Selasa, 28 Februari 2012

Jika sakit, kembalilah kepada AlQur'an

Jika sakit, kembalilah kepada AlQur'an

Musibah atau bencana bisa berupa bencana alam, kecelakaan, penyakit, atau yang lainnya. Sudah barang tentu musibah apapun termasuk penyakit merupakan sesuatu yang tidak nikmat. Jika kita sakit berarti kita sedang tidak diberi kenikmatan dunia oleh Allah swt. Biasanya jika kita sedang sakit jarang sekali kita ingat kepada Allah.

Biasanya jika kita sedang terkena sakit, kita lalu pergi ke dokter/rumah sakit. Ini sudah benar karena kita memang pergi kepada ahlinya.

Akan tetapi dibalik sakit yang kita derita seringkali kita menganggap bahwa sakit ini adalah cobaan dari Allah swt sehingga selanjutnya kita harus bersabar dan tawakal menerimanya. Hal ini didasarkan pada firman Allah dalam surat Al A’raaf 168 : “..... Wa balaunaahum bil-hasanaati was-sayyi’aati la’allahum yarji’uun” (..... Dan kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)).

Berdasarkan firman Allah ini, memang benar sakit adalah cobaan dari Allah swt tetapi sakit yang kita derita tersebut diakibatkan oleh karena kesalahan kita sendiri sehingga oleh Allah kita diminta untuk kembali kepada kebenaran/jalan yang benar.

Selain itu jika kita sedang terkena sakit, terkadang kita malah bersyukur karena kita menganggap bahwa dengan sakit ini dosa-dosa kita dapat terhapus, sebagaimana HR Al Bukhari : “Seorang mukmin ditimpa rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyakit atau kesedihan (kesusahan) sampaipun duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya”.

Kalau kita hayati, sesungguhnya hadist ini diperuntukkan untuk orang-orang mukmin yang sedang diuji imannya oleh Allah swt seperti halnya nabi Ayub.

Pertanyaan kita adalah apakah kita ini sudah termasuk orang-orang yang benar-benar mukmin, merasa sudah mukmin, atau bahkan belum mukmin ?Jika iman kita masih biasa-biasa saja atau belum mencapai takaran iman standar, kita seharusnya introspeksi diri, jangan-jangan sakit kita ini malah peringatan atau bahkan mungkin laknat dari Allah swt karena kelalaian kita yang lupa akan tanggung jawab kita sebagai suami, sebagai isteri, sebagai anak, sebagai atasan, sebagai bawahan, sebagai guru, sebagai murid, sebagai tokoh masyarakat, sebagai anggota masyarakat, atau sebagai yang lainnya.

Mengapa sakit itu bisa terjadi kepada kita ?

Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita ingat hadist nabi berikut ini : “Tiada seorang hamba ditimpa musibah baik di atasnya maupun di bawahnya melainkan sebagai akibat dosanya. Sebenarnya Allah telah memaafkan banyak dosa-dosanya. Lalu Rasulullah membacakan ayat 30 dari surat Asy Syuura yang berbunyi : “Wa maa ashaabakum mim mushiibatin fa bimaa kasabat aidiikum wa ya’fuu ‘an kasyiir” (Apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu))”.

Berdasarkan firman Allah ini maka jika kita renungkan, sakit apa saja yang menimpa diri kita ini, disadari atau tidak disadari semuanya disebabkan karena dosa/kesalahan kita sendiri, kesalahan yang sudah bertumpuk-tumpuk sekian lama atau dengan kata lain sakit itu dari perilaku kita karena kita ingkar/kufur terhadap nikmat-nikmat Allah swt.

Tampaknya sudah menjadi karakter kita sebagai manusia, ketika kita melakukan kesalahan yang masih awal, kemudian Allah memaafkan kesalahan kita, namun kita tidak malah bersyukur, tetapi kita malah mengulang-ngulang kesalahan yang sama tersebut sehingga menjadi bertumpuk-tumpuk dan akhirnya Allah memberikan peringatan kepada kita dengan musibah yang berupa sakit ini. Setelah Allah swt menimpakan sakit ini kepada kita, adakah maksud atau katakanlah muatan politis yang terkandung di dalamnya ?

Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita ingat firman Allah dalam surat As Sajdah 21 : “Wa lanudziiqonnahum minal-‘adzaabil-adnaa duunal-‘adzaabil-akbari la’allahum yarji’uun” (Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar))

Berdasarkan firman Allah ini maka jika kita renungkan, sakit yang ditimpakan oleh Allah swt kepada kita, tidak lain adalah merupakan siksa permulaan di dunia ini, baru sebagian kecil saja dari siksa-Nya, baru merupakan siksa episode pertama saja, dan setelah Allah swt menimpakan sakit tersebut kepada kita di dunia ini maka telah menanti siksa yang lebih besar lagi pada 2 episode berikutnya yang akan menimpa kita yaitu siksa di alam kubur dan siksa di akhirat/neraka nantinya.

Coba bayangkan, seandainya akibat dari kesombongan saya, bisa jadi di dunia ini saya akan ditimpa musibah yang berupa penyakit jantung misalnya. Maka kemungkinan besar di alam kubur nanti jantung saya akan disiram dengan cairan logam yang sangat panas seperti yang senantiasa diceritakan oleh para ustadz, belum lagi di akhirat/neraka nantinya. Sungguh sangat mengerikan.

Tidak takutkah kita akan semua siksa-siksa Allah yang amat pedih tersebut. Oleh karena itu, jika kita tidak ingin mendapatkan musibah/siksa di dunia ini serta siksa-siksa di alam kubur dan akhirat/neraka nantinya, maka kita seharusnya kembali ke jalan yang benar, jalan yang diridhoi oleh Allah swt, jalan yang penuh rakhmat dan barokah-Nya.

Bagaimana seharusnya kita mensikapi sakit yang ditimpakan oleh Allah swt kepada kita ?

Jika kita sedang diberi takdir sakit oleh Allah swt maka takdir ini harus kita imani dan kita tidak boleh protes karena kita sedang diberi peringatan oleh Allah swt karena kesalahan kita agar supaya kita kembali ke jalan yang benar, jalan yang ditunjukkan oleh Al Qur’an.

Dengan kata lain jika kita sedang sakit, kita harus berpikir atau introspeksi diri tentang perilaku/akhlak/pengalaman yang kita alami, kemudian kita ingat kepada Allah, selanjutnya kita segera mohon ampun kepada-Nya,

Mari kita ingat firman Allah dalam surat Al Israa’ 82 : “Wa nunazzilu minal-Qur’aani ma huwa syifaa’uw wa rahmatul lil-mu’miniin .....” (Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman .....)

Selain itu kita ingat juga firman Allah dalam surat Yunus 57 : “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”

Berdasarkan 2 firman Allah tersebut maka dapat kita yakini bahwa Al Qur’an adalah obat segala penyakit dunia sehingga jika kita sedang sakit, kembalilah ke Al Qur’an, maka semua penyakit insyaallah akan sembuh. Kita harus banyak bersujud/syukur dan minta ampun kepada Allah swt karena jika kita sujud kepada-Nya maka kita akan diberi kenikmatan yang berupa kesembuhan sedang jika kita kufur maka kesusahanlah yang akan kita dapati.

Selanjutnya kita harus berakhlakul-karimah, berakhlak mulia sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw yaitu akhlakul-karimah yang tidak meninggalkan rukun iman dan rukun islam. Dengan iman kita akan selalu sujud dan dekat dengan Allah.

Mari kita ingat ketika Aisyah ra ditanya tentang akhlak Rasulullah saw, maka dia menjawab : “Akhlaknya adalah Al Qur’an” dan firman Allah dalam surat Al Ahzab 21 : “Laqad kaana lakum fii rasuulillaahi uswatun hasanatul liman kaana yarjullaaha wal-yaumal-aakhira wa zakarallaaha kasiiraa” (Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah). Dengan kata lain Muhammad adalah Al Qur’an berjalan.

Beberapa hal yang bisa kita garis bawahi adalah :

Berdasarkan beberapa firman Allah tersebut di atas maka sesungguhnya telah menjadi jelas bahwa sakit yang menimpa diri kita di dunia ini insyaallah disebabkan karena dosa/kesalahan kita agar kita kembali ke jalan yang benar (Al Qur’an).

Disamping itu sakit insyaallah bisa kita jadikan barometer awal untuk mengukur tingkatan/level iman dan takwa kita kepada Allah swt. Sehingga jika kita masih diberi sakit di dunia ini oleh Allah swt kita wajib mempertanyakan pada diri kita sendiri, sudah sampai dimana iman dan takwa kita kepada Allah swt, ini tandanya bahwa iman dan takwa kita insyaallah masih belum seperti yang dikehendaki oleh Allah swt.

Ketahuilah bahwa iman dan takwa seseorang, maaf, tidak cukup hanya diukur dari sholat, puasa, zakat, dan hajinya saja. Ini semua sudah merupakan kewajiban yang harus kita laksanakan, ini adalah standar minimal kita sebagai orang islam. Mudah-mudahan ini bisa menjadi bahan renungan/kajian kita bersama, untuk selanjutnya dapat diaplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari sehingga dengan kita selalu minta ampun kepada-Nya dan kita selalu membalas semua kenikmatan yang diberikan oleh Allah swt kepada kita dengan balasan iman dan takwa, niscaya kita semua insyaallah akan dapat terhindar dari sakit apapun di dunia ini. Amin.

source: http://akhlakmuliacenter.com/site/26-data-articles/artikel-kesehatan/50-jika-sakit

Rabu, 22 Februari 2012

Runtuhnya Karakter Bangsa dan Urgensi Pendidikan Pancasila

Runtuhnya karakter bangsa Indonesia yang mengemuka belakangan ini seperti terlihat pada memudarnya sikap toleran dan menghormati nilai-nilai pluralisme sehingga kekerasan begitu mudah terjadi serta sikap tidak setia pada negara dalam bentuk munculnya gerakan untuk mendirikan negara berlandaskan agama seperti NII ditengarai ada sesuatu yang tidak beres (there is something wrong) dalam praktik penyelenggaraan pendidikan kita, mulai jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Berbagai bentuk anomali sosial dan anarkisme seperti tawuran, perusakan sarana publik, penipuan, pelecehan seksual hingga pembunuhan dan berbagai bentuk penyimpangan moral lainnya menjadi bukti konkret memudarnya nilai-nilai luhur yang selama ini melekat pada bangsa ini.

Anehnya, terhadap berbagai bentuk penyimpangan seperti itu sebagian masyarakat menyikapinya biasa-biasa saja (Kompas, 17/6/2011). Sanki sosial tak berlaku lagi dan sebagian masyarakat membiarkan, bahkan apatis ketika penyimpangan yang sistematis di berbagai lini kehidupan hukum, pemerintahan, maupun pendidikan itu sendiri. Lebih tragis lagi, beberapa waktu terakhir ini ada gejala sangat aneh bahwa petugas keamanan seperti polisi justru menjadi sasaran kekerasan, bahkan pembunuhan, para petugas hukum malah yang paling banyak melanggar hukum, hakim yang tugasnya menjadi benteng penegak keadilan justru mempertontonkan praktik ketidakadilan, kampus sebagai tempat para intelektual yang seharusnya menjunjung nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi dan menjauhi anarkisme juga tak luput dari aksi anarkis seperti perusakan laboratorium, ruang kuliah, perkantoran, intelektual yang mestinya mengedepankan argumentasi dengan nalar logis dalam menyelesaikan persoalan seolah melupakan etika akademik yang menjadi bagian kehidupannya. Semua menjadi tontonan gratis yang memilukan.

Bahwa pendidikan dianggap sebagai pihak yang paling bertanggungjawab terhadap gejala tersebut memang tidak salah dan wajar. Sebab, dibanding dengan institusi-institusi sosial yang lain, pendidikan merupakan yang paling sarat makna. Pendidikan merupakan pintu masuk untuk mengantarkan peserta didik menjadi manusia berbudi pekerti luhur, berbudaya, berilmu pengetahuan, berketrampilan, berperadaban, dan berkarakter. Karena itu, secara logis mudah dipahami jika di antara tujuan tersebut ada yang tidak tercapai tentu ada yang sesuatu yang tidak beres dalam penyelengaraan pendidikan secara keseluruhan, bisa landasan filosofis, praktik, pendidik, lingkungan, dan orientasi masa depan peserta didiknya serta perubahan kondisi eksternal yang gagal ditangkap oleh penyelenggara dan pemilik otoritas formal kebijakan pendidikan.

Persoalan pendidikan hakikatnya adalah persoalan masa depan, generasi penerus, dan peradaban sebuah bangsa. Tidak ada satu pun bangsa yang tidak ingin punah karena memiliki generasi penerus yang tidak baik. Karena itu, untuk kelangsungan eksistensi sebuah bangsa tumpuannya pada pendidikan. Sejarah telah membuktikan bahwa bangsa yang berperadaban maju hanyalah mereka yang serius mengelola pendidikan. Bagi mereka, pendidikan di atas segalanya dan dihayati sebagai hajat semua anggota masyarakat. Karena merupakan hajat bersama, maka semua bersinergi membangun pendidikan yang baik sehingga melahirkan lulusan yang bekualitas.

Begitu penting misi yang diembannya, pendidikan tidak bisa dijalankan seenaknya, apalagi hanya untuk mengejar kepentingan sesaat, seperti sekadar lulus Ujian Nasional dengan nilai tinggi, masuk perguruan tinggi, menang olimpiade ini dan itu, meraih gelar, bertaraf internasional dan sebagainya. Di atas semua itu, pendidikan adalah proses pemanusiaan secara utuh, meliputi aspek jiwa, intelektual, emosi, hingga spiritualnya. Lebih dari itu, pendidikan juga merupakan praktik untuk menjadikan peserta didik bagian dari masyarakat, bangsa dan negara, sehingga lahir sikap cinta tanah air. Ringkasnya, pendidikan adalah proyek kemanusiaan terus menerus dan tidak pernah berakhir sepanjang bangsa itu ada.

Sebagai seorang pendidik, saya sendiri merasakan betul betapa peserta didik kita saat ini terjebak dalam nilai-nilai pragmatisme. Sekadar ilustrasi betapa saya sangat terkejut ketika seorang teman dosen menyodorkan dokumen kepada saya tentang hasil survei yang dilakukannya di akhir semester sambil melakukan evaluasi perjalanan perkuliahan menanyakan tentang sosok dosen yang diidolakan di mata mahasiswa. Hasil survei sangat mengejutkan karena di luar dugaannya. Ternyata di mata mahasiswa sosok dosen ideal adalah yang tidak begitu ketat alias santai-santai saja, tidak perlu tepat waktu mengawali dan mengakhiri perkuliahan, rileks, tidak banyak tugas, dan nilai murah. Hasil survei itu sungguh mengagetkan saya, walau bisa diduga sebelumnya. Saya merenung mengapa peserta didik kita menjadi semacam itu. Jauh berbeda dengan masa-masa ketika saya masih kuliah dulu. Pertanyaan berikutnya jika demikian kondisinya bagaimana kita menyiapkan generasi penerus yang cerdas dan kompetetif karena menghadapi persaingan global yang begitu ketat yang tidak saja memerlukan kecakapan dan ilmu yang memadai, tetapi juga karakter yang kokoh.

Mencermati kondisi di atas, beberapa kebijakan pendidikan yang selama ini dilakukan memang patut dicermati kembali. Pertama, menyangkut merosotnya karakter bangsa sehingga menimbulkan anomali dan anarkisme dikaitkan dengan dihapuskannya pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan menjadi hanya Pendidikan Kewarganegaraan di semua jenjang pendidikan membawa konsekwensi ditinggalkannya nilai-nilai luhur yang selama ini melekat pada bangsa ini, seperti toleransi beragama, gotong royong, dan musyawarah. Padahal, nilai-nilai itu sangat dibutuhkan sebagai fondasi bangsa. Akibat kebijakan tersebut, kini para pendidik mengeluh karena sulitnya menanamkan nilai-nilai tersebut dan dianggap sesuatu yang basi. Seorang kolega yang kebetulan mengajar Pancasila mengeluh karena menasihati siswa dianggap kuno dan tidak populer. Guru yang suka memberi nasihat tentang nilai-nilai luhur dianggap guru ‘tempo doeloe’ dan dianggap bukan lagi jamannya.

Perubahan kebijakan pengajaran Pancasila menjadi Pendidikan Kewarganegaraan berdampak. Buktinya, penanaman nilai-nilai ternyata tidak bisa diperoleh dari pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, Sebab, ternyata pelajaran tersebut hanya hafalan dan sekadar menambah pengetahuan. Perubahan pendidikan Pancasila menjadi pendidikan Kerwarganegaraan sangat mereduksi muatan-muatan utama Pancasila yang sarat nilai. Sementara itu, pendidikan Kewarganegaraan lebih mengenai hakikat negara dan bentuk-bentuk kenegaraan, sistem hukum dan peradilan nasional, hak asasi manusia, pemberantasan korupsi, kedudukan warga negara. Mengenai Pancasila hanya disinggung sedikit, Itu pun sudah di semester akhir. Karena itu menjadi wajar jika nilai-nilai moral di kalangan peserta didik kita luntur. Dengan demikian, sangat tidak fair jika pihak sekolah atau guru disalahkan dalam hal ini. Diakui oleh para guru, sebagaikmana dilapokan Kompas (6/5/2011) bahwa sedikit sekali peluang penanaman nilai dan pembentukan moral anak didik saat ini.

Kebijakan pendidikan sangat dipengaruhi oleh pandangan hidup masyarakat dan sistem politik pemerintahannya. Perubahan pendidikan Pancasila menjadi pendidikan Kewarganegaraan juga tidak lepas dari perubahan pandangn hidup dan pergeseran sistem politik di Indonesia. Karena itu, seiring dengan perubahan pandangan hidup dan perubahan pemerintahan, pendidikan Pancasilka juga tidak luput dari perubahan tersebut. Berdasarkan cermatan Kompas (6/5/2011) kebijakan mengenai pendidikan Pancasila mengalami dinamika pasang surut. Diawali tahun 1965, Presiden Soekarno menetapkan kebijakan Sistem Pendidikan Nasional di mana pelajaran Pancasila wajib diajarkan sejak tingkat pra sekolah hingga perguruan tinggi. Kebijakan tersebut ditegaskan lagi oleh Presiden Soeharto pada tahun 1967 dengan mengatakan bahwa dasar sistem pendidikan nasional adalah Pancasila. Tahun 1976 Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila (PMP) mulai diajarkan untuk pertama kali di sekolah, menggantikan pelajaran civics (Kewarganegaraan) yang sudah diajarkan sebelumnya. Tahun 1979 Presiden Soeharto membentuk sebuah lembaga yang secara khusus mengkaji nilai-nilai Pancasila dan merumuskan program nasional P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila).

Kendati P4 dinilai sebagai proyek hegemoni pemeritah terhadap masyarakat, harus diakui program tersebut berhasil dengan baik. Nilai-nilai Pancasila berhasil merasuk dalam jiwa seluruh warga masyarakat. Tahun 1983, berangkat dari filsafat bahwa bangsa yang besar adalah mereka yang mau mengetahui dan mempelajari sejarah bangsanya, maka pemerintah memandang penting pelajaran sejarah. Karena itu, sejak tahun itu mata Pendidikan Sejarah mulai diajarkan di semua jenjang pendidikan. Tahun 1994, Mata Pelajaran Pancasila dan Sejarah digabung menjadi Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Penggabungan tersebut terasa janggal. Sebab, dengan digabung muatan masing-masing menjadi sangat berkurang. Karena itu, langkah penggabungan tersebut menurut hemat saya titik awal memudarnya nilai-nilai moral di kalangan anak didik kita yang dampaknya kita rasakan saat ini. Para pengambil kebijakan pendidikan mungkin tidak pernah membayangkan dampak penggabungan tersebut. Karena pendidikan adalah sebuah proses, maka dampaknya -- positif maupun negatif --- baru akan tampak beberapa tahun kemudian.

Seiring dengan tumbuhnya iklim demokratis yang berkembang pasca-berakhirnya kekuasaan Orde Baru di mana hak politik setiap warga negara dihargai, aspirasi dapat disampaikan dengan bebas di tengah hiruk pikuk eforia politik dan reformasi di semua bidang, maka tuntutan untuk mereformasi Pendidikan Pancasila yang dianggap buah dari Orde Baru tak terelakkan. Hasilnya, pada tahun 2001 Mata Pelajaran Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) diganti menjadi Mata Pelajaran Kewarganegaraan, tanpa Pancasila. Sejak tahun itu, Pancasila seolah hanya menjadi hiasan dinding di kantor-kantor pemerintah.

source: http://mudjiarahardjo.uin-malang.ac.id/artikel/289-runtuhnya-karakter-bangsa-dan-urgensi-pendidikan-pancasila-1.html

Rabu, 15 Februari 2012

Beda Abu Lahab dengan Abu Jahal

Beda Abu Lahab dengan Abu Jahal

banyak yang menyangka kalau Abu Lahab dengan Abu Jahal itu satu orang. Sebenarnya dua orang. Abu Lahab itu paman Nabi Muhammad SAW, sedangkan Abu Jahal tidak ada hubungan darah dengan nabi. Nama Abu Lahab yang sebenarnya adalah Abdul Uzza bin Abdul Muthalib, sedangkan nama Abu Jahal yang sebenarnya adalah Abdul Hakam bin Hisyam.

Tentang Abu Lahab

Ia adalah tokoh kuffar Quraisy yang sangat membenci Nabi Muhammad SAW dan ajaran Islam yang dibawanya. Dialah yang mempermalukan Nabi di depan umatnya dengan ucapan yang hina, “Celaka engkau hai Muhammad! Apakah ini maksudmu mengundang kami kemari?” kata Abu Lahab dengan sangat marah saat nabi sedang berkhutbah di kaki bukit.

Karena kelancangannya itulah, pada hari itu juga Allah mempermalukan Abu Lahab dengan turun Surat Al-Lahab : “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia! Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak (neraka). Dan (begitu pula istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal.” (QS. Al-Lahab : 1 – 4).

Abu Lahab ketika itu tidak sendiri, ada lagi kawan setianya Abu Jahal, Walid bin Mughirah Al-Makhzumi, ‘Ash bin Wail As-Sahmi, Amru bin Hisyam, Abdul Azza, Nadhar bin Harits, Uqbah bin Abi Mui’th, Ubay bin Khalaf, Umayyah bin Khalaf, dan lain-lain.

Tentang Abu Jahal

Nama aslinya Abdul Hakam bin Hisyam. Sejak sama-sama remaja Abu Jahal senantiasa mengolok-olok Muhammad. Pernah juga keduanya berkelahi, Abu Jahal kalah dan terkilir lututnya. Ia sangat dendam kepada Muhammad.

Abu Jahal pernah melamar Khadijah binti Khuwailid, tetapi Khadijah menolak lamaran tersebut. Beberapa bulan kemudian, Muhammad meminang Khadijah dan langsung diterima. Hati Abu Jahal semakin dengki kepada Muhammad. Setelah orang-orang lemah masuk Islam, Abu Jahal memproklamirkan dirinya sebagai preman kota Makkah. Orang-orang dhuafa yang masuk Islam semua mendapat penyiksaan pedih dari Abu Jahal. Yasir dan irtirnya Sumiyyah mendapat siksa sampai syahid di tangan Abu Jahal.

Isra’ Mi’raj terjadi pada 27 Rajab, tahun ke-12 dari kenabian atau 2 tahun sebelum Hijriyah. Setelah Isra’ Mi’raj Rasulullah mengajak manusia supaya percaya kepada kisah perjalanan yang menakjubkan itu. Banyak orang yang tidak percaya, termasuk Abu Jahal. “Bohong kau Muhammad, bagaimana mungkin dalam satu malam saja kamu bisa ke Baitul Maqdis? Kalau kau benar-benar sampai di sana, coba kau ceritakan apa yang kau lihat dalam perjalanan.” Muhammad bercerita sesuai dengan yang dilihatnya secara akurat. Orang ramai membenarkan kecuali segelintir para munafiq dan Abu Jahal. “Itu sihir yang nyata!”, teriak Abu Jahal.

Kemudian Abu Jahal dan anak buahnya selalu menganggu orang-orang yang shalat. Mereka sering melemparkan orang-orang shalat dnegan tahi unta, kotoran kambing, dan sebagainya. Mereka ramai dan sering mengejek orang-orang Islam dan Muhammad SAW, namun demikian, nabi dan pengikutnya tetap bersabar dan tidak melawan orang jahil yang berkelompok itu.

Suatu hari, Abu Jahal sendiri yang ingin membinasakan Nabi Muhammad SAW. Ketika nabi sedang sujud, Abu Jahal muncul mengendap-ngendap dengan batu besar di tangannya. Ia ingin menghantam kepala nabi agar pecah. Tiba-tiba ia melihat seekor unta raksasa yang ingin menelannya. Abu Jahal ketakutan sambil melepaskan batu dan lari terbirit-birit, sampai terkencing dan terberak dalam celana. Sampai di rumah ia pingsan beberapa saat.

Dasar orang jahil, Abu Jahal belum merasa jera, ia terus merongrong Muhammad, dan dia pula yang merancang siasat agar Muhammad dibunuh atau diusir dari Makkah. Ketika Muhammad telah hijrah, Abu Jahal berpesta pora. Ia merasa dirinya sudah menang dan merasa cukup. Allah berfirman tentang Abu Jahal ini, “Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas. Karena dia melihat dirinya serba cukup.” (QS. Al-‘Alaq : 6 – 7)



(Sumber : Koran Serambi Indonesia, sekitar tahun 1990-an)

Jumat, 03 Februari 2012

Sunan Bonang


Ia anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban. Sunan Bonang belajar agama dari pesantren ayahnya di Ampel Denta. Setelah cukup dewasa, ia berkelana untuk berdakwah di berbagai pelosok Pulau Jawa. Mula-mula ia berdakwah di Kediri,
yang mayoritas masyarakatnya beragama Hindu. Di sana ia mendirikan Masjid Sangkal Daha.


Ia kemudian menetap di Bonang -desa kecil di Lasem, Jawa Tengah -sekitar 15 kilometer timur kota Rembang. Di desa itu ia membangun tempat pesujudan/zawiyah sekaligus pesantren yang kini dikenal dengan nama Watu Layar. Ia kemudian dikenal pula sebagai imam resmi pertama Kesultanan Demak, dan bahkan sempat menjadi panglima tertinggi. Meskipun demikian, Sunan Bonang tak pernah menghentikan kebiasaannya untuk berkelana ke daerah-daerah yang sangat sulit.

Ia acap berkunjung ke daerah-daerah terpencil di Tuban, Pati, Madura maupun Pulau Bawean. Di Pulau inilah, pada 1525 M ia meninggal. Jenazahnya dimakamkan di Tuban, di sebelah barat Masjid Agung, setelah sempat diperebutkan oleh masyarakat Bawean dan Tuban.

Tak seperti Sunan Giri yang lugas dalam fikih, ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran ahlussunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks. Ia menguasai ilmu fikih, usuludin, tasawuf, seni, sastra dan arsitektur. Masyarakat juga mengenal Sunan Bonang sebagai seorang yang piawai mencari sumber air di tempat-tempat gersang.

Ajaran Sunan Bonang berintikan pada filsafat 'cinta'('isyq). Sangat mirip dengan kecenderungan Jalalludin Rumi. Menurut Bonang, cinta sama dengan iman, pengetahuan intuitif (makrifat) dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al yaqqin. Ajaran tersebut disampaikannya secara populer melalui media kesenian yang disukai masyarakat. Dalam hal ini, Sunan Bonang bahu-membahu dengan murid utamanya, Sunan Kalijaga.

Sunan Bonang banyak melahirkan karya sastra berupa suluk, atau tembang tamsil. Salah satunya adalah "Suluk Wijil" yang tampak dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa'id Al Khayr (wafat pada 899). Suluknya banyak menggunakan tamsil cermin, bangau atau burung laut. Sebuah pendekatan yang juga digunakan oleh Ibnu Arabi, Fariduddin Attar, Rumi serta Hamzah Fansuri.

Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut). Tembang "Tombo Ati" adalah salah satu karya Sunan Bonang.

Dalam pentas pewayangan, Sunan Bonang adalah dalang yang piawai membius penontonnya. Kegemarannya adalah menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam. Kisah perseteruan Pandawa-Kurawa

Referensi :

- http://groups.yahoo.com/group/islam-kristen/message/13960
- http://serbasejarah.wordpress.com/2008/12/15/sunan-bonang-panglima-tentara-demak/
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kumpulan Biografi Tokoh Terkenal dan Tokoh Indonesia Lengkap www.kolom-biografi.blogspot.com

Sunan Ampel


Sunan Ampel merupakan salah seorang anggota Walisanga yang sangat besar jasanya dalam perkembangan Islam di Pulau Jawa. Sunan Ampel adalah bapak para wali.Dari tangannya lahir para pendakwah Islam kelas satu di bumi tanah jawa. Nama asli Sunan Ampel adalah Raden Rahmat. Sedangkan sebutan sunan merupakan gelar kewaliannya, dan nama Ampel atau Ampel Denta itu dinisbatkan kepada tempat tinggalnya, sebuah tempat dekat Surabaya1.


Ia dilahirkan tahun 1401 Masehi di Champa.Para ahli kesulitan untuk menentukan Champa disini, sebab belum ada pernyataan tertulis maupun prasasti yang menunjukkan Champa di Malaka atau kerajaan Jawa. Saifuddin Zuhri (1979) berkeyakinan bahwa Champa adalah sebutan lain dari Jeumpa dalam bahasa Aceh, oleh karena itu Champa berada dalam wilayah kerejaan Aceh. Hamka (1981) berpendapat sama, kalau benar bahwa Champa itu bukan yang di Annam Indo Cina, sesuai Enscyclopaedia Van Nederlandsch Indie, tetapi di Aceh.

Ayah Sunan Ampel atau Raden Rahmat bernama Maulana Malik Ibrahim atau Maulana Maghribi, yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Gresik. Ibunya bernama Dewi Chandrawulan, saudara kandung Putri Dwarawati Murdiningrum, ibu Raden Fatah, istri raja Majapahit Prabu Brawijaya V. Istri Sunan Ampel ada dua yaitu: Dewi Karimah dan Dewi Chandrawati. Dengan istri pertamanya, Dewi Karimah, dikaruniai dua orang anak yaitu: Dewi Murtasih yang menjadi istri Raden Fatah (sultan pertama kerajaan Islam Demak Bintoro) dan Dewi Murtasimah yang menjadi permaisuri Raden Paku atau Sunan Giri. Dengan Istri keduanya, Dewi Chandrawati, Sunan Ampel memperoleh lima orang anak, yaitu: Siti Syare’at, Siti Mutmainah, Siti Sofiah, Raden Maulana Makdum, Ibrahim atau Sunan Bonang, serta Syarifuddin atau Raden Kosim yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Drajat atau kadang-kadang disebut Sunan Sedayu.

Sunan Ampel dikenal sebagai orang yang berilmu tinggi dan alim, sangat terpelajar dan mendapat pendidikan yang mendalam tentang agama Islam. Sunan Ampel juga dikenal mempunyai akhlak yang mulia, suka menolong dan mempunyai keprihatinan sosial yang tinggi terhadap masalah-masalah sosial.