Kata Natal berasal dari bahasa Latin yang berarti lahir.
Secara istilah Natal berarti upacara yang dilakukan oleh orang Kristen untuk memperingatri hari kelahiran Isa Al Masih- yang mereka sebut Tuhan Yesus.
Peringatan Natal baru tercetus antara tahun 325-354 oleh Paus Liberius, yang ditetapkan tanggal 25 Desember, sekaligus menjadi momentum penyembahan Dewa Matahari, yang kadang juga diperingati pada tanggal 6 Januari, 18 Oktober, 28 April atau 18 Mei.
Oleh Kaisar Konstantin, tanggal 25 Desember tersebut akhirnya disahkan sebagai kelahiran Yesus (Natal).
Asal Usul Perayaan Natal 25 Desember
Perintah untuk menyelenggarakan peringatan Natal tidak ada dalam Bibel dan Yesus tidak pernah memberikan contoh ataupun memerintahkan pada muridnya untuk menyelenggarakan peringatan kelahirannya.
Perayaan Natal baru masuk dalam ajaran Kristen katolik pada abad ke-4 M.
Dan peringatan inipun berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala.
Dimana kita ketahui bahwa abad ke-1 sampai abad ke-4 M dunia masih dikuasai oleh imperium Romawi yang paganis politheisme.
Ketika Konstantin dan rakyat Romawi menjadi penganut agama Katolik, mereka tidak mampu meninggalkan adat/budaya pangannya, apalagi terhadap pesta rakyat untuk memperingati hari Sunday (sun=matahari: day=hari) yaitu kelahiran Dewa Matahari tanggal 25 Desember.
Maka supaya agama Katolik bisa diterima dalam kehidupan masyarakat Romawi diadakanlah sinkretisme (perpaduan agama-budaya/ penyembahan berhala), dengan cara menyatukan perayaan kelahiran Sun of God (Dewa Matahari) dengan kelahiran Son of God (Anak Tuhan=Yesus).
Maka pada konsili tahun 325, Konstantin memutuskan dan menetapkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus.
Juga diputuskan,
Pertama, hari minggu (Sunday=hari matahari) dijadikan pengganti hari Sabat yang menurut hitungan jatuh pada Sabtu.
Kedua, lambang dewa matahari yaitu sinar yang bersilang dijadikan lambang Kristen.
Ketiga, membuat patung-patung Yesus untuk menggantikan patung Dewa Matahari.
Sesudah Kaisar Kontantin memeluk agama Katolik pada abad ke-4 masehi, maka rakyat pun beramai-ramai ikut memeluk agama Katolik.
Inilah prestasi gemilang hasil proses sinkretisme Kristen oleh Kaisar Konstantin dengan agama panganisme politheisme nenek moyang.
Demikian asal-usul Christmas atau Natal yang dilestarikan oleh orang-orang Kristen di seluruh dunia sampai sekarang.
Demikian kepercayaan panganis politheisme mendapat ajaran tentang Dewa Matahari yang diperingati tanggal 25 Desember.
Mari kita telususri melalui Bibel maupun sejarah kepercayaan panganis yang dianut oleh bangsa Babilonia kuno didalam kekuasaan raja Nimrod (Namrud).
H.W. Amstrong dalam bukunya The Plain Truth About Christmas, Worlwide Chrch of God, California USA, 1994, menjelaskan:
Namrud cucu Ham, anak nabi Nuh adalah pendiri sistem kehidupan masyarakat Babilonia kuno.
Nama Nimrod dalam bahasa Hebrew (Ibrani) berasal dari kata “Marad” yang artinya: “Dia membangkang atau Murtad antara lain dengan keberaniaannya mengawinkan ibu kandungnya sendiri bernama “Semiramis”.
Namun usia Namrud tidak sepannjang ibu sekaligus istrinya.
Maka setelah Namrud mati, Semiramis menyebarkan ajaran: bahwa roh Namrud tetap hidup selamanya, walaupun jasadnya telah mati.
Maka dibuatlah olehnya perumpamaan pohon “Evergreen” yang tumbuh dari sebatang kayu mati.
Maka untuk memperingati kelahirannya dinyatakan bahwa Namrud selalu hadir di pohon Evergreen dan meninggalkan bingkisan yang digantungkan di ranting-ranting pohon itu.
Sedangkan kelahiran Namrud dinyatakan tanggal 25 Desember.
Inilah asal usul pohon Natal.
dan nanti akan ada sedikit penjelasan lebih lanjut tentang asal usul Pohon Natal
Lebih lanjut Semiramis dianggap sebagai “Ratu Langit” oleh rakyat Babilonia, kemudian Namrud dipuja sebagai “anak suci dari surga”.
Putaran jaman menyatakan bahwa penyembahan berhala versi Babilonia ini berubah menjadi “Mesiah palsu”, berupa dewa “Ba-al” anak dewa matahari dengan objek penyembahan ‘Ibu dan Anak (Semiramis dan Namrud) yang lahir kembali.
Ajaran tersebut menjalar ke negara lain: Di mesir berupa “Isis dan Osiris”, di Asia bernama “Cybele dan Deoius”.
Di Roma disebut Fortuna dan Yupiter. Bahkan di Yunani, “Kwan Im” di Cina, Jepang dan Tibet, India, Persia, Afrika, Eropa dan Meksiko juga ditemukan adat pemujaan terhadap dewa “Madonna” dan lain-lain.
Dewa-dewa berikut dimitoskan lahir pada tanggal 25 Desember, dilahirkan oleh gadis perawan (tanpa bapak), mengalami kematian (salib) dan dipercaya sebagai Juru Selamat (Penebus Dosa):
1. Dewa Mithras (Mitra) di Iran, yang juga dinyatakan dilahirkan dalam sebuah gua dan mempunyai 12 orang murid. Dia juga disebut sebagai Sang Penyelamat, karena ia pun mengalami kematian dan dikuburkan, tapi bangkit kembali. Kepercayaan ini menjalar hingga Eropa. Konstantin termasuk salah seorang pengagum sekalugus penganut kepercayaan ini.
2. Apollo, yang terkenal memiliki 12 jasa dan menguasai 12 bintang/planet.
3. Hercules yang terkenal sebagai pahlawan perang tak tertandingi.
4. Ba-al yang disembah orang-orang Israel adalah dewa pendududk asli tanah Kana’an yang terkenal juga sebagai dewa kesuburan.
5. Dewa Ra, sembahan orang-orang Mesir Kuno; kepercayaan ini menyebar hingga ke Romawi dan diperingati secara besar-besaran dan dijadikan sebagai pesta rakyat.
Demikian juga Serapsis, Attis, Issis, Horus, Adonis, Bacchus, Krisna, Osiris, Syamas, Kybele dan lain-lain.
Selain itu ada lagi tokoh/pahlawan pada suatu bangsa yang oleh mereka diyakini dilahirkan oleh perawan, antara lain Zorates (bangsa Persia) dan Fo Hi (bangsa Cina).
Demikian pula pahlawan-pahlawan Helenisme: Agis, Celomenes, Eunus, Soluius, Aristonicus, Tibarius, Grocecus, Yupiter, Minersa, Easter.
Jadi konsep bahwa Tuhan itu dilahirkan seorang perawan pada tanggal 25 Desember disalib/dibunuh kemudian dibangkitan, sudah ada sejak zaman purba.
Konsep/dogma agama bahwa Yesus adalah anak Tuhan dan bahwa Tuhan mempunyai tiga pribadi dengan sangat mudahnya diterima oleh kalangan masyarakat Romawi karana merekalah telah memiliki konsep itu sebelumnya.
Mereka tinggal mengubah nama-nama dewa menjadi Yesus.
Maka dengan jujur Paulus mengakui bahwa dogma-dogma tersebut hanyalah KEBOHONGAN yang sengaja dibuatnya.
Kata Paulus kepada Jemaat Roma:
Tetapi jika kebesaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaannya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai seorang berdosa?
(Roma 3:7)
Mengenai kemungkinan terjadinya pendustaan itu, Yesus telah mensinyalir lewat pesannya:
Jawab Yesus kepada mereka: Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu!
Sebab banyak orang akan datang dengan memakai namaku dan berkata Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang.
(Matius 24:4-5).
Kelahiran Yesus Menurut Bibel
Untuk menyibak tabir Natal pada tanggal 25 Desember yang diyakini sebagai Hari Kelahiran Yesus, marilah kita simak apa yang diberitakan oleh Bibel tentang kelahiran Yesus sebagaimana dalam Lukas 2:1-8 dan Matius 2:1,10,11 (Markus dan Yohanes tidak menuliskan kisah kelahiran Yesus).
Lukas 2:1-8:
”Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia.
Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria. Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri.
Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galelilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud- supaya didaftarkan bersama dengan Maria, tunangannya yang sedang mengandung.
Ketika mereka disitu tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lapin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka dirumah penginapan.
Didaerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjanga kawanan ternak mereka pada waktu malam.”
Jadi, menuru Bibel, Yesus lahir pada masa kekuasaan Kaisar Agustus yang saat itu yang sedang melaksanakan sensus penduduk (7M=579 Romawi).
Yusuf, tunangan Maryam ibu Yesus berasaldari Betlehem, maka mereka bertiga ke sana, dan lahirlah Yesus di Betlehem, anak sulung Maria.
Maria membungkusnya dengan kain lampan dan membaringkannya dalam palungan (tempat makan sapi, domba yang terbuat dari kayu).
Peristiwa itu terjadi pada malam hari dimana gembala sedang menjaga kawanan ternak mereka di padang rumput.
Menurut Matius 2:1, 10, 11
Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman Herodus, datanglah orang-orang Majus dari Timur ke Yerusalem. Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersuka citalah mereka. Maka masukalah mereka kedalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibunya.
Jadi menurut Matius, Yesus lahir dalam masa pemerintahan raja Herodus yang disebut Herodus Agung yang memerintah tahun 37 SM- 4 M (749 Romawi), ditandai dengan bintang-bintang yang terlihat oleh orang-orang Majusi dari Timur.
Cukup jelas pertentangan kedua Injil tersebut (Lukas 2:1-8 dan Matius 2:1, 10, 11) dalam menjelaskan kelahiran Yesus.
Namun begitu keduanya menolak kelahiran Yesus tanggal 25 Desember.
Penggambaran kelahiran yang ditandai dengn bintang-bintang di langit dan gembala yang sedang menjaga kawanan domba yang dilepas bebas di padang rumput beratapkan langit dengan bintang-bintangnya yang gemerlapan, menunjukkan kondisi musim panas sehingga gembala berdiam di padang rumput dengan domba-domba mereka pada malam hari untuk menghindari sengatan matahari.
Sebab jelas 25 Desember adalah musim dingin.
Sedang suhu udara di kawasan Palestina pada bulan Desember itu sangat rendah sehingga salju merupakan hal yang tidak mustahil.
Bagi yang memiliki wawasan luas, hati terbuka dan lapang dalam mencari kebenaran, kitab suci Al-Quran telah memberikan jawaban tentang kelahiran Yesus (Isa alaihssalam).
”Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (Maryam) bersandar pada pangkal pohon kurma, ia berkata:
”Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan”.
Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah.
”Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai dibawahmu (untuk minum).
Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu kearahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu”
(Surat Maryam\19: 23-25)
Jadi menurut Al Quran Yesus dilahirkan pada musim panas disaat pohon-pohon kurma berbuah dengan lebatnya.
Untuk itu perlu kita cermati pendapat sarjana Kristen Dr. Arthus S. Peak, dalam Commentary on the Bible – seperti dikutip buku Bible dalam Timbangan oleh Soleh A. Nahdi (hal 23): Yesus lahir dalam bulan Elul (bulan Yahudi), bersamaan dengan bulan Agustus-September.
Sementara itu Uskup Barns dalam Rise of Christianity – seperti juga dikutip oleh Soleh A. Nahdi berpendapat sebagai berikut:
”Kepercayaan, bahwa 25 Desember adalah hari lahir Yesus yang pasti tidak ada buktinya.
Kalau kita percaya cerita Lukas tentang hari lahir itu dimana gembala-gembala waktu malam menjaga di padang di dekat Betlehem, maka hari lahir Yesus tentu tidak di musim dingin di saat suhu di negeri pegunungan Yudea amat rendah sekali sehingga salju merupakan hal yang tidak mustahil.
Setelah terjadi banyak perbantahan tampaknya hari lahir tersebut diterima penetapannya kira-kira tahun 300 Masehi”
Pada Tahun Berapa Yesus Lahir?
Umat Kristen beranggapan bahwa Yesus dilahirkan pada tahun 1, karena penanggalan Masehi yang dirancang oleh Dionysius justru dibuat dan disesuaikan dengan tahun kelahiran Yesus.
Namun Injil Lukas 2:1 (telah dikutip sebelumnya) menyatakan Yesus lahir dalam masa pemerintahan Kaisar Agustus jadi antara tahun 27 Sebelum Maseh-14 Sesudah Masehi.
Sedangkan Matius: 2:1 (Juga telah dikutip) menyatakan Yesus lahir dalam masa pemerintahan raja Herodes Agung: tahun 37 Sebelum Masehi-4 Sesudah Masehi.
Ternyata antara pemahaman yang beredar di kalangan umat Kristen tentang kelahiran Yesus dengan berita yang disampaikan oleh Injil, Lukas maupun Matius, tidaklah menunjukkan suatu kepastian, sehingga ilmuwan-ilmuwan mereka ada yang menyatakan Yesus lahir tahun 8 Sebelum Masehi, tahun 6 Sebelum Masehi, tahun 4 sesudah Masehi.
Antara lain di kutip dari buku tulisan Rev. Dr. Charles Francis Petter, MA. . B.D., S.T.M. yang berjudul, The Lost Years of Jesus Revealed hal 119 sebagai berikut:
Pada abad ke-19 setelah terbukti dan akhirnya diakui bahwa Herodes telah mati 4 tahun sebelum masehi dan setelah ditetapkan, bahwa menurut cerita Matius (2:16) raja Herodes memerintahkan pembunuhan kanak-kanak umur/dibawah umur dua tahun untuk membinasakan Yesus harus digeser kebelakang, paling sedikit 4 tahun sebelum masehi.
Masa kini para sarjana lebih condong menggeserkan tanggal lahirnya Yesus itu 5 sampai 6 tahun kebelakang tahun Masehi. Kesulitan menentukan tanggal kelahiran Yesus, kehidupannya, dan kematiannya terpaksa ditimbulkan kembali karena adanya keterangan-keterangan yang banyak terdapat dalam gulungan-gulungan Essene (yang terdapat di gua Qamran) malah soal-soal yang berhubungan dengan ketuhanan juga harus dibangkitkan kembali.
Jadi sampai hari ini pun tidak ada kejelasan tahun berapa Yesus dilahirkan.
Pandangan Bibel Tentang Upacara Natal.
Untuk mengetahui pandangan Bibel tentang perayaan Natal yang diwarisi oleh tradisi paganisme, baiklah kita telaah Yeremia 10:2-4:
”Beginilah firman Tuhan: ”Janganlah biasakan dirimu dengan tingkah langkah bangsa-bangsa, janganlah gentar terhadap tanda-tanda di langit, sekalipun bangsa-bangsa gentar terhadapnya.
Sebab yang diseganii bangsa-bangsa adalah kesia-siaan.
Bukanlah berhala itu pohon kayu yang ditebang orang dari hutan, yang dikerjakan dengan pahat oleh tukang kayu?
Orang memperindahnya dengan emas dan perak; orang memperkuatnya dengan paku dan palu supaya jangan goyang”.
Demikianlah pandangan Bibel tentang upacara Natal yaitu melarang orang Kristen mengikuti kebiasaaan bangsa-bangsa penyembah berhala.
Selanjutnya mari kita simak penjelasan Yeremia 10:5
”Berhala itu sama seperti orang-orangan di kebun mentimun.
Tidak dapat berbicara; orang harus mengangkatnya, sebab tidak dapat melangkah.
Janganlah takut kepadanya, sebab berhala itu tidak dapat berbuat jahat, dan berbuat baik pun dia tidak dapt.”
Sumber-sumber Kristen yang Menolak Natal
1. Catolic Encyclopedia, ediai 1911 tentang Christmas:
” Natal bukanlah upacara gereja yang pertama... melainkan ia diyakini berasal dari Mesir, perayaan yang diselenggarakan oleh para penyembah berhala dan jatuh pada bulan Januari., kemudian dijadikan kelahiran Yesus.
Dalam buku yang sama, tentang ” Natal Day” dinyatakan sebagai berikut:
”Di dalam kitab suci tidak ada seorang pun yang mengadakan upacara atau penyelenggaraan perayaan untuk merayakan hari kelahiran Yesus.
Hanyalah orang-orang kafir saja (seperti Firaun dan Herodes) yang berpesta pora merayakan hari kelahirannya ke dunia ini.”
2. Encyclopedia Britanica, edisi 1946 menyatakan:
”Natal bukanlah upacara gereja abad pertama, Yesus Kristus atau para muridnya tidak pernah menyelenggarakan dan Bibel juga tidak pernah menyelenggarakannya.
Upacara ini diambil oleh gereja dari kepercayaan kafir penyembah berhala.”
3. Encyclopedia Americana, edisi tahun 1944 menyatakan:
”Menurut para ahli, pada abad-abad permulaan, Natal tidak pernah dirayakan oleh umat Kristen.
Pada umumnya umat kristen hanya merayakan hari kematian orang-orang terkemuka saja, dan tidak pernah merayakan hari kelahiran tersebut.......”.
(Perjamuan Suci, yang termaktub dalam kitab Perjanjian Baru hanyalah untuk mengenang kematian Yesus Kristus).....
Perayaan Natal yang dianggap sebagai hari kelahiran Yesus, mulai diresmikan pada abad ke-4 M. Pada abad ke-5 M.
Gereja Barat memerintahkan kepada umat Kristen untuk merayakan hari kelahiran Yesus, yang diambil dari hari pesta bangsa Roma yang merayakan hari ”Kelahiran Dewa Matahari”.
Sebab tidak seorangpun mengetahui hari kelahiran Yesus.”
diambil dari : http://artikeljogja.tripod.com
semua tak sama.... apa yang ku lihat.... apa yang ku sentuh.... apa yang ku rasa... tak pernah sama....
Minggu, 26 Desember 2010
Rabu, 22 Desember 2010
Bagaimana Memulai Menulis
Pak Hernowo, saya sudah banyak membaca buku tentang bagaimana menulis. Selain membaca, saya juga pernah ikut beberapa kursus dan pelatihan menulis. Yang menjadi masalah saya saat ini adalah saya sulit sekali untuk memulai melakukan kegiatan menulis. Padahal, saya tahu benar bahwa untuk dapat memiliki kemampuan menulis saya harus mulai menulis. Mohon jalan keluarnya.
Memiliki pengetahuan tentang menulis memang tidak cukup untuk membuat diri kita lantas mampu menulis. Pengetahuan itu tetap sangat penting, namun perlu ditambah dengan latihan-latihan menulis yang dijalankan secara kontinu dan konsisten. Nah, kadang, baik pengetahuan maupun pelatihan tidak berhasil mendorong diri kita untuk bersemangat dan bergairah dalam menjalankan latihan menulis.
Saran saya begini: Anda perlu kembali kepada diri Anda dengan jalan, pertama, buang semua aturan, teori, dan juga saran-saran saya berikut ini setelah Anda membaca dan memahaminya. Sekali lagi, kembalilah kepada diri Anda. Kedua, bayangkan masa kecil Anda ketika Anda belajar dan berlatih (ingat, Anda bukan hanya belajar tetapi juga berlatih) berbicara dan berjalan. Anda tidak memiliki pengetahuan tentang bagaimana berbicara dan berjalan yang benar. Anda hanya melihat dan kemudian meniru berbicara dan berjalan orang-orang yang ada di sekeliling Anda. Akhirnya, Anda, kini, malah bisa bernyanyi dan berlari-tentu sesuai kadar diri Anda.
Ketiga, setelah membayangkan, cobalah-sekali lagi-Anda kembali kepada diri Anda yang sangat berpotensi. Yakinkan diri Anda bahwa Anda memiliki potensi menulis-sebagaimana Anda juga memiliki potensi bernyanyi dan berlari. Latihlah diri Anda untuk menulis sesuai yang Anda pahami dari sekeliling Anda. Tirulah orang-orang yang sudah ahli menulis dengan cara membaca tulisan mereka. Ketika Anda meniru mereka, upayakan untuk mengeluarkan diri "original" Anda -keinginan, harapan Anda, dan apa pun yang Anda simpan di dalam pikiran dan perasaan Anda. Mulailah dengan kata ganti orang pertama-"aku" atau "saya"-di awal tulisan Anda. Contoh: "Aku ingin menulis apa hari ini? Aku tertarik meniru cara Andrea Hirata dalam menuliskan masa kecilnya di bukunya, Laskar Pelangi. Bagaimana dengan masa kecilku ya?" Teruskanlah.
Nikmatilah prosesnya dan tidak usah Anda perhatikan hasilnya terlebih dahulu. Ketika sedang berlatih menulis, jangan membaca (mengoreksi) materi yang telah berhasil Anda tulis. Keluarkan (tulis) saja apa yang ingin Anda keluarkan. Biasakan melakukan latihan meniru atau mengeluarkan seperti ini setiap hari, minimal 15 menit. Jika merasa cukup (lelah, misalnya), ya berhenti. Jangan lupa, simpan dan hargai tulisan-tulisan awal Anda tersebut. Saya yakin, dalam satu bulan, Anda akan merasakan sesuatu yang berbeda terkait dengan potensi menulis Anda.[]
Memiliki pengetahuan tentang menulis memang tidak cukup untuk membuat diri kita lantas mampu menulis. Pengetahuan itu tetap sangat penting, namun perlu ditambah dengan latihan-latihan menulis yang dijalankan secara kontinu dan konsisten. Nah, kadang, baik pengetahuan maupun pelatihan tidak berhasil mendorong diri kita untuk bersemangat dan bergairah dalam menjalankan latihan menulis.
Saran saya begini: Anda perlu kembali kepada diri Anda dengan jalan, pertama, buang semua aturan, teori, dan juga saran-saran saya berikut ini setelah Anda membaca dan memahaminya. Sekali lagi, kembalilah kepada diri Anda. Kedua, bayangkan masa kecil Anda ketika Anda belajar dan berlatih (ingat, Anda bukan hanya belajar tetapi juga berlatih) berbicara dan berjalan. Anda tidak memiliki pengetahuan tentang bagaimana berbicara dan berjalan yang benar. Anda hanya melihat dan kemudian meniru berbicara dan berjalan orang-orang yang ada di sekeliling Anda. Akhirnya, Anda, kini, malah bisa bernyanyi dan berlari-tentu sesuai kadar diri Anda.
Ketiga, setelah membayangkan, cobalah-sekali lagi-Anda kembali kepada diri Anda yang sangat berpotensi. Yakinkan diri Anda bahwa Anda memiliki potensi menulis-sebagaimana Anda juga memiliki potensi bernyanyi dan berlari. Latihlah diri Anda untuk menulis sesuai yang Anda pahami dari sekeliling Anda. Tirulah orang-orang yang sudah ahli menulis dengan cara membaca tulisan mereka. Ketika Anda meniru mereka, upayakan untuk mengeluarkan diri "original" Anda -keinginan, harapan Anda, dan apa pun yang Anda simpan di dalam pikiran dan perasaan Anda. Mulailah dengan kata ganti orang pertama-"aku" atau "saya"-di awal tulisan Anda. Contoh: "Aku ingin menulis apa hari ini? Aku tertarik meniru cara Andrea Hirata dalam menuliskan masa kecilnya di bukunya, Laskar Pelangi. Bagaimana dengan masa kecilku ya?" Teruskanlah.
Nikmatilah prosesnya dan tidak usah Anda perhatikan hasilnya terlebih dahulu. Ketika sedang berlatih menulis, jangan membaca (mengoreksi) materi yang telah berhasil Anda tulis. Keluarkan (tulis) saja apa yang ingin Anda keluarkan. Biasakan melakukan latihan meniru atau mengeluarkan seperti ini setiap hari, minimal 15 menit. Jika merasa cukup (lelah, misalnya), ya berhenti. Jangan lupa, simpan dan hargai tulisan-tulisan awal Anda tersebut. Saya yakin, dalam satu bulan, Anda akan merasakan sesuatu yang berbeda terkait dengan potensi menulis Anda.[]
Membangun Kepercayaan Diri Menulis
Pak Hernowo, saya sudah mengikuti petunjuk bapak untuk membiasakan diri menulis meski pembiasaan saya itu sebatas menulis di buku catatan harian. Saya juga mencoba senantiasa membaca terlebih dahulu bacaan yang saya sukai. Sehabis membaca, berapa pun yang saya dapat dari membaca, saya lantas menuliskan (atau dalam bahasa bapak, “mengikat”) sesuatu yang saya peroleh dari membaca. Hanya, Pak Hernowo, saya kok masih tidak percaya diri dalam menuliskan sesuatu ya Pak? Apakah saya memang tidak punya bakat menulis sehingga tulisan saya memang tak bisa bagus atau ada faktor lain yang belum saya lakukan untuk membuat tulisan yang dapat menumbuhkan rasa percaya diri saya? Mohon bantuannya, Pak. Terima kasih atas tanggapan atau komentar Pak Hernowo.
Masalah tidak percaya diri ini memang masalah yang cukup pelik. Di bidang apa pun, tak hanya menulis, ketidakpercayaan diri akan melanda baik yang sudah profesional maupun pemula. Atlet-atlet yang sudah malang melintang dalam mengikuti pertandingan, kadang juga masih terlanda masalah ini. Orator-orator ulung yang fasih dalam menyampaikan pidatonya juga masih mungkin terkena rasa tidak percaya diri. Bahkan, John Steinbeck, peraih hadiah Nobel sastra perlu mengasingkan diri ketika ingin mengawali menulis novel barunya karena ketidakpercayaan diri ini.
Bagi saya, ketidakpercayaan diri ini dapat dikategorikan sebagai "writer's block" dalam konteks nonteknis. Dalam bahasa yang lain, masalah ini masuk dalam problem menulis yang bersifat nonteknis. Oleh sebab itu, cara mengatasinya pun perlu menggunakan cara-cara yang bukan teknis. Salah satu cara yang paling ampuh dan sering saya gunakan adalah dengan "free writing" sebagaimana yang diajarkan oleh Natalie Goldberg dan Peter Elbow. Saya kadang juga memanfaatkan teknik "opening up" yang dianjurkan oleh psikolog James W. Pennebaker.
Lho, "free writing" atau menulis bebas kan teknik menulis? Benar, tetapi teknik menulis bebas ini bukan sembarang teknik. Teknik ini juga bukan sekadar kita menulis dengan sesuka hati atau "ngawur" ketika memulai menulis. Memang, boleh saja kita sesuka hati ketika mengawali menulis; namun, dalam keadaan yang sesuka hati itu kita harus dapat merasakan apakah di dalam diri kita kemudian muncul rasa nyaman dan plong? Jadi, bukan tekniknya yang ditekankan, tetapi bagaimana kita merasakan keadaan yang nyaman dan lega itu.
Ketika kita berhasil menjalankan pembiasaan menulis dan merasakan proses menulis itu menyamankan kita, insya Allah ini akan dapat memupuk rasa percaya diri kita. Nah, apakah selama Anda menjalankan pembiasaan menulis itu Anda telah merasakan kenyamanan dan kelegaan? Apa pun hasil tulisan Anda memang tidak penting ketika Anda membebaskan diri Anda menulis. Yang lebih dipentingkan adalah prosesnya. Cobalah untuk merasakan prosesnya ketika Anda membiasakan diri menulis.
Jika Anda dapat benar-benar dapat merasakan prosesnya dan Anda mengalami sebuah kenyamanan, kehangatan, kelegaan, kesenangan, dan rasa lain yang membangkitkan semangat dan gairah Anda menulis, saya kok yakin bahwa rasa percaya diri menulis itu akan terbangun sedikit demi sedikit.[]
Masalah tidak percaya diri ini memang masalah yang cukup pelik. Di bidang apa pun, tak hanya menulis, ketidakpercayaan diri akan melanda baik yang sudah profesional maupun pemula. Atlet-atlet yang sudah malang melintang dalam mengikuti pertandingan, kadang juga masih terlanda masalah ini. Orator-orator ulung yang fasih dalam menyampaikan pidatonya juga masih mungkin terkena rasa tidak percaya diri. Bahkan, John Steinbeck, peraih hadiah Nobel sastra perlu mengasingkan diri ketika ingin mengawali menulis novel barunya karena ketidakpercayaan diri ini.
Bagi saya, ketidakpercayaan diri ini dapat dikategorikan sebagai "writer's block" dalam konteks nonteknis. Dalam bahasa yang lain, masalah ini masuk dalam problem menulis yang bersifat nonteknis. Oleh sebab itu, cara mengatasinya pun perlu menggunakan cara-cara yang bukan teknis. Salah satu cara yang paling ampuh dan sering saya gunakan adalah dengan "free writing" sebagaimana yang diajarkan oleh Natalie Goldberg dan Peter Elbow. Saya kadang juga memanfaatkan teknik "opening up" yang dianjurkan oleh psikolog James W. Pennebaker.
Lho, "free writing" atau menulis bebas kan teknik menulis? Benar, tetapi teknik menulis bebas ini bukan sembarang teknik. Teknik ini juga bukan sekadar kita menulis dengan sesuka hati atau "ngawur" ketika memulai menulis. Memang, boleh saja kita sesuka hati ketika mengawali menulis; namun, dalam keadaan yang sesuka hati itu kita harus dapat merasakan apakah di dalam diri kita kemudian muncul rasa nyaman dan plong? Jadi, bukan tekniknya yang ditekankan, tetapi bagaimana kita merasakan keadaan yang nyaman dan lega itu.
Ketika kita berhasil menjalankan pembiasaan menulis dan merasakan proses menulis itu menyamankan kita, insya Allah ini akan dapat memupuk rasa percaya diri kita. Nah, apakah selama Anda menjalankan pembiasaan menulis itu Anda telah merasakan kenyamanan dan kelegaan? Apa pun hasil tulisan Anda memang tidak penting ketika Anda membebaskan diri Anda menulis. Yang lebih dipentingkan adalah prosesnya. Cobalah untuk merasakan prosesnya ketika Anda membiasakan diri menulis.
Jika Anda dapat benar-benar dapat merasakan prosesnya dan Anda mengalami sebuah kenyamanan, kehangatan, kelegaan, kesenangan, dan rasa lain yang membangkitkan semangat dan gairah Anda menulis, saya kok yakin bahwa rasa percaya diri menulis itu akan terbangun sedikit demi sedikit.[]
Membaca Kunci Menulis
Pak Hernowo, saya telah membaca buku bapak yang berjudul Mengikat Makna Update. Di dalam buku itu, saya menemukan pernyataan bapak bahwa kunci menulis itu adalah membaca. Tolong dijelaskan lagi di sini Pak?
Ya, pernyataan saya itu saya dasarkan pada riset Dr, Stephen D. Krashen, seorang ahli linguistik, dalam bukunya The Power of Reading. Sebenarnya, tanpa berpijak pada riset Dr. Krashen, kita sesungguhnya dapat merasakannya.
Salah satu manfaat terbesar membaca itu adalah memasukkan kata-kata ke dalam diri kita. Benar, membaca akan memperluas wawasan dan memasok ilmu kepada kita. Namun, membaca juga memperkaya diri kita dengan kosakata.
Semakin banyak yang kita baca dan semakin bervariasi buku yang kita baca, semakin banyak dan bervariasi pula kata-kata yang ada di dalam diri kita. Nah, kata-kata yang kita kumpulkan tersebut akan memudahkan dan melancarkan diri kita ketika menulis.
Menulis adalah mengeluarkan apa saja-pengetahuan, pengalaman, atau gagasan-dari dalam diri kita dengan bantuan kata-kata kan? Jika kita miskin kata, menulis akan menjadi sulit dan tersendat-sendat. Sebaliknya, jika kita kaya kata, insya Allah menulis akan menjadi ringan dan mengasyikkan karena tidak akan menyiksa kita. Salam.[
Ya, pernyataan saya itu saya dasarkan pada riset Dr, Stephen D. Krashen, seorang ahli linguistik, dalam bukunya The Power of Reading. Sebenarnya, tanpa berpijak pada riset Dr. Krashen, kita sesungguhnya dapat merasakannya.
Salah satu manfaat terbesar membaca itu adalah memasukkan kata-kata ke dalam diri kita. Benar, membaca akan memperluas wawasan dan memasok ilmu kepada kita. Namun, membaca juga memperkaya diri kita dengan kosakata.
Semakin banyak yang kita baca dan semakin bervariasi buku yang kita baca, semakin banyak dan bervariasi pula kata-kata yang ada di dalam diri kita. Nah, kata-kata yang kita kumpulkan tersebut akan memudahkan dan melancarkan diri kita ketika menulis.
Menulis adalah mengeluarkan apa saja-pengetahuan, pengalaman, atau gagasan-dari dalam diri kita dengan bantuan kata-kata kan? Jika kita miskin kata, menulis akan menjadi sulit dan tersendat-sendat. Sebaliknya, jika kita kaya kata, insya Allah menulis akan menjadi ringan dan mengasyikkan karena tidak akan menyiksa kita. Salam.[
Rabu, 10 November 2010
REFLEKSI IDUL ADHA 2010
refleksi ini sengaja kami tulis karena ada beberapa sms, telpon,imel dan pesan di dalam FB yang menanyakan hal-hal sunnah yang di anjurkan nabi untuk dilakukan selama bulan dzulhijjah atau bulan haji seperti sekarang ini.tulisan ini sekaligus untuk menjawab dari pertanyaan-pertanyaan yang masuk kepada kami. apabila ada koreksi atas tulisan ini silahkan tinggalkan komentar di bawah tulisan ini untuk kami pelajari, telaah dan apabila perlu di perbaiki, maka kami dengan senang hati dan bersedia untuk memperbaikinya.
1. sunnah nabi bagi orang yang hendak melaksanakan kurban:
a. menyayangi hewan yang akan di kurban (tidak menyiksa)salah satunya adalah memberi makan dengan makanan yang paling disukai oleh hewan tsb (rumput atau bekatul dll)
b. jangan sampai menelantarkan hewan yang akan di kurbankan (kehujanan, kepanasan, kelaparan dll)
c. pada H-10 dilarang memotong kuku dan bulu hewan yang akan di kurbankan,kalaupun ingin hewan tersebut kelihatan cantik atau bersih cukup di mandikan saja, JANGAN SAMPAI MEMOTONG KUKU DAN BULUNYA, karena itu di larang keras oleh NABI.
2. di anjurkan untuk berpuasa 10 hari pertama di bulan dzulhijjah terutama di hari arafah. dan HUKUMNYA HARAM BERPUASA DI HARI RAYA IDUL ADHA dan YAUMUT Tasyriq
3. pilihlah hewan kurban yang sehat dan gemuk dan tidak berpenyakit.
4. memungut upah atau bayaran bagi orang yang menyembelih hewan kurban HARAM HUKUMNYA , kecuali dia di beri bagian daging lebih dari yang lain. karena idul kurban adalah sarana memakmurkan masyarakat yang sedikit membutuhkan bukan AJANG BISNIS.
5. menyalurkan daging kurban ke daerah lain di hari selain hari raya idul qurban dan yaumul tasyrik hukumnya adalah MUBAH atau boleh-boleh saja, dengan syarat:
a) mendahulukan tetangga yang membutuhkan di daerah sekitar orang yang berkurban, apabila sdh di anggap tidak ada atau stok kurban melimpah atau berlebih maka boleh.
b) mengkalengkan atau di awetkan atau di apakan saja dari daging kurban untuk di salurkan daerah terpencil atau daerah pelosok desa di pedalaman ataupun untuk korban bencana alam hukumnya boleh2 saja dengan memperhatikan poin a) di atas dan hewan DI SEMBELIH PADA HARI RAYA QURBAN DAN YAUMUT TASYRIQ. karena yang di namakan kurban idul adzha adalah penyembelehin hewan ternak yang sudah memenuhi syarat DI HARI IDUL ADHA ATAU YAUMUT TASYRIQ.
6. lebih mendahulukan AQIQAH dari pada QURBAN. artinya apabila orang itu hendak berkurban dan orang itu belum di aqiqahi oleh kedua orang tuanya, maka lebih baik mendahulukan AQIQAHNYA dirinya sendiri dari pada berqurban, karena AQIQAH ITU WAJIB, sedangkan QURBAN ITU SUNNAH.
7, hewan kurban adalah hewan ternak seperti kambing, onta, sapi, kerbau dll. untuk kambing berlaku untuk 1 orang. sapi/onta/kerbau berlaku untuk 7 orang.
di olah dari berbagai sumber yang insyaallah berdalil shohih dan shorih berdasarkan fiqih madzhab syafi'i.
wallahu a'lam
1. sunnah nabi bagi orang yang hendak melaksanakan kurban:
a. menyayangi hewan yang akan di kurban (tidak menyiksa)salah satunya adalah memberi makan dengan makanan yang paling disukai oleh hewan tsb (rumput atau bekatul dll)
b. jangan sampai menelantarkan hewan yang akan di kurbankan (kehujanan, kepanasan, kelaparan dll)
c. pada H-10 dilarang memotong kuku dan bulu hewan yang akan di kurbankan,kalaupun ingin hewan tersebut kelihatan cantik atau bersih cukup di mandikan saja, JANGAN SAMPAI MEMOTONG KUKU DAN BULUNYA, karena itu di larang keras oleh NABI.
2. di anjurkan untuk berpuasa 10 hari pertama di bulan dzulhijjah terutama di hari arafah. dan HUKUMNYA HARAM BERPUASA DI HARI RAYA IDUL ADHA dan YAUMUT Tasyriq
3. pilihlah hewan kurban yang sehat dan gemuk dan tidak berpenyakit.
4. memungut upah atau bayaran bagi orang yang menyembelih hewan kurban HARAM HUKUMNYA , kecuali dia di beri bagian daging lebih dari yang lain. karena idul kurban adalah sarana memakmurkan masyarakat yang sedikit membutuhkan bukan AJANG BISNIS.
5. menyalurkan daging kurban ke daerah lain di hari selain hari raya idul qurban dan yaumul tasyrik hukumnya adalah MUBAH atau boleh-boleh saja, dengan syarat:
a) mendahulukan tetangga yang membutuhkan di daerah sekitar orang yang berkurban, apabila sdh di anggap tidak ada atau stok kurban melimpah atau berlebih maka boleh.
b) mengkalengkan atau di awetkan atau di apakan saja dari daging kurban untuk di salurkan daerah terpencil atau daerah pelosok desa di pedalaman ataupun untuk korban bencana alam hukumnya boleh2 saja dengan memperhatikan poin a) di atas dan hewan DI SEMBELIH PADA HARI RAYA QURBAN DAN YAUMUT TASYRIQ. karena yang di namakan kurban idul adzha adalah penyembelehin hewan ternak yang sudah memenuhi syarat DI HARI IDUL ADHA ATAU YAUMUT TASYRIQ.
6. lebih mendahulukan AQIQAH dari pada QURBAN. artinya apabila orang itu hendak berkurban dan orang itu belum di aqiqahi oleh kedua orang tuanya, maka lebih baik mendahulukan AQIQAHNYA dirinya sendiri dari pada berqurban, karena AQIQAH ITU WAJIB, sedangkan QURBAN ITU SUNNAH.
7, hewan kurban adalah hewan ternak seperti kambing, onta, sapi, kerbau dll. untuk kambing berlaku untuk 1 orang. sapi/onta/kerbau berlaku untuk 7 orang.
di olah dari berbagai sumber yang insyaallah berdalil shohih dan shorih berdasarkan fiqih madzhab syafi'i.
wallahu a'lam
Langganan:
Postingan (Atom)