mesir. Saat itu mereka ketemu Pak Nas di Makkah, Saudi Arabia. Mereka pun akhirnya pindah ke Mesir melalui Malaysia untuk menempuh program S-2 di Universitas Al Azhar. Sebelumnya, mereka ragu juga, karena sudah mengirimkan permohonan ke Emirat Arab untuk mengajukan beasiswa dari Liga Dunia Islam.

“Ternyata, pucuk dicinta ulam tiba. Kami mendapat fasilitas Asean untuk ke Mesir,” kata Prof. Roem Rowi kepada Tim Wartawan Tokoh Indonesia.

Di Mesir, pengurusan administrasi agak aneh, lambat sekali. Di sana visa menetap harus diperpanjang setiap tahun, sedangkan untuk memperpanjang visa prosesnya lama. Setiap kali datang ke imigrasi selalu dijawab besok alias bukroh. Besoknya datang ke situ belum selesai juga. Besok dan besok sampai enam bulan. Padahal visa tinggalnya hanya setahun. Namun, meskipun penerimaan belum resmi sudah boleh ikut kuliah. Hanya masalahnya, beasiswa belum cair bilamana belum diterima secara resmi.

Nama Roem Rowi turun (resmi jadi mahasiswa) saat ujian enam bulan kemudian. Beasiswanya otomatis dicairkan dan dirapel. Untungnya selama menunggu enam bulan, Roem masih punya tabungan. Di Mesir, musim panas empat bulan dan kuliah diliburkan. Daripada mengangur dan kepanasan di sana, Roem bersama teman-temannya berniat ke luar dari Mesir. Namun mereka tidak pulang ke Indonesia, karena tidak dikasih tiket pulang. Sedangkan sewaktu di Saudi, mereka diberi tiket pulang, tapi di Mesir tidak ada.

Bekerja Tanpa Gengsi
Karena tidak punya duit untuk pulang ke Indonesia, mereka mencoba pergi ke Belanda. Kebiasaan itu mereka lakukan pada setiap libur kuliah di musim panas. Di sana mereka tinggal empat bulan, kadang-kadang sampai lima bulan. Selesai ujian, mereka berangkat dari Juni sampai Oktober.

Sebab Oktober harus masuk kuliah lagi. Seringkali sampai November masih di Belanda, alasannya kerja. Mereka kerja sebagai buruh pabrik atau tukang cuci piring di restoran Indonesia dan di restoran Belanda. Pekerjaan mereka di restoran, memasukkan piring-piring kotor ke mesin pencuci.

Sebenarnya mereka bekerja secara tidak resmi, karena visa mereka visa turis. Tetapi waktu itu mereka mudah sekali mencari kerja. Cukup datang ke biro tenaga kerja, mendaftar, kemudian menunggu panggilan. Memang setiap mahasiswa di sana disarankan untuk bekerja setiap musim panas, saat libur kuliah.

Selama bekerja di Negeri Belanda, mereka tinggal di rumah-rumah kost milik pensiunan. Di sana para pensiunan menyewakan kamar-kamar rumah mereka. Pertama-tama mereka mondok di hostel, pondok remaja, karena murah sekali. Atau kadang-kadang mereka menginap dulu di rumah kenalan yang sudah lama menetap di sana. Mereka tinggal beberapa hari di situ sebelum mendapatkan tempat kost, yaitu rumah-rumah para pensiunan tadi.

Dari situ mereka mendapat pelajaran yang sangat berharga, yang sebenarnya sangat Islami. Roem pernah berkenalan dengan seorang mahasiswa Belanda. Orang tuanya menjabat sebagai kepala dinas PU Den Haag. Anehnya, dia mau kerja sebagai penyapu jalan, padahal orangtuanya pejabat. Roem bertanya, “apakah kamu tidak malu kerja seperti ini?” Jawabnya: “tidak, kami di Eropa, malu kalau tidak mau kerja atau tidak bekerja. Kerja apa pun kami mau.” Di sinilah Roem tersentak, sadar karena di Indonesia orang sangat menjaga gengsi. Di Belanda, semua orang hidup dari hasil keringat sendiri, tak perlu pertimbangan gengsi.

Padahal di Belanda mereka yang belum mendapatkan pekerjaan, selama menganggur, dijamin oleh pemerintah. Jaminan sosial diajukan ke Departemen Sosial, dikasih tunjangan 80 persen gaji terakhir. Di sana banyak orang Indonesia yang jadi sopir, salah satunya berasal dari Pandeglang. Dia malas bekerja, karena itu dia lebih senang mengajukan tunjangan sosial. Dia bermental Indonesia, mengajukan keterangan fiktif dan gaji terakhirnya di mark up. Akhirnya, dia dapat tunjangan sosial, 10 persen lebih besar dari gaji sopir yang bekerja. Kerja seminggu-dua minggu, dia berhenti, lantas minta tunjangan sosial. Begitu seterusnya.

Mentalitas Indonesia dan Eropah yang Islami
Satu lagi pengalaman lucu. Selama di Belanda, mereka bekerja setiap hari sampai sore, liburnya Sabtu dan Minggu. Mereka belanja ke pasar, cari bahan makanan yang enak dan murah, misalnya, jeroan, kulit ayam atau buntut ayam. Semua dijual murah di sana. Kenapa murah, karena di sana itu makanan anjing. Mereka membeli untuk jatah seminggu, masing-masing enam kilogram kulit, jeroan dan buntut ayam. Jatah ini untuk lima orang. Kalau kami beli banyak, penjaga toko selalu bertanya, “anjingmu berapa?”

Pengalaman lucu lainnya tentang mentalitas Indonesia, kalau naik kereta api ke kota, mahasiswa Indonesia di sana masih suka nembak. Mereka tidak pernah beli karcis. Kalaupun beli karcis dipakai berkali-kali. Biasanya, di atas kereta tidak ada yang mengontrol. Mereka bilang, “itulah gobloknya orang Jerman atau Belanda.” Kalaupun dikontrol, yang ditangkap hanya satu orang, karena keretanya nyambung, yang lain-lainnya lolos.

Karcis di sana distempel, hanya berlaku satu atau dua jam. Ada mahasiswa Indonesia yang bisa menghapus stempel karcis tersebut dengan rapih. Setelah stempel masa berlakunya dihapus, lalu distempel sendiri lagi, ditiru sampai persis sama. Dia bisa lakukan itu berulang-ulang, jadi tidak perlu beli karcis.

Roem punya kesimpulan bahwa prilaku seperti itu, dalam bahasa Jawa, pembawaan sejak lahir. Jadi itu sudah mendarah daging. Padahal dia lahir dan dibesarkan di Belanda, tapi mentalitasnya masih mental Indonesia. Sampai hari ini, kata Roem, banyak orang Indonesia yang bermental seperti itu, senang me-mark up anggaran, kerja tidak mau, hanya tandatangan di belakang meja. Kemudian masih menjaga gengsi memilih pekerjaan.

Padahal menurut ajaran Islam, Rasulullah pernah ditanya: “pekerjaan apa yang terbaik?” Jawab Rasulullah, “hidup dari hasil jerih keringatmu sendiri, itu yang paling mulia.”
Ternyata nilai Islami itu diterapkan di Eropa. Makanya ada yang berkesimpulan; ajaran Islam diterapkan di seluruh Eropa, meskipun manusianya tidak beragama Islam. Sistemnya dipraktikkan, agamanya tidak. Di sini agamanya dianut, tapi sistemnya tidak dipraktikkan. Karena itu, menurut Roem, kalau mau melihat contoh ajaran Islam, datang saja ke Eropa. Di Eropa, anjing saja tidak mau menyebrang kalau lampu lalulintas sedang merah. “Ini suatu nilai yang sangat baik,” kata Roem.

Di Eropa, sebelum jadi mahasiswa, harus pernah bekerja. Biasanya setiap calon mahasiswa dicarikan pekerjaan kasar yang sangat berat. Ini positif bagi pendidikan mental. Selama jadi mahasiswa setiap orang merasakan penderitaan rakyat, bagaimana beratnya mengais rezeki, bekerja memeras keringat.

Pada saat menjadi pemimpin, dia bisa merasakan penderitaan rakyat, sehingga orientasinya menyejahterakan rakyat, bukan hanya perutnya sendiri. “Sedangkan di Indonesia tidak, kesalahan kita di situ,” kata Roem. ►mti/crs/sh

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)


Nama:
PROF DR HM ROEM ROWI, MA
Lahir:
Ponorogo, 3 Oktober 1947
Agama:
Islam
Jabatan:
Guru Besar Ilmu Al-Quran Program Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel, Surabaya
Isteri:
Nurul Fatimah
Anak:
1. Andrie Anis Rahman, 12-05-1981
2. Denny Wahyudi, 08-03-1983
3. Ahmad Fanny Robbany, 29-11-1986
4. Ahmad Robby Tawabbi, 29-11-1986
5. M. Aly Fikry, 26-11-1991

Riwayat Pendidikan:
1. Sekolah Rakyat Panjeng Jenangan, Ponorogo (1960)
2. Madrasah Diniyah Panjeng Jenangan, Ponorogo (1960)
3. Pondok Modern Gontor Ponorogo (1967)
4. IAIN Ciputat, Jakarta (1967)
5. Sl Universitas Islam Madinah (1971)
6. S2 Universitas Al-Azhar Cairo (1973)
7. S3 Universitas Al-Azhar Cairo (1989)

Riwayat Pekerjaan:
1. Guru Madrasah Aliyah Yayasan Masjid Mujahidin, Surabaya (1985)
2. Dosen Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel, Surabaya (1977-1989)
3. Ketua Biro Skripsi Fakultas Adab (1977-1989)
4. Assisten Direktur Lembaga Bahasa IAIN Sunan Ampel, Surabaya dan Bidang Bahsa Arab (1979-1987)
5. Dosen Fakultas Ushuludin IAIN Sunan Ampel, Surabaya (1989-sekarang)
6. Ketua Jurusan Tafsir Hadith Fakultas Ushuludin IAIN Sunan Ampel, Surabaya (1990-1994)
7. Plt. Ketua Program Pasca Sarjana -IAIN Sunan Ampel, Surabaya (1994-1997)
8. Assisten Direktur II Program Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel, Surabaya (1997-2005)
9. Dosen pasca Sarjana Unair, Undar, Ikaha, IAIN Sunan Kalijaga dan UMY (1997-sekarang)

Riwayat Pengabdian:
1. Ketua dan Pembina Yayasan Masjid Al-Wahyu, Surabaya (1989-sekarang)
2. Ketua Lembaga Pendidikan Islam Al-Hikmah (1997-2004)
3. Pembina Yayasan Pendidikan Islam Al-Hikmah (2004-sekarang)
4. Wakil Ketua LPTQ JawaTimur (s/d 2000)
5. Bidang Perhakiman LPTQ Jawa Timur (s/d sekarang)
6. Ketua Dewan Hakim MTQ Jawa Timur dan Nasional
7. Anggota Dewan Hakim MTQ Internasional di Mekkah (1992 dan 2002)
8. Ketua Dewan Hakim MTQ Internasional di Jakarta (2003)
9. PembinaYayasan Masjid Al-Fa1ah Surabaya (s/d sekarang)
10. Direktur Lembaga Pendidikan I1mu Al-Qur'an Surabaya (s/d sekarang)
11. Plt. Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Jatim (1998-2000)
12. Ketua MUI Jawa Timur (2000-2005)
13. Anggota Dewan Penasehat Majelis Ulama Indonesia Pusat
14. Anggota Dewan Pakar ICMI Korwil Jatim (s/d sekarang)
15. Direktur Imarah Masjid Al-Akbar Surabaya (2000-sekarang)
16. Ketua Dewan Syari'ah BPRS Amanah Sejahtera Cerme Gresik (s/d sekarang)
17. Anggota Dewan Syariah BPRS Bakti Makmur Indah Krian Sidoarjo (s/d sekarang)
18. Pembimbing dan Konsu1tan Agama PT .Linda Jaya Tours dan Travel Surabaya
19. Pembina KBIH Multazam Surabaya
20. Anggota Pembina Kerohanian Islam pada PT Telkom Divre V Jatim, PT lndosat Divre Indonesia Timur, Surabaya
21. Dai/Miballigh dan Penyuluh Utama Kanwil Depag Jawa Timur
22. Pembina Tafsir Kafilah Jatim dan Indonesia untuk MTQ Nasional maupun Internasional
23. Promotor dan Co.Promotor 2 Disertasi di IAIN Sunan Kalijaga.
24. Penguji Ujian Tertutup dan Promosi Terbuka Dissertasi di IAIN Sunan Ampel dan Sunan Kalijaga
25. Ketua Dewan Syari'ah Lembaga Manajemen Infaq Jawa Timur

Karya Ilmiah:
1. M. Abdul Wahab dan Gerakan Tajdidnya
2. SuratYasin, Tafsir, Rahasiadan Hikmahnya
3. Hamka Dalam Karya Monumental Tafsir Al-Azhar
4. Al-Qur'an, Manusia, dan Moralitas (Ceramah Nuzul Al- Qur'an oleh Negara di Masjid Istiqlal 1997)
5. Spektrum Al-Qur'an
6. Sejarah Sosial Rukun Islam
7. Menafsir Ulum Al-Qur'an
8. Ragam Tafsir Al-Qur'an
9. Beberapa Artikel dalam beberapa jumal terakreditasi.