Pak Hernowo, saya sudah banyak membaca buku tentang bagaimana menulis. Selain membaca, saya juga pernah ikut beberapa kursus dan pelatihan menulis. Yang menjadi masalah saya saat ini adalah saya sulit sekali untuk memulai melakukan kegiatan menulis. Padahal, saya tahu benar bahwa untuk dapat memiliki kemampuan menulis saya harus mulai menulis. Mohon jalan keluarnya.
Memiliki pengetahuan tentang menulis memang tidak cukup untuk membuat diri kita lantas mampu menulis. Pengetahuan itu tetap sangat penting, namun perlu ditambah dengan latihan-latihan menulis yang dijalankan secara kontinu dan konsisten. Nah, kadang, baik pengetahuan maupun pelatihan tidak berhasil mendorong diri kita untuk bersemangat dan bergairah dalam menjalankan latihan menulis.
Saran saya begini: Anda perlu kembali kepada diri Anda dengan jalan, pertama, buang semua aturan, teori, dan juga saran-saran saya berikut ini setelah Anda membaca dan memahaminya. Sekali lagi, kembalilah kepada diri Anda. Kedua, bayangkan masa kecil Anda ketika Anda belajar dan berlatih (ingat, Anda bukan hanya belajar tetapi juga berlatih) berbicara dan berjalan. Anda tidak memiliki pengetahuan tentang bagaimana berbicara dan berjalan yang benar. Anda hanya melihat dan kemudian meniru berbicara dan berjalan orang-orang yang ada di sekeliling Anda. Akhirnya, Anda, kini, malah bisa bernyanyi dan berlari-tentu sesuai kadar diri Anda.
Ketiga, setelah membayangkan, cobalah-sekali lagi-Anda kembali kepada diri Anda yang sangat berpotensi. Yakinkan diri Anda bahwa Anda memiliki potensi menulis-sebagaimana Anda juga memiliki potensi bernyanyi dan berlari. Latihlah diri Anda untuk menulis sesuai yang Anda pahami dari sekeliling Anda. Tirulah orang-orang yang sudah ahli menulis dengan cara membaca tulisan mereka. Ketika Anda meniru mereka, upayakan untuk mengeluarkan diri "original" Anda -keinginan, harapan Anda, dan apa pun yang Anda simpan di dalam pikiran dan perasaan Anda. Mulailah dengan kata ganti orang pertama-"aku" atau "saya"-di awal tulisan Anda. Contoh: "Aku ingin menulis apa hari ini? Aku tertarik meniru cara Andrea Hirata dalam menuliskan masa kecilnya di bukunya, Laskar Pelangi. Bagaimana dengan masa kecilku ya?" Teruskanlah.
Nikmatilah prosesnya dan tidak usah Anda perhatikan hasilnya terlebih dahulu. Ketika sedang berlatih menulis, jangan membaca (mengoreksi) materi yang telah berhasil Anda tulis. Keluarkan (tulis) saja apa yang ingin Anda keluarkan. Biasakan melakukan latihan meniru atau mengeluarkan seperti ini setiap hari, minimal 15 menit. Jika merasa cukup (lelah, misalnya), ya berhenti. Jangan lupa, simpan dan hargai tulisan-tulisan awal Anda tersebut. Saya yakin, dalam satu bulan, Anda akan merasakan sesuatu yang berbeda terkait dengan potensi menulis Anda.[]
semua tak sama.... apa yang ku lihat.... apa yang ku sentuh.... apa yang ku rasa... tak pernah sama....
Rabu, 22 Desember 2010
Membangun Kepercayaan Diri Menulis
Pak Hernowo, saya sudah mengikuti petunjuk bapak untuk membiasakan diri menulis meski pembiasaan saya itu sebatas menulis di buku catatan harian. Saya juga mencoba senantiasa membaca terlebih dahulu bacaan yang saya sukai. Sehabis membaca, berapa pun yang saya dapat dari membaca, saya lantas menuliskan (atau dalam bahasa bapak, “mengikat”) sesuatu yang saya peroleh dari membaca. Hanya, Pak Hernowo, saya kok masih tidak percaya diri dalam menuliskan sesuatu ya Pak? Apakah saya memang tidak punya bakat menulis sehingga tulisan saya memang tak bisa bagus atau ada faktor lain yang belum saya lakukan untuk membuat tulisan yang dapat menumbuhkan rasa percaya diri saya? Mohon bantuannya, Pak. Terima kasih atas tanggapan atau komentar Pak Hernowo.
Masalah tidak percaya diri ini memang masalah yang cukup pelik. Di bidang apa pun, tak hanya menulis, ketidakpercayaan diri akan melanda baik yang sudah profesional maupun pemula. Atlet-atlet yang sudah malang melintang dalam mengikuti pertandingan, kadang juga masih terlanda masalah ini. Orator-orator ulung yang fasih dalam menyampaikan pidatonya juga masih mungkin terkena rasa tidak percaya diri. Bahkan, John Steinbeck, peraih hadiah Nobel sastra perlu mengasingkan diri ketika ingin mengawali menulis novel barunya karena ketidakpercayaan diri ini.
Bagi saya, ketidakpercayaan diri ini dapat dikategorikan sebagai "writer's block" dalam konteks nonteknis. Dalam bahasa yang lain, masalah ini masuk dalam problem menulis yang bersifat nonteknis. Oleh sebab itu, cara mengatasinya pun perlu menggunakan cara-cara yang bukan teknis. Salah satu cara yang paling ampuh dan sering saya gunakan adalah dengan "free writing" sebagaimana yang diajarkan oleh Natalie Goldberg dan Peter Elbow. Saya kadang juga memanfaatkan teknik "opening up" yang dianjurkan oleh psikolog James W. Pennebaker.
Lho, "free writing" atau menulis bebas kan teknik menulis? Benar, tetapi teknik menulis bebas ini bukan sembarang teknik. Teknik ini juga bukan sekadar kita menulis dengan sesuka hati atau "ngawur" ketika memulai menulis. Memang, boleh saja kita sesuka hati ketika mengawali menulis; namun, dalam keadaan yang sesuka hati itu kita harus dapat merasakan apakah di dalam diri kita kemudian muncul rasa nyaman dan plong? Jadi, bukan tekniknya yang ditekankan, tetapi bagaimana kita merasakan keadaan yang nyaman dan lega itu.
Ketika kita berhasil menjalankan pembiasaan menulis dan merasakan proses menulis itu menyamankan kita, insya Allah ini akan dapat memupuk rasa percaya diri kita. Nah, apakah selama Anda menjalankan pembiasaan menulis itu Anda telah merasakan kenyamanan dan kelegaan? Apa pun hasil tulisan Anda memang tidak penting ketika Anda membebaskan diri Anda menulis. Yang lebih dipentingkan adalah prosesnya. Cobalah untuk merasakan prosesnya ketika Anda membiasakan diri menulis.
Jika Anda dapat benar-benar dapat merasakan prosesnya dan Anda mengalami sebuah kenyamanan, kehangatan, kelegaan, kesenangan, dan rasa lain yang membangkitkan semangat dan gairah Anda menulis, saya kok yakin bahwa rasa percaya diri menulis itu akan terbangun sedikit demi sedikit.[]
Masalah tidak percaya diri ini memang masalah yang cukup pelik. Di bidang apa pun, tak hanya menulis, ketidakpercayaan diri akan melanda baik yang sudah profesional maupun pemula. Atlet-atlet yang sudah malang melintang dalam mengikuti pertandingan, kadang juga masih terlanda masalah ini. Orator-orator ulung yang fasih dalam menyampaikan pidatonya juga masih mungkin terkena rasa tidak percaya diri. Bahkan, John Steinbeck, peraih hadiah Nobel sastra perlu mengasingkan diri ketika ingin mengawali menulis novel barunya karena ketidakpercayaan diri ini.
Bagi saya, ketidakpercayaan diri ini dapat dikategorikan sebagai "writer's block" dalam konteks nonteknis. Dalam bahasa yang lain, masalah ini masuk dalam problem menulis yang bersifat nonteknis. Oleh sebab itu, cara mengatasinya pun perlu menggunakan cara-cara yang bukan teknis. Salah satu cara yang paling ampuh dan sering saya gunakan adalah dengan "free writing" sebagaimana yang diajarkan oleh Natalie Goldberg dan Peter Elbow. Saya kadang juga memanfaatkan teknik "opening up" yang dianjurkan oleh psikolog James W. Pennebaker.
Lho, "free writing" atau menulis bebas kan teknik menulis? Benar, tetapi teknik menulis bebas ini bukan sembarang teknik. Teknik ini juga bukan sekadar kita menulis dengan sesuka hati atau "ngawur" ketika memulai menulis. Memang, boleh saja kita sesuka hati ketika mengawali menulis; namun, dalam keadaan yang sesuka hati itu kita harus dapat merasakan apakah di dalam diri kita kemudian muncul rasa nyaman dan plong? Jadi, bukan tekniknya yang ditekankan, tetapi bagaimana kita merasakan keadaan yang nyaman dan lega itu.
Ketika kita berhasil menjalankan pembiasaan menulis dan merasakan proses menulis itu menyamankan kita, insya Allah ini akan dapat memupuk rasa percaya diri kita. Nah, apakah selama Anda menjalankan pembiasaan menulis itu Anda telah merasakan kenyamanan dan kelegaan? Apa pun hasil tulisan Anda memang tidak penting ketika Anda membebaskan diri Anda menulis. Yang lebih dipentingkan adalah prosesnya. Cobalah untuk merasakan prosesnya ketika Anda membiasakan diri menulis.
Jika Anda dapat benar-benar dapat merasakan prosesnya dan Anda mengalami sebuah kenyamanan, kehangatan, kelegaan, kesenangan, dan rasa lain yang membangkitkan semangat dan gairah Anda menulis, saya kok yakin bahwa rasa percaya diri menulis itu akan terbangun sedikit demi sedikit.[]
Membaca Kunci Menulis
Pak Hernowo, saya telah membaca buku bapak yang berjudul Mengikat Makna Update. Di dalam buku itu, saya menemukan pernyataan bapak bahwa kunci menulis itu adalah membaca. Tolong dijelaskan lagi di sini Pak?
Ya, pernyataan saya itu saya dasarkan pada riset Dr, Stephen D. Krashen, seorang ahli linguistik, dalam bukunya The Power of Reading. Sebenarnya, tanpa berpijak pada riset Dr. Krashen, kita sesungguhnya dapat merasakannya.
Salah satu manfaat terbesar membaca itu adalah memasukkan kata-kata ke dalam diri kita. Benar, membaca akan memperluas wawasan dan memasok ilmu kepada kita. Namun, membaca juga memperkaya diri kita dengan kosakata.
Semakin banyak yang kita baca dan semakin bervariasi buku yang kita baca, semakin banyak dan bervariasi pula kata-kata yang ada di dalam diri kita. Nah, kata-kata yang kita kumpulkan tersebut akan memudahkan dan melancarkan diri kita ketika menulis.
Menulis adalah mengeluarkan apa saja-pengetahuan, pengalaman, atau gagasan-dari dalam diri kita dengan bantuan kata-kata kan? Jika kita miskin kata, menulis akan menjadi sulit dan tersendat-sendat. Sebaliknya, jika kita kaya kata, insya Allah menulis akan menjadi ringan dan mengasyikkan karena tidak akan menyiksa kita. Salam.[
Ya, pernyataan saya itu saya dasarkan pada riset Dr, Stephen D. Krashen, seorang ahli linguistik, dalam bukunya The Power of Reading. Sebenarnya, tanpa berpijak pada riset Dr. Krashen, kita sesungguhnya dapat merasakannya.
Salah satu manfaat terbesar membaca itu adalah memasukkan kata-kata ke dalam diri kita. Benar, membaca akan memperluas wawasan dan memasok ilmu kepada kita. Namun, membaca juga memperkaya diri kita dengan kosakata.
Semakin banyak yang kita baca dan semakin bervariasi buku yang kita baca, semakin banyak dan bervariasi pula kata-kata yang ada di dalam diri kita. Nah, kata-kata yang kita kumpulkan tersebut akan memudahkan dan melancarkan diri kita ketika menulis.
Menulis adalah mengeluarkan apa saja-pengetahuan, pengalaman, atau gagasan-dari dalam diri kita dengan bantuan kata-kata kan? Jika kita miskin kata, menulis akan menjadi sulit dan tersendat-sendat. Sebaliknya, jika kita kaya kata, insya Allah menulis akan menjadi ringan dan mengasyikkan karena tidak akan menyiksa kita. Salam.[
Rabu, 10 November 2010
REFLEKSI IDUL ADHA 2010
refleksi ini sengaja kami tulis karena ada beberapa sms, telpon,imel dan pesan di dalam FB yang menanyakan hal-hal sunnah yang di anjurkan nabi untuk dilakukan selama bulan dzulhijjah atau bulan haji seperti sekarang ini.tulisan ini sekaligus untuk menjawab dari pertanyaan-pertanyaan yang masuk kepada kami. apabila ada koreksi atas tulisan ini silahkan tinggalkan komentar di bawah tulisan ini untuk kami pelajari, telaah dan apabila perlu di perbaiki, maka kami dengan senang hati dan bersedia untuk memperbaikinya.
1. sunnah nabi bagi orang yang hendak melaksanakan kurban:
a. menyayangi hewan yang akan di kurban (tidak menyiksa)salah satunya adalah memberi makan dengan makanan yang paling disukai oleh hewan tsb (rumput atau bekatul dll)
b. jangan sampai menelantarkan hewan yang akan di kurbankan (kehujanan, kepanasan, kelaparan dll)
c. pada H-10 dilarang memotong kuku dan bulu hewan yang akan di kurbankan,kalaupun ingin hewan tersebut kelihatan cantik atau bersih cukup di mandikan saja, JANGAN SAMPAI MEMOTONG KUKU DAN BULUNYA, karena itu di larang keras oleh NABI.
2. di anjurkan untuk berpuasa 10 hari pertama di bulan dzulhijjah terutama di hari arafah. dan HUKUMNYA HARAM BERPUASA DI HARI RAYA IDUL ADHA dan YAUMUT Tasyriq
3. pilihlah hewan kurban yang sehat dan gemuk dan tidak berpenyakit.
4. memungut upah atau bayaran bagi orang yang menyembelih hewan kurban HARAM HUKUMNYA , kecuali dia di beri bagian daging lebih dari yang lain. karena idul kurban adalah sarana memakmurkan masyarakat yang sedikit membutuhkan bukan AJANG BISNIS.
5. menyalurkan daging kurban ke daerah lain di hari selain hari raya idul qurban dan yaumul tasyrik hukumnya adalah MUBAH atau boleh-boleh saja, dengan syarat:
a) mendahulukan tetangga yang membutuhkan di daerah sekitar orang yang berkurban, apabila sdh di anggap tidak ada atau stok kurban melimpah atau berlebih maka boleh.
b) mengkalengkan atau di awetkan atau di apakan saja dari daging kurban untuk di salurkan daerah terpencil atau daerah pelosok desa di pedalaman ataupun untuk korban bencana alam hukumnya boleh2 saja dengan memperhatikan poin a) di atas dan hewan DI SEMBELIH PADA HARI RAYA QURBAN DAN YAUMUT TASYRIQ. karena yang di namakan kurban idul adzha adalah penyembelehin hewan ternak yang sudah memenuhi syarat DI HARI IDUL ADHA ATAU YAUMUT TASYRIQ.
6. lebih mendahulukan AQIQAH dari pada QURBAN. artinya apabila orang itu hendak berkurban dan orang itu belum di aqiqahi oleh kedua orang tuanya, maka lebih baik mendahulukan AQIQAHNYA dirinya sendiri dari pada berqurban, karena AQIQAH ITU WAJIB, sedangkan QURBAN ITU SUNNAH.
7, hewan kurban adalah hewan ternak seperti kambing, onta, sapi, kerbau dll. untuk kambing berlaku untuk 1 orang. sapi/onta/kerbau berlaku untuk 7 orang.
di olah dari berbagai sumber yang insyaallah berdalil shohih dan shorih berdasarkan fiqih madzhab syafi'i.
wallahu a'lam
1. sunnah nabi bagi orang yang hendak melaksanakan kurban:
a. menyayangi hewan yang akan di kurban (tidak menyiksa)salah satunya adalah memberi makan dengan makanan yang paling disukai oleh hewan tsb (rumput atau bekatul dll)
b. jangan sampai menelantarkan hewan yang akan di kurbankan (kehujanan, kepanasan, kelaparan dll)
c. pada H-10 dilarang memotong kuku dan bulu hewan yang akan di kurbankan,kalaupun ingin hewan tersebut kelihatan cantik atau bersih cukup di mandikan saja, JANGAN SAMPAI MEMOTONG KUKU DAN BULUNYA, karena itu di larang keras oleh NABI.
2. di anjurkan untuk berpuasa 10 hari pertama di bulan dzulhijjah terutama di hari arafah. dan HUKUMNYA HARAM BERPUASA DI HARI RAYA IDUL ADHA dan YAUMUT Tasyriq
3. pilihlah hewan kurban yang sehat dan gemuk dan tidak berpenyakit.
4. memungut upah atau bayaran bagi orang yang menyembelih hewan kurban HARAM HUKUMNYA , kecuali dia di beri bagian daging lebih dari yang lain. karena idul kurban adalah sarana memakmurkan masyarakat yang sedikit membutuhkan bukan AJANG BISNIS.
5. menyalurkan daging kurban ke daerah lain di hari selain hari raya idul qurban dan yaumul tasyrik hukumnya adalah MUBAH atau boleh-boleh saja, dengan syarat:
a) mendahulukan tetangga yang membutuhkan di daerah sekitar orang yang berkurban, apabila sdh di anggap tidak ada atau stok kurban melimpah atau berlebih maka boleh.
b) mengkalengkan atau di awetkan atau di apakan saja dari daging kurban untuk di salurkan daerah terpencil atau daerah pelosok desa di pedalaman ataupun untuk korban bencana alam hukumnya boleh2 saja dengan memperhatikan poin a) di atas dan hewan DI SEMBELIH PADA HARI RAYA QURBAN DAN YAUMUT TASYRIQ. karena yang di namakan kurban idul adzha adalah penyembelehin hewan ternak yang sudah memenuhi syarat DI HARI IDUL ADHA ATAU YAUMUT TASYRIQ.
6. lebih mendahulukan AQIQAH dari pada QURBAN. artinya apabila orang itu hendak berkurban dan orang itu belum di aqiqahi oleh kedua orang tuanya, maka lebih baik mendahulukan AQIQAHNYA dirinya sendiri dari pada berqurban, karena AQIQAH ITU WAJIB, sedangkan QURBAN ITU SUNNAH.
7, hewan kurban adalah hewan ternak seperti kambing, onta, sapi, kerbau dll. untuk kambing berlaku untuk 1 orang. sapi/onta/kerbau berlaku untuk 7 orang.
di olah dari berbagai sumber yang insyaallah berdalil shohih dan shorih berdasarkan fiqih madzhab syafi'i.
wallahu a'lam
Jumat, 29 Oktober 2010
Qanaah
Hidup mulia dalam pandangan Allah SWT sejatinya dapat dicapai dengan mengedepankan sikap qanaah. Mereka yang bersikap qanaah akan selalu merasa cukup dan ridha atas pemberian Allah SWT. Ini perwujudan rasa syukur yang hakiki. Dalam realitas kehidupan saat ini yang hedonistik, kebanyakan orang akan merasa sulit bersikap qanaah. Sebab, keberhasilan hidup hanya dilihat dari sudut pandang sempit, bertolok ukur dari sekadar atribut duniawi, seperti kekayaan harta, pangkat dan jabatan. Bagi yang tak bersikap qanaah, niscaya pikirannya hanya dipenuhi angan-angan tinggi yang melalaikan. Selalu merasa kurang dan tidak cukup, sehingga muncul sikap serakah. Juga dibarengi rasa dengki atas karunia Allah SWT kepada orang lain. Tak jarang pula untuk mewujudkan keinginannya, seseorang melakukan tindakan menyimpang dari jalan–Nya. Akibatnya, keinginan yang diraih, tak memberikan keberkahan hidup. Sebaliknya, itu akan mengakibatkan seseorang jatuh dalam kehinaan dan kesengsaraan hidup. “Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Yunus 10: 107). Ayat di atas merupakan jaminan Allah SWT atas karunia-Nya yang akan memberikan ketentraman hati. Tidak perlu ada kecemasan dan kekhawatiran, sehingga sikap qanaah akan selalu melekat kuat. “Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari kamu dan janganlah melihat orang yang lebih tinggi darimu. Yang demikian lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah” (HR Bukhari-Muslim). Dalam hadis itu, Rasullah SAW amat menekankan agar dalam urusan duniawi, kita melihat kepada orang yang lebih rendah. Jangan melihat yang lebih tinggi. Ini akan memberikan kesadaran bahwa karunia nikmat Allah SWT telah banyak diberikan agar umat senantiasa bersyukur kepada Nya, pantang berkeluh kesah maupun pantang berputus asa menjalani kehidupan. Sikap qanaah hendaknya tak diartikan pasif dan pasrah secara total dalam menyikapi keadaan yang dihadapi. “Barang siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin sesungguhnya dia telah beruntung, barang siapa yang hari ini sama dengan kemarin, maka sesungguhnya ia telah merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin, maka sesungguhnya ia terlaknat.” ( HR Dailami ). Rasulullah SAW telah memberikan dorongan dan motivasi untuk meraih kemajuan, tapi masih dalam bingkai qanaah. Selalu bersikap optimistis dalam menghadapi kehidupan dengan ikhtiar dan bertawakal kepada-Nya merupakan jalan terbaik.
Langganan:
Postingan (Atom)