semua tak sama.... apa yang ku lihat.... apa yang ku sentuh.... apa yang ku rasa... tak pernah sama....
Jumat, 13 Agustus 2010
STOP PRESS!!!!!!
dalam gambar beberapa tokoh hero kartun solat berjama`ah dengan imam amrazi adalah bertujuan untuk menggugah para pembaca, kalau para tokoh kartun itu bisa dan khusyu` dalam sholat berjama`ah, mengapa kita tidak???
jadi saudara-saudara pembaca semua, marilah kita memandang sesuatu jangan terlalu TEXTUAL, tapi lihatlah secara KONTEXTUAL.
terima kasih
Kamis, 05 Agustus 2010
KEWAJIBAN MENUNTUT ILMU AGAMA
Sesungguhnya wajib bagi kita bersyukur kepada Allah ta’ala dengan cara melaksanakan kewajiban terhadap-Nya. Hal ini merupakan kewajiban karena nikmat yang telah diberikan Allah ta’ala kepada kita. Seseorang yang tidak melaksanakan kewajibannya kepada orang lain yang telah memberikan sesuatu yang sangat berharga baginya, ia adalah orang yang yang tidak tahu berterima kasih. Maka manusia yang tidak melaksanakan kewajibannya kepada Allah ta’ala adalah manusia yang paling tidak tahu berterima kasih.
A. Kewajiban kita atas karunia yang kita terima
Apakah kewajiban yang harus kita laksanakan kepada Allah ta’ala yang telah memberikan karuniaNya kepada kita? Jawabannya adalah karena Allah ta’ala telah memberikan karuniaNya kepada kita dengan petunjuk ke dalam Islam dan mengikuti Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, maka bukti terima kasih kita yang paling baik adalah dengan beribadah hanya kepada Allah ta’ala secara ikhlas, mentauhidkan Allah ta’ala, menjauhkan segala bentuk kesyirikan, ittiba’ (mengikuti) Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, taat kepada Allah ta’ala dan RasulNya shalallahu ‘alaihi wasallam, yang dengan hal itu kita menjadi muslim yang benar.
Muslim sejati ialah muslim yang mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah ta’ala semata dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun, serta ittiba’ hanya kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu untuk menjadi seorang muslim yang benar, ia harus menuntut ilmu syar’i. Ia harus belajar agama Islam, karena Islam adalah ilmu dan amal shalih. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam diutus Allah ta’ala untuk membawa keduanya. Allah ta’ala berfirman :
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
Dia-lah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (QS At Taubah:33 dan Ash Shaf : 9).
Allah ta’ala juga berfirman :
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا
Dia-lah yang telah mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkanNya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi. (QS Al Fath : 28).
Yang dimaksud dengan الهُدَى (petunjuk) ialah ilmu yang bermanfaat, dan دِيْنُ الْحَقِ (agama yang benar) ialah amal shalih. Allah ta’ala mengutus Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam untuk menjelaskan kebenaran dari kebatilan, menjelaskan tentang nama-nama Allah ta’ala, sifat-sifatNya, perbuatan-perbuatanNya, hukum-hukum dan berita yang datang dariNya, memerintahkan semua yang bermanfaat untuk hati, ruh dan jasad. Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk mengikhlaskan ibadah semata-mata karena Allah ta’ala, mencintaiNya, berakhlak dengan akhlak yang mulia, beramal shalih, beradab dengan adab yang bermanfaat. Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam melarang perbuatan syirik, amal dan akhlak yang buruk yang berbahaya untuk hati dan badan, dunia dan akhirat.[1]
Cara untuk mendapat hidayah dan mensyukuri nikmat Allah ta’ala adalah dengan menuntut ilmu syar’i. Menuntut ilmu sebagai jalan yang lurus (ash shirathal mustaqim), untuk memahami antara yang haq dan bathil, yang bermanfaat dengan yang mudaharat (membahayakan), yang dapat mendatangkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Seorang muslim tidaklah cukup hanya menyatakan ke-Islamannya, tanpa memahami Islam dan mengamalkannya. Pernyataannya itu harus dibuktikan dengan melaksanakan konsekuensi dari Islam.
Untuk itu, menuntut ilmu merupakan jalan menuju kebahagiaan yang abadi. Seorang muslim diwajibkan untuk menuntut ilmu syar’i. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ (رواه ابن ماجه 224 عن أنس بن مالك رضي الله عنه
Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim. (HR Ibnu Majah No. 224 dari shahabat Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu, lihat Shahih Jamiush Shagir, no. 3913) [2]
B. Keutamaan Ilmu dan Menuntutnya
Ilmu memiliki banyak keutamaan, di antaranya :
1. Menuntut ilmu adalah jalan menuju Surga. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
…مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ (رواه مسلم4/2074 رقم 2699 و غيره عن أبي هريرة رضي الله عنه)
Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju Surga. (HR Muslim 4/2074 no. 2699 dan yang lainnya dari shahabat Abu Hurairah rodhiyallohu ‘anhu).
2. Warisan para Nabi, sebagaimana sabda Rasululloh shalallahu ‘alaihi wasallam :
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ رَوَاه التِّرْمِذِيْ
Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan tidak pula dirham, namun hanya mewariskan ilmu. Sehingga siapa yang mengambil ilmu tersebut maka telah mengambil bagian sempurna darinya (dari warisan tersebut). (HR At Tirmidzi )
3. Allah ta’ala mengangkat derajat ahli ilmu di dunia dan akherat, sebagaimana firmanNya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu:”Berlapang-lapanglah dalam majlis”, lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu.Dan apabila dikatakan:”Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Mujadilah : 11)
4. Ilmu Pintu kebaikan dunia dan akherat, sebagaimana sabda Rasululloh shalallahu ‘alaihi wasallam :
مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
Barang siapa yang Allah inginkan padanya kebaikan maka Allah fahamkan agamanya.
C. Pentingnya Ilmu Syar’i
Kita senantiasa ditambahkan ilmu, hidayah dan istiqamah di atas keta’atan, bila kita menuntut ilmu syar’i. Hal ini tidak boleh diabaikan dan tidak boleh juga dianggap remeh. Kita harus selalu bersikap penuh perhatian, serius serta sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu syar’i. Kita akan tetap berada di atas ash-Shirathal Mustaqiim bila kita selalu belajar ilmu syar’i dan beramal shalih. Kalau kita tidak perhatikan dua hal penting ini bukan mustahil Iman dan Islam kita akan terancam bahaya. Iman kita akan terus berkurang dengan sebab ketidaktahuan kita tentang Islam, Iman, Kufur, Syirik, dan dengan sebab banyaknya dosa dan maksiyat yang kita lakukan ! Bukankah Iman kita jauh lebih berharga daripada hidup ini ? Dari sekian banyak waktu yang kita habiskan untuk bekerja, berusaha, bisnis, berdagang, kuliah dan lainnya, apakah tidak bisa kita sisihkan sepersepuluhnya untuk hal-hal yang dapat melindungi Iman kita ?
Saya tidaklah mengatakan bahwa setiap muslim harus menjadi ulama, membaca kitab-kitab yang tebal dan menghabiskan waktu sepuluh atau belasan tahun untuk usaha tersebut. Minimal setiap muslim harus bisa menyediakan waktunya satu jam saja setiap hari untuk mempelajari ilmu pengetahuan agama Islam. Itulah waktu yang paling sedikit yang harus disediakan oleh setiap muslim, baik remaja, pemuda, orang dewasa maupun yang sudah lanjut usia. Setiap muslim harus memahami esensi ajaran al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahih menurut pemahaman salafush shalih. Oleh karena itu ia harus tahu agama Islam dengan dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah sehingga ia dapat mengamalkan Islam ini dengan benar. Tidak banyak waktu yang dituntut untuk memperoleh pengetahuan agama Islam. Bila Iman kita lebih berharga dari segalanya, maka tidak sulit bagi kita untuk menyediakan waktu 1 jam ( enam puluh menit ) untuk belajar tentang Islam setiap hari dari waktu 24 jam ( seribu empat ratus empat puluh menit).
Ilmu syar’i mempunyai keutamaan yang sangat besar dibandingkan dengan harta yang kita miliki. Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah rahimahullahu (wafat tahun 751 H) menjelaskan perbedaan antara ilmu dengan harta.
D. Kemuliaan Ilmu atas Harta [3]
1. Ilmu adalah warisan para Nabi, sedang harta adalah warisan para raja dan orang kaya.
2. Ilmu itu menjaga yang empunya, sedang pemilik harta menjaga hartanya.
3. Ilmu adalah penguasa atas harta, sedang harta tidak berkuasa atas ilmu.
4. Harta bisa habis dengan sebab dibelanjakan, sedang ilmu justru bertambah dengan diajarkan.
5. Pemilik harta jika telah meninggal dunia, ia berpisah dengan dengan hartanya, sedang ilmu mengiringinya masuk ke dalam kubur bersama para pemiliknya.
6. Harta bisa didapatkan oleh siapa saja baik orang beriman, kafir, orang shalih dan orang jahat, sedang ilmu yang bermanfaat hanya didapatkan oleh orang yang beriman saja.
7. Sesungguhnya jiwa menjadi lebih mulia dan bersih dengan mendapatkan ilmu, itulah kesempurnaan dirinya dan kemuliaannya. Sedang harta, ia tidak membersihkan dirinya, tidak pula menambahkan sifat kesempurnaan dirinya, malah jiwanya menjadi berkurang dan kikir dengan mengumpulkan harta dan menginginkannya. Jadi keinginannya kepada ilmu adalah inti kesempurnaannya dan keinginannya kepada harta adalah ketidaksempurnaan dirinya.
8. Sesungguhnya mencintai ilmu dan mencarinya adalah akar semua ketaatan, sedangkan mencintai harta dan dunia adalah akar semua kesalahan.
9. Sesungguhnya orang berilmu mengajak manusia kepada Allah ta’ala dengan ilmunya dan akhlaknya, sedang orang kaya itu mengajak manusia ke neraka dengan harta dan sikapnya.
10. Sesungguhnya yang dihasilkan dengan kekayaan harta adalah kelezatan binatang. Jika pemiliknya mencari kelezatan dengan mengumpulkannya, itulah kelezatan ilusi. Jika pemiliknya mengumpulkan dengan menggunakannya untuk memenuhi kebutuhannya syahwatnya, itulah kelezatan binatang. Sedang kelezatan ilmu, ia adalah kelezatan akal plus ruhani yang mirip dengan kelezatan para malaikat dan kegembiraan mereka. Antara kedua kelezatan tersebut (kelezatan harta dan ilmu) terdapat perbedaan yang mencolok.
E. Faktor Pembantu Dalam Menuntut Ilmu
Faktor pembantu dalam keberhasilan menuntut ilmu sangat banyak sekali, diantaranya:
1. Taqwa
2. Do’a
3. Konsistensi dan kontinyuitas dalam menuntut ilmu
4. Menghafal
5. Mulazamah ulama
F. Cara Tahshiel (Mendapatkan) Ilmu
Ada dua cara mendapatkan ilmu :
1. Dengan menelaah dan mangambil ilmu dari kitab-kitab yang terpercaya yang telah ditulis para ulama yang sudah dikenal aqidah dan amanahnya
2. Dengan menerima langsung dari guru yang terpercaya kelilmuan dan kesholehannya. Cara inilah yang paling cepat dan gampang dalam mengambil ilmu agama.
Demikianlah ringkasan makalah ini, mudah-mudahan bermanfaat.
Ust. Kholid Syamhudi, Lc
Artikel ustadzkholid.com
—————————————–
Catatan Kaki:
[1] Lihat Tafsir Taisirul Karimur Rahman Fi Tafsir Kalaamil Mannaan, oleh Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As Sa’di (wafat th. 1376 H) hlm. 295-296, Cet. Muasasah Ar Risalah th. 1417 H.
[2] Diriwayatkan pula dari beberapa sahabat seperti Ali, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud, Abu Sa’id Al-Khudri, Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhum dan imam-imam ahli hadits dengan sanad yang shahih. Lihat kitab Takhrij Musykilatul Faqr no. 86 oleh Syaikh Al Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani t Cet. IV Al Maktab Al Islami, th. 1414 H.
[3] Lihat Al Ilmu Fadhluhu Wa Syarafuhu Min Durari Kalami, Syaikhul Islam Ibnu Qoyyim, tahqiq wa ta’liq Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid Al Halabi Al Atsari, Cet. I. Majmu’ atuttuhaf An Nafaais Ad Dauliyah, th. 1416 H.
bersin ketika solat
Assalam mualaiku wr.wb
Ust Aep damang? Mohon maaf saya mau bertanya tentang seseorang yang bersin ketika shalat; apakah apabila seseorang bersin, tetap dianjurkan membaca al-hamdulillah sekalipun dalam shalat? Lalu kalau ada orang lain yang bersin, apakah orang yang sedang shalat juga dianjurkan untuk mendoakannya dengan membaca yarhamukallah? Atas jawabannya saya ucapkan banyak terima kasih.Wassalam,
Yudi Latief, probolinggo
JAWABAN
Wa’alaikum salam.
Alhamdulillah abdi dan isteri sehat Pak Yudi, bagaimana kabar Pak Yudi sekeluarga? Semoga sehat selalu, amiiin.
Bersin merupakan di antara nikmat yang Allah berikan kepada manusia. Karena itu, apabila seseorang bersin dianjurkan untuk mengucapkan al-hamdulillahi rabbil ‘aalamiin atau alhamdulillah ‘alaa kulli haal (segala puji bagi Allah dalam segala keadaan, HR. Abu Daud), sebagai salah satu bentuk rasa syukur kepadaNya.
Ucapan tahmid ini dibaca manakala seseorang bersin, baik ketika sedang shalat ataupun di luar shalat. Bagi yang sedang shalat, dengan membaca tahmid ini, shalatnya tidak batal. Hal ini di antaranya berdasarkan hadis di bawah ini:

Artinya: “Rifa’ah bin Rafi’ berkata: “Saya pernah shalat di belakang Rasulullah saw, lalu saya bersin, kemudian saya membaca: alhamdulillah hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fin, kamaa yuhibbu robbunaa wa yardhaa (segala puji bagi Allah, dengan pujian yang banyak, baik dan penuh berkah di dalamnya, sebagaimana Allah mencintai dan meridhai). Ketika Rasulullah saw selesai salam, beliau bertanya: “Siapa yang berbicara barusan di dalam shalat?” Tidak ada seorangpun yang menjawab. Rasul kembali bertanya lagi, lalu saya menjawab: “Saya ya Rasulullah”. Rasul lalu bersabda: “Demi diriku yang berada dalam kekuasaanNya, lebih dari tiga puluh malaikat telah mengelilinginya, dan di antara mereka ada yang naik ke atas karena bacaan tersebut” (HR. Nasai dan Turmudzi,).
Hadis ini di antaranya diriwayatkan oleh Imam Turmudzi dan Imam Nasai. Dan hadis ini dinilai sebagai Hadis Hasan oleh para ulama hadis termasuk oleh Imam Turmudzi sendiri, karena itu dapat dijadikan sebagai pegangan dalam menetapkan sebuah hukum. Imam Turmudzi menilai hadis ini dengan mengatakan: “Hadis Rafi ini adalah Hadis Hasan”.
Setelah menjelaskan kedudukan hadis ini, Imam Turmudzi, masih dalam Kitab Sunan-nya mengatakan: “Hanya saja, jumhur tabi’in berpendapat bahwa, bacaan alhamdulillah bagi yang bersin sedang shalat boleh dikeraskan apabila dalam shalat sunnat, sementara apabila dalam shalat wajib, maka hendaklah ia membaca alhamdulillah tadi di dalam hatinya saja (tidak dikeraskan)”.
Oleh karena itu, Imam Nawawi dalam kitabnya al-Majmu’ demikian juga dalam kitabnya al-Adzkar mengatakan, bahwa sunnat hukumnya orang yang bersin ketika sedang shalat untuk membaca al-hamdulillah dan shalatnya tidak menjadi batal.
Sedangkan dalam mazhab Maliky, mengenai masalah ini, masih menurut Imam Nawawi, ada tiga pendapat. Pendapat pertama sama dengan pendapat dalam mazhab Syafi’i yaitu sunnah membaca alhamdulillah.
Pendapat kedua, diperbolehkan membaca alhamdulillah hanya dalam hatinya saja. Dan pendapat ketiga, Imam Sahnun berkata: “Tidak perlu membaca al-hamdulillah baik dikeraskan maupun di dalam hatinya.”
Pendapat yang lebih tepat dalam hal ini, hemat saya, adalah pendapat Jumhur ulama termasuk mazhab Syafi’i, yaitu orang yang bersin ketika shalat dianjurkan untuk membaca tahmid baik di dalam hatinya (dalam shalat wajib), ataupun sedikit dikeraskan (dalam shalat sunnat).
Sedangkan menyangkut pertanyaan kedua, Jumhur ulama berpendapat bahwa tasymit (mengucapkan yarhamukallah) hanya dibacakan di luar shalat. Sedangkan ketika sedang shalat, tidak diperbolehkan membaca tasymit kepada yang bersin. Dan apabila ia mengucapkannya, maka shalatnya batal.
Hal ini diantaranya mengingat orang yang shalat sedang berkomunikasi hanya dengan Allah, dan apabila menyelangnya dengan hal lain, termasuk membaca tasymit, berarti telah melakukan komunikasi juga dengan selain Allah. Dan ini tentu tidak dibenarkan.
Adapun hadis yang mengatakan:

Artinya: “Rasulullah saw bersabda: “Apabila seseorang bersin, maka ucapkanlah: ‘alhamdulillaah’ (segala puji bagi Allah), dan orang yang ada di dekatnya hendaklah mengucapkan: ‘yarhamukallaah’ (semoga Allah selalu menyayangi kamu), kemudian orang yang bersin tadi hendaklah menjawabnya dengan membaca: ‘yahdiikumullaah wa yushlih baalakum’ (semoga Allah memberikan petunjuk kepadamu, juga memperbaiki keadaanmu)” (HR. Ahmad, Turmudzi, Hakim).
Atau hadis-hadis lain yang semakna dengan hadis di atas, tentang perlunya mendoakan orang yang bersin, menurut Jumhur ulama, itu untuk konteks di luar shalat. Adapun ketika sedang shalat, maka tidak dianjurkan untuk mendoakannya.
Sedangkan dalam Mazhab Syafi’i dipisahkan dalam bentuk ucapan tasymitnya. Apabila bentuk tasymitnya menggunakan khithab kamu (mukhatab) seperti yarhamukallaah (semoga Allah menyayangi kamu) atau yarhamukumullah (semoga Allah menyayangi kalian), maka tidak diperbolehkan dan shalatnya menjadi batal.
Namun apabila tasymitnya selain khitab mukhatab, misalnya yarhamuhullah (semoga Allah menyayangi dia), yarhamunallaah (semoga Allah menyayangi kami), yarhamuhumullah (semoga Allah menyayangi mereka), maka diperbolehkan sekalipun dalam keadaan shalat, dan shalatnya tidak batal. Penjelasan lebih lengkap masalah ini, misalnya dapat dilihat dalam kitab Tuhfatul Muhtaj, karya Imam Ibnu Hajar al-Haitamy atau kitab-kitab fiqih Mazhab Syafi’i lainnya.
Hemat saya, pendapat yang lebih tepat dalam hal ini adalah pendapatnya Jumhur, bahwa orang yang sedang shalat tidak diperbolehkan membaca tasymit, baik yarhamukallah, yarhamuhullah atau yarhamunallaah atau bacaan lainnya. Dan apabila ia mengucapkannya, maka shalatnya menjadi batal.
Adapun hadis yang mengatakan anjuran membaca tasymit apabila ada orang yang membaca tahmid setelah bersinnya, hadis tersebut untuk konteks di luar shalat dan tidak termasuk di dalam shalat. Wallahu ‘alam bis shawab
Hadis tentang Mencari Ilmu ke Negeri China
Salam. saya mau tanya nich tentang hadis "Tuntutlah ilmu walau ke negri cina", kanapa harus cina ? apakah negara cina sudah ada pada saat itu? Sahihkah hadis ini?
anwar, gunung kidul jogja
JAWABAN
Wa’alaikum salam.
Hadis dimaksud, hemat saya ada dua redaksi. Redaksi pertama berbunyi:

Artinya: “Dari Abi Atikah, dari Anas, ia berkata: “Rasulullah saw bersabda: “Carilah ilmu sekalipun ke negeri China” (HR. Baihaki).
Dan redaksi kedua berbunyi:

Artinya: “Dari Abu Atikah, dari Anas, Rasulullah saw bersabda: “Carilah ilmu ke negeri China, karena mencari ilmu itu adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim” (HR. Baihaki).
Kedua Hadis di atas diriwayatkan oleh al-Hafizh al-‘Iraqy dalam kitab al-Mughni ‘An Hamlil Asfar (1/19), juga diriwayatkan oleh Ibnu ‘Addy dalam al-Madkhal, dan Imam Baihaky dalam Syu’b al-Iman, juga diriwayatkan oleh al-Khatib, Ibnu Abdil Barr dan ad-Dailamy, yang diterima dari Abu Atikah dan Abu Atikah menerima dari sahaby Rasulullah saw yang bernama Anas bin Malik.
Para ulama Hadis mengatakan, kedua Hadis tersebut datang dari dua jalur, dari Abu Atikah dan dari az-Zuhry. Namun para ahli Hadis sepakat, bahwa Hadis-Hadis tersebut baik dari jalur az-Zuhry maupun dari jalan Abu Atikah, semuanya dhaif. Bahkan, Abu Atikah yang mempunyai nama Thariq bin Sulaiman, dinilai oleh para ulama Hadis seperti Imam Bukhari sebagai munkarul Hadis (Hadis nya Hadis munkar, tertolak).
Ibnu Hibban juga dalam kitab al-Majruuhiin (1/382) mengatakan bahwa Hadis tersebut tidak sah, bahkan rawinya yang bernama Hasan bin Athiyah seorang rawi dhaif, juga Abu ‘Atikah seorang munkarul Hadis (Hadisun baatil laa ashla lah).
Ibnu Jauzi bahkan dalam bukunya al-Maudhuu’aat (1/215) menilainya sebagai Hadis Maudhu. Demikian juga dengan penilaian Imam ad-Dzhahaby yang menilainya sebagai Hadis dhaif sebagaimana ditulisnya dalam Tartib al-Maudhu’aat (hal. 128).
Namun demikian, kandungan Hadis nya tetap sejalan dengan banyak Hadis shahih tentang kewajiban mencari ilmu.
Negeri China tentu sudah ada ketika Rasulullah saw jumeneng, bahkan sebelum Rasulullah saw lahir pun negeri China sudah sangat terkenal dan sangat maju. Rasulullah saw lahir sekitar lebih 1400 tahun yang lalu, sementara kebudayaan China sudah ada lebih dari 2000 tahun yang lalu, karena itu kebudayaan China termasuk kebudayaan tua dunia.
Pada masa Rasulullah saw, China sangat terkenal dengan kainnya. Bahkan, masyarakat Arab saat itu sangat menggemari kain buatan China. Dan barang-barang China sejak masa Rasulullah saw sudah masuk ke negeri Arab, khususnya Syiria, Mekah, Madinah, dan Mesir. Oleh karena itu,sangat pantas kalau Rasulullah memberikan contoh China sebagai contoh Negara.
Para ulama, sekalipun menilai Hadis di atas Hadis dhaif, tetap mencoba memberikan penafsiran, mengapa China yang dijadikan contoh oleh Rasulullah saw. Para ulama mengatakan—diantaranya seperti yang ditulis oleh Imam al-Qurthubi dalam kitabnya Jami’ Bayan al-Ilmi wa Fadhlih--maksud dari China tersebut adalah dari sisi jauhnya. Artinya, sekalipun tempatnya sangat jauh, untuk masalah ilmu tetap perlu dikunjungi dan didatangi. Dan negeri China kalau diukur dari Saudi Arabia, tentu negeri yang sangat jauh. Demikian, semoga jelas. Wallahu ‘alam bis shawab.
kritik hadist kewajiban menuntut ilmu
A. PENGANTAR
Dalam sebuah majalah yang pernah penulis baca, dikisahkan bahwa ada seorang muballigh dari Cina tatkala berceramah di hadapan jama’ah Indonesia, dia mengemukakan hadits ini seraya berkomentar: “Bapak-bapak, ibu- ibu, seharusnya banyak bersyukur, karena bapak ibu tidak perlu repot-repot pergi ke Cina, karena orang Cina-nya sudah datang ke sini”!!!
Sepanjang ingatan penulis juga, hadits ini tercantum dalam buku pelajaran kurikulum sekolah Tsanawiyyah masa penulis (entah kalau sekarang), sehingga dulu pernah ada seorang kawan menyampaikan hadits ini tatkala latihan ceramah, kemudian ada seorang ustadz yang menegur: “Untuk apa menuntut ilmu ke China? Ilmu apa yang mau dicari di sana? Ilmu dunia atau agama?”.
Nah, apakah hadits yang kondang ini shohih dari Nabi? Inilah yang akan menjadi pembahasan kita pada edisi kali ini. Semoga bermanfaat.
.
B. TEKS HADITS
اطْلُبُوْا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنِ
Carilah ilmu sekalipun di negeri Cina.
BATHIL. Diriwayatkan oleh;
- Ibnu Adi (2/207),
- Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbahan (2/106),
- Al-Khotib dalam Tarikh (9/364) dan Ar-Rihlah 1/2,
- al-Baihaqi dalam al-Madkhal (241, 324),
- Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil Ilmi (1/7-8) dari jalan Hasan bin Athiyah, menceritakan kami Abu A’tikah Tharif bin Sulaiman dari Anas secara marfu’ (sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).
- Mereka semuanya menambahkan:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim
- Kecacatan hadits ini terletak pada Abu A’tikah. Dia telah disepakati kelemahannya.
- Bukhori berkata: “Munkarul hadits”.
- Nasa’i berkata: “Tidak terpercaya”.
- Abu Hatim berkata: “Haditsnya hancur”.
- Al-Marwazi bercerita: “Hadits ini pernah disebut di sisi Imam Ahmad, maka beliau mengingkarinya dengan keras”.
- Ibnul Jauzi mencantumkan hadits ini dalam al-Maudhu’at (1/215) dan berkata, “Ibnu Hibban berkata: “Hadits bathil, tidak ada asalnya.” Dan disetujui as-Sakhawi[1].
Kesimpulannya, hadits ini adalah hadits batil, dan tidak ada jalan lain yang menguatkannya[2].
C. MENGKRITISI MATAN HADITS
Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata setelah menjelaskan lemahnya hadits ini:
“Seandainya hadits ini shahih, maka tidaklah menunjukkan tentang keutamaan negeri Cina dan penduduknya, karena maksud hadits ini -kalaulah memang shahih- adalah anjuran untuk menuntut ilmu sekalipun harus menempuh perjalanan yang sangat jauh[3], sebab menuntut ilmu merupakan perkara yang sangat penting sekali, karena ilmu merupakan sebab kebaikan dunia dan akherat bagi orang yang mengamalkannya. Jadi, bukanlah maksud hadits ini adalah negeri Cina itu sendiri, tetapi karena Cina adalah negeri yang jauh dari tanah Arab, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikannya sebagai permisalan. Hal ini sangat jelas sekali bagi orang yang mau memperhatikan hadits ini”.[4]
.
D. TAMBAHANNYA SHOHIH?
Adapun tambahan dalam hadits ini dengan lafadz:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.
- Syaikh Al-Albani berkata: “Lafadz ini diriwayatkan dari banyak jalur sekali dari Anas sehingga bisa terangkat ke derajat hasan sebagaimana dikatakan oleh Al-Hafizh al-Mizzi. Saya telah mengumpulkan hingga sekarang sampai delapan jalur. Selain dari Anas, hadits juga diriwayatkan dari sejumlah sahabat lainnya seperti Ibnu Umar, Abu Sa’id, Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Ali. Saya sekarang sedang mengumpulkan jalur-jalur lainnya dan menelitinya sehingga bisa menghukumi statusnya secara benar baik shohih, hasan, atau lemah. Setelah itu, saya mempelajarinya dan mampu mencapai kurang lebih dua puluh jalur dalam kitab Takhrij Musykilah Al-Faqr (48-62) dan saya menyimpulkan bahwa hadits ini derajatnya hasan”.[5]
- Al-Hafizh As-Suyuthi juga telah mengumpulkan jalur-jalur hadits ini dalam sebuah risalah khusus “Juz Thuruqi Hadits Tholabil Ilmi Faridhotun Ala Kulli Muslimin”, telah dicetak dengan editor Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi, cet Dar “Ammar, Yordania.
Namun perlu kami ingatkan di sini bahwa hadits ini memiliki tambahan yang yang populer padahal tidak ada asalnya yaitu lafadz “dan muslimah“.
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ
Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim dan muslimah.
- Tambahan lafadz وَمُسْلِمَةٍ tidak ada asalnya dalam kitab-kitab hadits. Syaikh al-Albani mengatakan, “Hadits ini masyhur pada zaman sekarang dengan tambahan وَمُسْلِمَةٍ padahal tidak ada asalnya sedikitpun. Hal ini ditegaskan oleh al-Hafizh as-Sakhawi. Beliau berkata dalam al-Maqashid al-Hasanah (hal. 277): “Sebagian penulis telah memasukkan hadits ini dengan tambahan وَمُسْلِمَةٍ, padahal tidak disebutkan dalam berbagai jalan hadits sedikitpun”.[6]
Sekalipun demikian, makna tambahan ini benar, karena perintah menuntut ilmu mencakup kaum pria dan wanita juga. Syaikh Muhammad Rasyid Ridho berkata: “Hadits “menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim” mencakup wanita juga dengan kesepakatan ulama Islam, sekalipun tidak ada tambahan lafadz “dan muslimah”. Akan tetapi, matan-nya adalah shohih dengan kesepakatan ulama“.[7]
Semoga Allah merahmati Al-Hafizh Ibnul Jauzi tatkala berkata:
“Saya selalu menganjurkan manusia untuk menuntut ilmu agama, karena ilmu adalah cahaya yang menyinari, hanya saja saya memandang bahwa para wanita lebih utama dengan anjuran ini, dikarenakan jauhnya mereka dari ilmu dan menguatnya hawa nafsu pada diri mereka”. Lanjutnya: “Wanita adalah manusia yang dibebani seperti kaum pria, maka wajib olehnya untuk menuntut ilmu agar dia dapat menjalankan kewajiban dengan penuh keyakinan”.[8]
Sejarah telah mencatat nama-nama harum para wanita yang menjadi para ulama dalam bidang agama, Al-Qur’an, hadits, syair, kedokteran dan lain sebagainya.[9]
.
E. HADITS-HADITS LEMAH TENTANG ILMU
Tidak ragu lagi bahwa menunut ilmu merupakan suatu keharusan bagi seorang muslim. Namun, bukanlah hal itu berarti kita menganjurkan mereka dan menggalang semangat mereka dengan hadits-hadits dusta yang disandarkan kepada Nabi yang mulia seperti yang dilakukan oleh banyak penceramah dan penulis, seperti hadits:
اطْلُبُوْا الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ إِلَى اللَّحْدِ
Carilah ilmu sejak bayi hingga ke liang kubur.
- TIDAK ADA ASALNYA. Demikian ditegaskan Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Baz.[10]
.
Seperti juga:
مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ, وَمَنْ أَرَادَ الأَخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ, وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
Barangsiapa yang menghendaki dunia, maka hendaknya dia berilmu. Dan barangsiapa yang menghendaki akherat, maka hendaknya dia berilmu. Dan barangsiapa yang menghendaki dunia akherat, maka hendaknya dia berilmu.
- TIDAK ADA ASALNYA.
- Yang benar ini adalah ucapan Imam Syafi’i, bukan ucapan Nabi.
.
Dan masih banyak lagi lainnya hadits-hadits lemah yang sering dibawakan untuk menganjurkan manusia agar semangat menuntut ilmu[11].
Sekali lagi, kita tidak butuh dengan hadits-hadits lemah, cukuplah bagi kita dalil-dalil dari Al-Qur’an, hadits yang shohih dan ucapan para ulama[12].
.
F. PENUTUP
Berbicara tentang ilmu sangat panjang sekali, namun ada satu point penting yang ingin kami tekankah di sini bahwa banyak para penulis dan penceramah tatkala membawakan dalil-dalil Al-Qur’an dan hadits baik yang shohih maupun tidak shohih, mereka memaksudkannya kepada ilmu dunia. Ini adalah suatu kesalahan, karena setiap ilmu yang dipuji oleh dalil-dalil tersebut maksudnya adalah ilmu agama, ilmu Al-Qur’an dan sunnah[13], sekalipun kita tidak mengingkari ilmu-ilmu dunia seperti kedokteran, arsitek, pertanian, perekonomian dan sebagainya, tetapi ini bukanlah ilmu yang dimaksud dalam dalil-dalil tersebut, dan hukumnya tergantung kepada tujuannya, apabila ilmu-ilmu dunia tersebut digunakan dalam ketaatan maka baik, dan bila digunakan dalam kejelekan maka jelek. Perhatikanlah hal ini baik-baik, semoga Allah menambahkan ilmu bagimu.[14]
.
artikel [ www.abiubaidah.com ]
.
CATATAN KAKI
[1] Al-Maqashid al-Hasanah hal. 63
[2] Silsilah Ahadits adh-Dha’ifah: 416
[3] Oleh karenanya, Rihlah (melakukan perjalanan jauh) untuk menuntut ilmu adalah kebiasaan para ulama salaf terdahulu dari kalangan sahabat, tabi’in dan orang-orang setelah mereka, bahkan tak sedikit diantara mereka yang menempuh perjalanan berbulan-bulan hanya untuk mencari satu hadits. Kisah-kisah tentang mereka begitu banyak sekali, sebagiannya telah dikumpulkan oleh al-Khathib al-Baghdadi dalam kitabnya “Ar-Rihlah Li Thalib Hadits”. Cukuplah sebagai contoh, perjalanan Nabi Musa untuk menemui Nabi Hidhir dalam rangka menuntut ilmu yang disebutkan oleh Allah dalam surat Al-Kahfi. Wallahu A’lam.
[4] At-Tuhfatul Karimah fi Bayani Ba’dhi Ahadits Maudhu’ah wa Saqimah hal. 60
[5] Silsilah Ahadits Adh-Dho’ifah 1/604.
[6] Takhrij Musykilatul Faqr hal. 48-62.
[7] Huquq Nisa’ fil Islam hlm. 18.
[8] Ahkam Nisa’ hal. 8-11
[9] Lihat kisah-kisah mereka dalam kitab Huquq Mar’ah Dr. Nawwal binti Abdullah hal. 285-293, ‘Inayah Nisa’ bil Hadits Nabawi oleh Syaikh Masyhur Hasan Salman.
[10] Ahadits Mardudah Sa’id bin Shalih al-Ghamidi hal. 12
[11] Lihat buku penulis “Hadits-Hadits Dho’if Populer” hlm. 53-61, cet Media Tarbiyah, Bogor.
[12] Lihat kitab Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlihi oleh Imam Ibnu Abdil Barr dan Miftah Dar Sa’adah oleh Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah.
[13] Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali berkata:
“Ilmu bermanfaat adalah mempelajari Al-Qur’an dan sunnah serta memahami makna kandungan keduanya dengan pemahaman para sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in. Demikian juga dalam masalah hukum halal dan haram, zuhud dan masalah hati, dan lain sebagainya”. (Fadhlu Ilmi Salaf ‘ala Ilmi Khalaf hlm. 26).
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqolani berkata:
“Maksud ilmu adalah ilmu syar’i yang mengajarkan pengetahuan tentang kewajiban seorang hamba dalam ibadah dan mu’amalatnya”. (Fathul Bari 1/92).
[14] Lihat Kitabul Ilmi hlm. 13-14 karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.